Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Bimbang


__ADS_3

"Minum dulu mbak Nay" bu Heni menyodorkan segelas air bening ke Naya, wajah cantiknya yang masih tampak shock membuat bu Heni trenyuh.


Naya mengambil air dan meminumnya hingga tandas, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


Ceklek.


"Naya..kamu tidak apa-apa" suara Januar yang berat terdengar panik sambil mata mencari keberadaan wanita yang telah menyita tempat di hatinya.


"A aku tidak ..."kalimat yang tak terselesaikan karena Januar lebih dulu meraih tubuhnya ke dalam pelukannya.


Bu Heni hanya menutup mulut dengan kedua tangannya, adegan romantis yang kembali terulang.


Untuk beberapa lama Naya tak dapat menggerakan tubuhnya karena pelukan erat Januar.


"Syukurlah kau tak apa-apa" Januar mengurai tubuhnya dan matanya memindai Naya dengan intens, ia masih belum sadar akan perlakuan manisnya membuat bu Heni masih membeku di tempatnya berdiri.


"Ada apa dia datang ke sini?apa dia tidak menyakitimu?" tanya Januar.


Naya menggeleng pelan, dari mana Januar tahu jika Danu datang kembali ke gedung apartemen untuk menemuinya.


"Dia datang hanya ingin meminta maaf" jawab Naya mencoba santai karena masih berusaha menutupi kegugupan di hatinya.


"Benarkah?" tanya Januar tak percaya, ia terpaksa meninggalkan meeting saat anak buahnya mengirimkan rekaman kamera pengawas saat Danu datang ke lobi apartemen.


Naya mengangguk "Dia juga mengatakan bahwa kecelakaan itu bukan atas perintahnya, mas Danu tak ada hubungannya dengan semua ini" sambung Naya.


Entah kenapa darah Januar seakan berubah panas saat Naya masih memanggil lelaki itu dengan sebutan 'mas'.


"Lalu apa kau akan percaya begitu saja apa yang ia katakan?."


Naya menggeleng bingung karena ia pun tak bisa membuktikan bahwa Danu tak bersalah.


"Dengar Naya, mulai saat ini kau tidak boleh keluar dari apartemen ini, selama pihak berwajib belum bisa mengungkap siapa otak di balik kecelakaan yang menimpamu maka nyawamu masih belum aman, dan satu lagi, kau jangan terlalu percaya dengan kata-kata mantan suamimu itu, apa kau lupa apa yang telah ia lakukan padamu selama ini?."


Naya menatap Januar lekat, dari mana pria itu tahu semua cerita perkawinanya yang tragis.


"Aku lakukan ini karena untuk menjagamu Nay, aku tak mau nanti kakakku yang akan sedih jika ada sesuatu yang terjadi padamu."


Naya mengangguk pasrah, tentu saja Januar perhatian padanya, pastilah karena ancaman dari Tiwi sang kakak, batin Naya.


"Istirahatlah."


Naya mengangguk lalu melangkah ke kamarnya, Januar pun pergi ke ruang kerja nya untuk melihat hasil meeting yang ia minta pada tim nya untuk di kirim lewat email.

__ADS_1


Naya berdiri di depan cermin memandang kepalanya yang masih tertutup topi kupluknya.


Perlahan ia buka penutup kepalanya itu, rambutnya mulai tumbuh menghitam.Senyum Naya terbit, obat dari Elis memang cukup manjur, pikirnya.


Ia sangat bersyukur mempunyai sahabat sebaik Elis, yang selalu ada di sisinya kapanpun ia butuh, juga Tiwi yang meski berada jauh darinya tapi perhatian wanita itu tak pernah berkurang sedikitpun, bahkan kini Januar adiknya pun sangat perhatian padanya.


Ah kenapa aku jadi memikirkan anak itu, tentu saja ia perhatian karena menganggapku sebagai kakaknya, Januar begitu menyayangi Tiwi, dan persahabatan erat kami membuat Januar menganggapku sebagai pengganti kakaknya yang saat ini sedang jauh darinya, Naya membatin.


Ia menghempaskan tubuh di kasur luasnya, bayangan wajah Danu yang memohon maaf masih terbayang jelas.


Mungkinkah suaminya kini merasa menyesal karena telah menyakitinya, apakah semua yang di katakannya benar?apa dia memang menyesal dan ingin kembali memperbaiki pernikahan ini?, Naya kini di liputi perasaan gundah, harapan yang dulu musnah kini seakan datang kembali, impian pernikahan sekali seumur hidup mungkinkah terwujud.


Apakah pernikahannya bisa di selamatkan? Apakah suaminya benar-benar menginginkannya kembali.


Drrt drrt.


"Naya, apa kau sedang tidur" pesan baru dari nomor yang tak ia kenal.


Ini bukan nomor mas Danu, Naya membatin.


"Nay, jawablah kalau kau sudah membaca pesanku."


"Ini siapa?" pertanyaan singkat dari Naya membuat Danu menepuk jidatnya.


"Ini aku Nay, suamimu..Danu."


Drrtt drrt.


Tangan Naya gemetar saat Danu mengubah ke mode panggilan.


"Please angkat Nay..."pesan Danu.


Drrt drrt.


"I iya..." suara Naya terbata lirih.


"Naya, ya Tuhan terima kasih kau mau mengangkat panggilanku Nay, maaf...aku terlalu gembira..a ehm ..bagaimana kabarmu Naya, apa kepalamu sudah sembuh?"suara Danu ceria penuh semangat, rasa bahagia membuncah di dadanya.


Akhirnya ia bisa kembali mendengar suara lembut Naya.


"Luka di kepalaku sudah sembuh mas."


"Ehm syukurlah, Naya apa kau masih marah padaku? Ku mohon maafkan suamimu ini Nay, maafkan semua kelakuan ku yang selalu menyakitimu, kata-kata kasarku juga sikapku yang selalu mengacuhkanmu, sungguh ...beri aku kesempatan untuk menebus dosaku padamu Naya, aku berjanji akan berubah, aku akan berusaha menjadi suami yang baik, aku akan membahagiakanmu Nay...kembalilah padaku Nay" Danu terus menyerocos dengan kalimat cepat.

__ADS_1


Naya menghela nafas panjang, sikap Danu selama ini memang telah menyakiti hatinya namun Naya masih bisa menerimanya.


"Naya kenapa kau diam? Apa kau masih marah padaku?"


Tok tok tok.


Brakk.ponsel jatuh dari tangan Naya dan panggilan pun terhenti.


"Masuk" ucap Naya gugup, ia mengira itu adalah bu heni, namun ternyata yang membuka pintu adalah Januar.


"Makanlah, kata bu Heni kau belum makan dari siang" ujar Januar sambil melongokkan kepalanya ke balik pintu.


"Heum sebentar lagi, aku belum lapar."


Januar pun kembali menutup pintu pasrah, ia tahu pikiran Naya pastiah sedang bimbang.


"Mana Mbak Nay, Mas?" tanya bu Heni.


"Nanti saja katanya bu."


Januar tanpa semangat menghabiskan makan malamnya sedangkan isi otak kepalanya masih berada di kamar Naya.


Samar tadi ia mendengr suara Naya tengah berbincang dan wajah gugupnya menandakan jika lawan bicaranya bukan hanya sekedar teman.


Apa kah lelaki itu yang baru saja menghubunginya, Januar membatin geram.


Setelah menghabiskan sepiring nasi, Januar kembali mengambil nasi dan lauk dan segelas air bening.


Bu Heni hanya tersenyum Haru, perhatian Januar pada Naya sangat besar.


Tok tok.


"Masuk" kedua alis Naya mengerut saat Januar datang dengan nampan berisi sepiring nasi dan lauk serta segelas air minum.


"K kenapa di bawa ke sini pak, kalau lapar pun pasti saya akan makan" ucap Naya kikuk.


"Kalau menunggu datangnya lapar di perutmu, mungkin baru tengah malam kau akan makan, ayo makanlah segera..jangan sampai kau sakit, ingat masa pemulihanmu masih berlanjut" ujar Januar tegas lalu menaruh nampan di atas nakas.


"Makan sekarang atau aku suapin"nada bicara Januar ia setel dalam mode seorang CEO, tegas tak terbantahkan.


Dengan pasrah, Naya perlahan mengunyah makannya dengan Januar yang masih setia memandang dengan tatapan tajam.


Apa dengan ketegasan seperti ini yang harus kulakukan agar kau menuruti kata-kataku Nay.

__ADS_1


__ADS_2