Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Tumbang


__ADS_3

Januar terdiam dengan wajah tertunduk di sebelah Naya,kini ada sesal di hatinya, kenapa tidak dari kemarin ia mengatakan sejujurnya tentang hubungannya dengan Naya pada kedua orang tuanya.


Jika sekarang sang Ayah mengetahui perjodohan antara Naya dengan Daniel yang ternyata putra sahabatnya, tentu saja Jeremy akan merestui mereka.


"Kenapa kau diam?" tanya Naya.


Januar tak menjawab, dua malam ia tak bisa tidur karena kepergian Naya yang tanpa pamit, kini bertambah lagi masalah yang membuat kepalanya semakin terasa berat.


"Aku pulang dulu, kepalaku terasa sangat berat" ucap Januar sambil bangkit dari duduknya.


"Apa sebaiknya kau minum obat dulu, aku masih ada persediaan obat pusing" terang Naya lalu berlari mengambil obat di laci meja di kamarnya.


Dengan segelas air, Januar akhirnya meminum obat pusing dari Naya.


"Istirahatlah dulu di sini sampai pusing kepalamu sembuh" pinta Naya, ia tak tega melihat Januar pulang kembali ke apartement dalam keadaan seperti ini.


"Tak apa, aku harus pulang sekarang, mungkin Mbak Tiwi akan marah besar kalau aku tak kembali"Januar tetap kekeuh pada pendiriannya.


Naya hanya menghela nafas panjang melepas sang kekasih pulang.


"Hati-hati lah di jalan, hubungi aku kalau sudah sampai."


Januar mengangguk lalu masuk ke lift setelah mengecup luncak kepala Naya.


Sepanjang perjalanan Januar berusaha keras untuk tetap menjaga kesadarannya, kepalanya masih terasa pening bahkan matanya kini mulai berkunang-kunang.


Beruntung akhirnya pria tampan itu sampai di gedung apartement Tiwi dengan selamat.


Ruangan tampak hening dan lampu ruangan pun sudah padam, karena malam yang telah larut seluruh penghuni apartement mungkin sudah tertidur.


Langkah januar sempoyongan menuju pintu kamar, namun tenaganya lemah tak mampu menopang tubuhnya yang berjalan ke kamar. Hingga di sofa ruang tamu Januar terpaksa menghempaskan tubuhnya.


Pagi hari pukul lima, seperti biasa Kathlin bangun untuk menyiapkan sarapan.


Klek, ruangan yang gelap menjadi terang setelah Kathlin menekan tombol saklar.


"Hah Januaaaar..."pekiknya saat melihat tubuh sang putra tergeletak dengan kaki menjuntai ke lantai.


Kathlin meraba kening sang putra yang teras panas, lalu kembali berteriak.

__ADS_1


"Yah ..Ayah...anakmu Yah!!" pekiknya.


Suasana lagi yang hening menjadi riuh saat Tiwi pun ikut terbangun bersamaan dengan Jeremy.


Ceklek.


"Ada apa Bu..?"tanya Jeremy.


"Ibu kenapa...?"Tiwi pun ikut panik.


"Januar Yah...dia pingsan" pekiknya dengan air mata mulai mengalir deras dari sudut matanya.


Tiwi bergegas mengambil ponsel di kamarnya untuk menghubungi Kendra.


Jeremy dengan tenang membetulkan posisi letak tubuh sang putra sementara Kathlin terus terisak meratapi putra kesayangannya yang lemah tak berdaya.


"Katakan pada Dokter Kendra agar cepat Wi, kasihan adikmu hiks.." ucap wanita paruh baya itu.


"I iya Bu ...sebentar lagi dia sampai kok."


"Wi tolong kau ambil air hangat untuk mengompres adikmu" titah Jeremy, ia tahu Kathlin tak akan bisa bekerja dengan baik jika sedang mengalami rasa kepanikan hebat.


"Tenang lah Bu, jangan panik, semoga saja Januar hanya letih dan kurang tidur hingga pingsan" ucap Jeremy bijak.


"Ia tapi kasihan sekali anak kita Yah...kenapa kau tak panggil ibu nak...hiks."


Teet .


Tiwi berlari untuk membuka pintu, dan benar saja Kendra datang dengan tas medisnya.


Cukup lama pria tampan itu memeriksa kondisi vital Januar, lalu ia menyuntikan vitamin dan memasangkan infus di tangannya.


"Apa kabar Tante?kapan datang...?" sapa Kendra ramah lalu menyalami Kathlin dan jeremy.


"Baik Ken, ini Om sudah lumayan kuat buat perjalanan jauh, jadi di kesempatan ini kami pulang kampung untuk jenguk Tiwi dan Januar" jawab Jeremy hangat, mereka memang sudah mengenal baik para sahabat Tiwi.


"Hmm kenapa dengan Januar Om?" tanya Kendra yang cukup heran karena Januar yang terkenal disiplin menjaga tubuh akhirnya tumbang hanya karena lambung yang kosong juga waktu istirahat yang tampak kurang.


"Entahlah Ken, Om juga tidak tahu apa yang membuat Januar seperti ini"jawab jeremy lesu.

__ADS_1


"Beginilah kalau orang sedang jatuh cinta, tak enak makan juga kurang tidur, hanya memikirkan sang pujaan hati" jawab Kathlin sambil mengusap rambut Januar yang kini sudah tersadar namun masih lemah.


Kendra melirik januar sekilas, ia memang mendengar cerita dari Elis tentang situasi yang sedang di alami oleh sepasang kekasih tersebut, masalah yang cukup pelik dan ia pun memaklumi jika Januar akhirnya tumbang.


"Bagaimana Ken, tidak berat kan sakit Januar?" tanya Kathlin yang masih cemas.


"Apa sii Bu, aku cuma cape saja Bu...." rintih Januar yang jengah karena Kathlin masih memperlakukannya seperti seorang bocah.


Kathlin hanya tersenyum kecil, Januar masih tampak menggemaskan jika sedang merajuk.


"Ayo minum dulu Ken" Tiwi menyuguhkan minuman hangat dan kue kering.


"Ayo di minum Ken, Tante pergi ke dapur dulu ya...mau buat bubur buat Januar."


"Iya Tante..."Kendra melirik ke arah Kathlin yang sudah pergi ke dapur.


"Heh adik lu kenapa?" bisik Kendra.


"Hmm, tau tuh ..jagoan sii tumbang" jawab Tiwi sambil memcebikan bibirnya ke arah Januar yang terpejam di sofa di samping mereka.


"Aku masih bisa mendengar kalian Mbak.."ucap Januar lirih tapi masih dengan mata tertutup.


"Cih Ge Er, udah Lu sono tidur di kamar aja, biar bisa istirahat..., Ken Gue minta obat tidur buat ni bocah Ken, biar mulutnya nggak cerewet mulu" cibir Tiwi.


Kendra tersenyum masam, kedua kakak ber adik itu memang seringkali bertikai meski di dalam hati mereka tentu saja saling menyayangi.


Januar pun akhirnya bangkit dan melangkah perlahan sambil menenteng botol infusnya ke kamar.


"Perlu bantuan nggak?" tawar tiwi yang hanya basa basi.


"Nggak perlu, bantu do'a aja..biar Gue cepet sembuh Mbak, dan tunggu pembalasanku" ujar Januar namun dengan suara lirih, ia takut kedua orang tuanya mendengar umpatannya.


Teet.


Januar menghentikan langkahnya saat bel pintu berbunyi.


"Dah Lu sono biar gue aja yang buka" teriak Tiwi dari ruang tengah berlari menuju pintu.


Januar hanya membuang matanya lalu kembali melangkah menuju kamar, namun seketika ia menghentikan langkahnya saat mendengar suara lembut yang begitu di kenalnya.

__ADS_1


"Hai Wi..."


__ADS_2