Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Bathrobe Merah Muda


__ADS_3

Januar tertegun saat melihat air mata di sudut mata Naya yang terpejam.


"Maafkan aku yang tak ingin kehilanganmu" bisiknya lirih lalu mencium puncak kepala wanita itu lembut lalu mengusap air bening dari mata indahnya.


Naya hanya terpejam, tubuhnya begitu letih, tulangnya terasa remuk, bahkan bagian bawah tubuhnya masih terasa begitu perih dan mengganjal.


Januar bangkit dengan selimut yang ia lilitkan di tubuh bagian bawahnya, ia mengambil ponsel dari saku celananya yang berserakan di lantai.


Setelah menghubungi Jefry ia pun melangkah ke kamar mandi, namun tatapannya terhenti saat melihat noda merah di ranjang tepat di bawah Naya.


Dan dia bukan pria bodoh yang tak tahu darah apa itu, januar tersenyum bahagia meski matanya berkabut, rupanya dia lah pria pertama untuk Naya.


Dengan selimut lain Januar menutupi tubuh polos Naya yang tertidur, kecupan lembut kembali ia daratkan di puncak kepalanya.


Pantas saja ia merasakan keganjilan saat Naya tampak begitu kesakitan kala ia mulai memasukinya, rupanya ini adalah untuk pertama kali baginya.


Kau tak akan pernah ku lepaskan, seutuhnya kau hanya milikku.


Di bawah guyuran air shower Januar membasuh tubuhnya, ada rasa perih karena bekas luka cakaran Naya di punggungnya.


Dengan handuk putih yang melilit di tubuhnya Januar mencari sesuatu yang bisa ia pakai untuk menutup tubuhnya.


Januar menggaruk kepalanya yang nasih basah, terpaksa ia memakai bathrobe merah muda milik Naya yang tergantung di kamar mandi.


Tok tok tok.


Ceklek.

__ADS_1


"Tuan ini baju nya, apa ada lagi yang ...."


"Ssttt, jangan terlalu keras nanti dia bangun" ucap Januar sambil melirik ke pintu kamar Naya.


Jefry hanya menelan ludah kasar, bathrobe merah muda yang di kenakan sang bos pastilah milik Naya, ia membatin.


"Udah Lu cepat pergi" dengan tanpa perasaan Januar menutup pintu tanpa memperdulikan Jefry yang masih berada di depannya.


Setelah mengganti baju Januar menuju ruang kulkas di ruang dapur, dengan bahan seadanya ia membuat makanan pengganjal perut, setelah olah raga panas dengan Naya membuat tenaganya seakan terkuras habis.


Senyum Januar terbit, nasi goreng sederhana sudah siap di meja makan.


Dengan pelan ia membuka tuas pintu.


"Sayang bangunlah, kita makan dulu" bisiknya sambil mengusap puncak kepala Naya yang menyembul dari balik selimut.


Naya membuka selimut dan membuka matanya, matanya mengerjap pelan untuk mengumpulkan kesadaran.


"Hah oh Tuhan..." pekiknya spontan setelah menyadari apa yang telah terjadi, lalu bangun dengan cepat namun tiba-tiba desisan keluar dari mulutnya sambil tangan memegang bagian bawah tubuhnya yang terasa perih dan ngilu.


Tubuh Naya kembali terduduk di samping ranjang, rasanya remuk seluruh tulang tubuhnya, lalu ia memandang Januar.


"Baju siapa yang kau pakai?"tanyanya heran.


"Tadi ku suruh Jefry mengantarkan baju ku" jawaban santai Januar membuat Naya terkejut.


"Tenang lah dia tak akan berani macam-macam" terang Januar mengetahui apa yang ada dalam pikiran Naya.

__ADS_1


"Kau mandi dulu nanti kita makan, aku sudah buat nasi goreng."


Naya bangun untuk melangkah ke kamar mandi, tapi langkahnya urung karena rasa sakit di daerah ************ begitu menyiksanya.


"Kenapa? Sakit?"tanya Januar polos, membuat wajah Naya merona merah.


Reflek Januar mengangkat tubuh yang berbalut selimut itu menuju kamar mandi, dan mendudukannya di atas kloset.


"Mau mandi sendiri atau ku mandikan?" Januar tersenyum smirk namun berbeda dengan Naya yang seakan ingin menerkamnya.


"Keluarlah aku akan mandi" pinta Naya.


"Kenapa aku harus keluar toh semua yang ada di tubuhmu sudah aku lihat, bahkan yang tak bisa kau lihat pun aku mengetahuinya" kalimat frontal yang keluar dari bibir Januar membuat Naya membulatkan matanya, spontan ia meraih botol shampo yang ada di rak sabun dan hendak dilempar ke Januar.


"Oke ..oke..aku keluar, galak banget....cepatlah mandinya, keburu nasi jadi dingin" ucap Januar dari balik pintu.


Dengan tertatih Naya bangkit menuju shower, dan ia menutup mulutnya saat melihat rupa tubuhnya dari depan cermin.


Kembali umpatan panjang pendek keluar dari mulutnya yang di tujukan untuk Januar kala beberapa tanda cinta yang pria itu sematkan di beberapa bagian tubuhnya terlihat jelas.


Tok tok tok.


"Sayang cepatlah mandinya..atau aku akan menyusulmu ke dalam" teriakan Januar membuat Naya segera menguyur tubuhnya.


"Iya..tunggu bentar."


Tiga puluh menit akhirnya Naya sudah keluar kamar dengan baju tidur longgar miliknya lalu menuju ruang makan di mana Januar sudah menunggunya dengan senyum manis.

__ADS_1


Jalannya yang masih tertatih membuat rasa sesal timbul di hati Januar, kenapa ia terlalu bersemangat hingga membuat Naya seperti itu.


__ADS_2