
"Nay, Lu nggak apa-apa kan di antar Januar?" tanya Tiwi.
"Oke nggak apa-apa" jawabnya sambil mengangguk.
Mereka berpisah di parkiran, anis dengan Tiwi sedang Naya mengikuti langkah Januar memasuki mobil dengan wajah datar dan dingin.
Meski wajahnya sedingin kutub, tapi Januar tetap memasangkan seatbelt Naya dengan penuh perhatian.
Dengan dada masih bergemuruh Naya duduk diam di samping Januar yang mulai fokus pada kemudinya.
"Bagaimana? Apa kau masih berniat untuk memutuskan hubungan kita" tanya sinis Januar akhirnya.
Glek.
Memang Naya hanya berucap spontan karena ia masih di bayangi sikap Tiwi yang begitu berharap pada Januar agar menerima Anis yang terang-terangan menyukainya.
Namun di relung hatinya paling dalam, Naya pun enggan berpisah dengan pria yang begitu me ratu kan dirinya juga pria yang membuatnya bisa merasakan apa itu cinta sesungguhnya.
"Dengarlah kata-kataku ini, kita akan tetap bersama, aku akan segera mengatakan pada kedua orang tuaku agar memberi ijin pada kita" ujar Januar pasti.
"Tidak, jangan dulu kau katakan pada ayah dan ibu mu, aku belum siap jika mereka nanti membenciku.."
Januar menatap Naya, wanita satu-satunya yang kini menjadi harapan masa depannya.
"Baiklah, apapun yang kau minta akan aku lakukan, tapi aku pun tak bisa terus bertahan untuk menyembunyikan hubungan kita, aku minta, kau selalu di sisiku, kita berjuang bersama, jangan pernah berniat meninggalkanku" ucap Januar dalam.
Naya mengangguk lalu membuka pintu mobil, ia menahan Januar saat pria itu hendak turun mengikutinya.
"Jangan, kau pulanglah langsung, mereka pasti menunggumu"ujar Naya lirih lalu berbalik menuju lobi. Ada rasa sesak di dadanya saat mengingat ada hati lain yang sedang menunggu Januar.
Dengan wajah murung Naya berdiri di depan lift, suasana lobi tampak sepi karena memang sudah cukup larut, Naya pun melangkah masuk saat panel lift terbuka.
Januar melajukan mobil kembali ke apartemen, suasana tampak sepi lalu dilihatnya kamar Tiwi sudah terkunci.
Ceklek.
Januar membuang matanya saat Anis keluar dari pintu kamarnya.
"Kau sudah pulang?"tanyanya lembut.
"Heum" januar menjawab singkat lalu melangkah ke kamarnya.
"Tunggu" panggil Anis sambil melangkah ke kamarnya mengambil sesuatu.
__ADS_1
"Aku nggak tahu apa kau menyukainya, tapi ...ku harap kau mau memakainya" Anis menjulurkan tangan menyerahkan kado kecil pada Januar.
"Oh,oke nanti ku pakai..terima kasih" ujar Januar santai lalu ke kamarnya tanpa membuka kado tersebut.
Anis tersenyum bahagia, membeli sepasang jam tangan mahal untuk di pakai bersama Januar akhirnya tercapai.
Di kasurnya yang luas Januar menghempaskan tubuhnya dan terbang ke alam mimpi setelah terlebih dahulu menghubungi Jefry, ia merasa lega karena pria itu sudah berhasil mendapatkan apa yang di titahnya.
Pagi pun datang, seperti biasa Anis memasak untum sarapan sang pujaan.
Dengan setelan jas kantor, Januar sungguh terlihat semakin gagah dan dewasa, berkali-kali Anis mencuri pandang pada pria pujaan hatinya.
Dengan tenang Januar menyantap sarapan yang di buat Anis, setelah melrik ke seluruh ruangan ia pikir inilah saatnya untuk mengatakan pada gadis itu.
"Nis, maaf ...aku tidak bisa memakai pemberianmu, kau simpanlah baik-baik hingga suatu saat nanti ada seseorang yang lebih tepat untuk memakainya"Januar berkata bijak sambil menyerahkan kado pemberian Anis.
Gadis ayu itu tertegun, meski raut wajahnya datar seperti biasa tapi hatinya hancur berkeping-keping, Januar dengan halus telah menolak perasannya.
Bibir Anis bergetar bahkan kedua matanya kini mulai berkabut saat Januar melangkah pergi.
Dari balik pintu kamar Tiwi menghela nafas panjang, niatnya keluar kamar urung saat ia samar mendengar Januar berbicara serius pada Anis.
Dasar bocah bodohh, kenapa gadis se cantik itu masih ia tolak, mau cari wanita seperti apalagi kamu Jaaaan, umpat Tiwi dalam hati.
Ceklek.
"Pagi Nis, hmm harumnya masakanmu?masak apa pagi ini?" Tiwi berusaha mencairkan suasana hati gadis ayu itu yang pastinya sangat buruk.
"Hm hanya ini mbak, ayo makan mbak?" jawab Anis lembut dan ramah seperti biasa.
Tiwi pun menikmati sarapan meski dengan sedikit rasa bersalah bercokol di hatinya.
"Oiya Nis, aku mau ke salon punya Elis dulu sebentar, apa kau mau ikut?" tanya Tiwi.
"Ehm mungkin tidak mbak, aku hari ini kurang enak badan" jawab Anis bohong.
"Wah apa kau sakit? Apa kita ke Kendra aja minta obat ?"tanya Tiwi panik.
"Tidak usah Mbak, aku juga ada persediaan obat, nanti aku minum dan istirahat pasti juga sembuh."
"hm oke kalau begitu kau istirahatlah."
Anis mengangguk lalu melangkah ke kamar.
__ADS_1
Tiwi bergegas bersiap, ia ingin menghajar habis-habisan adik satu-satunya itu.
Satu jam perjalanan akhirnya Tiwi pun sampai di gedung Tinar perkasa.
"Hai Ga, apa Januar ada di ruangannya?"
"Ada Mbak, tadi saya juga habis dari ruangannya, di sana juga ada Mbak Naya" terang Vega hormat.
Tiwi pun mengangguk lalu melangkah menuju rungan Januar.
Tok tok tok.
Ceklek.
Januar mengerutkan alis saat melihat Tiwi, sedang Naya yang sedang duduk menunggu tanda tangan berkas tersenyum senang.
"Hai, ...kau sendiri?mana Anis?"tanya nya.
"Hhmm Gue datang sendiri mau ngajak perhitungan sama ini bocah" jawab Tiwi kesal.
Januar tetap santai memeriksa dokumen.
"Hei ..apa maksudmu menolak pemberian Anis hah? apa salahnya kau terima hadiah darinya, dia sudah berusaha keras mencari jam mahal itu untuk di berikan padamu, tapi kenapa dengan tak berperasaan kau menolaknya ?" cerocos Tiwi kesal.
"Karena ada hati yang harus aku jaga Mbak" jawab Januar santai, membuat Naya melotot tajam ke arahnya.
"Hah, kau menjaga hati siapa, sok laku Lu, memang ada cewek yang mau selain Anis, sudah beruntung Lu di sukai gadis ayu lembut, dan pintar itu, mau cari yang seperti apa lagiii"Tiwi terus berucap dengan kesal namun Januar tak menggubrisnya.
"Huh dasar!!, ayo Nay, kita pergi dari sini, gue pinjem Naya, tugasnya Lu kasih sama Vega aja"Tiwi menarik tangan Naya untuk keluar ruangan.
"Hei mau kemana kalian."
"Bukan urusanmu!!" jawab Tiwi sinis.
Brakk, Tiwi membanting pintu keras.
Januar hanya menghela nafas panjang, jam dinding menunjukan pukul sebelas lebih tiga puluh menit, memang sebentar lagi jam istirahat siang.
Januar pun membereskan berkasnya, ia melangkah untuk mengambil jas di gantungan di dejat jendela, saat itula ia melihat Tiwi dengan tangan menggandeng Naya tersenyum lebar pada seorang oria tampan dengan kemeja lengan panjang yang di lipat sebatas siku.
Dari kejauhan sosoknya tampan rupawan, dan yang lebih mengesalkan hati Januar adalah, pria itu tak lain adalah pimpinan perusahaan salah satu kliennya yang bernama Kevin.
Dengan gerak secepat kilat, Januar menyambar jas lalu berlari ke arah pintu keluar, ia terus mengumpat panjang pendek, rupanya Tiwi mengajak Naya untuk bertemu dengan Kevin.
__ADS_1
Merasa kecolongan Januar terus berlari keluar dari lift menuju mobilnya.