
Jangan lupa kasih vote dan koment ya gaes, happy reading 🤗🤗🤗🤗🤗
************
"Pulang dan istirahatlah, Naya biar aku yang akan menjaganya" ucap Januar pada Elis.
Wajah letih dan mata sembab jelas terlihat dari raut muka wanita cantik itu, beruntung ia tadi datang bersama salah satu anak buahnya, jadi bisa menggantikannya untuk mengemudikan mobil.
"Terima kasih, segera hubungi aku kalau Nay sadar" jawabnya lesu.
Januar mengangguk.
Pukul satu dini hari, suasana Rumah Sakit terasa hening dan mencekam, beruntung Januar sudah terbiasa dengan suasana Rumah sakit kala merawat sang Ayah di KL hingga Januar tak lagi heran.
Di bangku besi ruang tunggu, Januar merebahkan tubuhnya untuk melepas penat.
Sementara itu di rumah megahnya, Silvy sedang berteriak histeris, berita tentang kecelakaan yang menimpa anak buahnya membuat ia murka.
"Dasar brengsek tak berguna, buat apa Gue ngeluarin banyak duit hanya untuk kematian kalian...sialan sialaaann..." maki Silvy kencang.
Bukannya merasa sedih telah kehilangan salah satu anak buah kepercayaannya tapi Silvy malah terus mengumpat karena ke tak becusan keduanya.
"Sialan, kenapa bukan wanita itu saja yang mampus" nafasnya memburu, lalu kembali meneguk minuman keras kesukaannya.
Dan tak butuh waktu lama, akhirnya tubuh Silvy tumbang di atas ranjang dengan mulut meracau tak karuan.
Dan seperti biasa, seorang pelayan wanita paruh baya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil membenahi bekas minuman dan sampah snack makanan Silvy, lalu dengan telaten wanita itu menyelimuti Nona muda nya dengan selimut halus miliknya setelah terlebuh dahulu memiringkan tubuhnya, agar jika ia muntah nanti, kotoran tak kembali tertelan olehnya.
"Alangkah malangnya nasibmu nona, ayah dan Ibu mu sibuk mencari harta duniawinya, hingga tak pernah menghiraukan putri kesayangan mereka tumbuh tanpa kasih sayang dan perhatian kedua orang tuanya" ucapnya lirih.
Pagi hari di Rumah Sakit, Januar bangun dengan menggeliatkan tubuhnya, pukul empat tiga puluh menit ia mendengar beberapa orang berbincang, rupanya dokter dan perawat jaga yang melihat Naya sudah sadar.
Januar bergegas melihat lewat kaca pembatas, hatinya sedikit lega akhirnya Naya menggerakan jari tangannya.
"Dokter, bagaimana ke adaannya Dok?."
"Syukurlah pasien sudah sadar, kami akan tetap me mantau kondisinya, jika tetap stabil dan semakin membaik maka esok bisa kita pindahkan ke ruang rawat, saat ini pasien sedang istirahat."
Januar mengangguk tanda terima kasih.
Ia lalu berjalan ke kantin rumah sakit untuk sekedar mengisi perutnya yang mulai keroncongan.
Kopi hangat dan sepotong roti kiranya cukup untuk menghangatkan lambungnya, di lihatnya ponsel yang banyak pesan masuk belum ia buka.
Ia hanya bisa menghela nafas panjang, sang Kakak begitu menghawatirkan Naya sahabatnya.
__ADS_1
Cih apa dia tak tidur?kirim pesan tiap tiga puluh menit, ucap batinnya kesal.
Pukul sembilan Januar melihat Jefry datang dengan beberapa bungkusan, sebelumnya ia sudah me minta untuk di kirim pakaian dan makanan pada anak buahnya tersebut.
"Pagi Bos, ini baju dan sarapannya."
"Heum, kau tunggulah di sini, aku akan ke kamar mandi dulu, cepat panggil dokter kalau dia bangun."
"Baik Tuan."
Januar menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti baju, sedangkan Jefry duduk di kursi ruang tunggu berbatas kaca pembatas, ia berdiri melangkah untuk melihat kondisi Naya, tubuh yang terbaring lemah dengan perban di kepala, sungguh miris kondisinya saat ini, pantas saja Tuan Januar begitu mengkhawatirkannya, pikir Pria bertubuh tegap itu.
"Bagaimana tugas Tanu, apa yang telah dia dapat" tanya Januar setelah selesai dari kamar kecil.
"Hm belum semuanya ia dapat yang yang kita inginkan, tapi ada satu ke janggalan yang sudah di dapatnya" jawab Jefry.
Januar mengerutkan alisnya "Apa itu?"
"Mobil itu bukan Taxi onlinr yang di pesan Mbak Naya Tuan..dari CCTV di depan lobi Tinar Perkasa, Mbak Naya menaiki mobil yang bukan ia pesan karena ternyata taxi yang di pesannya datang lima menit setelah Mbak Naya pergi dengan mobil yang salah."
"Maksudmu Naya di culik?" tanya Januar terkejut.
"Itu dugaan kami, tapi masih ada beberapa kamera pengawas yang belum kami dapatkan, mungkin jika semua sudah Tanu dapat, maka akan jelas apa yang sebenarnya terjadi."
Januar manggut-manggut.
Bunyi sepatu pantofel terdengar nyaring dan ternyata bersumber dari langkah Elis.
"Bagaimana Jan? Apa dia sudah sadar?" tanya nya tak sabar.
"Sudah Naya sudah sadar tadi malam, dan sekarang sedang tidur."
"Oh syukurlah, oh..Jef, kau di sini juga?"
Jefry mengangguk lalu menyalami Elis.
"Saya pamit Tuan."
"Heum, beri tahu secepatnya perkembangan tugas kalian?"
"Baik Tuan, mari Mbak El."
Elis mengangguk dengan pandangan aneh ke arah Januar.
"Ada apa Jan?"
__ADS_1
Januar menghela nafas panjang lalu menceritakan apa yang anak buahnya dapat.
Tangan Elis mengepal keras "Pasti ini perbuatan suaminya, Naya berniat pergi dari apartemen suaminya karena memang pernikahannya sudah tak bisa ia pertahankan, lelaki itu memutuskan pernikahan yang baru satu bulan itu bahkan ia menuduh Naya berselingkuh, ...dasar laki-laki brengsek" gumam Elis dengan dada bergemuruh menahan amarah.
"Tenanglah, kita belum mendapat bukti-bukti kuat, jika memang suaminya yang melakukan maka kita akan menyeretnya ke jalur hukum."
Elis memandang Naya dari balik kaca dengan wajah sendu.
"Malang sekali nasibmu Nay..." ucapnya lirih.
"Eh ..eh dia bangun..." ucapnya tiba-tiba, saat melihat tangan Naya bergerak perlahan.
Januar bangkit lalu me mencet tombol darurat.
beberapa perawat datang dengan langkah cepat, lalu memeriksa tubuh Naya.Elis dan Januar hanya bisa mengamati dari balik kaca dengan harap cemas.
"B bagaiamana keadannya Dok?" tanya Elis begitu dokter keluar.
"Setelah kami pantau kondisi pasien mulai membaik, dan beruntung benturan itu tak mengenai otot syarafnya."
"Syukurlah, bisa kah kami masuk sebentar dokter?" sambung Elis.
Dokter mengangguk "Boleh tapi mohon jangan terlalu lama, pasien masih membutuhkan banyak waktu untuk istirahat" terang dokter.
"Baik Dokter" Elis mengangguk hormat lalu melangkah ke ruangan namun langkahnya terhenti saat Januar ternyata sudah mendahuluinya masuk ke dalam ruangan.
"Nay..Naya..., bagaimana kondisimu Nay? Apa masih sakit?apa yang terjadi denganmu Nay"Elis bertanya dengan suara lembut dan tangan mengusap tangan Naya.
Perlahan Naya membuka matanya dan memandang Elis dan Januar.
Naya masih terlihat bingung karena mungkin kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul ia hanya merasa kepalanya berdenyut nyeri.
"Ssshhh..." desisan keluar dari mulut Naya, ia mencoba mengingat kejadian yang menimpanya namun hal itu membuat kepalanya terasa mau pecah.
"Kenapa? Apanya yang sakit?" tanya Januar cemas lalu segera kembali memencet tombol darurat.
Dokter jaga pun berlari memasuki ruangan dan memeriksa kondisi organ vital Naya.
"Maaf bisa bicara dengan salah satu dari kalian di luar ruangan?" Januar dan Elis saling pandang mendengar ucapan dan sikap sang Dokter, lalu Januar menganggukan kepala tanda ia yang akan mewakili mereka.
"Bagaimana Dok?"
"Ehm, untuk saat ini kondisi pasien belum sepenuhnya pulih, jadi kami minta pengertiannya agar keluarga maupun pihak lain untuk menjaga agar jangan sampai emosi dan suasana hati pasien menurun, karena hal itu yang akan membuat kesehatan pasien semakin lama membaiknya, hindari pasien berfikir keras dan mohon jangan dulu minta pasien untuk mengingat kejadian yang menimpanya karena ini akan menyebabkan otot syarafnya kembali di paksa untuk bekerja sedangkan goncangan keras di kepalanya cukup mengkhawatirkan...bla bla."
Beberapa saat Januar tertegun, penjelasan Dokter membuatnya kini berfikir keras.
__ADS_1
Apa sebenarnya yang sedang kau alami.