
Memandang wajah manis yang terpejam dengan nafas teratur, terasa damai di hati Januar, perlahan ia melepas kupluk dari kepala Naya, senyumnya tipis mengembang.
Kau tetap manis dengan atau tanpa rambut indahmu, batinnya.
Pria baby face itu pun keluar kamar setelah mematikan lampu, lalu menuju kamarnya.
*
*
Pagi hari Januar bangun, samar terdengar bunyi di dapur menarik perhatiannya.
"Bu Heni?sudah bangun?" sapa Januar.
"Sudah Mas, Ibu biasa bangun pagi...tadi Ibu belanja di tukang sayur yang kebetulan mangkal di depan gedung apartement, Ibu nggak betah kalau pagi-pagi nggak masak" ucap Bu Heni jujur.
Januar mengerutkan alisnya.
"Ehm Bu, kalau begitu, apa ibu mau kalau sekalian masak untuk kita juga? Jadi saya tidak perlu lagi mencari orang untuk masak."
"Ehm t tapi masakan Ibu nggak emak Mas, ibu biasa masak sederhana buat orang di rumah."
"Nggak apa-apa Bu, kita malah senang masakan rumahan, lebih pas di lidah, juga lebih terjaga kesegaran dan kebersihannya."
Bu Heni tampak termenung, waktunya untuk merawat Naya tersisa sangat luang, jadi ia masih bisa masak karena memang Naya tidak terlalu membutuhkan bantuannya, hanya karena perhatian Januar lah yang tak ingin Naya terlalu banyak bergerak.
"Baiklah Mas, kalau itu yang Mas Januar ingin."
"Baik bu, kalau begitu nanti siang ibu Heni sekalian belanja bahan makanan untuk persediaan beberapa hari agar Ibu tak setiap hari harus belanja sayur."
"Baik Mas."
Januar pun kembali ke kamarnya bersiap untuk berangkat ke perusahaan.
Tiga puluh menit ia pun sudah bersiap, dengan celana bahan mocca dan kemeja biru langit lengan panjang yang ia lipat hingga sebatas siku, lebih casual dari biasanya karena hari ini ia akan kembali meninjau lokasi pembangunan gedung, proyek yang hampir selesai.
Aroma harum tercium di ruang makan, nasi goreng dan telor dadar yang Bu Heni sajikan sungguh menggugah selera makan Januar.
"Pagi Nay...apa tidurmu nyenyak?" sapa Januar pada Naya yang sudah siap untuk sarapan.
"Heum" jawab Naya singkat.
"Silahkan makan Mas, Mbak Nay...maaf kalau masakan ibu kurang pas di lidah kalian."
"Terima kasih Bu...saya pun sebenarnya sudah rindu karena lama tidak makan masakan rumahan" jawab januar, Naya hanya diam dan tetap fokus makan nasi goreng dengan perlahan.
Januar menghabiskan sepiring nasi goreng dengan singkat, ia sangat puas dengan masakan Bu Heni.
"Bu saya pamit, tolong jaga Naya, kalau ada apa-apa segera hubungi nomor saya" ucap Januar sambil menyerahkan kartu namanya.
"Baik mas."
__ADS_1
Bu Heni melihat Naya yang masih belum juga menyelesaikan sarapannya, wanita itu dengan sabar menyiapkan obat yang harus Naya minum pagi ini.
Sementara Januar sudah sampai di kantornya, Jefry menyambut dengan lega kedatangan sang Bos, berkas yang menumpuk cukup membuatnya stress,dengan adanya Januar pastilah pekerjaannya akan sedikit berkurang.
"Pagi Jef, bagaimana kerja di sini?betah?" sapa Januar.
"He hee, cukup menguras otak Bos, tapi syukurlah Bos datang hari ini, di agenda ada acara peninjauan di daerah T bos?"
"Heum iya, mana berkas yang harus ku tanda tangan, sudah kau teliti semua kan?" tanya Januar.
"Sudah bos, semua sudah saya periksa" jawab Jefry percaya diri.
Januar mengangguk lalu bersiap untuk ke lokasi, beberapa kali ia melihat ponsel namun kembali harus menelan kekecewaan saat pesannya belum Naya balas.
"Dokter Kendra maaf, boleh saya minta nomor kontak Bu Heni?" pesan Januar pada Kendra.
"Oke, nanti aku kirim, apa ada masalah?"...Kendra.
"Tidak, aku hanya ingin tahu apa Naya sudah minum obatnya pagi ini."....Januar.
"Kenapa memang dengan ponsel Naya?" ...Kendra.
"Pesanku tak di balas."....Januar.
Senyum pria baby face itu terbit saat Kendra langsung membagikan nomor kontak Bu Heni, ia pun langsung mengetik pesan pada perawat paruh baya itu.
Beberapa menit berlalu, kembali hatinya resah, pesan yang di kirimnya pada Bu Heni juga belum di balas.
Drrt.
"Bos, meeting siang nanti di batalkan oleh klien."
Pesan dari Jefry hanya ia baca sekilas, tak menarik pikirnya, ia hanya menunggu pesan dari Bu Heni.
"Sudah Mas, Mbak Naya sudah minum obatnya pagi tadi, sekarang ia sedang santai lihat televisi."
Entah kenapa Januar merasa begitu lega, pantas saja Naya tak membaca pesannya, rupanya ia sedang menonton televisi, ia membatin.
Syukurlah meeting hari ini batal, Januar berniat pulang lebih awal setelah meninjau lokasi, tak seperti biasa hatinya begitu ingin segera pulang ke apartement.
Acara meninjau lokasi pun ia persingkat, setelah di rasa cukup sesuai, Januar mengakhiri kunjungannya dan langsung melajukan mobil pulang ke apartement.
Ah kenapa wajahnya selalu mengganggu fikiranku, ia membatin.
Wajah manis Naya yang muram, membuat hatinya mengganjal aneh, ia akan merasa lega dan bahagia jika Naya kembali tersenyum ceria.
Teet.
Ceklek.
"Mana dia Bu Hen?" tanya Januar yang tak sabar menanyakan Naya pada Bu Heni.
__ADS_1
Bu Heni hanya bisa mengelus dadanya karena sempat mendapat serangan jantung mendadak karena terkejut.
"Mbak Nay sedang di kamarnya sama Mbak Elis" jawab Bu Heni.
Januar menghela nafas panjang, lega rasanya Elis datang hingga Naya tak lagi merasa kesepian.
Kenapa aku begitu perhatian padanya, toh dia bukan apa-apa ku, Januar membatin sambil melangkah menuju kamarnya.
Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya yang lebar, cuaca terik ibukota sungguh menguras energinya, perlahan pria itupun jatuh terlelap.
Hingga matahari tenggelam ke peraduannya, berganti dengan datangnya rembulan yang menerangi malam.
Januar menggeliatkan tubuhnya, dan bergegas bangun.
"Mas sudah bangun? Tadi ibu ketuk pintu tapi Mas Januar tidak juga membuka pintu, jadi ibu pikir mungkin Mas Januar tertidur."
"Iya bu, saya tertidur tadi, ehm apa Naya sudah makan?"tanya Januar.
"Sudah Mas, tadi kami makan bareng sama Mbak Elis juga" jawab bu Heni dengan senyum tipis, tuan Muda selalu perhatian pada Naya
"Apa Mbak Elis masih ada?" sambung Januar.
"Sudah pulang tadi Mas."
"Ohh..."
Januar pun kembali ke kamar unyuk mandi karena perutnya sudah berdemo minta di isi.
Januar melihat pintu kamar Naya yang sudah tertutup rapat, sedangkan Bu Heni masih di depan televisi menonton acara favoritnya.
"Bu..apa Naya sudah tidur?" tanya Januar lirih.
"Sepertinya sudah Mas, tadi Mbak Naya sudah minum obatnya lalu langsung ke kamarnya" terang Bu Heni.
Januar menganggukan kepalanya lalu meneruskan makan malamnya yang tertunda.
Pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, Januar masih tak bisa memejamkan matanya.
Drtt drrt.
"Nu ...apa Nay sudah tidur? pesanku nggak di jawab sama dia" pesan dari Tiwi membuat senyum Januar terbit, ini alasan yang tepat agar ia bisa membuat Naya keluar kamar.
"Nggak tahu Kak, dia di kamarnya apa mau ku panggilkan" balas Januar.
Satu menit.
Tiga menit.
Lima menit.
Tak juga Tiwi membalas pesannya, Januar menunggu dengan jantung berdebar.
__ADS_1
"Ah nggak usah Nu, sudah malam pasti dia sudah tidur" kalimat yang membuat Januar kembali lemas, tak ada harapan untuk bertemu Naya.
Ah kenapa aku sangat ingin bertemu dengannya, sadar Nu, sadar...dia istri orang.