
"Kita lihat saja nanti, Naya begitu menyayangi mendiang ayahnya, dia akan menuruti semua yang sang ayah perintahkan, dan kalau almarhum ayahnya ternyata sudah menjodohkanku dengannya, kau bisa apa?" tanya Daniel sinis.
Deg,Januar terdiam, ia paham bagaimana lahir dan batin Naya, ia seorang anak yang begitu patuh dan penurut pada orang tuanya, jika ibu tiri saja bisa memerintahnya apalagi jodoh kali ini adalah amanat dari sang ayah kandung.
Januar menarik kerah baju Daniel dengan keras hingga tubuh tegap pria itu tertarik ke depan.
"Jangan berani kau menggoyahkan wanitaku brengsekk" ucapnya lirih dengan geraham mengembung.
"Heh, rupanya kau pun masih ragu dengan perasaannya, lihat saja...akan aku lakukan apapun agar dia menerimaku."
"Baik, mari kita bertarung secara jantang!!" Januar menghepas tubuh Daniel lalu melangkah pergi menuju lift.
"Hei...sekarang kau masih kuberi kesempatan untuk menemuinya tapi sebentar lagi jangan harap kau bisa memandang wajah nya dengan leluasa" teriakan Daniel tak di gubris Januar, ia terus melangkah dengan wajah dingin.
"Dasar batu" umpat Daniel kesal sambil membetulkan kerah bajunya.
Begitupun Januar, karena tiba-tiba suasana hatinya memburuk membuat pria itu lupa pada janjinya bahwa ia hendak menemui Naya di apartemennya.
Januar begitu saja berjalan melewati pintu apartemen Naya dan langsung masuk ke kamarnya.
Setelah mengambil kunci mobil ia kembali keluar dari apartement.
Daniel sudah merusah weekendnya, jika rencanya pagi tadi ingin mengajak sang pujaan pergi menikmati suasana di luar kota namun kini semangat Januar seakan menghilang.
__ADS_1
Saat melewati lobi pun Januar tak perduli apakah masih ada Daniel di sana atau tudak, yang jelas saat ini ia tak ingin melihat wajah yang sudah merusak moodnya.
Mobilnya melaju dengan kecepatan sedang, hatinya yang kalut,di tambah dengan suasana syahdu membuat pikirannya melayang jauh.
Benarkah Daniel adalah pilihan almarhum ayah Naya, dan apakah Naya akan menerima dan menuruti permintaan mendiang sang ayah?, batin Januar sangat kalut.
Tak lama sampailah di lobi apartement Tiwi.
Ceklek.
"Hei kau dari mana saja, macam tak punya rumah saja, tidur di mana heum?" Januar acuh melewati Tiwi yang terus mencercanya dengan rasa penasaran.
"Hei jangan bilang kau tidur di tempat Naya?"tanya Tiwi, ingat Januar...meski dia seorang janda tapi kau tak seharusnya seperti ini, kau boleh saja mencintainya dengan sepenuh hati tapi kau harus menjadikannya seorang istri terlebih dahulu"
Tiwi memajukan bibirnya, tak biasanya sang adik terlihat tak bersemangat jika membicarakan Naya.
"Hei kemana semangatmu yang menggebu, di hari kemarin hujan badai, lautan api, akan kau sebrangi tapi kenapa sekarang kau lesu dan layu bagai sebatang pohon tanpa air?"cibir Tiwi.
"Ini tak sesederhana itu Mbak..."Januar lalu keluar kamar mendekati Tiwi yang sedang asik di ruang tengah menonton televisi lalu menghempaskan pantatnya di sofa.
Tiwi memindai wajah sang adik, kemana semangatnya yang selama ini menggebu-gebu.
"Kau kenapa? Apa jangan-jangan kau takut kalah saing dengan anak lurah itu?" ledek Tiwi dengan senyum puas.
__ADS_1
Huh kau belum lihat saja anak lurah itu, jika saja kau sudah melihat sosoknya pasti kau lebih memihaknya daripada adikmu ini, batin Januar.
"Memang sehebat apa lelaki yang di calonkan ibu tirinya itu? Gue jadi penasaran, seperti apakah pria yang nembuat adiku yang super narsis ini merasa ketar ketir"sindir Tiwi.
Januar hanya mencebik kesal.
"Awas saja kalau kau berjumpa dengannya lalu berpindah haluan dan memihak padanya."
"Ha ha ha ..." Tiwi tergelak puas, tak pernah ia melihat adiknya sepesimis itu.
"Hmm bawa Gue bertemu dengannya, biar gue nilai kalian secara jujur."
"Cih pastikan dulu kau akan berpihak pada siapa, aku ragu kau masih akan setia pada adikmu satu-satu nya yang tampan ini" januar menghela nafas panjang lalu melangkah ke kamarnya.
"Hei, tenang serahkan saja pada mbak mu ini, aku pasti akan selalu di belakangmu" ucap Tiwi pasti.
"Jadi....dengan kata lain, kau sudah merestui hubunganku dengan Naya?" tanya Januar penuh harap.
Tiwi membuang matanya gugup, entah kenapa hati kecilnya merasa sayang melepas Naya untuk menikahi jodoh pilihan ibunya, meski ia pun belum bertatap muka secara langsung dengan lelaki itu.
"Mbak, ayo lah mbak, beri adik satu-satumu ini suport, dari mana lagi aku mendapat dukungan selain darimu Mbak" Januar memasang mode melas penuh harap.
"Aisshhh, pergi..pergi, lu masuh bocah, pikirin perusahaan Ayah dulu, jangan mikir cewek aja Lu.'
__ADS_1
"Hei jangan salah, Tinar Perkasa semenjak aku yang pegang, maju pesat Mbak, kau lihat saja sendiri neraca pendapatan bulanan yang kita dapat, fantastis Mbak...."Januar mengedikan bahunya penuh percaya diri.