
"Uhukk uhukk..." Januar terbatuk keras, entah kenapa terasa ada sebuah kursi yang menyumbat tenggorokannya.
Tiwi melihat Januar penuh tanda tanya karena sikap aneh sang adik sangat tak biasa.
"Lu kalau batuk minta obat sama Kendra gih" titahnya.
Januar hanya membuang matanya jengah namun sempat melirik ke arah Naya.
Naya dengan senyum ramah mengulurkan tangan ke arah Anis dan di sambut anggukan kepala hormat.
"Kapan kalian datang?dan kenapa tidak mengabariku" tanya Naya menunjukan muka kesal meski hanya sandiwara.
"Aku datang pagi tadi, aku ingin memberi kejutan padamu."
Tiwi menarik tangan Naya untuk duduk di sofa panjang sedangkan Anis diam kikuk karena Tiwi seakan ingin memberi ruang untuknya dan Januar.
"Stt bagaimana pernikahan Lu, kapan sidang cerai di mulai?"bisik Tiwi tapi masih bisa di dengar Januar.
"Kami sudah sah cerai" ucapnya santai.
"Hah What??!!kapan? jadi sekarang Elu udah ada sertifikat jendes dong ??" Naya tersenyum masam dan mengangguk.
"Iyezz" Tiwi mengacungkan kepalan tangan ke udara dengan semangat, namun Naya langsung mentoyornya.
"Lu kejam amat, merasa bahagia sahabat Elu jadi janda."
Tiwi pun terkekeh di barengi Naya.
"Sst oiya Lu mending sama Kevin aja, dia pasti masih cinta mati sama Elu" tawar Tiwi membuat mata Januar kembali membulat tak senang.
"Ah Gue belum mikir sampai situ Wi, Gue mau nata hati Gue dulu, Gue mau sembuhin luka dan kepercayaan diri Gue" terang Naya.
Tiwi manggut-manggut.
Tok tok tok.
Ujo datang membawa makan siang yang Tiwi pesan.
Mata Tiwi berbinar bahagia melihat makanan tanah air yang sudah lama ia rindukan.
Naya hanya menggelengkan kepalanya melihat meja kini telah penuh makanan.
"Ayo kita nikmati makan siang bersama " ajaknya penuh semangat.
Naya Anis dan Tiwi menikmati makan siang dengan lahap, hanya Januar yang makan tak berselera.
"Wuaahh senangnya, akhirnya hari ini rasa rinduku bisa terbalaskan, memang masakan tanah air adalah makanan terenak nomor satu di dunia" pekik Tiwi, Anis pun manggut-manggut meng iya kan.
"Sorry Wi, Gue mau ke ruangan gue ya, nggak enak Vega kerja sendiri" pamit Naya.
"Oke, Gue juga mau pulang, mau istirahat, nanti malem kita ngumpul lagi ya, Gue udah hubungi Elis biar nyiapin amunisi buat tar malem" Naya mengangguk lalu keluar ruangan, membiarkan Januar yang sempat melirik tajam ke arahnya.
"Mbak Nay, emang ada acara apa di ruangan Pak Jan, Ujo bagiin Sate sama baso spesial katanya dari Ibu Bos" tanya Vega.
"Oh itu, Bu Tiwi datang mau liburan di sini, dan dia beli banyak makanan katanya kangen makanan khas indonesia" terang Naya.
"Lho Ibu Bos, berarti kakaknya Pak Jan?"
__ADS_1
Naya mengangguk sambil membereskan berkas.
"Mbak Nay sahabatan sama Ibu Bos lama?" kembali Vega penasaran.
"Kami sama-sama satu kampus dulu, dan sampai sekarang kita masih berteman, Elis dan dokter Kendra juga termasuk satu kampus cuma beda fakultas."
Drrt drrt.
Naya melihat layar ponsel yang ternyata Januar memintanya mengambil memo di ruangannya.
"Ga tolong kamu ke ruangan Pak Jan, ambil memo untuk di distribusi ke personalia" titah Naya.
"Baik Mbak."
Tak sampai lima menit Vega kembali ke ruangan dengan wajah murung.
"Kenapa Ga?" tanya Naya.
"Nggak tahu mbak, tiba-tiba pak Jan marah sama aku" jawabnya sedih.
Naya mengerutkan alisnya, apakah ada hal yang mengganggu pikiran Januar, batinnya.
"Mungkin dia sedang tak enak hati, sabar ya..." Naya berusaha menenangkan Vega.
Sore hari Naya pulang bersama Vega karena sopir sudah menjemputnya dari bengkel.
"Huff akhirnya kita pulang" ucap Vega menghempaskan pantatnya di sofa apartemen Naya.
"Mbak aku mau cari apartemen tolong cariin mbak"
"Hmm kamu mau cari yang model apa? Nanti aku coba cariin."
Naya mengangguk, ia pernah mendengar kalau tetangganya akan pindah apartemen tapi entah di jual atau di sewakan, andai Vega tinggal dekat dengannya Naya akan merasa senang karena Bu Heni pun beberapa hari lagi akan pergi karena Kendra menugaskannya untuk merawat salah satu pasien lansianya.
Pukul tujuh Naya sudah bersiap karena Tiwi akan menjemputnya, sedangkan Vega sudah pulang beberapa saat yang lalu.
Tiit tiit.
Suara klakson terdengar dari dalam lobi begitu Naya keluar dari lift.
"Hmm Lu sendiri" tanya Naya begitu memasuki mobil Tiwi.
"Hmm, Anis nggak mau ikut" jawab Tiwi.
Naya terdiam, jadi sekarang Januar ada di apartemen berdua dengan Anis, Naya membatin lirih.
Di sebuah parkiran bar Tiwi memarkirkan mobilnya, bar di mana mereka selalu menghabiskan waktu weekend bertiga.
Tiwi memeluk Elis erat, rindu setelah cukup lama mereka berpisah.Seorang bartender tampan tersenyum ramah dan terus bergoyang sambil meracik minuman pesanan.
Tiwi rupanya benar-benar ingin menikmati malam dengan puas, setelah sekian lama tinggal bersama kedua orang tuanya, terpaksa Tiwi menahan hobby nya menghabiskan waktu di bar.
Dua gelas minuman beralkohol sudah habis ia tengggak, bahkan kini ia mulai ikut bergerak menggoyangkan kepalanya, racauan tak jelas keluar dari mulutnya yang berbau alkohol.
Drrt drrt.
Layar ponsel Tiwi menyala saat Anis memanggil.
__ADS_1
"Ya...halo, kenapa Nis, ...ish , oke aku pulang" Tiwi mendesis karena kepalanya mulai berat.
"Siapa?" tanya Elis.
"Tuh bocah sialan, udah Gue kasih kesempatan waktu berdua di apartemen biar mereka bisa dekat, eh malah kabur tuh bocah " Tiwi mengumpat kesal pada Januar yang ternyata meninggalkan Anis sendiri di apartemen.
"Oke Gue anter Tiwi, Lu tunggu si sini biar gue hubungi Kendra untuk jemput Elu"
Naya menghubungi Kendra untuk menjemput Elis, karena tak memungkinkan gadis itu untuk mengemudi dalam keadaan setengah sadar.
Untung saja Naya tak menyentuh minuman panas itu, hingga ia bisa membawa mobil.
Sesampainya di apartemen Naya membaringkan tubuh Tiwi di kasur setelah mengganti bajunya dengan baju rumahan.
Ia menyisir apartemen, ruangan yang tampak sepi karena kamar Anis pun sudah terkunci.
Naya melangkahkan kakinya perlahan menuju keluar namun.
Ceklek.
Pintu apartemen terbuka.
Naya diam berdiri membeku menatap wajah Januar yang lusuh yang juga memandang lekat ke arahnya.
Ingin rasanya ia merengkuh erat wanita itu ke dalam pelukannya, hatinya begitu tersiksa menyembunyikan perasaan yang selalu membuncah jika bertemu dengan wanita cantik itu, sesak rasa dadanya saat harus berpura jika di antara mereka tak ada cerita.
Perlahan Januar melangkah maju, mengikis jarak hingga keduanya semakin dekat, nafas Januar bahkan terasa jelas menerpa wajah Naya.
"Kenapa...kenapa kau membuatku begitu tersiksa, kenapa kita harus menyembunyikan hubungan kita" tanya Januar dengan wajah melas.
"Mungkin ini yang terbaik yang kita lakukan, aku tak ingin membuat kakakmu kecewa, lihatlah seberapa besar usahanya untuk mendekatkan kau dengan gadis itu, aku yakin mereka menginginkan kalian bersatu, aku tak ingin merusak harapan mereka, aku ..."
"Bullshit...aku tak percaya, atau kau memang sebenarnya ingin meninggalkanku heum?? atau mungkin kau ingin bersama Kevin? pria yang menaruh hati padamu sejak lama itu?"Januar kini mulai tampak emosi, mengingat Tiwi sudah merencanakan untuk menjodohkan Naya dengan Kevin, CEO muda yang juga salah satu pemegang saham terbesar di Tinar Perkasa.
"Tidak, aku sama sekali tidak ada maksud seperti itu sungguh" Naya menggeleng mendengar tuduhan Januar padanya.
Hanya helaan nafas panjang yang Januar lakukan.
"Ayo aku antar kau pulang, ini sudah larut" ujar Januar dingin.
Keduanya pun meninggalkan apartemen menuju mobil.
Selama perjalanan keduanya tak mengeluarkan sepatah katapun.
Januar sesekali melirik Naya yang terus memandang kosong lurus ke depan.
Di depan lobi apartemen Januar menghentikan mobilnya.
"Tak usah turun, aku akan langsung naik, terima kasih" ucap Naya datar.
Entah kenapa dada Januar begitu sesak, lalu ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
"Bagaimana ?apa sudah kau temukan?"
"Sudah Tuan, tapi dia tidak bermaksud menjualnya" jawab Jefry dari seberang telepon.
"Berikan seberapa pun yang dia minta asal dia pergi dari situ."
__ADS_1
"Baik Tuan."