Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Lebih baik Berpisah


__ADS_3

Januar dengan hati kesal menyusul Naya , setelah menghubunginya lewat telepon rupanya lokasi mereka tak jauh dari Tinar Perkasa.


Pria yang sedang di landa api cemburu itu mendengus kesal, lokasi pertemuan Naya dan Aslan berada di sebuah rumah makan yang sangat romantis, bangunan yang di bangun di tepi danau dengan tema outdoor berhias pemandangan tanaman teratai yang mulai mekar.


Naya melambai ke arah Januar, sedangkan Aslan hanya tersenyum smirk.


"Hmm hmm apa kalian sudah selesai diskusinya?"tanya Januar.


"Ehm sudah kenapa?"tanya balik naya.


"Aku mau minta antar ke butik" jawab januar sedikit ketus, ia hanya melirik ke Aslan yang selalu memperlihatkan senyum ramah pada siapapun.


"Butik?"


"Hemm aku ingin beli kemeja putih" jawab Januar, ia masih tak rela saat di persidangan kemarin melihat Naya dan Danu tampak serasi dengan setelan baju hitam putih yang mereka pakai.


"Oke untuk pertemuan kali ini sudah cukup Nay, semua bukti sudah kita dapatkan, jika nanti pengadilan meminta bukti tambahan kita tinggal melampirkannya."


Naya mengangguk setuju.


Naya pun pamit karena Januar tampak tak sabar untuk meninggalkan tempat itu, apa lagi Naya dan Aslan hanya berdua.


"Sebenarnya kita akan Ke butik mana" tanya Naya yang sudah cukup lama perjalanan tapi belum juga Januar menghentikan mobil.


"Tidak jadi..." Naya mengerutkan alisnya saat Januar menjawab ketus.


"Kok..."


Ciiitt......


Tubuh Naya pastilah akan membentur dashboard mobil jika saja ia tak memakai seatbelt saat Januar mendadak menginjak rem mobil.


"Kapan sidang perceraianmu akan di mulai?" pertanyaan yang membuat Naya kembali shock.


"Kenapa kau tanyakan hal itu ?"


"Aku ingin kau hanya miliku, dan tak ada lelaki lain yang berani mendekatimu" jelas Januar dingin.


Naya hanya menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan jalan pikiran Januar yang tampak ke kanak-kanakkan.


"Aku sudah meminta Aslan untuk sekalian mengurusi sidang perceraianku nanti, lalu butik mana yang akan kita tuju."


"Tidak usah, aku sudah suruh Jefry membelinya" jawab januar enteng.


Naya hanya bisa mengusap dadanya, sikap dewasa yang selama ini melekat di diri Januar seakan hilang sudah, kini bahkan cenderung menjadi sikap bocil yang sering uring-uringan nggak jelas, apalagi kalau ada sesuatu yang mengganggu moodbosternya.

__ADS_1


Tak ingin mengganggu singa yang lapar Naya pun pasrah saat Januar melajukan mobil dengan kecepatan tinggi kembali ke apartemen.


Sudah berputar-putar satu jam lebih namun akhirnya mereka kembali ke apartemen dengan tangan kosong.


Naya membuka pintu mobil lalu berjalan keluar menuju lobi.


"Mbak Nay, tolong ini kemeja putih yang Tuan januar pesan" Jefry menyerahkan Lima tote bag berisi kemeja putih semua.


"Banyak banget Jef?"


"Soalnya bingung mbak, dia pesannya kemeja warna putih tulang, nggak bilang tulang ayam atau tulang kucing atau mungkin saja tulang rawan..., jadi saya beli aja yang ada" jawab Jefry jujur.


Naya pun mengangguk pasrah lalu mengikuti Januar yang sudah mendahuluinya.


"Terima kasih Jef."


Jefry mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


Ruangan lift yang kebetulan sedang kosong membuat Naya menyandarkan tubuhnya.


"Sebenarnya ada apa dengan anda pak?"tanya Naya.


bukannya menjawab Januar malah mendengus kesal.


"Kau masih saja memanggilku 'Pak'" protesnya sinis.


"Hmm, aku minta maaf, kami hanya membicarakan materi untuk sidang kedua esok."


"Benarkah?"tanya Januar tak percaya, Naya menganguk memastikan.


"Sungguh?" kembali Januar bertanya sambil mulai memajukan wajahnya ke arah Naya.


"Iya sungguh, aku nggak bohong sayang..."


Bluss.


Sepersekian detik tubuh Januar membeku baru kali ini ia merasa sebahagia ini, Naya memanggilnya 'sayang' membuat jantung Januar seakan ingin meloncat keluar saking bahagia.


"Baiklah, kali ini aku percaya, tapi jangan kau ulangi lagi untuk bertemu dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuanku !"


Naya mengangguk lega, Januar kalau merajuk sangatlah mudah di obati.


Ceklek.


Naya memasuki apartemen dengan tote bag di tangannya, sementara Januar langsung menuju kamar dengan senyum tersungging tanpa henti, juga hati yang sangat riang, masih terngiang di telinganya saat Naya memanggil 'sayang' padanya.

__ADS_1


"Wah mbak Nay habis belanja dengan Mas Januar?"tanta Bu Heni antusias.


"Bukan Bu, itu semua punya dia."


Bu Heni membulatkan mulutnya, lima tote bag berisi lima potong kemeja dan semua berwarna putih, yang menjadi pikirannya adalah warna dan model sama dan masing-masing kemeja berharga hampir satu juta, jika di gabungkan harga lima potong maka itu sama saja dengan gajihnya satu bulan, jeritan hati Bu Heni sambil mengelus dada.


"Mbak sudah makan?"tanya Bu Heni.


"Saya sudah Bu, tapi pak Januar belum."


"Kalau begitu mau saya panasin dulu."


Jika di apartemen Januar sedang merasa terbang di awang-awang, beda dengan Kendra yang tampak lesu, bahkan makanan lezat yang Aslan pesan untuknya masih utuh, Elis hanya mengedikan bahu saat Aslan bertanya apa yang terjadi.


Masih membayang di pelupuk mata Kendra, Januar berani memeluk Naya dengan erat bahkan di saat Kendra Dan Vega ada di ruangan yang sama.


Harapan Kendra sempat pupus saat Naya sudah menikah dengan Danu, tapi kala mengetahui kisah pernikahan mereka tak berjalan bahagia, tekad Kendra pun kembali bangkit untuk kembali mendapatkan Naya, rasa yang kini bahkan semakin bertambah, rasa simpati dan rasa ingin membahagiakan Naya semakin besar.


Namun dinding terjal kembali menghadangnya, adik sahabat sekaligus atasannya sendiri bergerak lebih cepat dari dugaannya.


"Hei Lu kenapa bro? adakah sesuatu yang sedang mengganggu hatimu."


Kendra hanya melihat Aslan sekilas, masih sungkan rasanya membagi resah di hati dengan sahabat lamanya itu.


"Gue hanya sedang tak enak badan Lan, sorry gue mau istirahat dulu."


Elis dan Aslan saling pandang, tak biasanya Kendra bersikap se muram itu.


"Oke kau seorang dokter, jadi ku kira kau punya metode tersendiri untuk menyembuhkan lukamu" Aslan menepuk bahu Kendra yang hendak pergi.


Elis memandang kepergian lelaki yang sudah lama menempati hatinya, sejak pulang dari Tinar Perkasa, pria itu hanya diam termenung.


"Lu juga ada apa lagi heum?heran gue, semua orang yang datang ke sini sepertinya ada masalah, Januar pun tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba datang dan sikapnya sinis padaku, lalu Kendra dengan wajah tanpa fokusnya, sekarang Lu juga...."hardik Aslan kesal.


"Hem Gue nggak apa-apa kok, bagaimana menurutmu kasus Naya, apakah Danu benar tidak terlibat dengan Silvy?"


"Menurutku tidak, mereka hanya terlibat dalam hubungan cinta, tapi untuk kejahatan yang silvy lakukan, Danu bersih" jawab Aslan bijak.


"Hmm cinta, dasar lelaki brengsek, baru kena getahnya dia, selama ini mencintai wanita berhati busuk, kini bahkan dia sendiri di hianati" Elis berucap sinis bahkan kebencian tersirat jelas dari sorot matanya.


"Tapi ku lihat, lelaki itu sangat menyesalinya" timpal Aslan.


"Cih menyesal setelah kenyang celap-celup, nggak rela gue kalau Naya balikan lagi sama dia."


"Jadi ..apa menurutmu mereka akan berpisah?" tanya Aslan, ia ingin membenarkan perkataan Tiwi yang pernah memintanya untuk mengurus perceraian Naya dan Danu.

__ADS_1


"Ya tentu saja, lebih baik mereka berpisah, Naya pantas mendapatkan yang lebih baik dari Danu, dan Naya pantas untuk bahagia."


__ADS_2