Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Jefry dan Tanu


__ADS_3

Jangan lupa kasih like koment dan vote nya ya gaess....😘😘😘


Saran dan kritik akan othor terima dengan lapang dada, jangan kejam-kejam kasih kritiknya ya gaes, ngothor gambang baper, apalagi kalau tanggal tuwa bangka.


Happy reading 🤗🤗🤗🤗🤗🤗


💜💜💜💜💜💜


Bahkan hingga tengah malam pun Naya tak bisa memejamkan matanya, rasa kantuk seakan hilang dalam kamus di kepalanya.


Danu dengan mudahnya memutuskan hubungan mereka secara sepihak, sesak dada Naya, hancur hati nya membuat ia seakan tak ada daya lagi untuk menghadapi hari esok.


Waktu satu tahun ternyata terlalu panjang bagi Danu untuk menerima Naya menjadi seorang istri.


Beberapa pesan di ponselnya tak membuat hati Naya tertarik untuk melihat, impian menjadi seorang istri yang baik yang selalu ia bayangkan kini sudah tak ada lagi.


Pagi hari Naya bangun pukul lima, karena kurang tidur juga obat yang lupa ia minum membuat pusing kepalanya bukannya membaik tapi semakin parah.


Meski berat, Naya harus tetap masuk kerja, tak enak hati rasanya jika masih lancang ijin karena kemarin Januar sudah bermurah hati memberinya waktu untuk istirahat.


Minuman teh hangat yang di campur sedikit madu sudah Naya habiskan, kiranya bisa sedikit menahan rasa lapar jika nanti ia tak sarapan.


Naya sudah membereskan semua baju ke dalam kopernya yang nanti nya akan ia bawa ke kantor, mungkin sore nanti ia terpaksa tinggal sementara lagi di apartement miliknya.


Ceklek.


Danu keluar dari kamar dengan masih menggenakan baju tidurnya, pria tampan itu mengambil air dingin di kulkas, keberadaan Naya di ruang tengah seakan tak kasat mata baginya, jangankan menyapa selamat pagi, melihat pun pria itu seakan tak sudi.


Naya hanya bisa menghela nafas panjang, entah apa yang membuat sang suami begitu benci padanya, bahkan setelah kebaikan dan perhatiannya selama ini.


Danu kembali ke kamarnya dengan wajah datar dan dingin.


Langkah Naya terhenti saat ia teringat obat pusing belum ia konsumsi, dengan bergegas Naya membuat roti isi selai yang akan ia makan sebelum minum obat.

__ADS_1


Semoga kau bisa membuat tubuhku kembali sehat dan kuat menghadapi kenyataan pahit ini, gumam Naya dalam hati sambil memandang obat yang akan ia makan.


Jika memang Danu menginginkan mereka berpisah maka Naya hanya bisa pasrah, untuk apa mempertahankan biduk rumah tangga, jika suaminya bahkan tak pernah sudi untuk menyentuhnya.


Ceklek, Danu keluar kamar sudah dengan setelan kantornya, saat pria itu hendak memakai sepatunya Naya memanggil dengan lembut.


"Mas, mungkin mulai saat ini aku lebih baik meninggalkan apartement ini, karena hubungan di antara kita mungkin memang hanya sampai di sini, dan aku pun menyadari, kau tak pernah menyukaiku, jadi aku tak ingin keberadaanku malah akan semakin membuatmu membenciku, hanya satu yang harus kau tahu Mas, aku tak pernah melakukan seperti yang kau tuduhkan, aku masih punya harga diri dan martabat sebagai seorang istri, maafkan jika semua yang telah aku lakukan selama di apartement ini membuatmu kesal dan marah, dan terima kasih karena kau telah sudi menerima ku menjadi seorang istri.."


"Heum, baguslah kalau kau memang mempunyai hati nurani, dan mungkin dengan kau pergi dari sini bisa lebih membuatmu bebas melakukan apa yang kau suka di luar sana..."jawaban Danu membuat dada Naya berdenyut nyeri.


Naya hanya menunduk dengan wajah murung ia tak mau lagi menangisi kemalangan yang sedang menimpa dirinya.Biarlah suaminya selalu berprasangka buruk terhadapnya, mungkin hanya waktu yang akan bisa membuktikan itu semua.


Danu melangkah dengan langkah panjang, ia bisa melihat satu koper Naya di depan pintu kamar.


Cih ternyata kau memang sudah mempersiapkannya, berlagak sedih di depanku, tapi di belakang kau pasti bersorak girang, batin Danu geram.


Karena tak mungkin membawa koper dengan menaiki motor, Naya pun me mesan taxi online agar ia lebih leluasa membawa koper besar miliknya sekalian ke kantor, sore hari sepulang kerja ia baru akan langsung ke apartement.


Beberapa karyawan tampak memandang Naya penuh tanda tanya, dengan koper besar di jinjingnya berat hingga jalannya pun tertatih.


"Heum bawa baju Bang."


"Baju mau di bawa ke mana Mbak? apa mau hiling ya?" tanya Ujo iseng.


"He hee iya Bang" jawab Naya singkat.


"Bang, apa Pak Januar belum datang?."


"Sudah Mbak, tapi tadi pergi lagi, katanya ada urusan penting, kalau ada sesuatu Mbak Nay di suruh menghubunginya" terang Ujo.


Naya mengangguk mengerti, syukurlah dengan tidak adanya Januar ia bisa sedikit bersantai di ruangannya.


"Ini koper mau di taruh di mana Mbak?."

__ADS_1


"Di ruanganku saja Bang, terima kasih banyak Bang, sudah bawain koperku."


Ujo mengangguk sambil mengacungkan jempolnya "Kalau ada apa-apa jangan sungkan Mbak, kalau Bang Ujo sanggup pasti akan Bang Ujo bantu."


Naya mengangguk dengan perasaan haru, karena masih ada yang bisa ia mintai bantuan.


Sementara itu Januar kini sudah berada di apartementnya kembali, dua orang mengikutinya dengan langkah tegap.


"Kalian tunggulah di ruangan itu" Januar mengedikan dagu ke arah ruang kerja nya, dan dua pria itu pun masuk ke ruangan.


"Kak, benar orang yang kau rekomendasikan bisa di percaya" tanya Januar di ponselnya.


"Mereka sudah mendatangimu? tenanglah, mereka orang-orang pilihan yang sudah Kakak kenal, kau bisa mengandalkan mereka untuk apapun, otak dan tubuh mereka sangat bisa di andalkan" terang Tiwi panjang.


Januar meminta Tiwi untuk mencari orang kepercayaan untuk membantunya dalam menangani urusan kantor maupun pribadinya.


Jefri dan Tanu menjadi pilihan Tiwi, karena mereka juga sering membantunya jika dalam masalah.


Tanu yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata bisa membantu untuk mengamankan urusan data perusahaan yang seringkali bocor maupun hilang karena tangan-tangan pintar yang mencuri data penting Tinar Perkasa.


Sedangkan Jefry dengan tubuh tegap dengan keahlian beberapa ilmu bela diri yang di milikinya bisa Januar pakai untuk melindungi dirinya dari serangan musuh yang menginginkannya celaka.


Januar hanya bisa menghea nafas panjang, jika tanpa bantuan Tiwi sang kakak dirinya tak akan paham dunia bisnis yang kejam.


Banyak sekali orang-orang bermuka dua yang ingin mencelakainya juga ingin menghancurkan perusahaan Tinar Perkasa.


Karena kecerdasan Tiwi lah Tinar Perkasa bisa menjadi besar, semenjak ayahnya sakit, Januar terpaksa mengurus keperluan untuk berangkat ke KL untuk berobat sang Ayah, ia yang saat itu masih kuliah belum bisa menggantikan posisi ayahnya memimpin Tinar Perkasa, hingga Tiwi lah yang akhirnya menjadi pemimpin perusahaan tersebut.


Dan setelah Januar sudah cukup umur, dan pendidikan pun sudah ia selesaikan, kepemimpinan beralih ia yang memegang kekuasaan atas perintah sang Ayah.


Tanpa Tiwi, Tinar Perkasa tak mungkin berkembang pesat seperti saat ini.


"Baiklah untuk perkenalan kali ini ku kira sudah cukup karena aku harus segera kembali ke kantor" ujar Januar.

__ADS_1


"Baik Tuan, kami undur diri, dan ini nomor kami," Jefry menyerahkan kartu namanya dan kartu Tanu pada Januar.


Januar mengangguk dan kedua orang pilihan Tiwi pun pergi.


__ADS_2