Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Kau Cantik


__ADS_3

Sepanjang hari di kantor, Januar masih di liputi kekesalan, amarah yang terpendam membuat banyak karyawan yang menjadi sasarannya.


Begitupun Ujo, dialah yang pertama mendapat hadiah sapaan pagi dari Januar.


"Pagi Tuan, mau minum apa?"sapanya ramah seperti biasa.


"Aku sedang tidak ingin minum, dan tolong jangan ganggu saya, jangan ada yang datang ke ruangan saya dan jangan berani mengusik saya..mengerti!"


"I iya Tuan" Ujo tergagap ketakutan, Januar bak seekor singa yang sedang marah besar.


Salah makan apa kau pagi-pagi Tuan, semoga saya bisa melewati hari ini dengan selamat, ucap batin Ujo sambil mengusap dadanya.


Tak tok tak.


"Mas Jefry ...mau ke mana?" Ujo panik karena Jefry terlihat datang hendak menuju ruangan Januar.


"Saya mau minta tanda tangan Tuan Januar."


"Jangan, jangan masuk dulu mas, lagi ada singa lapar di dalam" jawab Ujo polos, kini Jefry yang termanggu.


"Singa lapar?"


Ujo mengangguk pasti.


"M maksudnya, Tuan Januar sedang tidak mau di ganggu, dan beliau sudah ne wanti untuk melarang jika ada orang yang akan masuk ke ruangannya."


"Ah kau ini Jo, ada-ada saja, lagian ini kan dokumen penting, masa iya Gue harus nunggu sampai dia turun gunung sendiri" protes Jefry tak percaya dan kembali melangkah untuk mengetuk pintu.


Dan dua menit berlalu, Jefry pun kembali keluar dari ruangan dengan wajah tegang.


"Kenapa Mas Jef" tanya Ujo yang ikut melas melihat Jefry tampak shock.


"Benar katamu Jo, lebih baik saya menyingkir sekarang juga sebelum dia mengamuk lebih parah" timpal Jefry sambil berlalu, dari pada mempertaruhkan keselamatannya lebih baik dia menjauh untuk sementara waktu hingga nanti bos Januar kembali tenang.


Seperti biasa Jefry menaruh dokumen di meja namun entah kenapa sambutan Januar sangat menyeramkan, lebih menyeramkan dari kuburan orang yang baru meninggal karena pembunuhan, raut wajah Januar sangat tidak bersahabat, tatapannya pun sangat menakutkan.


Jefry mengusap tengkuknya yang meremang, tak pernah ia melihat Januar se menyeramkan ini, bahkan hanya dengan bertatap matanya saja sudah membuat nyalinya ciut.


"Sebenarnya apakah kau tahu apa yang telah membuat Tuan Januar bersikap sangat mengerikan se pagi ini?"tanya Jefry penuh selidik.


Ujo menggeleng, ia yakin Januar pasti ada masalah di apartemen hingga baru datang pun sudah bermuka garang.


"Ya sudah, nanti saja aku balik lagi."


Jefry meninggalkan Ujo sambil berkali-kali menggetarkan bahunya.


Tiba di lobi perusahaan Jefry tampak tertegun saat melihat Naya dan seorang gadis yang tempo hari menaruh lamaran di atas meja Januar.


"Mbak Nay dan mbak Vega mau ke mana?"sapa Jefry.

__ADS_1


"Mau ke ruangan tuan Januar Jef, mau nanyain bagaimana lamaran Vega."


Jefry tampak termenung sambil mengusap dagunya.


"Ada apa Jef? Apa tuan Januar tak ada di ruangannya?"


"Ada mbak, tapi mungkin lebih baik anda jangan memasuki ruangan beliau karena dia sedang tak ingin di ganggu."


Naya dan Vega saling pandang ragu.


"Bagaimana kalau kalian ke ruanganku saja dulu, sekalian mbak Vega belajar dari mbak Naya nanti apa saja tugas-tugasnya"usul Jefry.


"Yaa, usul bagus itu, ayo Ga kita ke ruangan dia"


Ketiganya pun akhirnya ke ruangan Jefry yang sebenarnya ruangan itu pun milik Naya dahulunya.


Ceklek.


Naya menghirup aroma ruangan kerja yang sudah lama tak ia kunjungi.


"Waaah masih tetap sama" ucapnya senang karena letak meja kursi dan semua bunga di sudut ruangan sama sekali tak berubah.


"Iya mbak, Tuan Januar me wanti-wanti agar jangan sampai ada yang merubah posisi maupun barang yang ada di ruangan ini, bahkan pernah saya geser sedikit meja kerja ini agar lebih ke tembok agar saya bisa bersandar eh ..Tuan Januar marah besar, akhirnya saya kembalikan ke posisi semula" terang Jefry panjang.


"Kenapa memangnya Jef?"


"Entahlah Mbak, mungkin beliau takut kalau nanti Mbak Naya marah."


"Duduk dulu mbak Nay dan mbak Vega, nanti saya bilangin Ujo suruh buatin minuman buat kalian."


Naya dan Vega mengangguk lalu duduk bersebelahan di ruangan Jefry.


"Hmm meski ruangannya tidak lebar tapi cukup nyaman mbak, juga terasa adem dan enak di pandang mata, tak heran kalau Kak Januar melarang untuk mengubah ruangan ini"


Naya tersenyum senang karena dia lah yang dulu meminta Tiwi khusus untuk menempatkan beberapa pot berisi bunga asli yang di tempatkan di ruangannya.


Sementara itu Ujo yang membawa nampan berisi kopi pahit untuk Naya dan es jeruk untuk Vega berjalan menuju ruangan Jefry namun ternyata nasibnya tak cukup bagus hari ini, Januar kebetulan keluar dari ruangannya dan melihat Jefry yang membawa nampan berisi dua gelas minuman.


"Buat siapa itu?"tanyanya sinis, tak biasanya Ujo membawa minuman ke ruangan Jefry.


"B buat mbak N naya dan mbak Vega Tuan"


Mendengar nama Naya tiba-tiba debaran jantung Januar tak karuan.


"Mau apa dia menemui Jefry, apa pemimpin perusahaan ini dia?"tanya Januar sinis.


"B bukan begitu Tuan, tadi tuan bilang ja..."


Brakk.

__ADS_1


Ujo membeku di tempatnya berdiri, kalimatnya terputus karena Januar lebih dulu pergi memasuki ruangan Jefry.


Ceklek.


"Kak Januar."


"Pak Jan."


Keduanya berucap bersamaan lalu saling pandang.


"Ada kepentingan apa kalian menemui Jefry hingga kalian berani melewati wewenangku" Januar berucap dengan nada dingin, kekesalan hatinya masih membuat dadanya sesak.


"Kami awalnya mau ke ruangan anda, tapi Ujo melarang karena anda sedang tidak mau si ganggu katanya" jelas Naya selembut mungkin.


Glek.


Ujo yang berdiri di ambang pintu kini wajahnya memucat, apalagi saat Januar mengalihkan pandangan ke arahnya.


Ya Tuhan ampunilah hambaMu ini, jangan biarkan hamba di pecatnya ya Tuhan, mohon Ujo dalam hati.


"Pak Jan, duduklah ada hal yang harus kita bicarakan" Naya berusaha memecah ketegangan dengan menarik tangan Januar untuk duduk, ia mengesampingkan jantungnya yang berdebar keras karena mempertaruhkan dirinya pada singa lapar yang sedang marah, begitulah Elis menjuluki Januar.


Sontak wajah tegang Januar berubah salah tingkah, ia tak menduga Naya akan seberani itu menarik tangannya, bukan amarah yang ada di dadanya, tapi rasa bahagia yang kini seakan membuncah di hatinya.


"Ehmm hmm, kami datang untuk menanyakan lamaran Vega pak."


Ceklek.


Jefry berdiri mematung di depan pintu saat Januar ternyata sudah berada di ruangannya sedang duduk santai.


"Jef, tolong kau ambil lamaran Vega sekaligus semua dokumen yang belum gue tanda tangan di ruanganku."


Jefry mengangguk dan bergegas ke ruangan Januar dengan banyak pertanyaan memenuhi kepalanya.


Kenapa sekarang atasannya berubah menjadi lembut, kenapa pula ia harus menandatangani dokumen di ruangannya, kemana perginya wajah mengerikan yang tadi di perlihatkannya.


"Ini Tuan."


"Vega, kau ikutlah dengan Jefry untuk melihat PT.Tinar Perkasa secara keseluruhan agar besok saat kau mulai bekerja sudah memahami semua tentang tempatmu magang."


"J jadi saya di terima kak?" tanya nya antusias dan Naya pun tersenyum.


"Cepatlah kau pergi sebelum aku berubah pikiran" ucap Januar tegas.


Vega pun spontan menarik tangan Jefry untuk meninggalkan ruangan.


Kini ruangan tampak hening karena hanya ada Naya dan Januar.


Senyum Naya hilang seketika saat mengalihkan pandangan ternyata Januar tengah menatapnya tajam.

__ADS_1


"K kenapa pak?"tanya nya kikuk.


"Kau cantik."


__ADS_2