Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Tiga Tahun Lebih Tua


__ADS_3

Meski dada berdenyut nyeri tapi Naya berusaha untuk tersenyum dan mengangguk pelan saat melihat tatapan mata Danu menyiratkan penyesalan begitu dalam, bahkan ada kabut di matanya.Meski berat, Naya akan mencoba ikhlas memaafkan Danu, ia ingin berdamai dengan luka hatinya.


Biaralah waktu yang akan menyembuhkan luka hatinya.


"Bagaimana keadaanmu?" kalimat tanya Danu dengan suara bergetar.


"Aku baik-baik saja Mas."


"Apa luka-luka mu benar-benar sudah pulih?" kembali Naya mengangguk.


"Maafkan aku..."kalimat yang berkali-kali Danu ucapkan, rasanya seribu maaf yang ia pinta pun tak akan mampu menghapus luka di hati Naya.


"Sudahlah Mas,aku sudah ikhlas menerimanya, mungkin ini jalan hidup yang harus ku lalui..."


Sesak rasa dada Danu, tenggorokannya tercekat.


"Hanya itu yang bisa aku katakan padamu, dengan sesal dan rasa bersalah yang selalu menghantuiku, andai waktu bisa ku putar kembali, ingin aku menolak perjodohan kita...agar hatimu tak hancur karena perbuatanku."


Naya memandang Danu dalam, wajah tampannya menyiratkan penyesalan yang tak berujung.


Naya melangkah mendekati Danu perlahan.


"Mas, aku sudah ikhlas, dan semoga dengan kejadian ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita untuk tidak menilai sesuatu yang tampak dari luar saja, karena masih banyak hal yang tersembunyi yang tak tampak di mata kita, dalamnya laut bisa kita kira, tapi dalamnya hati se seorang tak akan pernah bisa kita duga."


Danu mengangguk mendalami ucapan Naya yang begitu dalam, wanita yang dulu di anggap remeh dan rendah, namun ternyata dia lah sang bintang, dialah permata sebenarnya yang tersembunyi.


"Aku pamit dulu mas"ucap Naya saat melihat Januar mengisyaratkan padanya untuk segera pulang.


"Baiklah, hati-hati dan jaga dirimu Nay" pesan Danu di jawab anggukan Naya.


Danu memandang kepergian Naya bersama Januar dengan hati miris.


"Bos, kapan kita pulang?" tanya Sam saat melihat Danu masih saja memandang kepergian mobil yang membawa Naya.


"Heum "jawab Danu singkat sambil berlalu.


Di sepanjang perjalanan Januar tampak dingin, jika biasanya dia yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan maka kali ini ia berusaha keras untuk menahan rasa penasaran tentang pembicaraan apa yang tadi Danu dan Naya bicarakan.


Namun keegoisan Januar pupus saat ia sekilas melihat wajah Naya tampak memucat.


"Kau sakit?" tanya nya cemas.


Naya menggeleng pelan, namun menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.


"Benar kau tidak sakit?" tanya Januar lagi, bibir Naya yang memucat menandakan bahwa ia tidak baik-baik saja.


Di sebuah kedai makan sederhana Januar menghentikan mobilnya.


"Kenapa kita berhenti?"Naya membuka matanya dan melihat sekeliling mobil.

__ADS_1


"Kita istirahat dulu, aku lapar."


Naya pun membuka pintu mobil dan keluar mengikuti Januar.


Aku tahu kau pasti lapar, batin Januar puas, Naya makan dengan lahap, meski porsi yang di habiskan tak cukup banyak tapi cukup membuat Januar merasa lega.


Setelah membayar makan mereka pun melanjutkan perjalanan.


Hanya beberapa menit Naya pun akhirnya tertidur dengan kepala menyandar ke kursi.


Drrt drrt.


"Ya..."Januar menjawab singkat saat panggilan dari Tiwi muncul di ponsel Naya.


"K kau, mana Naya? kenapa Lu yang angkat? Bagaimana sidang nya, kapan sidang lanjutan di laksanakan?"pertanyaan beruntun memberondong Januar.


"Dia tidur, sidang kedua minggu besok."


"Tidur??" tanya Tiwi dengan suara tinggi karena terkejut, otaknya yang tidak melihat secara langsung pun jadi traveling.


"Haissttt..."Januar pun mengubah panggilan suara menjadi mode panggilan vidio.


Tiwi mengerutkan alis dan memajukan matanya, barulah ia tahu kalau saat ini Januar sedang mengemudikan mobil dan Naya tidur di sampingnya.


"Oh, oke" ucapnya lega lalu menutup panggilan.


Mobil sedang hitam pun sudah terparkir namun Januar tetap duduk dan memandang Naya yang masih terlelap meski mesin mobil sudah di matikan.


Di tatapnya wajah cantik yang masih terpejam rapat, membayangkan andai saja ia bisa hadir dalam mimpi wanita cantik di sampingnya itu.


Bolehkan aku egois untuk yang satu ini Tuhan, aku ingin dia hanya memikirkanku.


Tak pernah Januar merasa se gila ini menyukai seorang wanita, bahkan setelah tahu wanita itu sudah ada yang memiliki.


Tiba-tiba Januar mengalihkan pandangan saat Naya menggeliat.


"Oh sudah sampai?" tanyanya terkejut.


"Sudah beberapa saat yang lalu" jawab Januar datar.


"K kenapa aku tidak di bangunkan?"


"Tak di bangunkan pun kau sudah bangun sendiri" jawab Januar sinis keluar dari pintu mobil sambil berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.


Naya tertegun, kenapa Januar berubah ketus padanya, apa salahnya pada pria dingin itu.


Bahkan Bu Heni pun menyadari sikap dingin Januar.


"Mbak Nay kenapa dengan mas Januar? apa dia sedang marah?tadi waktu ibu tawarin makan eh ..jawabnya singkat dan dingin banget, nggak biasanya begitu"

__ADS_1


"Entahlah Bu, saya pun tak tahu, tak ada angin tak ada hujan, sikapnya menjadi jutek banget, saya aja kaget waktu di tanya jawabnya ketus banget" timpal Naya.


"Oh kirain hanya Ibu saja yang di jutekin, Mbak Naya juga too..?."


Naya mengangguk sambil mencebikan bibirnya, lalu menikmati makan malam dengan Bu Heni dengan suasana hangat.


"Bu Hen, rencananya saya besok akan mulai masuk kerja Bu" tiba-tiba Naya berucap yang mengejutkan Bu Heni, wanita itu paham bagaimana Januar sangat protektif pada Naya, bagaimana nanti jika pria itu marah karena Naya mulai bekerja tanpa ijin padanya.


"Apa Mbak Nay sebaiknya ijin mas januar dulu."


"Ehm, besok saja sekalian mau berangkat Bu, soalnya sekarang dia mungkin sudah tidur."


Bu Heni hanya mengangguk pasrah.


Setelah makan Naya langsung ke kamarnya, ia ingin mempersiapkan peralatan untuk besok mulai ke kantor.


Pukul lima pagi Naya terbangun karena alarm ponselnya berbunyi.Bu Heni pun sudah menyiapkan sarapan dan tersenyum menyambut Naya yang penuh semangat sudah rapi dengan baju kantornya.


"Makan dulu Mbak Nay" titah Bu Heni sambil menyiapkan nasi goreng dan telur dadar seperti requesnya tadi malam.


Naya makan dengan lahap, ia ingin mengisi energinya hingga penuh agar hari pertamabekerja berjalan lancar.


"Bu Aku berangkat dulu ya.." Naya mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Bu Heni.


"Hati-hati ya mbak Nay..."


"Iya Bu..." Naya melmbaikan tangan lalu bergegas menutup pintu.


Beberapa menit kemudian Januar keluar dari kamar dengan baju kantornya, semenjak rajin mencukur wajahnya, pria itu kini benar-benar terlihat sangat tampan.


"Silahkan sarapan Mas Jan" ucap Bu Heni lembut.


Januar pun mengangguk, lalu melirik ke arah meja tempat biasa Bu Heni menaruh piring Naya tampak kosong.


"Naya belum bangun Bu?"tanyanya.


"Sudah Mas Jan,sudah sarapan bahkan mbak Nay sudah beberapa saat yang lalu berangkat ke kantor" jelas Bu Heni.


"Uhukk uhukk.." Januar menyemburkan minuman ke udara, saking terkejut.


"Hati-hati mas Jan, pelan minumnya" Bu Heni menepuk pundak kekarnya dengan lembut.


"K kenapa dia tidak bilang pada saya Bu?"


"Katanya nanti saja sekalian di kantor, nggak enak bangunin tidur mas Jan, dan kata mbak Nay ia sudah ijin terlalu lama."


"Haisst dasar itu anak, susah banget di bilangin, luka di tubuhnya pun belum kering"umpatnya sambil beranjak dari kursi lalu melangkah pergi.


"Mas Jan nggak sarapan dulu mas" panggil Bu Heni cemas.

__ADS_1


"Nanti saja bu di kantor."


Wanita itu hanya bisa memandang kepergian Januar dengan pasrah, pria itu dengan santainya menyebut Naya dengan sebutan bocah, apa dia tidak ingat kalau Naya bahkan tiga tahun lebih tua darinya, batin Bu Heni.


__ADS_2