
Setelah membersihkan diri Silvy bergegas keluar dari kamar hotel mewah tempat satu malam yang ia habiskan bersama Deni, kekasih Silvy selain Danu.
Pria yang baru saja datang dari S, itu menumpahkan kerinduan pada Silvy dengan menghabiskan malam sepuasnya di hotel tersebut.
Dengan hati riang Silvi menatap ponsel di genggamanya, transferan berjumlah fantastis yang di kirim Deni akan cukup untuk ia belanja sepuasnya atau pun pergi ke salon langganannya.
Silvy melajukan mobil sedan merah miliknya menuju ke rumah, beberapa jam lagi Danu akan datang, ia harus bersiap sebaik mungkin.
Meski tubuhnya terasa remuk karena kegiatan panasnya dengan Deni tapi Silvy tak mau Danu kecewa.Ia lempar tas mahalnya ke atas sofa lalu menghempaskan tubuh di ranjang luas miliknya.
Lelahnya tubuhku, sampai kapan kau akan melepas istrimu honey, batin Silvy kesal.
Waktu satu tahun bukanlah waktu yang singkat, janji Danu untuk menikahinya setelah menceraikan Naya membuat Silvy berusaha menahan diri.
Di samping itu Deni yang selalu bermurah hati mengirimkannya uang dengan jumlah fantastis hanya dengan memanjakan pria itu di atas ranjang.
Silvy sangat berat melepas keduanya, Deni yang begitu royal dan berharta atau Danu pria pemilik perusahaan besar berdarah biru yang begitu mencintainya.
Ceklek.
Silvy menanggalkan bathrobe nya lalu masuk ke bathub yang sudah di isi air hangat dan minyak aromatherapy.
Tiga puluh menit berendam membuat tubuhnya terasa rilex dan segar, otot syaraf pun tak lagi tegang.
Setelah selesai membersihkan diri, Silvy berdandan secantik mungkin, ia akan memberikan pelayanan maksimal, berharap Danu akan semakin mempercepat perceraiannya dengan sang istri hingga ia bisa bersanding dengan Danu secara sah sebagai suami dan istri seperti impiannya.
Senyum Silvy terbit, terdengar deru suara mesin mobil memasuki parkiran halaman.
Dres mini sebatas paha dengan belahan dada rendah hingga dua gunung putihnya menyembul indah.
Danu tersenyum penuh rindu, Silvy selalu terlihat sempurna di matanya.
"Selamat datang honey baby my love...muaacch" Silvy berlari melebarkan tangannya untuk memeluk Danu.
Pria tampan itupun menyambut lalu mencium bibir Silvy mesra.
Keduanya laksana pasangan yang baru bertemu setelah lama berpisah.
Beberapa saat bibir keduanya menyatu, saling menyesap mesra.
"Kenapa ponselmu tidak aktif sayang" tanya Danu lirih.
"Maaf..ponselku jatuh ke kolam, dan terpaksa aku beli yang baru..murah sii tapi lumayan untuk bisa menghubungi kekasih tampanku ini" ujar Silvy manja.
"Kenapa beli yang murah sayang, beli lah model apa pun yang kau ingin, masalah harga jangan kau risaukan" Danu menatap Silvy dengan gejolak rindu yang dalam
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Silvy memasang wajah imut najis nya.
Danu mengangguk pasti.
Silvy kembali memeluk Danu manja lalu mencium bibir Danu panas dan menarik tangannya menuju kamarnya.
Danu hanya tersenyum smirk dan mengikuti langkah Silvy dengan cepat.
Dan ruang kamar yang luas tersebut pun menjadi saksi kemaksiatan keduanya yang seakan saling berlomba untuk terbang meraih surga dunia.
Silvy terkulai lemas di dekapan Danu, melayani dua lelaki yang penuh gairah remuk rasa tulang di badannya.
Cupp.
Danu mengecup leher putih Silvy, anak rambut yang menjuntai tak beraturan ia sisipkan di telinganya.
Tiba- tiba tatapan Danu terhenti pada satu titik yang menarik perhatiannya.
Jika di lihat sepintas warna merah tersebut tak akan jelas apalagi letaknya di bawah telinga Silvy.
Danu diam membeku Ia bukan pria bodoh yang tak tahu penyebab warna merah di leher Silvy tersebut, itu adalah jejak cinta, dan pastilah bukan buatannya, ia tak pernah meninggalkan jejak saat bercinta dengan Silvy.
Perlahan Danu mengurai pelukan tubuh Silvy, dan melangkah ke kamar mandi, ia ingin mendinginkan darahnya yang terasa mendidih, benarkah Silvy yang begitu di cintainya ternyata telah berhianat.
Ceklek.
"Maaf, aku harus pulang, ada urusan mendadak, Ayah akan ke jakarta dan mampir ke apartement" jawab Danu tenang mengatakan alasan fiktifnya.
Silvi menghela nafas kasar, ada rona kecewa di raut wajah lnya yang cantik.
Danu melajukan mobil menuju apartement, di raihnya ponsel di saku celana.
"Sam, datang sekarang ke apartemenku" titah Danu tegas.
Membuat sam mengerutkan alis, ada apa gerangan hingga sang Bos menyuruhnya datang ke apartement.
Teet.
Ceklek, Naya mengangguk ramah pada Sam, meski jarang Sam datang di luar jam kantor, tapi Naya tak ingin menanyakannya karena itu bukan hak nya di apartement ini.
Danu keluar dari kamar dan menuju ruang kerjanya, di ikuti Sam di belakang dengan dada berdebar kencang.
"Duduklah" titah Danu datar.
Sam duduk dengan mata tertunduk bagai seorang pesakitan yang hendak di sidang.
__ADS_1
Prak.
Danu melempar beberapa lembar foto Silvy di atas meja.
"Kau tahu dia kan?" tanya Danu dingin.
Sam mengambil lembaran Foto dan mengangguk pelan.
"Ini foto Nona Silvy Tuan" terang Sam.
Danu menganggukan kepalanya.
"Apa kau pernah melihat Silvy bersama dengan seorang laki-laki selain aku?" tanya Danu.
Sam menatap Danu tajam, tak hanya sekali, Sam melihat Silvy pergi berdua dengan seorang lelaki dan tingkah mereka sangat intim, dan Sam tahu itu bukan kerabat apa lagi teman Silvy.
"Apa Tuan ingin jawaban jujur dari saya?" Sam balik tanya.
Danu memandang sang asisten yang bagai seorang jendral yang telah siap dengan perisainya.
"Jadi kau pernah melihat Silvy bersama lelaki lain?" ulang Danu.
Sam mengangguk pelan, kali ini Tuannya harus tahu yang sebenarnya, jika memang sekarang saatnya maka Sam akan berkata yang sejujurnya tentang wanita seperti apa Silvy itu.
Danu menghela nafas panjang, sesak dadanya kini semakin terasa, jika warna merah di leher Silvy ia masih berharap itu adalah alergi atau terkena kukunya yang tajam.Tapi melihat raut wajah Sam yang ia tahu asistennya itu tak pernah berbohong dalam setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Jadi selama ini Silvy telah membodohinya, wanita yang amat ia cintai dan satu-satunya yang ia harap menjadi pasangan hidupnya ternyata telah berhianat.
Tangan Danu mengepal keras, buku-buku tangannya bahkan sampai memutih.
"Cari bukti apa pun tentang penghianatan wanita itu secepatnya" nada suara Danu bergetar menahan amarah.
Sam tertegun beberapa detik, lalu bergegas pergi menyelesaikan misi yang sudah lama ia tunggu.
Akhirnya kau sadar Tuan, yakinlah hanya Nona Naya yang pantas menjadi pendapingmu selama-lamanya, batin Sam.
Danu melihat punggung sang asistrn hingga menghilang dari balik pintu, ingin rasanya ia menghabisi Sam, kenapa orang yang ia percaya malah menyembunyikan kebohongan yang amat di besar.
Ceklek.
Danu melangkah ke kamar dengan mata menyala merah.
"Mas, apa kau tidak makan malam dulu" Naya berucap lembut.
Danu melihat Naya sekilas, istri yang selalu tulus dan penuh perhatian tapi tak pernah ia perdulikan.
__ADS_1
Sedangkan Silvy yang ia cintai dan bangga kan ternyata malah menusuk dari belakang.
Naya hanya bisa menunduk, Danu selalu mengacuhkannya.