
Januar melempar jas nya ke sandaran kursi lalu melonggarkan dasi hitam bergaris abu miliknya.
Berpenampilan resmi sungguh sangat menyiksanya, pakaian casual lah yang selalu membuatnya nyaman, bahkan celana pendek dengan kemeja atau kaos oblong adalah pakaian yang sebagian besar ada di lemarinya.
Tok tok tok.
"Pak, ini ada data rincian dari pembangunan kantor D, dan setelah saya lihat, harga dan data sudah cocok, Bapak Januar tinggal tanda tangan" Naya menyerahkan map di atas meja Januar.
"Dan ini satu lagi tender yang baru kita dapatkan, mereka menginginkan bangunan secepatnya berdiri tapi budget masih alot di rundingkan Pak" terang Naya.
"Hemm, mau berulah lagi satu klien ini, sudah tak perlu kita perpanjang kerja sama dengan mereka, enak saja ingin bahan premium tapi dana minimun."
Naya mengerutkan alis rupanya atasannya itu sudah tahu tentang kliennya kali ini, mereka terkenal dengan banyak permintaan tapi tak mau bermodal.
Jika selama ini Tiwi masih bekerja sama karena mereka adalah langganan tetap, tapi tidak bagi Januar, ia akan bersikap tegas.
Ambil jika menguntungkan kedua belah pihak, tinggalkan jika hanya mereka yang untung sedangkan kita buntung, itu moto nya.
"Baik Pak."
Naya pun melangkah ke luar ruangan.
"Tunggu, nanti makan siang di mana?" tanya Januar tiba-tiba, membuat langkah Naya terhenti.
Kenapa dengan atasannya itu, untuk apa menanyakan di mana dia akan makan siang.
"A aku belum tahu kota ini, juga restoran dan tempat makan mana yang bagus dan enak" Januar mengatakan hal yang logis yang membuat Naya menerbitkan senyum.
Manis.
"Biasanya saya makan siang di restoran Mm di depan gedung ini" jawab Naya ramah.
"Heum kalau begitu nanti kita makan siang di sana" ucap Januar tenang.
"Baik Pak."
Dan sesuai rencana, jam makan siang pun datang.Januar pun melangkah mengikuti Naya menuju restoran yang letaknya bersebelahan dengan gedung miliknya.
Para kayawan dari berbagai instansi sudah mulai berdatangan, bahkan ada pula karyawan Tinar Perkasa.
Restoran itu memang termasuk restoran langganan para karyawan selain harganya ramah di kantong, rasa makanannya pun enak dan tempat yang bersih dan nyaman.
Naya memesan dua menu yang ia sama kan dengan Januar, namun tingkat kepedasan ia beda kan.
__ADS_1
Dengan lahap seperti biasa Naya menyantap makanannya, Januar melihat dengan tatapan jengah, wanita yang tak memiliki ke anggunan sama sekali, ucap batinnya.
Dengan terpaksa Januar menyantap hidangan yang Naya pesan, beberapa saat lidahnya menyesap rasa, hmm tak terlalu buruk, ia membatin.
Makan siang pun usai, lalu keduanya kembali pulang ke perusahaan dengan jalan kaki.
Tatapan Januar selalu tajam ke depan, jambang nya yang hitam lebat ia biarkan tumbuh bahkan bibirnya yang merah alami hampir tertutup bulu halus kumisnya.
Sesekali Naya melirik ke Januar, usianya mungkin lebih muda empat tahun dari nya tapi rona muka Januar terlihat lebih tua.
"Kenapa memandangku terus? suka?" tanya pria gagah itu dengan percaya diri.
Wajah Naya berubah merah bak kepiting rebus, bukan naksir apalagi suka, ia hanya ingin memastikan apakah benar pria di sampingnya adalah adik Tiwi.
Memang keduanya terlihat sama dalam hal ke lebatan rambut, rambut Tiwi hitam dan lebat, buku mata dan alisnya pun hitam alami.
Begitupun pria bernama Januar itu, rambutnya hitam legam kumis dan jambangnya ia biarkan tumbuh lebat.
Mereka tetap tak saling bicara, bahkan hingga lift sampai di lantai ruangan mereka.
********
Dua minggu pun berlalu, Januar tetap dengan pemerintaahnnya yang keras dan tegas, namun justru itu membuat perusahaan Tinar Perkasa miliknya menjadi sebuah perusahaan yang semakin di segani, sikap tegasnya membuat para klien tak lagi menganggapnya remeh.
Dan bisa di buktikan, banyak klien yang merasa puas bekerja dengan Januar.
Semakin lama Januar semakin paham dan tahu selek beluk jalanan ibu kota, juga restoran tempat makanan enak.
Naya lah yang selalu sabar memberi informasi tentang apa yang di butuhkan Januar untuk beradaptasi dengan cepat di kota yang baru ia tempati beberapa minggu itu.
***********
"Mas, aku masakin bubur untukmu, suaramu serak, mungkin kau panas dalam" ujar Naya yang sempat mendengar sang suami beberapa kali batuk.
Danu hanya melihat sekilas pada Naya dan semangkuk bubur yang ia taruh di atas meja di depannya.
"Makanlah Mas, aku akan keluar sebentar, ada keperluan yang harus ku beli di mini market di bawah" ijin naya.
Danu menganguk sebagai tanda mengijinkan Naya pergi, ia sangat enggan mengeluarkan suara, karena tenggorokannya terasa perih.
Dua hari kemarin ia menginap di hotel bersama Silvy, dan tentu saja soft drink dan minuman berkadar alkohol cukup tinggi selalu menemani mereka.
Naya bergegas pulang setelah semua yang ia butuhkan masuk ke keranjang belanjaannya.
__ADS_1
Ting.
Naya melihat Danu yang masih terbaring di atas sofa, ia menempelkan punggung tangannya di kening Danu, dan benar dugaannya, suhu tubuh Danu lebih panas dari suhu normal.
Ia segera ke kamar untuk mengambil handuk kecil untuk mengompres sang suami, juga paracetamol miliknya.
"Ayo makan dulu mas, nanti minum obatnya" ujar Naya lembut.
Danu menggeleng pelan, "Tenggorokanku sakit kalau untuk nelan makanan Nay" jawab Danu serak.
"Coba dulu sedikit di paksain Mas, setelah itu minum obatnya, kalau masih juga tak sembuh baru kita ke dokter" terang Naya sambil menyuapkan bubur ke mulutnya.
Baru dua suap tapi Danu sudah menggerakan tangannya agar Naya menyudahi suapannya.
"Minum obat ini dulu Mas, nanti baru tidur" Naya kali ini mrnyodorkan obat dan segelas air hangat.
Dengan susah payah, Danu akhirnya berhasil menelan obat tersebut.
Dengan perlahan Naya kembali membaringkan tubuh Danu di sofa dan menyelimutinya dengan selimut halus milik Danu.
Danu mengerutkan alisnya saat kain basah hangat menempel di keningnya.
"Diam dulu sebentar Mas, aku coba turunin panas dengan mengompresnya, semoga demam mu bisa turun" ucap Naya lembut.
Danu hanya bisa pasrah saat kain lembab itu menempel di keningnya.
"Kau belum berangkat ke kantor Nay?" tanya Danu.
"Sst jangan banyak gerak Mas, nanti handuknya lepas lagi, aku sudah ijin tadi pada atasanku."
"Aku tidak apa-apa Nay, kau nggak perlu ijin tak masuk kerja" protes Danu tak enak hati.
Naya menghela nafas panjang, meski selama ini danu begitu dingin dan menganggap keberadannya di apartement hanya sebagai istri pajangan tapi Naya masih memiliki hati yang tak akan tega melihat suami nya tergeletak tak berdaya.
"Sudah lah Mas, kau sedang sakit, kau harus istirahat dan biarkan aku merawatmu, ku mohon jangan buat aku menjadi seorang istri durhaka yang membiarkan suaminya tak berdaya sendiri" Naya berucap datar sambil mengganti kain kompresan yang baru.
Deg.
Danu terdiam, ucapan Naya seakan menikam tepat di ulu hatinya.
Ia yang hanya menganggap Naya sebagai pajangan dan selalu bersikap dingin dan acuh, ternyata dengan penuh kelembutan Naya rela merawatnya, bahkan rela tidak masuk kerja hanya untuk merawat demamnya.
"Maafkan aku, jika telah membuatmu kecewa" ucap Danu lirih sambil melirik ke arah Naya namun sang istri hanya diam tak menjawab.
__ADS_1
Kau memang sudah membuatku kecewa Mas.