Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Keindahan Dunia


__ADS_3

Naya membungkuk di depan lemari pendingin mengambil minuman sari buah untuk Januar, rupanya ia masih belum sadar akan kondisi bajunya yang mengundang bahaya besar.


"Maaf hanya ini yang ada" ujarnya jujur.


Januar hanya menelan ludah kasar, setebal apapun imannya jika melihat keindahan dunia di depan mata, pria mana yang tak akan tergoda, apalagi Naya dengan bebas bergerak hingga paha putihnya terekspos sempurna.


"Duduklah, aku ingin bicara" nada suara Januar terdengar berat menahan sesuatu.Namun kini Naya malah sibuk mencari ponsel yang ia pikir tertinggal di kamar atau jatuh di bawah meja.


Glek.


Ya Tuhan... kenapa cobaanmu begitu indah, bagaimana aku bisa menolaknya Tuhan, jerit batin Januar.


"Apa yang kau cari?" tanya Januar kesal karena Naya terus berjalan bolak balik sambil membungkukan badannya membalikan sofa.


"Aku mencari ponselku" jawabnya.


"Ya salam, kenapa tak kau katakan dari tadi" umpat Januar gemas.


Naya diam memandang Januar curiga.


"Kenapa? apa kau melihatnya, apa kau menyembunyikan ponselku" Naya menarik tangan Januar agar bangkit dari duduknya.


"Sayang diamlah, aku tak menyembunyikan ponselmu."


"Lalu kenapa tadi kau bilang seakan kau tahu di mana ponsel milikku berada?" tanya Naya semakin curiga karena bibir Januar seakan menahan senyum.


Januar hanya diam saat Naya mulai menggerayangi tubuhnya mencari ponsel miliknya.


"Sayang lepaskan tanganku, atau suatu bahaya besar akan terjadi."


"Apa maksudmu, cepat lembalikan ponselku" protes Naya kesal, saat itulah Januar reflek menarik tubuh Naya agar lebih mendekat ke tubuhnya.


"Akkh" pekik Naya saat ia terjatuh di atas tubuh Januar yang bersandar di sofa.


Tubuh keduanya diam dengan pose Naya di atas menghimpit tubuh Januar.


"Lepas.."Naya meronta melepaskan tangannya dari Januar namun pria itu tak tinggal diam ia bahkan semakin erat memeluk Naya.


"Sudah terlambat, kenapa peringatanku tadi tak kau dengar heum? Sekarang kau tahu akibatnya" suara Januar terdengar berat membuat Naya terdiam, rupanya ia baru menyadari bahwa ia telah membangunkan singa yang sedang tidur.


"Kenapa diam heum? apa kau sadar apa yang telah kau lakukan tadi sudah membuatku tersiksa."

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Kau pikir dengan melihatmu memakai baju ter buka seperti ini aku akan tahan? Kau salah sayang, sekarang kau berada dalam bahaya besar" kalimat Januar bagai petir di siang bolong, barulah kini Naya sadar sepenuhnya bahwa keadaan tubuhnya sudah mengundang marabahaya seperti apa yang Januar katakan.


"Aaakhhh" teriaknya kaget lalu berontak berusaha bangun dari tubuh Januar.


Pria tampan itu menyeringai puas, wajah Naya kini merah merona bagai kepiting rebus, melihatnya sungguh sangat menggemaskan.


"Cepat lepaskan aku" tangan kecilnya terus meronta namun dengan mudah Januar bisa menguncinya.


"Kalau kau ingin aku lepaskan maka dengarkan kata-kataku"titah Januar tegas, Naya menurut dan mengangguk polos.


"Jangan pernah lagi tersenyum di depan lelaki lain selain denganku paham!".....Naya mengangguk cepat.


"Dan Jangan pernah lagi kau ikuti ajakan Kakaku jika itu untuk bertemu pria lain di belakangku, mengerti!"..kembali Naya mengangguk.


"Satu lagi, jangan pernah membuka pintu tanpa tahu siapa yang datang dengan baju seperti ini...!!" kali ini Naya mengangguk beberapa kali membuat Januar tersenyum gemas.


"Baiklah kau akan ku lepaskan tapi..." kalimat Januar menggantung membuat Naya memandangnya panik.


Januar memonyongkan bibirnya ke arah bibir Naya.


"Cium aku dulu.."ujarnya lirih.


Brakk, Januar terkekeh puas.


"Kenapa kau malu, toh nanti semua yang ada di dirimu akan menjadi milikku" gumam Januar sambil memandang benda persegi milil Naya yang sengaja ia selipkan di bawah tubuhnya.


Drrt drrt.


Alis mata Januar mengerut saat nama Kevin muncul di layar ponsel yang ia pegang, spontan ia mematikan dengan kesal panggilan itu.


Drrrt drrtt.


Mendidih rasanya darah Januar kini saat pria itu kembali menelpon Naya.


"Halo Nay, kamu lagi di mana?bisa kita bertemu? Ada sesuatu yang harus kita bicarakan, hub....haloo, halo Nay" Kevin melihat kayar ponsel yang ternyata sudah di matikan sepihak oleh Januar.


Ck dasar genit!!, berani-beraninya kau menggoga wanitaku, batin Januar kesal.


Drrt drrt.

__ADS_1


"Halo Nay, kenapa kamu matiin aku..."


"Naya sedang di kamar mandi."


Kalimat singkat, padat, dan sinis dari Januar membuat Kevin melongo, siapakah pria yang menjawab telponnya itu.


Ceklek.


Dengan baju terusan berwarna pink sebatas lutut dan lengan pendek bermotif bunga sakura terlihat sangat pas di badan Naya yang ramping, mode potongan leher V membuat leher putihnya tampak semakin jenjang.


Naya melangkah kikuk dari kamarnya, ia masih belum bisa menghapus rasa gugup karena tragedi tangtop nya.


Januar hanya tersenyum samar, sungguh Naya sangat menggemaskan.


"Ku kira kau marah padaku" tanya Naya lirih.


Saat di restoran siang tadi Januar pergi setelah melihatnya dengan Kevin.


"Hm memang aku cukup marah, tapi bukan padamu, aku marah pada Mbak Tiwi, kenapa di terus menjodohkanmu dengan para sahabatnya, setidaknya lihatlah aku, adiknya yang tampan mempesona ini juga pantas menjadi kandidat calon jodohmu" jawab Januar polos.


Naya tersenyum gemas sambil mengacak rambut Januar gemas, tentu saja hal itu membuat Januar melotot, tak terima Naya melakukan hal yang selalu Tiwi lakukan padanya, ia merasa Naya menganggapnya seperti seorang adik.


Dengan cepat januar menangkap tangan Naya dan menariknya hingga tubuh Naya kembali jatuh di pangkuannya.


"Kenapa kau lakukan itu heum?"


"Melakukan apa?" tanya Naya panik.


"Aku tak suka kau meremas rambutku, itu seperti yang selalu Mbak tiwi lakukan padaku."


"Lalu ..salahku di mana?" tanya Naya polos.


"Itu hanya di lakukan oleh seorang kakak pada adiknya."


Naya mengedikan alisnya belum paham dengan maksud Januar.


"Apa kau juga hanya menganggapku sebagai seorang adik?apa hanya aku yang menganggapmu sebagai seorang wanita yang pantas aku cintai, apa di sini hanya aku yang cemburu jika ada lelaki lain yang mendekatimu, dan apakah hanya hatiku yang merasa sakit saat kau tersenyum pada lelaki lain?" tanya Januar penuh selidik.


Naya terdiam, ia sama sekali tak membayangkan kalau Januar adalah adiknya, jika dulu saat pertama melihatnya memang Januar terlihat jauh lebih lugu dan polos hingga ia menganggapnya seperti seorang adik, namun sekarang setelah timbul getar-getar di hatinya,Naya merasa Januar lebih dewasa dari dirinya, ia merasa nyaman di dekat pria itu bahkan saat mengetahui Anis menaruh hati padanya pun Naya merasa tak rela.


"Aku tidak menganggapmu seperti itu, akupun merasakan hal seperti yang kau rasakan, aku pun tak rela jika kau tidur bahkan satu atap dengan gadis lain, bahkan dadaku sesak saat kau menjadi pria yang di harapan gadis itu, hatiku pun hancur saat menyadari kenyataan bahwa ada gadis lain yang lebih pantas mendapatkanmu, aku...aku pun mencintaimu, tapi.."

__ADS_1


Januar tak membiarkan kalimat Naya selesai karena ia lebih dulu menyambar bibir mungil itu dan menciumnya lembut, beberapa saat keduanya menyatu saling meresapi kehangatan cinta yang seiring berjalannya waktu bahkan benih cinta itu tumbuh semakin subur di hati keduanya.


__ADS_2