Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Sidang


__ADS_3

Aslan dengan tenang duduk di sofa ruang tamu, Januar sesekali melirik ke arahnya dengan raut tak suka.


Kalau tahu pengacaranya se tampan ini mana mau dia menerima bantuan kakaknya.


Ceklek.


Langkah Naya panjang dengan senyum di wajahnya yang ceria saat melangkah ke ruang tamu, samar dari kamar ia mendengar suara yang sudah lama di kenalnya.


"Aslan.."pekiknya.


"Apa kabarmu? semakin cantik saja kau"sapa pria berdarah turki itu.


Kalimat yang membuat telinga Januar memanas.


Keduanya berjabat tangan erat, sikap ramah Aslan yang tak berubah membuat Naya merasa tak sungkan.


"Silahkan di minum tuan" sapa Bu Heni yang datang membawa nampan berisi minuman dan kue.


"Waduh seperti Tuan Tanah saja Bu, panggil Aslan saja Bu" tolak Aslan halus.


Bu Heni pun mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Heni.."


"Aslan..temannya Naya" ucap Aslan sambil melirik ke Naya.


Bu Heni kembali menuju dapur di susul Januar yang enggan menyaksikan kedekatan antara Naya dan pria itu.


"Mas Jan kenapa malah ke dapur?"tanya Bu Heni karena Januar mengikutinya ke dapur.


"Males liat Naya jadi genit Bu" jawaban polos Januar membuat Bu Heni terkekeh.


"Mbak Naya bukan genit mas, dia mungkin sedang senang karena baru saja bertemu dengan sahabat lamanya."


Januar hanya menghempaskan nafas kasar, apakah karena suasana hatinya saja yang sedang buruk karena melihat Naya dekat dengan pria lain.


"Tapi Mas Aslan tampan juga ya, pantas saja dari siang Mbak Naya semangat banget bantuin Ibu bikin kue nya" penuturan Bu Heni semakin membuat hati Januar gondok.


"Dia pengacara yang akan mendampingi Naya besok sidang Bu."


"Oohh, sudah tampan pengacara lagi, beruntungnya wanita yang menjadi istrinya kelak."


Tenggorokan Januar tercekat, benarkah pria seperti Aslan lah yang di impikan oleh para wanita, batinnya.


"Ayo mas Jan, kita ke sana lagi, sekalian Ibu bawa Ote-ote mungkin saja mas Aslan suka."


"Lho itu kan buat Naya Bu Hen..."protes Januar tak suka.

__ADS_1


"Masih banyak bahannya Mas, kalau kurang tinggal goreng lagi" ucap Bu Heni sabar.


Dengan berat hati Januar pun kembali bergabung dengan Naya dan Aslan.


Keduanya tampak begitu fokus dengan persiapan sidang esok, sedangkan Januar hanya sesekali menjawab pertanyaan yang Aslan lontarkan.


Beberapa kali Januar menguap lebar, pembicaraan yang sangat membosankan, pikirnya.


Ia pun beralih duduk di sofa depan televisi lalu merebahkan tubuhnya, se enggaknya ia bisa mendengar jika mereka membicarakan hal lain selain urusan sidang esok, pikirnya.


Namun tak membutuhkan waktu lama, pria yang sedang di landa api cemburu itu pun tertidur.


"Pak..Pak Jan, bangun" panggil Naya sambil menepuk tangan Januar.


Pria itu melenguh panjang dan menggeliatkan tubuhnya.


Sungguh pemandangan yang sangat indah di depan matanya karena wajah imut Naya tengah menatapnya tajam.


"Pak Januar bangun, pindah tidurnya ke kamar" kembali kalimat Naya terdengar jelas membuat Januar tersentak kaget.


Matanya memindai ruang tamu, dan tak ada sosok Aslan.


"Apa si asal-asalan itu sudah pulang?"tanyanya kocak membuat Naya terkekeh.


"Aslan Pak, a s l a n , dia sudah pulang beberapa saat yang lalu" Naya mengeja dengan lembut.


Kalau dengan lelaki lain kau sangat perhatian, tapi kenapa sangat acuh padaku, batin Januar kesal.


Pagi hari Naya bangun lebih awal, semua dokumen persiapan sidang sudah di bawa Aslan jadi Naya hanya tinggal berangkat.


Januar pun sudah menyerahkan semua agenda hari inipada Jefry dan tim nya.


Dengan rok span hitam sebatas betis dan blouse putih lengan panjang mode potongan leher bentuk V memperlihatkan leher jenjang Naya.


Rambut pendek hitamnya menambah imut wajah Naya apalagi bibir tipisnya yang beewarna merah muda membuat ia tampak lebih segar


Tak henti Januar mencuri pandang ke Naya yang duduk di sampingnya.


Sementara Naya tampak acuh, ia bahkan sibuk mempersiapkan dirinya agar bisa tenang selama menjalani sidang, tak sadar Naya meremat jemarinya yang saling bertaut.


"Tenanglah, jangan gugup" dengan tangan kirinya Januar meraih jemari tangan Naya yang dingin.


Naya mengangguk pelan, tatapan lembut dan genggaman jemari pria itu membuat hatinya sedikit tenang.


Januar tersenyum senang saat Naya membalas genggaman tangannya, bahkan ia mulai memainkan jemari Januar secara tak sadar.


Di sebuah parkiran gedung besar Januar memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


Aslan tampak menunggu di samping parkiran dengan dua orang tim yang sudah di persiapakan.


Naya melangkah dengan perlahan, semakin dekat ke pintu masuk gedung jantung Naya semakin berdebar kencang.


Elis yang juda baru datang bersama Kendra tampak melambai ke Naya.


Meski tersenyum namun Naya tak bisa menutupi kegugupannya, hal itu tak lepas dari pengawasan mata elang Januar, lalu pria itu kembali masuk ke mobilnya.


"Nay tenangkan hatimu, jangan gugup percayakan pada Aslan" ucap Elis sambil merangkul tubuh Naya dan mengusap bahunya lembut, ia tahu Naya sedang berusaha menguasai rasa gugupnya, sidang tiga puluh menit lagi di mulai.


"Makanlah ini, makanan manis bisa membuatmu lebih tenang" bisikan suara yang di kenalnya membuat Naya menoleh ke samping lalu melihat ke tangan Januar yang menyodorkan sebungkus coklat.


Naya tersenyum senang lalu mengambil dan memakannya, ia mengangguk ke Januar yang sudah kembali duduk di bangku barisannya.


Isyarat kecil dari Naya membuat hati Januar bersorak.


Aslan sempat melihat interaksi keduanya pun berbisik pada Kendra.


"Apa dugaanku benar kalau bocah ingusan itu menaruh hati pada Naya?" bisik Aslan pada Kendra di sampingnya.


"Dugaanku pun begitu."Kendra menjawab singkat.


Aslan tersenyum smirk, memang di akui kecantikan Naya membuat banyak pria jatuh hati padanya, hanya takdir yang mungkin belum berpihak padanya, dari cerita Tiwi rumah tangga Naya yang baru seumur jagung, mungkin tak bisa lagi di pertahankan.


Tiba-tiba perhatian tertuju pada kedatangan dua pria bertubuh tegap, Danu dengan celana bahan hitam dan atasan kemeja putih melangkah dengan tenang memasuki ruang sidang.


Wajah tampannya menarik perhatian beberapa wanita yang ada di gedung tersebut.


Naya yang masih belum menguasai rasa gugupnya hanya memandang sekilas kedatangan sang suami.


Danu memandang Naya dengan tersenyum hangat, wajah manis yang masih ia harapkan untuk kembali padanya.


Tak berapa lama kemudian Silvy datang bersama beberapa pengawal dan pengacaranya, juga Joni yang berjalan masih dengan kaki pincang di kawal beberapa polisi.


Danu duduk tak jauh dari barisan kursi Naya berada, pria tampan itu berkali-kali mencuri pandang ke arah wanita berparas imut itu, ada rasa rindu dan perih yang berdenyut di dadanya, rasa sesal yang tak berujung, kesalahan terbesar yang telah di lakukan tak akan bisa menghapus sesal di hatinya, bahkan mungkin hingga akhir nafasnya.


Hanya demi Silvy, wanita berhati busuk yang ia kira cinta sejati namun ternyata berhianat di belakangnya, sedangkan Naya yang sudah jelas sah istrinya malah dengan sengaja ia hancurkan hati dan perasaannya.


Danu hanya bisa menyerahkan semua pada Naya, ia tak ada daya lagi untuk berharap Naya untuk kembali padanya.


Sidang yang berjalan lebih dari dua jam membuat tenaga Naya sedikit terkuras, bahkan kepalanya kini terasa berat namun ia masih beruntung bisa menjawab pertanyaan hakim dengan lancar.


Silvy dengan wajah tertunduk meninggalkan ruang sidang dengan kawalan ketat polisi begitupun Joni.


"Naya..."panggil Danu.


Naya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Danu yang sedang berjalan menuju ke arahnya.

__ADS_1


"Maafkan aku.." hanya kalimat singkat yang Danu bisa ucapkan pada Naya, dadanya terasa begitu sesak, seorang istri yang tak bisa ia peluk dan gapai, bukan karena jarak atau pun waktu, tapi luka hati yang telah memisahkan mereka.


__ADS_2