Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Di Mana Istriku


__ADS_3

Sam menatap Januar dan Naya bergantian.


"Ehm hmm, gini asisten Sam" Januar mengambil nafas bersiap untuk menjelaskan.


"Kami ...."


"Dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri, kakaknya adalah sahabat baikku" jelas Naya cepat.


Januar menatap Naya jengah, jika Naya menganggapnya seperti seorang adik, tapi tidak dengan dirinya.


Sam hanya me moncongkan bibirnya sambil ber 'oh' ria.


"Lalu bagaimana kabar Nona, bagaimana kecelakaan itu sampai terjadi?" tanya Sam.


"Ehm, mungkin memang sopir sedang kurang fokus, jadi mobil menabrak pembatas jalan" terang Naya bohong, tentu saja ia tak mengatakan secara jujur apa yang terjadi sebenarnya.


"Lalu bagaimana luka Non Naya? Apa sudah sembuh?"


"Heum, untuk luka semua sudah mengering, hanya kepala yang terkadang masih terasa berat" jawab Naya jujur.


Sam memindai tubuh Naya, kepalanya yang selalu memakai topi kupluk, pastilah itu efek operasi di kepalanya.


Naya terlihat kikuk karena Sam memandangnya intens.


"Maaf Non, saya baru bisa menjenguk Non Naya sekarang"sesal Sam lirih.


"Tak apa asisten Sam, saya malah yang seharusnya berterima kasih."


"Ehm ini Non Nay, ini amplop yang tertinggal di laci lemari di kamar Non Naya" Sam menyerahkan amplop berisi uang bulanan dari Danu dan ATM yang belum pernah Naya pakai.


"Tidak...maaf asisten Sam, aku tak bisa menerimanya, untuk apa nafkah yang di berikan oleh seorang suami pada istrinya sementara ia tak pernah menganggap aku sebagai istrinya sekalipun."


Sam tertunduk, ia tahu bagaimana kisah cerita perkawinan atasannya itu, jadi ia pun sedikit paham sakit yang di rasa oleh Naya.


"Maaf Nona...karena saya, Non Naya mendapat murka dari bos Danu" ucap Sam lirih.


"Bukan salahmu asisten Sam, jika seseorang sudah membencimu, meski hanya bernafas pun pasti terlihat salah di matanya, Mas Danu sangat membenciku, dan aku tak bisa memaksanya untuk menerima kehadiranku, mungkin perpisahan lah jalan terbaik bagi kami."


"Apa kau tidak akan mempertibangkan lagi keputusanmu Nona?."


"Tidak....kukira sudah cukup usaha yang sudah kulakukan selama ini, meskipun itu semua sia-sia....biarlah dia bahagia dengan wanita lain pilihannya" Naya berucap lirih, rasa sesak dadanya bagai luka yang teriris sembilu dan tersiram air cuka.


"Aku akan memintanya untuk menceraikan ku."

__ADS_1


Sam menatap Naya tajam, sinar mata indah itu memancarkan luka yang tak berdasar.Pria itu pun kini hanya bisa pasrah, mungkin wanita cantik itu memang tak berjodoh panjang dengan atasannya.


"Apa Bos sudah tahu kalau Nona menginginkan perpisahan?" tanya Sam.


"Dia yang memintanya sendiri."


"Saya hanya bisa mengatakan pada Non Naya, semoga tetap sabar dengan cobaan ini, dan saya tetap mendukung apapun keputusan Nona, besar harapan saya agar Nona bisa berbahagia kembali setelah berpisah dengan bos Danu, Non Naya berhak bahagia dengan lelaki yang mencintai Non Naya."


"Terima kasih atas dukungan asisten Sam selama ini."


Sam mengangguk penuh haru, bahkan kedua mata pria itu tampak berembun.


Andai saja suamimu tahu sebaik apa hatimu, aku yakin dia akan sangat menyesal telah melepasmu Nona, Sam membatin.


"Kalau begitu saya pamit Nona" ucap Sam akhirnya.


Naya pun mengangguk dan melambaikan tangan melepas kepergian asisten suaminya itu.


Ada rasa yang tak bisa Januar gambarkan saat ia secara sembunyi mendengar pembicaraan Naya dan asisten Sam.


Perasaan yang tak bisa di ungkapkan,lega dan bahagia karena wanita itu akan berpisah dengan suaminya.


Apakah aku se kejam itu, pikir Januar.Di antara mereka tak ada hubungan spesial tapi ia merasa Naya memang berhak bahagia, pernikahan yang hanya membuat hatinya terkekang dan hancur, untuk apa di pertahankan, kembali otaknya memberi alasan.


Ah kenapa dadaku sesak, memikirkan dia berada di pelukan seorang pria, otak kanan dan otak kiri Januar kini bagai saling beradu argumen.


Si satu sisi ia ingin Naya bahagia, di sisi lain ia tak ingin Naya mendapatkan pengganti Danu.


Ah perasaan apakah ini.


Januar meremat rambutnya kesal.


"Nay Bagaimana kalau...." Januar bangun mengalihkan tubuhnya namun seketika terdiam, rupanya ia sedang sendiri berada di ruangan tersebut.


"Eh di mana dia" ia bermonolog lirih sambil mencari sosok Naya yang rupanya sudah masuk ke kamarnya tanpa di sadari oleh Januar.


Pria baby face itu menghela nafas kasar, kenapa Naya selalu mengacuhkannya.


Sementara di kamar lain.


Danu tengah fokus pada laptop miliknya, melihat informasi yang di berikan oleh anak buahnya, antara percaya dan tak percaya kini menyelimuti hatinya.


Keraguan, bahkan tidak menerima kenyataan, saat Sam mengatakan kejujuran tentang Silvy padanya.Kini darahnya kembali mendidih bahkan terasa meluap hingga ke puncak ubun-ubun kepalanya.

__ADS_1


Pria yang bersama Silvy adalah salah satu anak pengusaha besar, rupanya ia baru beberapa minggu pulang dari luar negri, dan yang lebih membuat kemarahannya bangkit adalah, pria itu tinggal di negri di mana kedua orang tua Silvy kini berada.


Dan Danu baru ingat, dua bulan yang lalu Silvy pamit untuk pergi ke negara tersebut beberapa minggu dengan alasan rindu pada orang tuanya.


Dengan dada bergemuruh Danu melajukan mobil menuju kediaman Silvy, ia ingin memastikan apa yang telah anak buahnya dapat adalah sebuah kenyataan.


Tangan kekarnya mengepal kemudi dengan keras, kecepatan mobil pun ia pacu di atas rata-rata, namun keberuntungan rupanya tak berpihak padanya karena sebelum mobil Danu memasuki gerbang rumah Silvy, saat itulah sebuah mobil sedan hitam keluar dari gebang.


Jarak yang hanya sepelemparan batu, tentu saja mempermudah Danu untuk melihat cukup jelas siapa yang berada di dalam mobil lewat kaca samping mobil yang terbuka.


Pria yang sama yang bersama Silvy kemarin, batinnya geram.Dengan jarak aman, Danu terus mengikuti kemana laju mobil membawa Silvy.


Empat puluh lima menit akhirnya sedan hitam memasuki gerbang perumahan elit di pinggiran kota.


Tak ingin pengintaiannya di ketahui Silvy, Danu terpaksa menghentikan mobil di luar gerbang perumahan tersebut,masih di dalam mobilnya, Danu menghubungi anak buahnya agar menyusul ke tempat di mana saat ini ia berada.


Tiga puluh menit berlalu, sebuah motor matic berwarna hitam menghampiri mobil Danu yang terparkir tak jauh dari gerbang perumahan.


Pengendara motor langsung memberikan konci dan helm pada Danu, dan tanpa halangan setelah sedikit berbincang dengan satpam perumahan, akhirnya Danu berhasil memasuki area perumahan elit tersebut.


Berbekal pengetahuan tentang identitas pria selingkuhan Silvy, Danu mengecoh dua satpam tanpa curiga.


Rumah di mana sedan hitam yang membawa Silvy terparkir di depan sebuah rumah mewah yang berada di urutan ke lima dari gerbang.


Kembali Danu harus kecewa saat satpam rumah, tak mengijinkannya untuk memasuki area rumah tersebut.Karena tak ada pilihan lain ia pun memutar balikan motornya untuk kembali keluar dari perumahan tersrbut.


Jelaslah sudah, Silvy memang sudah menghianatinya, ia membatin geram.


Dengan tatapan mata kosong Danu memasuki apartement dengan langkah lesu, di ambilnya sebuah botol yang berada di rak khusus tempat koleksi minumannya, dan malam pun ia habiskan sambil meratapi penyesalan tak berujung, kepulan asap rokok dan minuman beralkohol yang sudah hampir habis ia teguk.


Dari jendela balkon apartement Danu berdiri dengan mata menerawang jauh, rasa sakit dan sesal memenuhi dadanya.


Brakk, tubuh kekar itupun akhirnya tumbang ke lantai apartement, sementara bunyi bel pintu beberapa kali terdengar.


"Bos...bos, kenapa jadi begini bos" teriak Sam histeris saat melihat tubuh Danu tergeletak di lantai balkon.


Meski beberapa kali Danu sudah menyakitinya tapi Sam tetap merasa kasihan pada Danu, melihat pria tegas dan angkuh itu tak berdaya, hatinya pun merasa sakit.


"Di mana dia Sam? di mana Naya berada, aku harus meminta maaf padanya Sam...bawa aku pada istriku Sam..."suara racauan Danu lirih di telinga Sam.


"Tidurlah dulu Bos, besok kita akan menemui Non Naya mu" ucap Sam sambil menyelimuti tubuh Danu.


Sam mengambil nafas kasar, memapah tubuh kekar Danu membuat dadanya terasa sesak.

__ADS_1


__ADS_2