
"Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahan putriku padamu?"mata Sania mulai berkaca-kaca, wanita cantik berhati lembut yang sepantaran putinya itu terlihat tenang tanpa dendam.
Naya menatap Sania teduh, seorang ibu yang pasti sangat sedih melihat putri satu-satunya mendekam dalam penjara.
"Seharusnya saya yang minta maaf karena telah memisahkan anda dengan putri anda, bukan salah anda yang tidak mendidiknya dengan benar, Silvy hanya butuh kasih sayang dan perhatian anda, saya minta maaf..."
"Aku sangat berdosa padamu Naya hiks....maafkan tante nak huu huu."
Januar terkejut saat Sania berhambur memeluk Naya, pria baby face itu bahkan sudah menyiapkan diri untuk hal terburuk.
"Sudahlah Tante...jangan bersedih, biarlah semua menjadi pelajaran bagi kita semua"Naya berucap sambil mengusap punggung Sania.
"Andai Tante menjaga Silvy,pasti dia tak akan mengganggu pernikahanmu, pasti kalian sudah bahagia maafkan Tante Naya hik hiks..."
"Tante mungkin ini memang sudah jalan takdirku untuk berpisah dengan mas Danu, jodoh kami memang hanya sampai di sini" Naya masih ingat Kalau ialah yang datang setelah Danu dan Silvy lama menjalin kasih.
Sania menatap Naya tajam, mencari kebenaran dalam netra indah itu.
"J jadi kalian akan berpisah? Apakah tak bisa kalian bersatu lagi?"
Naya menggeleng pasti, dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Dia akan bersamaku" tiba-tiba suara Januar sudah berada di dekat mereka.
Sania tersenyum mengerti, sejak pertama melihat, Januar memang selalu berada tak jauh dari Naya, dan dia terlihat sangat melindunginya.
"Kau memang layak mendapatkannya, dan aku tahu kau sangat mencintainya, tolong jaga dia ..dan maafkan aku atas nama putriku" ucap Sania tulus pada Januar.
"Aku akan menjaganya dengan segenap jiwa ragaku"jawab Januar penuh percaya diri.
Dan Sania mengambil sesuatu dalam tote bag yang di bawanya, kado kecil dengan pira merah muda nan cantik ia serahkan pada Naya.
"Terimalah kado kecil dariku, ku harap kau mau menerimanya sebagai ucapan maaf dan kenang-kenangan dariku" terang Sania.
"A apa ini?" tanya Naya ragu, Sania dengan cepat meraih tangan Naya agar mau menerima kado dari nya.
"Jangan pernah kau tolak pemberianku, karna aku akan semakin merasa bersalah, aku ingin di antara kita tak ada lagi dendam" Sania berucap dengan raut penuh sesal.
"Terima kasih .."
"Heum baiklah, aku pamit...do'aku selalu untuk kalian semoga selalu bahagia bersama."
"Aamiin..." jawab januar lantang.
Sania tersenyum haru lalu pergi melambaikan tangan setelah memeluk Naya .
Januar menghela nafa panjang, berat rasanya pulang kembali ke apartemen dan berpisah dengan Naya.
"Kenapa?" tanya Naya.
__ADS_1
" Tidak ada apa-apa, mulai sekarang kau harus jaga dirimu baik-baik karena kini aku tak bisa di dekatmu sepanjang waktu, ah ...membayangkan saja hatiku sudah amat perih" kalimat Januar membuat Naya terkekeh.
"Bukankah kita masih bisa bertemu di kantor?" tanya naya.
"Tapi kita tak bisa makan satu meja makan, aku tak bisa mengetuk pintu kamarmu kalau aku tiba-tiba merasa rindu, dan aku tak bisa...."
"Sst..." Naya mengedipkan satu mata ke Januar saat Kendra dan Elis mendatangi mereka.
"Di sini kalian rupanya" ujar Elis.
"Ya...ibu Silvy meminta bertemu denganku."
"Hah mana dia?" Elis menyisir lobi dengan matanya mencari Sania.
"Sudah pergi, dia minta maaf atas perlakuan Silvy padaku dan dia juga memberiku ini" Naya memperlihatkan kado dari Sania.
"Coba buka..jangan-jangan" kalimat Elis menggantung dan suasana menjadi hening.
"Biar aku yang membukanya" Januar meraih kado lalu membukanya perlahan, ia pun ikut menjadi was-was dengan apa yang ada di dalam kotak tersebut.
Sreet sreett.
Ahirnya kado terbuka sepenuhnya.
Mata Elis membulat penuh, begitu pun Naya, yang menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya yang menganga.
Naya mengambil amplop berwarna merah muda yang terlipat kecil di samping kalung cantik itu lalu membukanya.
Naya mengerutkan alisnya lalu menyerahkan pada Januar.
"Lumayan..." kalimat singkat membuat Kendra penasaran lalu meraih kertas itu.
"Wauw...." ucapnya.
"Apa an sii" Elis kepo melihat kertas yang membuat dua pria tampan itu terpana.
"Emang kalau di rupiahin berapa ini gaes?" tanyanya polos karena ia tak tahu nilai dolar terhadap rupiah.
"Lumayan, bisa buat beli mobil sejuta umat"jawab Januar.
Mata Elis semakin membulat.
"Mungkin kalau ini sama ini di gabung bisa sampai satu M" sambung Kendra.
"Hah..."
"Hah!!"
Elis dan Naya berucap bersamaan.
__ADS_1
Naya cepat mengambil kalung dan kertas yang ternyata cek bernilai fantastis itu dari tangan Elis lalu kembali melipat dan memasukannya ke dalam kado.
"Waaah bisa buat traktir kita nih" ucap Elis riang.
"Aku akan kembalikan" ucap Naya pasti.
"What !!!, lu mau balikin? Sayang Naay, itu sudah jadi milik Elu, ngapain di balikin blekoook" Elis berucap kesal, ia yang banting tulang untuk mendapat chuan merasa amat sayang kalau Naya menolak pemberian itu mentah-mentah.
Januar menghela nafas panjang, semakin besar rasa kagum tumbuh subur di hatinya untuk wanita imut itu.
"Kau pikirkan lagi baik-baik, itu tidak sedikit, kalau kau memang tidak membutuhkannya tapi setidaknya hargailah pemberiannya"Kendra berucap bijak.
"Iya Nay, lu pikir dulu deh sebelum lu balikin..."
"Baiklah ..."Naya berucap pasrah.
"Oke gue pulang dulu, Lu berdo'a dulu dan timbang apa baiknya lu tolak apa terima, kalau gue sii..sayang kalau di balikin, mending.."
"Haaassh...udah hayu kita pulang, bye Nay" Kendra menarik tangan Elis menuju parkiran.
Kini Naya memandang januar, berharap ada pendapat lain darinya.
"Aku tak bisa memberikan masukan, itu semua hakmu, sepenuhnya keputusan sepenuhya ada di tanganmu" ujarnya bijak.
Naya diam termenung.
"Aku pulang, kau naiklah dan istirahat, besok pagi aku jemput" ucap Januar lembut.
Naya mengangguk lalu pergi meninggalkan Januar yang terus menatap kearahnya, ia mengangguk pelan saat Naya melambai dan pintu lift tertutup.
Peetama kalinya tidur tidak dalam satu atap membuat Januar sangat susah untuk memejamkan matanya, hati dan pikiran selalu tertuju pada Naya yang berada nun jauh darinya.
Dan pagi ini pun ia kembali merasa kesal karena Naya ternyata membatalkan untuk pergi kekantor dengannya hingga ia urung menjemput.
Naya ingin menikmati kembali masa-masa berangkat ke kantor dengan ojek online yang selalu ia lakukan dulu saat masih tinggal di apartemen Danu.
Senyumnya mengembang menikmati udara pagi yang menyapa wajahnya.
Bahkan di kantor pun Naya di sibukan dengan kerjaan hingga ia bahkan tak sempat memeriksa ponselnya yang penuh dengan pesan dan panggilan dari Januar.
Naya seakan kini merasa bebas bagai burung, senyum manis selalu tersungging dari bibirnya, Naya sudah merasa tenang dan lega, ia kini bebas pergi kemana pun ia mau, setelah kejadian yang telah mengancam nyawanya, hidup Naya bagai burung dalam sangkar, ia selalu merasa tak tenang karena merasa Silvy selalu mengawasi dan ingin berusaha mencelakainya.
"Di mana kau sayang, angkat panggilanku!!" pesan yang Januar kirim entah yang ke berapa kali.
Sementara Naya tengah menikmati makan siangnya bersama Silvy. Kali ini ia sengaja makan di sebuah warung tenda yang terletak di sebrang gedung Tinar Perkasa.
Kedua wanita cantik itu tampak lahap menikmati makan siang mereka yang di selingi canda tawa, tanpa keduanya sadari, sepasang mata memandang tajam ke arah mereka.
Pantas saja Tuan Danu berat melepasnya, dia sungguh wanita manis yang sempurna.
__ADS_1