Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Berat Berpisah


__ADS_3

Malam ini Naya berniat akan membuat balado ikan dan perkedel.


Menghabiskan waktu bertiga dengan berkaraoke sedikit menghibur hati Naya.


Namun hatinya masih mengganjal, apakah Tiwi memang akan pergi meninggalkan mereka dan tinggal di KL.


Pukul sembilan baru Naya selesaikan masakannya, Ia pun bersiap membersihkan badannya, berharap selesai mandi nanti Danu sudah pulang dan mereka bisa makan bersama, batin Naya.


Meski pernikahan mereka terjadi karena perjodohan tapi Naya masih berharap jika pernikahannya hanya terjadi sekali se umur hidup, ia akan bersabar hingga Danu bisa menerimanya suatu saat nanti.


Jika saat ini hati Danu masih memiliki wanita lain, maka Naya akan bersabar hingga hati Danu luluh.


Naya tak ingin egois tapi sebagai se orang istri sah, ia pun berharap suaminya akan memperlakukannya selayaknya seorang istri pada umumnya.


Ada satu pepatah yang pernah Naya dengar, cinta datang dari perut lalu naik ke hati.


Maka dengan masakan yang di buatnya Naya berusaha menarik hati Danu.


Dengan dress sebatas lutut tanpa lengan, Naya berdandan menanti kedatangan sang suami, ia tak berharap terlalu jauh, ia hanya ingin Danu sedikit melihat padanya, pada usahanya untuk menjadi seorang istri yang baik.


Jarum sudah menunjukan angka sepuluh Danu belum juga pulang, Naya membuka ponselnya dan menghubungi Tiwi.


"Wi, Lu beneran mau pergi?" pesan yang naya ketik untuk sahabatnya.


"Yo'i, Gue di suruh pulang ke KL sama nyokap" jawab Tiwi.


"Trus, perusahaan gimana?."


"Adik Gue yang gantiin."


"Adik Lu? yang lugu itu?" tanya Naya.


"Ih adik Gue sekarang udah gaul, nggak lugu lagi Nyong....sekarang gaul dia, cakep lagi, Lu kalau liat pasti naksir."


Naya hanya mencebik, yang ia tahu adik Tiwi adalah anak yang pendiam dan lugu, dan tampangnya pun pas-pas an. Itu terjadi kurang lebih tiga tahun yang lalu saat wisuda Tiwi sekaligus Naya dan Elis.


kini Naya sedikit lupa bagaimana raut wajah adik Tiwi apalagi interaksinya saat itu hanya saling bertegur sapa se adanya.


"Lu berangkat kapan?" tanya Naya.


"Lusa, besok adik gue datang, dan sekalian memperkenalkan diri pada karyawan bahwa ia yang akan ambil alih semua urusan perusahaan, tapi Gue pun masih ikut andil dari jarak jauh."


Naya terdiam, ada rasa kosong di hatinya, Tiwi akan pergi jauh, di saat ia pasti akan membutuhkan sandaran tempat untuk curhat tapi dia malah menjauh, sedangkan Elis sekarang sudah makin sibuk dengan bisnis salon miliknya.


"Nay....Lu tidur" tanya Tiwi yang tak mendengar Naya bicara.


"Heum, Gue masih di sini..." ucap Naya lirih.


"Lu sedih gue tinggalin?"

__ADS_1


"Nggak...nggak kok, kan masih ada Elis" Naya berusaha menguasai kegugupannya, ia masih gengsi ketika Tiwi akan mendapati ia begitu merasa kehilangan kepergiannya.


Naya membereskan makanan setelah menyudahi panggilan dengan Tiwi.


Pukul dua belas malam dan Danu belum juga pulang, Naya yang sudah tak tahan lagi dengan sepat matanya pun melangkah ke kamar untuk tidur.


Danu baru sampai di apartemen saat jam menunjukan pukul satu.


Langkahnya terhenti, di meja makan beberapa hidangan yang sudah Naya masak untuknya.


Danu membuang nafas panjang, ia akui usaha Naya untuk meluluhkan hatinya sukup besar.


Gerimis pagi membangunkan Naya, cuaca dingin membuatnya enggan beranjak dari ranjang.


Setelah me rapihkan rambut, Naya bergegas keluar kamar.


Hatinya kembali berdenyut nyeri, suaminya tak menyentuh masakannya....lagi.Dengan tak bersemangat Naya membereskan makanan yang semalam ia sediakan untuk Danu.


Sayang rasanya membuang makanan, sementara di luar sana banyak orang berjuang berdarah-darah hanya untuk sesuap nasi.


Kali ini Naya hanya akan memasak satu masakan agar waktunya tak banyak terpangkas untuk bersiap ke kantor.


Setelah selesai ia pun memasukan bihun goreng special buatannya ke Rice Box dan menaruh se porsi untuk Danu di atas piring.


Naya memakai sepatu pantofel hitam miliknya dan rambut hitamnya sengaja ia biarkan tergerai.


Ojek online sudah menghubunginya, Naya pun bergegas turun. Untunglah gerimis sudah berhenti sepenuhnya hingga ia tak harus memakai jas hujan.


"Benar Pak" jawab Naya singkat.


Sepeninggal Naya Danu yang juga sudah rapi dengan setelan jas hitamnya hanya melirik sekilas saat melewati meja makan.


Tok Tok Tok.


Ketukan pintu membuyarkan lamunanya, ternyata sang asisten yang datang membawa file yang harus di bawa saat meeting nanti.


"Maaf Tuan, pagi ini kita harus langsung ke acara meeting di daerah Tangerang"ujar Sam hormat.


"Heum, Sam Lu udah sarapan?" tanya Danu ragu.


"Hah ..sarapan Tuan, eh belum Tuan."


Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Bos nya menanyakan sarapan padanya. Membuat Sam bingung, biasanya bosnya itu tak perduli apakah ia kelaparan, atau pun kehausan, yang ada dalam otak sang bos hanya kerja...kerja dan kerja.


"Itu makanlah, istri Gue masak tadi, sayang kalau nggak di makan, mubazir" tawar Danu datar.


Glek.


Sudah tahu mubazir tapi anda sendiri tidak memakannya, batin Sam.

__ADS_1


Pria tegap itu melangkah ke ruang makan dan menarik kursi.Kapan lagi dapat sarapan gratis dari bos, ucap batinnya.


Sepiring bihun goreng seafood sudah berpindah ke lambungnya dengan singkat.


Makanan se enak ini sungguh sayang jika di lewatkan, pikir Sam.Ia tahu pernikahan bos nya adalah karena perjodohan dan Danu sama sekali tak mencintai istrinya.


Sam pun belum pernah melihat istri sang Tuan Muda nya, yang ia tahu dia bekerja di perusahaan yang tak jauh dari perusahaan Danu.


"Sudah selesai Sam? ayo kita berangkat."


"Baik Tuan" ucap Sam setelah sebelumnya ia menaruh piring kotor di bak cuci piring, bibirnya mengulas senyum manis, rasa masakan istri Tuan Mudanya sungguh enak.


Naya sampai di perusahaan tak lama setelah mobil Tiwi memasuki area parkir.


Beberapa saat Naya berdiri menunggu sang atasan sekaligus sahabatnya untuk menuju gedung.


Seperti biasa Tiwi memeluknya erat jika mereka bertemu, meski semalam mereka habiskan waktu bersama.


"Hhmmm Nay, kapan lagi kita menikmati pagi bersama seperti ini" ucap Tiwi lirih dalam pelukan Naya.


"Ish Lu lebay."


Naya mengurai pelukan Tiwi lalu melangkah ke gedung di ikuti Tiwi yang mencebikan bibirnya.


"Lu nggak kehilangan Gue nanti Nay? Kejam amat Lu!" protes Tiwi kesal, ia merasa hanya dirinya yang berat berpisah dari sahabatnya itu.


"Ah KL kan deket, lu bisa kan bolak balik setiap minggu, banyak uang ini" jawab Naya tak mau kalah.


"Ish Lu nggak asik, eh nanti adik Gue dateng dan mulai besok Bos Elu dia!" terang Tiwi.


Naya hanya mengedikan bahunya seolah hal itu tak penting, yang penting baginya adalah kerja dan gajihan.


Keduanya memasuki lift menuju ruangan mereka, anggukan hormat para karyawan hanya di balas dengan senyum tipis olrh Tiwi.


"Bang Ujo tolong bawain piring ke ruanganku sama minuman hangat ya" sapa Naya pada Ujo di pantry.


"Baik Mbak."


"Lu nggak ke ruangan Elu?" tanya Naya yang mendapati Tiwi masih mengikutinya.


"Heum, hari ini Gue mau terus sama Elu."


Naya hanya mencebikan bibir mungilnya.


"Bilang aja mau ikut sarapan bareng Gue" jawab Naya jujur.


"Hee hee, Lu tau aja kalau Gue belum sarapan" jawab tiwi sambil mengenduskan hidungnya, aroma harum menyeruak indra penciuman Tiwi saat Rice Box Naya di keluarkan.


Mata Tiwi berbinar terang, bihun goreng special tampak menari-nari di pelupuk matanya.

__ADS_1


"Ini Mbak piringnya" ujar Ujo yang langsung di sambar oleh Tiwi.


"Masakanmu memang tak pernah gagal"


__ADS_2