
Brakk...
"Berani-beraninya kau berhianat di belakangku wanita ******......" kalimat Danu terdengar berat dan mengerikan.
Sam hanya mengusap tengkuknya yang meremang, kemarahan Danu baru pertama kali ia lihat.
"Sejak kapan kau mengetahui hal ini?" tanya Danu dengan tatapan intimidasi ke Sam.
"S sudah cukup lama Tuan..."
"Lalu kenapa tidak kau katakan padaku heum?."
"Tuan tak pernah memberi saya kesempatan, sudah berkali kali saya mencoba mengatakannya tapi saya rasa Tuan tidak akan percaya" jelas Sam membela diri.
"Bagaimana kau tahu aku tak akan percaya sedangkan kau belum mencoba mengatakannya" hardik Danu tak mau kalah.
"M maaf" ucap Sam pasrah, berdebat dengan sang atasan sama saja dengan menggali kubur sendiri.
Danu hanya menghela nafas panjang, memang selama ini ia di butakan oleh rasa cintanya yang begitu besar pada Silvy.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan, wajah Danu terlihat kusut masai dengan beberapa kaleng soft drink yang sudah kosong di hadapannya, Sam memandang wajah Danu miris.
Wajah tampan rupawan harta pun melimpah, masih saja di hianati, apa kabar dengan dirinya yang ganteng kadang-kadang, harta pun pas-pas an, pikir Sam.
Danu bangkit lalu dengan langkah gontai menuju parkiran.
"Tuan kita pulang?"tanya Sam lirih di belakang Danu.
Tak ada jawaban maupun gelengan kepala, hanya tatapan kosong ke arah mobil.
Dengan tergopoh Sam membuka pintu mobil, karena jalan Danu bagai seorang zombi.
"Silahkan Tuan" ujar Sam membuka pintu mobil.
Tak ingin mengganggu suasan hati sang Atasan, Sam melajukan mobil langsung ke gedung apartement Danu.
Dan dengan telaten Sam pun mengikuti Danu hingga ke pintu apartement.
Teet.
Ceklek.
Sam membuka pintu apartement membiarkan Danu melangkah langsung ke kamarnya tanpa menghiraukan Naya yang masih asik menonton televisi di ruang tengah.
Sam mengangguk hormat pada Naya yang membalasnya dengan senyum manis.
"Malam Pak Sam" sapa Naya lembut.
"Malam Non, belum tidur Non?" tanya balik Sam.
__ADS_1
"Tadi sepulang kerja saya ketiduran Pak, jadi sekarang saya bangun dan sudah hilang kantuknya, oiya mau makan Pak?, kebetulan saya baru bikin nasi goreng" tawar Naya.
"Ah tidak usah Non, saya sudah kenyang dan mau langsung pulang saja"Sam menolak halus.
Tapi rupanya mulut dan perut Sam kurang cukup brifing hingga mereka tidak kompak, saat mulut berkata menolak, namun sebaliknya dengan suara dari perutnya.
Naya tersenyum saat mendengar irama perut Sam terdengar nyaring, lalu ia mengambil sepiring nasi goreng dan segelas air minum.
"Makanlah Pak, jangan menolak rezeki, kasihan perut Bapak, nanti masuk angin karena kosong" terang Naya.
Sam hanya tersenyum masam, seharian mengikuti Atasan yang sedang galau dan dia lah yang terkena imbasnya, melewatkan makan siang membuat perutnya berdemo nyaring.
"Nggak usah malu-malu Pak" ucap Naya yang melihat Sam tampak kikuk padanya.
"T terima kasih Non" jawab Sam sopan.
Naya pun meninggalkan Sam menikmati makan nasi goreng di ruang makan, Naya menuju dapur untuk membersihkan peralatan masaknya.
Tak selang berapa lama akhirnya Sam memanggil dengan lembut.
"Non terima kasih makan malamnya, saya mau pamit pulang, takut di cariin sama istri" ujar Sam.
"Oiya baik Pak, hati-hati di jalan" jawab Naya.
Sam pun mengangguk hormat lalu keluar, bersamaan dengan keluarnya Sam, Danu pun keluar dari kamarnya.
"Siapa itu?" tanya Danu penuh nada intimidasi.
Danu hanya menatap sang istri dengan sinis, kenapa istrinya begitu perhatian pada sang asisten, apakah memang semua wanita memang murahan, batin Danu kesal lalu menuju dapur.
Kruuukk kruukk.
Untuk sepersekian detik Danu dan Naya saling pandang, namun dengan cepat Danu mengalihkan wajahnya ke arah lain.
"Kamu lapar Mas?" tanya Naya cepat.
"Ehm tidak itu hanya suara perutku saja yang sedang tidak nyaman" kilah Danu.
Naya hanya tersenyum tipis lalu ke dapur untuk mengambil nasi goreng yang kebetulan masih tersisa.
Perut merasa lapar juga termasuk keadaan tidak nyaman Mas, batin Naya.
"Mas ini nasi goreng yang aku buat masih banyak, meski tidak terlalu enak tapi cukup untuk mengganjal perutmu yang kosong."
"Tidak, aku akan pesan lewat online saja" tolak Danu.
"Mas, akan lama jika kau memesannya lewat online, ini makanlah, dan tinggalkan piring kotornya di atas meja, biar aku akan mencucinya besok? Aku mau ke kamar."
Danu hanya bisa menelan ludah kasar saat sepiring nasi goreng yang tercium begitu harum.
__ADS_1
Hanya beberapa menit akhirnya sepiring nasi goreng sukses berpindah ke perut Danu.
Toh dia tak melihatnya, ku bilang saja sudah ku buang ke tempat sampah, batin Danu lalu menaruh piring di bak cuci piring.
Pagi hari Naya bangun lebih awal, ia ingin membuat camilan untuk di bawa pergi bersama Elis menghabiskan weekend.
Ia ingin menikmati akhir pekan bersama sahabatnya itu.
Dulu mereka bertiga sering kali menghabiskan waktu bersama, dengan pergi nonton di bioskop ataupun belanja jajanan ke mall.
Meski Tiwi adalah atasannya tapi mereka bersahabat tanpa memandang status, bahkan persahabatan mereka melebihi seorang saudara.
Ceklek.
Danu keluar kamar dengan pakaian rumah, meski hanya celana pendek dan kaos oblong, tapi penampilan Danu tetap tak bisa menyembunyikan ketampanannya.
Danu melewati Naya yang sedang asik dengan kegiatannya.
"Ehm hmm, apa kau tidak pergi weekend ini?" tanya Danu.
"Ini mau Mas, tapi aku sedang buat camilan untuk nanti kami pergi nonton" jawab Naya santai.
Cih pasti dengan kekasihmu, Danu membatin.
"Mau coba nyicipin Mas?"Naya menyodorkan satu cup macaroni panggang.
Danu hanya melihat sekilas dengan menggelengkan kepalanya, gengsi rasanya makan makanan receh yang di buat sang istri.
Naya hanya bisa mengusap dada dengan acuhnya sang suami, sampai kapan kesabarannya akan membuahkan hasil, ia membatin lirih.
Setelah menyiapkan bekal dan bersiap Naya pun keluar apartemen.
Danu yang mengetahui sang istri sudah lergi, segera menuju ke ruang kerjanya, ia ingin menyelidiki siapa pria selingkuhan Silvy.
"Dasar wanita ******, rupanya kau memang pemburu pria berharta.....tak akan ku biarkan kau tenang setelah membuat hatiku hancur" Danu segera mematikan laptopnya, hari ini ia harus membuat Silvy memohon ampun padanya.
Setelah berganti baju dengan celana jeans panjang dan kaos panjang hitam yang ia singsikan sebatas siku, Danu pun keluar kamar.
Namun tatapannya berhenti di meja makan, satu kotak mini macaroni panggang yang entah berbumbu apa, menarik perhatian Danu.
Pria itu mengendus perlahan lalu menyendokan macaroni tersebut dan memasukan ke dalam mulut.
Hmm lumayan juga wanita itu membuat makanan ini, Danu membatin.
Entah karena perutnya yang lapar atau memang enak, Danu menghabiskan macaroni tersebut tanpa sisa.
Tiga puluh menit Danu sampai di kediaman Silvy, dan alis matanya mengerut saat melihat di garasi terparkir mobil lain yang bukan milik Silvy.
Dengan hati penuh tanda tanya Danu keluar dari mobil.
__ADS_1
Saat ia melangkah ke teras saat itulah pintu terbuka dan seorang pria keluar dengan tergesa dari rumah megah Silvy.