Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Luka Naya 2


__ADS_3

Semua mata tertuju pada adegan dramatis di depan mereka, di mana Januar membopong Naya yang terluka ala bride style memasuki salon.


Beberapa karyawan yang memang semua wanita tampak terkesima dengan perlakuan Januar yang tampak begitu manis.


"Wahh apa itu suami Mbak Nay?."


"Bukan, itu adalah adik dari mbak Tiwi" beberapa dari mereka saling bisik.


"Bahagia sekali mbak Naya di ratukan pria ganteng itu ..ohh."


Naya yang merasa takut pun reflek mengalungkan tangannya ke leher Januar agar tak terjatuh.


Januar memasuki salon dan membaringkan tubuh Naya di sofa ruang tunggu.


Perlahan pria manis berwajah baby face itu membuka perban di kaki Naya.


"Pak, t tidak usah.." ucap Naya gugup sambil berusaha menarik kakinya yang di pegang Januar.


Tanpa bicara Januar melemparkan tatapan tajam ke arah Naya membuat wanita cantik itupun terdiam membiarkan Januar memeriksa luka di kakinya.


"Maaf, apakah ada kain atau sapu tangan?" tanya Januar pada karyawan yang mengerubutinya.


Salah satu Karyawan mengambil beberapa kain bersih di rak dan menyerahkan pada Januar.


"Sshhh.." desisan lembut keluar dari bibir Naya saat Januar mengelap lukanya dengan kain basah.


"Sakit?" tanya Januar sinis.


Naya mengangguk dengan bibir cemberut.


"Kalau tahu akan sakit lalu kenapa kau pakai kakimu untuk berlari tanpa tongkat" jawab Januar dingin sambil mengikat telapak kaki Naya dengan kain.


"Aku lupa.."jawaban Naya sontak membuat Januar membulatkan matanya.


Ia tak habis pikir dengan wanita di hadapannya itu, bagaimana mungkin lupa dengan luka di tubuhnya sendiri.


"Sebegitu cinta kah kau padanya hingga rasa sakit di tubuhmu seakan hilang" sindir Januar kesal.


Naya hanya menghela nafas panjang, apakah benar ia mencintai suaminya? Apakah memang ia terluka dengan penghianatan Danu? Kembali batin Naya di liputi tanda tanya.


"Kenapa tak kau jawab?"kembali Januar bertanya dengan sinis.


"Maaf..." hanya ucapan lirih yang bisa Naya katakan sambil tertunduk.


Namun kembali Naya di kagetkan oleh sikap Januar yang kembali membopongnya.


"Pak Jan, mau kemana lagi?" tanya Naya panik.


"Diamlah, kita ke rumah sakit."

__ADS_1


Kalimat tegas Januar membuat Naya terdiam, ia hanya bisa pasrah dan mengalungkan lagi tangannya di leher Januar.


Dengan lembut pria itu menurunkan tubuh Naya di kursi samping kemudi.


Naya diam tak berani lagi protes, meski lukanya tak terlalu serius tapi sikap tegas Januar sungguh mengerikan.


Sementara itu di parkiran gedung apartemen Danu, keributan masih berlangsung dramatis.


Polisi yang datang setelah Sam memberi informasi tentang keberadaan Silvy bergerak cepat untuk menangkap wanita licik itu.


Tapi bukan Silvy namanya jika ia bisa tertangkap dengan mudah.


Silvy yang panik saat Danu meneriaki Sam agar segera memanggil polisi pun segera berbalik kembali ke lantai di mana apartement Danu berada.


Dan dengan sebuah pisau buah di tangannya Silvy mulai berjalan dengan santai menghindari para petugas.


Bahkan Silvy sempat mengganti baju dengan kemeja lengan panjang milik Danu, juga topi yang tergeletak di meja pun Silvy ambil.


Ia memasuki lift dan berpapasan dengan polisi yang kebetulan keluar dari lift dan memasuki ruang apartemen setelah di beritahu nomor sandi pintu oleh Sam.


Beberapa petugas memasuki apartemen Danu dan memeriksa setiap sudut ruangan, mereka tak menyadari bahwa mereka baru saja berpapasan dengan orang yang sedang mereka cari yaitu Silvy.


Dengan langkah tenang Silvi keluar dari lift dan melangkah ke lobi apartemen.


"Sudah ku duga, mereka tak akan bisa menangkapmu dengan mudah nona, kecuali saya.." ucap Sam telah menunggu di pintu lift dan dengan sigap memeluk tubuh Silvy dari arah belakang.


"Lepaskan...brengsek sialan, lepaskan Sam, beraninya kau menyentuhku" hardik Silvy kesal.


"Kurang ajar kau, akan kupastikan kau pasti di pecat."


"Oya..siapa yang akan memecatku nona? Bukankah kau dulu yang sudah di pecat oleh bos Danu? heh kasihan sekali nasibmu nona, mungkin mulai besok kau akan tidur di lantai yang dingin di balik jeruji besi."


Tubuh Silvy yang berukuran jauh dari Sam membuatnya tak bisa berkutik bahkan ia tak bisa bergerak saat Sam sudah mengunci tubuhnya.


Ia hanya meringis kesal saat kedua tangannya terlipat ke belakang tubuhnya.


"Maaf nona,meski sedikit tak sopan, tapi ini harus saya lakukan demi ketentraman lahir dan batin tuan Danu dan Non Naya" terang Sam puas.


"Brengsek...tunggu pembalasanku Sam."


"Akan saya tunggu pembalasan darimu dengan senang hati nona" jawab Sam santai membuat Silvy semakin geram.


Polisi yang menyadari buruannya sudah tertangkap pun mulai berdatangan ke arah Sam.


"Errrhhh..."raungan penuh amarah Silvy hanya membuat Sam tersenyum puas.


Polisi menariknya untuk masuk ke dalam mobil dinas dengan kedua tangan terikat borgol.


Sam menyeringai lebar dengan tangan melambai ke arah Silvy.

__ADS_1


"Pak tolong jaga baik-baik wamita itu, karena akan susah sekali kalau sampai lepas" pesan Sam pada polisi yang di balas dengan hormat.


Sam menggelengkan kepalanya memandang mobil polisi yang menghilang di tikungan jalan.


Ia merasa sedikit lega karena Silvy akhirnya bisa tertangkap.


Drr drrrt.


"Ia bos?" tanya Sam saat Danu memanggil.


"Bagaimana Silvy? Apa polisi sudah datang?."


"Sudah beres bos, Non Silvy sudah di bawa kekantor polisi."


"Hmm bagus, ehm apa kau tahu ke mana kira-kira Naya pergi?"


"Entahlah bos, karena tuan Januar pun mengejarnya, saya hanya cemas, kaki non Naya kembali berdarah."


Danu meremat kemudinya mendengar penuturan sang asisten.


Pasti Naya begitu hancur melihatnya sedang bersama Silvy.


"Brengsek...sialaaan!!!!"teriak Danu keras, ia bagai orang gila yang terus memukul kemudinya.


Kenapa selalu saja ada pria itu, batin Danu.


Di sebuah parkiran gedung apartement Danu memarkirkan mobillnya, ia keluar dengan tongkat penyangga kaki milik Naya di tangannya.


Setelah menghembuskan nafas panjang dan menenangkan hatinya, Danu memasuki lobi apartement.


"Tuan..."satu suara menarik perhatian Danu hingga ia pun memalingkan tubuh ke arah sumber suara.


Wanita laruh baya yang tak lain adalah bu Heni berjalan cepat mendekati Danu.


"Apa Tuan mau menemui mbak Naya?" tanya bu Heni ragu, ia tahu pria itu adalah suami Naya.


"B benar bu" jawab Danu sambil menundukan kepalanya.


"Tapi mbak Naya nya belum pulang, tadi berangkat sudah lama."


Danu terdiam mematung, kemana lagi ia harus mencari istrinya, rasa sesalnya kini semakin menggunung, kebencian Naya pastilah tak akan bisa terkikis dari hatinya setelah ia melihat kesalah pahaman itu.


"Maaf bu, saya hanya mau mengantarkan tongkat miliknya" Danu menyerahkan tongkat kaki milik Naya pada Heni.


Bu Heni menerima dengan penuh tanda tanya, kenapa tongkat kaki Naya bisa berada di Danu sedangkan Naya tidak bersamanya.


Danu melangkah pergi meninggalkan gedung apartement, kini ia hanya bisa pasrah dan ber do'a, waktu yang akan menjawab apakah Naya mau kembali padanya, Danu kali ini tak mau serakah dan egois, luka Naya tak akan mungkin ia sembuhkan.


💜💜💜💜💜💜

__ADS_1


Tulis komen juga ya bestie, dan jangan lupa tinggalin jejak, like dan votenya.


__ADS_2