Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Wajah baru


__ADS_3

Januar duduk dengan wajah tegang, sementara Elis memalingkan wajahnya sambil menahan tawa, begitupun Naya.


Keduanya tak habis pikir dengan adik sahabat mereka yang tampak begitu sayang melepas penampilan lamanya.


"Sudah siap kau Jan?" tanya Elis sambil memegang senjata tempurnya, gunting dan sisir.


"M mbak, di rapi in aja ya..." Januar masih belum rela melepas jambang kebanggaan.


"Heum.." jawab Elis singkat namun masih menahan tawa.


"Potong satu Centi aja ya Mbak" pinta Januar lirih.


"Iya Jan..." Elis mulai menyisir jambang Januar dengan perlahan.


Dalam hati, Jambang lebat pun masih terlihat manis, apalagi nanti kalau wajahnya sudah ia make over.


Suasana salon yang dingin karena ber AC di tambah musik klasik yang sengaja Elis setel pelan, membuat Januar mulai memejamkan matanya dan tak lama ia pun jatuh tertidur.


Dan saat itulah senyum smirk Elis terbit, Tiwi telah membayarnya mahal agar merubah sang adik se maksimal mungkin, dan tentu saja Tiwi yang akan bertanggung jawab jika sampai pemuda tampan itu murka nantinya.


Empat puluh lima menit akhirnya misi selesai.


"Sst ssst..." kode Elis pada Naya agar melihat hasil tangannya.


Naya bergegas mendekat ke kursi di mana Januar masih duduk tenang namun matanya terpejam.


Naya menutup mulutnya yang terbuka, begitu pun matanya membulat penuh.


Sungguh Januar berubah seratus delapan puluh derajat.


Jambang lebat kini bersih tak tersisa, bahkan Elis hanya menyisakan kumis tipis di atas bibir merah Januar.


Sungguh wajah tampan yang hampir sempurna, batin Naya dengan mata memandang penuh takjub.


Hidung mancung dengan rahang tegas yang di miliki Januar membuatnya terlohat gagah dan dewasa, juga bibir merah alaminya menjadi perpaduan yang pas.


Dari pria berwajah tua kini berubah menjadi baby face, dan kelihatan jauh lebih muda.


"Eh sadar nyong..."Elis menyikut Naya hingga sahabatnya itu pun tergugu dan berdehem.


"Bagus...perfect" ujar Naya menyembunyikan kegugupannya.


"Hoaaaamm.." lenguhan panjang dan geliatan tubuh Januar membuat kedua gadis yang sedang terpesona itu segera membalikan badannya.


Keduanya kini menahan was-was dengan jantung bergebar kencang, bagaimana jika sang pemilik wajah murka.


"Sudah selesai Mbak" tanya Januar santai karena belum menyadari bahwa kini wajahnya sudah berubah.


"S sudah Jun" Elis menjawab dengan terbata.

__ADS_1


Januar pun berdiri setelah Elis membersihkan kain pelindung tubuhnya.


Januar melangkah tanpa melihat cermin besar di depannya, bahkan ia masih tenang melangkah ke deretan kursi di mana Naya menunggu dengan wajah memucat.


"Ayo pulang" ajak Januar.


Naya berdiri tapi jantung masih belum aman karena Januar tampaknya masih belum sadar.


Januar memandang ke beberapa orang yang memandangnya dengan senyum-senyum.


Bahkan beberapa wanita bertingkah aneh, membuat Januar mengerutkan alisnya.


"Apa kita langsung berangkat ke tempat acara berlangsung?" tanya Naya.


"Ehm kita....." kalimat Januar berhenti saat tangannya terasa kosong kala mengusap dagunya.


Langkah Januar terhenti dan tangannya kembali mengusap dagu yang terasa halus tanpa rambut lembut kebanggannya.


Ia memalingkan wajah lalu menatap Naya, lalu bergegas kembali ke ruang dalam salon mencari cermin dan melihat apakah yang ada dalam pikirannya benar.


Dan Januar pun membeku saat melihat wajah nya kini berubah bersih tak ada sehelai rambut pun di dagunya.


"Ini...kok gini" ucapnya terbata masih tak percaya pada apa yang sedang di alami wajahnya.


Naya membuang matanya, mencari tempat untuk berlindung dari amukan atasannya.


Sementara Elis berdiri dengan wajah memucat.


Januar melihat ponsel dan kini ia tahu siapa biang dari masalah itu.


"Heum.." sapaan penuh nada penekanan dari Januar membuat Tiwi menelan ludah kasar.


"Apa ini semua Kakak yang memintanya?" tanya Januar sinis.


"Iya Kakak, tapi juga dengan asistenmu itu" Tiwi mempelankan nada suaranya saat menyebut 'asisten' .


Sontak Januar menatap Naya tajam.Sadar akan bahaya yang sedang mengancamnya, Naya bergegas duduk di kursi tepat Elis berdiri, sambil menyelimuti dirinya dengan kain kep.


"Aku pun mau potong se gini" ucap Naya cepat sambil menunjukan tangan sebatas leher.


"Model apa nyong" tanya Elis masih menyimpan kegugupannya karena Januar kini tengah menatapnya tajam.


"Udah apa aja, blonde segini" jawab Naya cepat.


Elis pun dengan sigap mengambil peralatan gunting dan sebagainya ke dekat Naya.


Januar hanya bisa menghela nafas kasar, nasi sudah berubah menjadi bubur, tinggal kasih kecap dan bawang goreng serta ayam suir, jadilah bubur ayam, pikirnya.


Tak ada alasan untuk memarahi mereka berdua karena tak lama lagi jambangnya akan tumbuh lebat kembali.

__ADS_1


Januar akhirnya duduk di kursi tunggu untuk menunggu Naya selesai me motong rambut.


Sementara Naya pun memejamkan matanya, ada rasa sedih saat rambut panjangnya berjatuhan karena gunting Elis sudah mulai beraksi.


"Dia masih liatin kita nggak Lis?" tanya Naya lirih.


Dari sudut matanya Elis melihat Januar tengah asik dengan benda persegi miliknya.


"Aman" jawab Elis lega.


Entah alasan apa yang Tiwi katakan hingga bisa meredam murka sang adik.


"Eh Nyong, lu liat nggak? Dia cakep banget buseet, nyesel Gue lahir duluan" Elis berucap semangat.


"Heum, lumayan" Naya menjawab santai namun tak bisa menghilangkan hatinya yang dongkol karena rambutnya menjadi bayaran atas kejadian tadi.


"Sungguh kenapa nggak dari dulu dia rawat wajahnya, hingga banyak orang mengira dia bukan adik kandung Tiwi."


"Heum iya benar, memang ngaruh ya jambangnya, sekarang dia bahkan terlihat jauh lebih muda dari umurnya..."Naya menatap tajam Januar yang masih asik melihat ponselnya.


Wajahnya kini terlihat putih dan halus dengan bibir merah alaminya membuat Januar semakin tampan.


"Udah beres."


Naya bangun dengan mematutkan dirinya di depan cermin.


"Ish, pipi Gue tambah chuby ya Lis" tanya Naya gusar, dari cermin ia melihat wajahnya bertambah bulat.


"Nggak kok, bahkan Lu kelihatan tambah manis, dan semakin segar" Elis menjawab jujur.


"Oiya, Lu sekalian pake gaun Gue Nyong..." Elis menuju ruangannya.


Naya mengikuti dengan langkah gontai.


"Udah cepetan, pestanya mulai bentar lagi"ucap Elis menarik tangan Naya.


Januar hanya bisa tersenyum tipis saat Tiwi memperlihatkan screenshot percakapan grupnya yang memperlihatkan kekaguman Naya dan Elis pada wajah baru nya, entah apa yang membuat hatinya tergelitik, ada rasa bahagia di sana.


Januar tak bosan membaca kalimat kekaguman kedua sahabatnya itu yang mengatakan bahwa Januar terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya.


Kalau tampan dari sono mah, pakai model wajah apa aja tetep tampan, Januar membatin sambil mematutkan diri di depan cermin.


Jam di pergelangan tangannya menunjukan pukul tujuh kurang lima menit, Januar memindai ruangan di mana tadi Naya duduk namun kini kursi itu kosong.


Namun matanya mendadak tertuju pada dua sosok yang di kenalnya.


Wajah Elis tampak biasa namun wajah yang berada di sampingnya tampak berbeda.


Manis dan imut, ah kenapa wanita itu begitu menarik di pandang, hanya karena potongan rambut baru nya.

__ADS_1


Januar semakin salah tingkah saat Naya berjalan mendekat.


Sabar Jan, ingat...bini orang itu.


__ADS_2