
Vega terpaksa keluar kamar setelah Januar mengusirnya dengan alasan ia akan mandi.
"Lho Ga, kok keluar?" tanya Naya.
"Hm katanya kak Januar mau mandi mbak, jadi aku di suruh keluar."
Naya membulatkan mulutnya hanya ber'oh' ria.
"Mbak Nay, kira-kira kalau aku magang di tempat kak Januar boleh nggak ya?" tanya Vega.
"Hm kau tanya saja padanya, mungkin ada lowongan."
"Baiklah besok aku akan bawa lamarannya biar kak Jan bisa memeriksanya."
"Malam ini kau akan tidur di sini kan?" tanya Naya.
"Apa boleh?"
"Tentu saja boleh"jawab Naya sambil berjalan menuju dapur.
"Mbak Nay kapan kau akan kembali bekerja di perusahaan kak Jan?"
"Entahlah, akupun merasa tak enak, sudah lama aku ambil cuti, malah kini kakiku kembali luka"sesal Naya.
"Tapi kak Jan tidak galak kan?"
Naya diam merenung mengingat kembali bagaimana sikap dingin Januar saat pertama kali memimpin PT.Tinar Perkasa menggantikan Tiwi, ia sangat tegas dan tidak mentolerir klienya yang bermasalah.
"Dia baik pada karyawannya, tapi tegas dalam setiap perintahnya."
"Vega, boleh aku minta tolong padamu, tolong antarkan minuman ini untuk Pak Januar, ini bagus untuk radang tenggorokannya."
"Baik Mbak Nay.."Vega penuh semangat membawa minuman buatan Naya ke kamar Januar.
Tok tok tok.
"Masuk."
Ceklek.
"Maaf kak Jan, aku mengantarkan minuman, ini mbak Nay yang buat, katanya bagus untuk radang tenggorokanmu."
"Taruhlah di atas meja"Januar menunjuk dengan pandangan matanya ke meja di sudut kamar.
"Kak Jan, aku juga mau ijin untuk menginap di sini, kata mbak Nay, aku di suruh temenin dia."
"Heum.." Januar hanya menjawab dengan anggukan kepala, namun itu sudah membuat Vega girang.
"Baiklah terima kasih Kak, dan selamat tidur."
"Ehm apa dia sudah tidur?" Januar tiba-tiba ingat kalau Naya harus meminum obatnya.
"Belum kak, mbak Nay belum tidur, kenapa?"
__ADS_1
"Pastikan sebelum tidur minum dulu obatnya, agar luka kakinya cepat kering"jelas Januar.
Vega mengangguk lalu pergi dari ruangan.
ceklek.
"Sudah kau kasih ke dia? Apa dia mau meminumnga?"tanya Naya.
"Sudah mbak, dia mau kok, oiya..kak Jan menyuruh mbak Nay agar jangan lupa minum obatnya."
"Oiya...aku baru ingat" ucap Naya sambil mengedikan alisnya lalu segera mengambil obat miliknya untuk di minum.
"Mbak Nay, kau beruntung ya, kak Jan sangat perhatian padamu."
"Iya, aku sangat berhutang budi pada mereka, Tiwi dan pak Januar, tanpa mereka aku tak tahu harus ke mana lagi mencari sandaran."
"Mbak Nay jangan sedih gitu dong, sekarang kan sudah ada aku, aku pasti akan temani Mbak Nay kapanpun dan di mana pun"
"Terima kasih Ga, ayo kita tidur, besok pagi kita bikin sup ayam jahe."
Keduanya saling berangkulan menuju kamar Naya, sikap Vega yang ceria di satukan dengan Naya yang lembut membuat keduanya cepat akrab.
Pukul sepuluh Januar keluar kamarnya, suasana dapur dan ruang tengah tampak gelap dan hening, ia melihat ke kamar Naya yang sudah tertutup rapat.
Drrt drrt.
"Iya ada apa pak Jan?" tanya Naya di ujung telepon.
"Apa kau sudah meminum obatmu?" tanya Januar.
"Hm ya sudah, tidurlah" Januar menutup panggilan.
"Siapa mbak Nay?"
"Pak Januar, tanyain aku sudah minum obat atau belum?"
"Wahh perhatian sekali kakJanuar pada mbak Nay."
"Mungkin aku sudah di anggapnya seperti kakaknya sendiri" jawab Naya lalu membenahi selimutnya.
Tapi dia bilang kalau dia tak menganggapmu sebagai kakak mbak.
Januar baru bisa tertidur sekitar pukul dua belas, tidur siang membuat matanya susah terpejam.
Pagi hari Danu menggeliat di atas ranjangnya, tangannya menyapu di sampingnya terasa dingin seperti biasa.
Kapan aku bisa membawamu kembali Nay?di sinilah tempatmu, di sampingku menikmati malam nan dingin bersama.
Suasana pagi yang dingin membuat pikiran Danu melanglang jauh, ia merasa beruntung bisa mengetahui kebusukan Silvy lebih awal hingga ia bisa melepas jerat pesonanya yang licik.
Teet.
Terdengar suara bel pintu berbunyi, Danu pun bangkit membuka pintu.
__ADS_1
Ceklek.
"Pagi Bos?"sapa Sam hormat.
"Hmm, bagaimana keadaan Naya Sam?" tanya Danu yang sedikit cemas karena Sam mendapat informasi bahwa Naya terluka kakinya.
"Sepertinya luka Non Naya tidak terlalu mengkhawatirkan bos,meski Tuan Januar sudah membelikan tongkat kaki, tapi Non Naya jarang memakainya" ucap Sam.
Danu sudah menyebar orang untuk memantau gerak Naya selama dua puluh empat jam agar ia bisa mengetahui perkembangan istrinya itu.
"Jika dia tak bisa menjaganya, maka aku harus membawa Naya segera ke apartemen ini" ucap Danu tegas.
"Lalu apakah Non Naya mau bertemu denganmu Bos?"
"Tentu saja mau, tapi dia tak mengatakan kapan ia ingin menemuiku" jawab Danu dengan senyum smirk.
Dengan mau nya Naya bertemu dengannya maka itu merupakan salah satu tanda bahwa Naya mau kembali padanya, batin Danu.
"Baik Bos, saya berangkat dulu" ujar Sam lalu keluar dari apartemen membawa tas berisi data penting yang sudah Danu tanda tangan.
"Jangan lupa hasil rapat kau kirim ke emailku segera Sam."
"Baik Bos."
Entah kenapa hari ini Danu ingin tetap berada di apartemennya, menikmati me time dengan bersantai apalagi setelah beberapa hari ini ia terpaksa ke kantor polisi untuk memberi keterangan.
"Sialan, kapan kalian bisa menangkap wanita itu" Danu bermonolog sendiri.
Silvy pasti masih berada di kota ini, menurut keterangan anak buahnya yang ia sebar di bandara, mereka tak mendapat informasi bahwa Silvy pergi dari negara ini.
"Kau pasti akan ku dapatkan" sambung Danu dengan senyum smirk.
Setelah membersihkan tubuh danu keluar apartemen untuk mengisi perut, sebenarnya enggan ia keluar tapi perutnya berdemo minta di isi.
Di sebuah restoran yang terletak di gedung sebelah apartemen, Danu kini sedang duduk menikmati secangkit kopi hangat dan omelet juga sosis panggang.
Sejak pernikahannya dengan Naya, Danu tak pernah mengunjungi keluarganya, mungkinkah Naya akan senang kalau ia ajak ke rumah orang tuanya, Danu membatin.
Selesai menikmati sarapan yang terlambat akhirnya Danu pun kembali ke apartemen, Sam sudah mengirimnya beberapa email yang harus ia periksa.
Cuaca siang yang terik membuat Danu sangat enggan meski hanya untuk memeriksa tugas dari Sam.
Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang di ruang tengah, perut yang kenyang membuatnya jatuh terlelap.
Pukul dua baru Danu bangun dan tersadar bahwa ada berkas penting yang harus ia periksa, di lihatnya sang asisten sudah beberapa kali menghubunginya.
"Ya Sam, semua sudah ku tanda tangan, lu tinggal ambil di sini" jawab Danu santai, tanpa menyadari di seberang telepon Sam menggerutu panjang pendek, waktunya banyak terbuang sia-sia hanya untuk mengambil berkas ke apartemen Danu.
Merasa tubuhnya gerah Danu pun beranjak ke kamarnya untuk mandi, dengan guyuran air shower yang segar cukup membuat tubuh lengket Danu kembali segar.
Teett.
"His kenapa cepat sekali kau sampai" gerutu Danu lirih sambil melilitkan handuk di pinggangnya.
__ADS_1
Ceklek.
"Mas Danu...."