Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Begitu Manis


__ADS_3

Naya menghela nafas panjang, hampir saja mereka melakukan hal terlarang itu, ia bergegas kamar mandi untuk membersihkan diri, di bawah guyuran shower cukup membuat kepalanya terasa dingin dan segar, memikirkan bagaimana nasib Januar kelak ber istri kan dirinya, seorang wanita dengan status janda cerai hidup, bagaimana nanti sikap keluarga juga orang-orang di sekitarnya, batin Naya.


Sementara itu, mobil Januar terus melaju membelah jalanan kota, waktu menunjukan pukul sepuluh, beruntung jalanan tak terlalu macet hingga ia sampai di apartemen dengan waktu singkat.


Langkahnya panjang memasuki apartement, seperti biasa Tiwi mungkin sudah terbang ke alam mimpi begitu pun Anis.


Januar membuka pintu kamar dan langsung menuju kamar mandi, tiga puluh menit tubuhnya di guyur air dingin membuat "juniornya" kembali tertidur setelah beberapa saat yang lalu bangun dan memberontak keras.


Suara langkah Januar dan pintu yang terbuka terdengar jelas oleh Tiwi, ia masih tak bisa memejamkan mata,pengakuan Januar tadi siang sungguh sangat mengejutkan dirinya.


Sejak kapan si dingin Januar menaruh hati pada Naya, apa yang akan ia katakan pada Ayah dan Ibu nya kelak, meski Naya sudah mereka kenal dengan baik, tapi Tiwi ragu apakah dengan status yang Naya sandang sekarang masih bisa di terima keluarganya.


"Aaaggrrrhh, dasar bpcah sialan, kenapa harus Naya si Jaaan" umpat Tiwi panjang sambil meremat kepalanya.


Pantas saja Anis yang begitu cantik nan ayu di acuhkan Januar, Naya memang memiliki pesona tersendiri jika di bandingkan dengan gadis lain.


Naya yang mandiri dan tegar, juga sikapnya yang tulus dan lembut pada semua orang, pasti itulah yang membuat Januar menyukainya.

__ADS_1


"Hei bocah, sejak kapan kau menyukainya????" pesan singkat Tiwi untuk Januar.


"Sejak pertama aku datang ke Tinar Perkasa" jawab Januar jujur,membuat mata Tiwi membulat.


"Hei, jangan bilang kau sudah menyukai istri orang??!!" jawab Tiwi.


"Jika memang kenyataannya seperti itu, gimana lagi" kalimat Januar yang di akhiri emot tertawa puas membuat Tiwi naik pitam.


"Sungguh lancang kau Jan!!!" kini Tiwi akhiri kalimat dengan wajah merah padam.


"Kenapa hah? Lu mau apa? Itu bukan cinta, sadar lah Jan, ku rasa kau terbawa suasana, kau tidak pernah dekat dengan gadis mana pun.. tak heran kalau kau langsung menyukai Nay begitu kalian dekat" alasan Tiwi membuat Januar ikut geram.


"Bukankah kau yang pertama kali mencekokiku dengan cerita yang selalu berisi tentang Naya, setiap hari kau curhat padaku tentang penderitaan sahabatmu itu, jadi jangan salahkan aku kalau rasa simpatiku berubah menjadi suka bahkan kini aku ingin menjadi obat penyembuh luka hatinya."


"Nahhh....itu berarti bukan cinta pada seorang wanita wahai adiku, kau hanya bersimpati padanya, kau menganggap dia seperti kakakmu sendiri, jadi mulai sekarang sadarlah dan carilah gadis lain, atau aku akan meminta Kendra dan Elis untuk mengenalkan kau dengan teman-teman mereka."


"Tidak, sudah terlambat...benih-benih cinta di hatiku sudah terlalu subur, jadi jangan harap kau akan mematikan perasaanku pada Naya, dan sudah ku pastikan, rasa ini bukanlah rasa simpati saja, tapi rasa yang tulus dari dasar hatiku paling dalam, aku ingin Kanaya Dewanti menjadi wanitaku seutuhnya" habis akal Tiwi mendengar penuturan sang adik, ia meremas kepala dan mengacak-acak rambutnya ia terlihat sangat depresi.

__ADS_1


"Tenanglah Mbak, mulqi sekarang kau tak perlu lagi khawatir, aku yang akan menjaga Naya, dan aku hanya perlu restu darimu, itu saja...tapi jika ternyata kau pun masih terus menjodohkannya dengan pria lain, maka kau akan berhadapan dengan adikmu sendiri."


Tuut.


"Haiiisst, dasar adik sialan, bar-bar sekali kau pada kakakmu sendiri" nafas Tiwi memburu saat Januar mematikan panggilannya secara sepihak.


Sementara Januar hanya menyeringai penuh arti, ia akan hadapi apapun rintangan yang menghalangi cintanya, meski itu kakaknya sendiri.


Pantas saja kau masih menjomblo, pria mana yang mau pada gadis se ganas dirimu kak, batin januar.


Namun senyumnya kembali terbit kala mengingat tujuan Aslan bekerja sama dengannya.


Ku harap kau tak menyesal telah menyukai kakakku.


Januar menghempaskan tubuhnya di ranjang besarnya yang nyaman, kembali terbayang ciuman panasnya dengan Naya.


Ah kenapa kau terasa begitu manis.

__ADS_1


__ADS_2