
Susah payah Naya akhirnya bisa me mejamkan matanya setelah waktu menjelang dini hari.
"Bu Hen, apa Naya belum bangun?" sapa Januar yang sudah bersiap untuk sarapan.
"Belum mas, nanti akan ibu panggilkan."
"Ah jangan Bu, biarkan nanti dia bangun sendiri."
Bu heni pun mengangguk meng iya kan.Januar pun berangkat ke kantornya tanpa bertemu Naya terlebih dahulu, padahal ada banyak yang ingin ia tanyakan padanya.Mulai hari ini ia tak mau lagi kecolongan, Januar sudah meminta Tanu untuk memantau kamera pengawas selama dua puluh empat jam kala dia bekerja, agar jika nanti Danu datang Tanu bisa segera menghubungi Januar.
Sementara itu Danu kini tengah fokus pada laptop miliknya.
Anak buahnya dengan cepat bisa mendapatkan informasi tentang korban kecelakaan mobil yang membawa Naya.
Satu orang meninggal dan satunya lagi masih di rawat di rumah sakit.
Anak buah kepercayaan Danu duduk di hadapannya dengan wajah serius.
"Kau lekas cari informasi tentang identas dua pria tersebut, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, juga orang-orang yang berhubungan dengan mereka."
"Siap Tuan, tapi kami mendapat berita terbaru bahwa ada orang mencurigakan yang telah membayar tagihan rumah sakit dan langsung melunasinya."
"Apa menurutmu orang yang membayar tagihan tersebut adalah bos mereka?"
"Benar tuan, karena jumlah uang yang harus mereka bayarkan ke pihak rumah sakit cukup banyak."
"Lalu apakah kau sudah mengantongi identitas donatur mereka?"
"Belum Tuan, tapi kami akan menyuruh orang untuk menyusup ke bagian administrasi rumah sakit untuk mencari nomor rekening donatur mereka."
"Bagus, jalankan sebaik mungkin, dan hubungi aku secepatmya jika kalian sudah mendapatkan informasi tersebut."
Pria berjaket dan bertopi hitam pun keluar dari ruangan Danu.
Ceklek.
"Tuan memanggil saya?" tanya Sam.
"Heum duduklah, ada hal penting yang harus kau jelaskan."
"Katakan dengan jelas, di mana Naya tinggal dan dengan siapa, lalu siapa saja orang-orang yang selalu pasang badan melindunginya."
Sam menatap wajah sang bos yang sedang dalam mode serius.
__ADS_1
"Apa benar anda ingin mendengar sejujurnya dariku bos?" tanya Sam yang juga serius.
"Tentu, aku ingin kau berkata jujur, apa pun itu."
"Apa nantinya tak akan membuatmu kembali murka?" ujar Sam penuh selidik.
Danu menghela nafas panjang, kali ini ia memang harus lebih menambah kesabarannya jika ingin Naya kembali padanya, ada banyak orang di sekelilingnya yang siap melindunginya kapan saja.
"Non Naya tinggal bersama adik sahabatnya, juga seorang perawat bernama bu Heni, sahabatnya ada Nona Elis dan Nona Tiwi."
"Apa wanita yang bersamanya kemarin itu adalah sahabatnya juga?"
"Iya, dia yang bernama Nona Elis, pemilik salon ternama di kota ini, satu lagi Nona Tiwi, sedang berada di KL bersama kedua orang tuanya."
"Lalu siapa adik sahabatnya yang tinggal bersama Naya?."
Sam terdiam, berat hatinya saat harus jujur mengatakan bahwa Non Naya tinggal bersama tuan Januar yang tak lain adalah atasannya sendiri sekaligus adik dari Nona Tiwi.
"Kenapa kau diam Sam?"
"Ehm, Non Naya tinggal bersama adik sahabatnya yaitu Tuan Januar."
"Ooh jadi Januar itu adalah saha.....hah, apa kau bilang?!"
Glek, Sam merutuki otak Danu yang lambat loading.
"Jadi mereka tinggal berdua di apartemen?"
"Tidak bos, ada bu Heni juga."
"Tapi dia adalah istriku, mana bisa tinggal bersama dengan lelaki lain apalagi di antara mereka tak ada hubungan darah."
Suruh siapa kau usir non Naya bos, Sam membatin.
"Mungkin untuk melindungi Non Naya bos?, setelah anda mengusirnya dari apartement ini, non Naya kecelakaan dan ternyata ada pihak lain yang menginginkan Non Naya mati, jadi mereka pikir hanya di apartemtn non Tiwi lah keselamatan Non Naya terjamin."
Danu mendengus kesal, tak rela hatinya mengetahui Naya tinggal bersama lelaki lain meski itu untuk keselamatan nyawanya, dan di apartemen tersebut pun mereka tidak tinggal berdua.
"Aku harus segera membawa Naya kembali, tak akan ku biarkan mereka merebutnya dariku" ucap Danu.
"Lalu apa yang akan kau lakuakan agar Non Naya kembali padamu?"
"Aku sudah mendapatkan informasi sopir yang membawa Naya hingga terjadi kecelakaan, dan mungkin sebentar lagi akan aku dapatkan siapa otak di balik kecelakaan yang menimpa Naya, darah di bayar dengan darah, begitupun nyawa, aku akan membuat perhitungan dengan siapa pun yang mencoba membunuh istriku" ucap Danu geram.
__ADS_1
"Bagaimana jika ternyata orang itu adalah orang yang dekat denganmu Bos?."
"Apa maksudmu Sam?"
"Ah tidak, itu hanya pendapat saya saja, mungkin saja orang itu merasa tidak senang dengan keberadaan non Naya di sampingmu Bos."
Sam langsung keluar ruangan, takut jika Danu terus mencerca dengan pertanyaan yang membuatnya mati kutu, Sam berpendapat bahwa orang itu tentu berhubungan dekat dengan Danu, entah itu saingan bisnisnya atau pun orang yang pernah dekat dengannya.
Danu termenung di ruangannya, kalimat Sam ada benarnya juga, jika kolega bisnis, Danu kira tak ada yang tega berbuat sekejam itu, karena Danu mengenal baik dan mereka bertemu rutin, tapi entah dengan orang di belakangnya.
Jika dia tak bisa menerka orang yang menjadi rivalnya tapi mungkinkah Sam mendapatkan bayangan siapa orang yang masuk dalam daftar buku hitamnya.
"Sam, ke ruanganku sekarang juga" panggil Danu lewat ponsel.
Glek."Apalagi sii bos" Sam bermonolog sendiri.
Ceklek, Sam melangkah perlahan memasuki ruangan Danu kembali.
"Aku tahu kau pasti sudah menerka siapa dalang di balik ini semua" kalimat telak Danu membuat Sam diam, ia memang sudah menyelidiki secara sembunyi-sembunyi tentang Silvy, gerak langkah Silvy sudah ia amati, Sam tahu Silvy pastilah mempunyai andil besar atas kejadian yang menimpa Naya.
Namun perkiraannya masih akan sulit terpecahkan jika tanpa kerja sama dengan Danu, namun hati kecilnya masih bisa berfikir bagaimana perasaan Danu nantinya, jika sampai tahu kekasihnya lah orang yang mereka cari.
"Maaf Bos, ini hanya menurut perkiraan saya, karena bukti pun belum saya dapatkan sepenuhnya, saya sangat membutuhkan kerja sama dengan anda."
Sam berucap lirih, raut wajah Danu hanya bisa pasrah karena ia pun kini sudah menduga jika Silvy lah pelaku utama.
"Katakan apa yang harus aku lakukan agar buktimu memang benar."
"Saya ingin bukti transferan yang anda kirim ke nona Silvy selama ini, apakah ada transaksi beberapa hari belakangan ini?"
Danu mengangguk jujur karena ia masih sempat mengirimkan sejumlah uang pada Silvy untuk mentraktir para sahabatnya, Danu pun memberikan bukti transferannya pada Silvy selama satu bulan ini pada Sam.
"Gila, dalam satu bulan kau mengeluarkan uang segini banyak untuk non Silvy bos?" tanya Sam tak percaya.
Danu mengangguk lesu, ia kini menyadari kebodohannya selama ini.Semua keinginan silvy selalu Danu penuhi, barang-barang branded, liburan mewah dan uang rutin Silvy untuk perawatan tubuhnya yang berjumlah fantastis.
Sam terus saja menggelengkan kepalanya.
"Kau begiru royal pada kekasihmu, tapi untuk istrimu tak lebih dari sepuluh persen yang kau beri untuk Non naya Bos" ucap Sam jujur.
"Teruslah kau ucapkan semua daftar kebodohan yang sudah ku lakukan pada Naya..." ujar danu sinis.
Iapun sangat merasa bersalah telah menuduh Naya gila harta, sedangkan sebaliknya, Silvy lah yang terus memerasnya secara halus tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Baik Bos, aku tak akan lagi mengungkit kebodohanmu, aku akan mencocokkan bukti ini dengan informasi yang sudah saya dapatkan, jika memang cocok maka kau harus siap kehilangan Non Silvy."
"Bahkan sesalku terbesar adalah telah mengenalnya Sam..."