Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Hanya Untukku


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapan, Januar bergegas pergi, Anis hanya memandang dengan dada berdenyut , bahkan ucapan terima kasih pun tak terucap dari bibir Januar.


Ke sebuah mall ternama Januar melajukan mobilnya.


Penampilan Januar yang mempesona menarik banyak perhatian pengunjung yang rata-rata wanita.


Wajah tampan rupawan dengan tatapan dingin nan tajam, namun semakin membuat kaum hawa begitu penasaran.


Dengan langkah santai Januar menuju ke sebuah stand furniture ruangan, dengan seksama ia menyisir setiap sudut mencari sesuatua yang ada dalam pikirannya.


Namun dua puluh menit berlalu tak juga menemukan apa yang di cari akhirnya, pria tampan itu pun melangkah pergi dengan tangan kosong.


Sementara di apartemen Naya sudah bersiap karena Tiwi ingin mengajaknya berburu kuliner dan belanja kebutuhan dapur.


Dengan outfit sederhana, Celana jeans hitam dan kaos putih polos Naya mematutkan diri di depan cermin.Bergegas ia memakai sepatu kets putihnya lalu menuju lift karena Tiwi sudah menunggu di parkiran.


Lambaian tangan Tiwi membuat Naya tersenyum, ia pun melangkah cepat menuju mobil.


Penampilan sederhana namun modis membuat Naya menarik perhatian banyak orang.


Bahkan Anis pun diam-diam tersihir dengan wajah imut Naya, meski usianya terpaut cukup jauh tapi wajah Naya terlihat sebaya dengan dirinya bahkan tampak lebih manis dan segar.


"Mau kemana kita nih?" tanya Naya begitu masuk ke mobil.


"Hmm, kita makan dulu, lalu ke mall." terang Tiwi semangat.


"Oke" ucap Naya.


Untuk sarapan Tiwi ingin mengenang kembali masa kala mereka masih bersama yaitu menikmati bubur ayam langganannya yang tak jauh dari Tinar perkasa.


Tak lebih dari empat puluh menit menikmati sarapan, lalu mereka menuju ke salah satu pusat perbelanjaan yang tak jauh Tinar Perkasa.


"Lu mau beli apa nyong?" tanya Tiwi.


"Dih ngapa nanya Gue, kan Elu yang ngajak" jawab Naya.


"Gue cuma nemenin Anis, katanya mau beli jaket yang sama sama adek Gue, biar nanti dia bisa couple an" terang Tiwi jujur, Anis hanya tersenyum simpul.


"Oohh, ya udah Gue juga ngikut aja, Gue bosen di apartemen hari libur gini."


"Hmm ..oiya, kata adek Gue Lu suka sama Kevin nggak?" tanya Tiwi membuat Naya terdehem kaget.


"Ehmm hmm kenapa Lu tanya begitu?"


"Ya, Lu kan tahu gimaan si Kevin cinta mati sama Elu, maksud Gue...kalian PeDeKaTe dulu gitu, eh Januar bilang kalau ada lelaki lain yang cinta sama elu dan lebih tulus dari Kevin, emang siapa Nay?"


"Hah, eh hm ...kenapa tanya Gue, mana gue tauk?"Naya berpura-pura memalingkan muka agar Tiwi tak mengetahui kegugupannya.

__ADS_1


Tiwi menghela nafas kesal, teka-teki Januar membuatnya cengo, siapa gerangan pria yang menyukai Naya selain Kevin.


"Oiya emang jaket yang model apa yang Anis mau?" tanya Naya pada gadis ayu itu.


"Yang kulit warna itu lho Nay" Tiwi menimpali membuat Anis kembali tersipu malu, hal itu tertangkap mata Naya.


Rupanya Kau begitu menyukainya, batinnya.


Ketiga wanita cantik itu memasuki mall yang ramai pengunjung di weekend ini, karena koleksi jaket ada di kantai atas mereka pun langsung naik melalui eskalator.


"Nis coba Lu hubungi Januar, tanyain koleksi jaket di sebelah mana" titah Tiwi, Anis dengan semangat mengambil ponsel.


"Ya ..halo Jan, i ehm anu ..a"


"Ish ..lu grogi amat, sini Gue aja yang tanya"Tiwi meminta ponsel Anis untuk di serahkan padanya, Anis pun menurut.


"Heh bocah, Lu beli jaket yang warna hitam di sebelah mana?"tanya Tiwi.


"Emang sekarang Mbak lagi di mana?" tanya balik Januar.


"Gue lagi di mall xx sama Anis sama Nay.."alis Tiwi lalu mengerut saat Januar mengubah panggilan menjadi mode vidio call.


"Nohh, kita udah di lantai atas buruan di sebelah mana ?"


"Tunggu di situ, aku nyusul."


"Sialan kenapa malah di matiin" umpat Tiwi kesal, sedangkan Anis tersenyum senang mendengar Januar akan datang menyusul mereka.


Naya hanya diam dengan sesak kini muncul di dadanya.Dari tatapannya Anis tampak sangat berharap pada Januar, matanya bersinar terang jika mendengar nama pria itu.


Tiwi dan Anis berjalan mengelilingi lantai pusat perbelanjaan tersebut mencari jaket yang di maksud sambil menunggu kedatangan Januar, sedangkan Naya istirahat di kursi tunggu pengunjung karena kakinya sudah terasa kebas.


Di lihatnya layar ponsel, waktu menunjukan pukul dua siang, pantas saja perutnya sudah mulai keroncongan, aplagi betisnya yang terasa kencang.


Perlahan Naya menundukan badannya untuk memijit betis kakinya, namun belum sempat niatnya terlaksana tiba-tiba satu tangan kekar terulur dan memegang kakinya lalu memijitnya dengan lembut.


Naya terjingkat kaget bukan main lalu spontan wajahnya melihat sang pemilik tangan tersebut.


"Makanya kalau sudah lelah itu istirahat, jangan nunggu kakimu keras seperti ini" ujar sang pemilik tangan sambil terus memijit kakinya dengan lembut.


"K kau ..kapan datang?"tanya Naya pada Januar yang dengan santainya menghempaskan tangan Naya yang ingin menarik tangannya.


"Biar ku pijit sebentar agar peredaran kakimu lancar kembali."


"Tapi ini banyak orang Jan, dan nanti kakakmu melihat kita" ucap Naya panik.


"Biarkan saja, toh hanya memijit kaki, bukan memijit yang aneh" jawab Januar santai.

__ADS_1


"Gimana kalau ada karyawan Tinar yang melihatnya, udah lepas" kembali Naya memohon tapi Januar tetap acuh.


"Kalau mereka tahu lebih dulu bukankah menguntungkan bagi kita yang tak harus menjelaskan lagi tentang hubungan yang sebenarnya."


Naya kini hanya diam pasrah, sambil sesekali melirik ke arah di mana Tiwi dan Anis berada, sedangkan Januar tetap cuek meski beberapa pengunjung melirik ke arah mereka.


"Gimana? Sudah enakan?."


Naya mengangguk cepat lalu meraih kakinya agar Januar tak membetulkan celananya yang tersingsing.


"Biar aku saja, kau cepat susu kakakmu dan Anis" titah Naya, namun Januar justru kembali duduk di sebelahnya dengan cuek.


"Aku kesini bukan untuk menyusul mereka, aku kangen kamu" Januar menatap Naya tajam, sikap santai Naya membuatnya sangat kesal, apakah di hatinya tak ada rasa cemburu sedikitpun saat ia di jodohkan dengan Anis.


Bahkan Naya selalu bersikap tenang seakan di antara mereka berdua memang tak ada hubungan apa-apa selain sebagai karyawan dan atasan.


Naya diam, sedangkan Januar masih setia menatapnya seakan di dunia Januar hanya ada Naya seorang.


"Apa sebaiknya kita sudahi hubungan kita ini?"tanya Naya lirih.


"Jangan pernah kau berfikir untutk berpisah dariku" netra Januar tajam menatap Naya.


"Hai Jan..." pekik Tiwi sambil melambai dari kejauhan, namun Januar acuh membuat Naya panik.


"Hai dia memanggilmu?! cepatlah kau ke sana, mereka sudah menunggumu."


"Baiklah, kau tunggu di sini, aku akan mengatakan sejujurnya pada Mbak Tiwi tentang hubungan kita" ucap Januar lalu melangkah dengan tenang menuju Tiwi dan Anis.


Naya pun bergegas mengikutinya sebelum pria posesif itu mengatakan yang ada dalam pikirannya.


"Kalian sudah selesai?" tanya Januar datar.


Anis mengangguk karena jaket yang di inginkan sudah ia dapat.


"Baiklah ayo kita pulang, aku yang antar Naya" usul Januar.


"Kalian pulanglah dulu, aku ingin membeli sesuatu" tolak Naya halus, ia memang berencana untuk membeli pakaian dalam, tak etis rasanya kalau masih ada pria yang mengikutinya.


"Ehm.. mbak, bukankah kau ingin tahu siapa pria yang mencintainya selain Kevin?" tiba-tiba Januar bertutur kalimat yang membuat Naya bagai tersengat listrik.


Mata Tiwi membulat sempurna, namun Naya sigap menjawab.


"Oh ayo ...aku pun pulang saja" Naya cepat-cepat mendahului dan menarik tangan Tiwi agar menjauh dari Januar, hanya Anis yang bingung melihat tingkah keduanya.


Januar menyeringai puas.


Tak akan ku biarkan kau lepas dariku, karena kau memang hanya untukku.

__ADS_1


__ADS_2