
"Pagi Tuan, mau minum apa Tuan?" tanya Ujo.
Januar menggelengkan kepalanya tak bersemangat.
"Atau saya pesankan sarapan saja Tuan?" kembali tanya Ujo Januar acuhkan.
Ujo pun keluar ruangan dengan hati bertanya-tanya, Januar terus saja murung dari pertama kali datang.
"Eh blekok monyong.." ucap Ujo latah saat hendak betabrakan dengan Jefry di pintu.
"Ada Tuan Jan nggak di dalam?" tanya Jefry.
"Ada tapi sepertinya dia sedang galau" jawab Ujo jujur.
"Jangan suka berasumsi asal, siapa tahu Tuan Jan sedang memikirkam tender baru " bela Jefry sambil melangkah masuk ke ruangan Januar.
Ujo hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia paham dan bisa membedakan wajah orang yang galau karena cinta atau galau karena pekerjaan.
"Tuan,..."panggil Jefry lirih, ia tak mau mengagetkan sang bos yang sedang tertidur dengan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Tuan..."kembali panggilnya namun tak ada reaksi dari Januar.
Perlahan Jefry memegang kening Januar dengan punggung tangannya, dan rasa hangat langsung terasa oleh tangan Jefry.
"Tuan sakit tuan?"tanya Jefry panik.
"Tolong kau urus pekerjaan hari ini, aku ingin tidur dulu" jawab Januar bangkit dan melangkah ke ruangan pribadinya yang tersembunyi di belakang meja kerja.
"Baik Tuan."
Jefry menatap punggung Januar dengan hati melas, ia pun melanjutkan tugasnya di ruangannya.
Sementara itu Januar mencoba untuk memejamkan matanya dan tidur, kepalanya terasa amat berat sejak bangun pagi tadi.
Tok tok.
Januar mendengar pintu yang terbuka tapi ia tetap memejamkan matamya.
"Kau sakit? bangunlah minumlah obat dulu" suara dokter Kendra terdengar jelas dan punggung tangan menempel di kening Januar.
Pria itu pun langsung memeriksa organ vital Januar dengan intensif, rupanya tenggorokannya terkena radang yang membuat suhu badannya meningkat.
"Bagaimana dokter Kendra?" tanya Jefry.
"Aku akan antarkan dia pulang dulu Jef, biar dia istirahat di rumah."
Jefry mengangguk, keduanya lalu memapah Januar menuju mobil.
Dan Betapa terkejutnya Naya saat melihat Januar datang di papah oleh Kendra.
"Kenapa pak Januar Ken?"tanya Naya panik.
"Radang tenggorokan, sudah aku kasih obat, biarkan dia tidur" jawab Kendra dengan nafas memburu karena memapah tubuh kekar Januar sangat menguras tenaganya.
"Aku harus kembali ke perusahaan, biarkan dia tidur hubungi aku kalau panasmya belum juga turun" jelas Kendra.
Naya mengangguk sambil membetulkan selimut Januar.
"Kenapa panas sekali?"Naya bermonolog sendiri karena Kendra sudah pergi beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
Bergegas Naya mengambil kain dan air hangat untuk mengompres keningJanuar.
Tiga puluh menit sudah Naya mengompres Januar, dan beruntung panas badannya sudah berkurang.
Drrt drrt.
Naya tersenyum senang saat Vega mengirimnya pesan bahwa ia akan datang.
"Syukurlah sudah berkurang" ucap Naya lega setelah beberapa kali mengganti kain kompresan.
Dengan lembut Naya mengusap kening Januar yang mulai berkeringat.
"Pak Jan, minumlah air ini" bisik Naya lembut.
Januar membuka matanya perlahan, Naya meraih tubuh kekar Januar agar posisi kepalanya lebih tegak untuk memudahkannya meminum air di gelas yang ia pegang.
Glek glek.
Januar memejamkan matanya, ia tak perduli dengan rasa pusing di kepalanya, ia hanya ingin menikmati lebih lama lagi aroma tubuh Naya yang tengaj memeluknya.
Januar menghirup nafas dalam-dalam, wangi tubuh Naya sungguh membuatnya nyaman.
Teet.
"Maaf pak Jan, saya harus buka pintu dulu" ucap Naya sambil merebahkan kembali tubuh Januar.
Januar menghempaskan nafasnya kasar, kesal hatinya ada orang yang mengganggu keasikannya.
"Mbak Nay...halo, bagaimana kabarmu?" pekik Vega dengan senyum ceria memeluk Naya.
"Ah kaki mbak Nay kenapa?"tanyanya saat melihat Naya berjalan tertatih.
"Tenang mbak ku yang cantik semua pesananmu sudah aku belikan, dada ayam, sosis dan baso ikan"jawab Vega semangat.
Naya tersenyum lalu melangkah ke kamar Januar.
"Aku minta bantuanmu lagi Ga" ujarnya.
"Apa itu Mbak, hah Kak Januar kenapa? Dia sakit?."
"Iya badannya panas, tapi sudah ku kompres dan sekarang sudah turun, bajunya basah karena keringat, ayo bantu aku menggantinya Ga" Naya berucap santai sementara Januar yang mendengar kini berdebar-debar.
"Tapi nggak enak mbak Nay, dia kan..."
"Dia sudah ku anggap adikku sendiri, kau hanya memegang kaosnya aku yang akan membukanya" terang Naya.
Hah dia hanya menganggapku adik.
Vega dengan ragu memegang bahu Januar yang masih bersandar, sedangkan Naya mulai membuka kancing kemejanya satu persatu, karena fokus pada kegiatannya, Naya tak sadar dengan penampakan perut sixpack Januar yang terpahat sempurna.
Sementara Vega hanya bisa menahan nafas dan sorot mata tertuju pada tubuh Januar yang kini polos tanpa baju.
"Huhh haaaahhh.."Naya menghirup nafas panjang setelah berhasil mengganti kemeja Januar dengan kaos oblong rumahanya.
"Sudah, biarkan dia tidur, ayo kita buat bubur untuknya Ga" ajak Naya lalu keluar dari kamar.
Januar menghirup nafas lega, tubuhnya terasa meremang saat tangan lentik Naya menyentuh dadanya, bahkan kini celananya tiba-tiba terasa sesak karena ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana.
Haisst, kenapa kau bangun Din?.
__ADS_1
Januar memejamkan matanya, ia mencoba menenangkan jantungnya yang sempat berdebar tak karuan.
Sementara di dapur Vega dan Naya mulai membuat bubur untuk Januar.
Dengan kehadiran Vega cukup banyak membantu kegiatan Naya.
Setelah satu jam berkutat di dapur akhirnya bubur ayam berhasil mereka buat.
"Coba kau icip Ga" titah Naya.
"Hmm enak mbak Nay, mantul" ujar Vega antusias.
Naya tersenyum puas lalu mengambil satu mangkuk bubur untuk Januar.
Ceklek.
Rupanya Januar sudah terbangun beberapa saat yang lalu, ia yang sedang asik dengan ponselnya menoleh ke pintu di mana dua orang wanita cantik masuk.
"Ayo makanlah, bubur buatan kami, mumpung hangat."
Naya duduk di samping ranjang, Januar bangun dan menyandarkan tubuhnya di headboard.
Aroma wangi masakan yang Naya buat cukup membuat perut Januar keroncongan.
Dan satu mangkuk bubur ayam pun kini sudah berpindah tempat ke lambung januar.
"Enak kan?"tanya Naya dengan wajah manis.
Januar menjawab dengan menganggukan kepalanya.
"Oke aku tinggal dulu, Vega...kau temani dulu pak Januar, aku mau mandi dulu" ucap Naya.
Vega dengan senyum manis mengangguk senang, Januar hanya memutar matanya, ia merasa lebih baik sendiri di kamar dari pada bersama gadis cerewet itu bersamanya.
"Kak Jan sudah minum obat?"
"Hm sudah."
"Apa kak Jan mau aku kupasin buah?"
Januar menggeleng malas dengan mata tetap pada ponselnya.
"Mau aku buatin jus?"
"Naya sudah buatin tadi" jawab Januar datar.
"Senangnya memikiki seseorang yang sangat perhatian pada kita, kak Januar sangat beruntung karena Mbak Nay sudah menganggapmu seperti adiknya sendiri" ujar Vega lembut.
"Dia menganggapku seperti adik tapi tidak denganku" ujar Januar ketus.
Vega membulatkan matanya.
"Kenapa kau membencinya, apa salah mbak Nay padamu."
"Siapa bilang aku membencinya?."
"Tadi kak Jan bilang tak menganggapnya kakak, lalu kau anggap apa Mbak Nay ku?"
Januar menghela nafas panjang.
__ADS_1
Entahlah, jang jelas aku tak mau jadi adiknya.