Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Bu Heni


__ADS_3

Naya melihat pemandangan sisi jalan dengan penuh semangat, sudut bibirnya tak lepas membentuk garis lengkung.Januar hanya melirik dari sudut matanya .


Naya menghirup udara dari kaca jendela samping dengan nafas panjang, seakan ingin memenuhi paru-parunya dengan segarnya udara luar setelah beberapa hari terkurung di ruangan rumah sakit.


Namun kesadarannya mulai pulih saat menyadari jalur jalan bukan ke menuju ke apartement miliknya.


"Pak...kita pulang ke mana?" tanya Naya panik karena ia menduga Januar akan membawanya kembali lagi ke apartement Danu.


"Heum, sebentar lagi sampai."


Naya pun terdiam, setelah beberapa menit ia mulai lega, jalan itu tak mengarah ke apartement suaminya.


Dan kembali Naya di buat terkejut saat laju mobil ternyata ke arah gedung apartement Tiwi, dimana Januar tinggal.


"Pak, k kenapa kita ke sini?"tanya Naya heran.


"Nanti akan ku jelaskan" januar menjawab tenang.


"Setelah sampai Januar segera mengambil kursi roda untuk Naya, lalu mendorongnya menuju lift.


Perlahan Januar membuka pintu dan mendorong kursi memasuki apartement.


Naya masih tampak terheran-heran karena seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah dan anggukan hormat.


"Selamat pagi Tuan, Nona" sapa wanita paruh baya itu hormat.


"Pagi bu heni."


Naya hanya mengangguk dengan senyum tipis karena memang ia belum berkenalan dengan wanita tersebut.


"Perkenalkan, dia bu Heni, ia yang akan bertugas merawatmu selama tinggal di sini" terang Januar.


"Kenapa saya harus t tinggal di sini" tanya Naya.


"Bu maaf, tolong siapkan kamar Non Naya, karena dia mau istirahat" Januar mengusir halus wanita itu karena ia memang harus menjelaskan yang sesungguhnya pada Naya.


"Dengarlah, akan ku ceritakan kenapa kau harus tinggal di sini" kalimat Januar berubah menjadi mode tegas, membuat Naya pun terdiam.


"Kau harus tinggal di sini karena untuk menjaga keselamatan nyawamu, di apartement inilah tempat ter aman untukmu."


"Kenapa dengan keselamatanku, siapa yang ingin mencelakakanku?" tanya Naya.


"Ada orang yang ingin kau celaka,dan kecelakaan mobil itu bukan murni karena perampokan."


Mata Naya membulat tak percaya, benarkah ada orang yang menginginkan kematiannya.


Januar melangkah ke kamar tamu di mana ia menyimpan koper Naya.


Wanita berkupluk itu tertegun memandang koper yang Januar bawa.


"Mobil yang kau kira taxi online itu ternyata adalah mobil yang berisi dua orang yang menyamar sebagai pengendara taxi online yang kau pesan,karena taxi yang sebenarnya datang sepuluh menit setelah kau pergi" jelas Januar.


Naya masih belum bisa mempercayai kalimat yang Januar ucapkan, ia berusaha kembali mengingat saat ia memesan taxi onlinenya.


"Dan dua pria di mobil tersebut adalah orang suruhan, ada otak yang mengendalikan mereka, dan karena itulah kau harus tinggal di sini untuk sementara waktu hingga keselamatanmu aman."


kedua mata Naya mengembun, hatinya begitu nyeri, siapa orang yang begitu keji menginginkannya celaka.

__ADS_1


Januar perlahan mendekat dan mengusap pundak Naya lembut, tak tega ia melihat Naya kembali hancur.


"Tenanglah, kami akan slalu menjagamu, dan aku sudah meminta anak buahku untuk menyelidiki siapa otak di balik ini semua" sambungnya.


"Maafkan aku yang telah merepotkan kalian aku sungguh menjadi beban untuk kalian semua hiks ..." Naya menutup wajah dengan kedua tangannya, hatinya terasa hancur.


"Bu Heni..." panggil Januar pada perawat Naya.


"Iya Tuan..." wanita paruh baya itu melangkah cepat ke arah Januar dan Naya.


"Ehm hmm, tolong bawa Non Naya ke kamarnya ya Bu..., dan satu lagi, jangan panggil saya Tuan" ujar Januar.


"Baik Tu..Den" jawab Bu Heni lalu mendorong kursi Naya.


"Bu...,panggil 'Mas' aja"pinta Danu lirih.


"Baik ..Mas" Bu Heni tersenyum tipis dan menunduk hormat lalu mendorong kursi Naya ke kamarnya.


"Kak, apa kau bisa memerintahkan orang untuk memasak untuk kami?" tanya Januar lewat pesan singkat.


"Baikah nanti akan Kakak cari kan."


"Kalau bisa besok langsung mulai bekerja" ...pesan Januar.


"Iya..."Tiwi mengakhiri obrolan dengan emot jempol.


Teeet, bel apartement berbunyi.


Januar membuka pintu, rupanya Jefry datang dengan bungkusan makanan yang Januar pesan tadi.


"Makanlah juga bersama kami" titah Januar pada Jefry.


"Cih, sok sibuk sekali kau, baru ku perintahkan bekerja satu hari, gaya lu udah mirip bos besar" sindir Januar.


"Hee hee, bukan begitu Bos, ehm ...anu Bos"kalimat Jefry menggantung membuat Januar mengerutkan alisnya.


"Ada apa? katakanlah..."


"Kami mendapat rekaman baru tentang kecelakaan yang menimpa Mbak Naya Bos, rupanya mereka masih ada hubungan dengan Tuan Danu, suami Mbak Naya sendiri" terang jefry.


"Maksudmu?"


"Itulah Bos, kami masih harus menyelidiki rekaman tersebut dengan lebih teliti."


"Baiklah, cepatlah kalian selesaikan teka-teki ini, dan jika sudah kalian dapat, cepat laporkan padaku" ujar Januar.


"Siap Bos" jefry pun keluar apartement, kini tinggal Januar yang duduk termenung.


"Apa benar kecelakaan ini karena perintah Masa Danu......?"suara Naya tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


Deg.


Januar membeku di tempat, rupanya Naya mendengar pembicaraanya dengan Jefry.


"Pak Januar, tolong katakan sejujurnya, apakah benar otak di balik semua ini adalah Mas Danu?"


Bibir Januar kelu, ia tak kuasa menatap mata Naya yang menyiratkan hatinya yang hancur.

__ADS_1


Januar hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


"Jadi Mas Danu lah yang telah menyuruh orang untuk membuhunku?" kembali Naya mengulang tanya nya.


"K kami belum bisa memutuskan itu semua Nay, kami masih harus mengumpulkan bukti lain dan...."Januar tak meneruskan kalimatnya.


Naya memutar roda kursi hingga berbalik kembali ke kamarnya, air mata jatuh bercucuran dari sudut mata indahnya.


Dada Januar berdenyut nyeri, hatinya seakan ikut merasakan hancur hati Naya.


Brakk.


"Mas Jan, Mbak Nay kenapa?"tanya Bu Heni dengan wajah cemas.


"Tidak apa-apa Bu, dia hanya sedang kalut" Januar berusaha menenangkan wanita paruh baya tersebut, sedangkan hatinya pun cemas bukan main, ia tak pernah melihat Naya se hancur ini, bagaimana ia meminta orang lain untuk tenang sedang hatinya pun kacau balau.


Pukul delapan Naya belum juga keluar dari kamar, Bu Heni beberapa kali mengetuk pintu kamar, namun tak ada jawaban.


"Sudah Bu, biar nanti saya saja yang akan menunggunya, bu Heni makan saja dulu sayang makanan sudah dingin" ujar Januar.


"Baik Mas, Mas kalau mau makan nanti ibu hangatkan dulu."


Januar mengangguk meng iya kan.


Suasana apartement kembali hening, bu Heni sudah ke kamarnya, kini Januar sendiri di ruang tengah, ia berharap Naya merasa harus atau lapar hingga keluar dari kamarnya.


Jarum jam menunjukan pukul sepuluh lebih tiga pukuh menit, tak ingin tejadi hal-hal yang tak di inginkan, Januar lalu ke ruang kerjanya untuk mengambil kunci cadangan, ia bisa saja membukanya siang tadi, namun ia ingin memberi kesempatan Naya untuk mendinginkan suasana hatinya.


Dengan perlahan Januar menekan tuas pintu.


Ceklek.


Pria itu diam di ambang pintu, dadanya terasa sesak bagai terhimpit dua batu besar.


Naya diam berdiri dengan tatapan mata kosong ke luar jendela, suasana kamar yang gelap gulita hanya bayangannya yang tampak dari sinar rembulan yang menerobos kaca jendela apartement.


"N a y...."sapa Januar lirih.


Tak ada jawaban dari mulut Naya yang tertutup rapat.


Klik, lampu pun menyala.


Perlahan Januar mendekati Naya yang masih terdiam.


"Kenapa dia sangat membenciku, bahkan dia ingin melenyapkanku, apa salahku hingga ia tega ingin membunuhku" ucap Naya dengan suara serak.


"Bukan, bukan kau yang salah, tapi dia yang salah, karena tak punya hati hingga tega melukai dan menyakitimu tanpa alasan,kita akan membalas perbuatannya" ucap Januar.


"Hiks..hiks...kenapa? Kenapa dia tega padaku hiks...aku selama ini berusaha sebaik mungkin menjadi seorang istri yang baik dan menjaga keutuhan rumah tanggaku, bahkan setelah ia selalu mengacuhkanku, aku tetap memperhatiakannya, aku tetap berharap hatinya melembut padaku, aku tetap memohon kemurahan hatinya agar tidak menceraikanku hiks....."isak tangis pilu Naya begitu menyayat hati.


"Ternyata usahaku selama ini sia-sia belaka."


Greeppp.


Januar merengkuh tubuh ramping itu ke dalam pelukannya, semakin kencang tubuh Naya terguncang menahan tangis dan sesak di dadanya, Januar terus mengusap punggung Naya dengan lembut, mencoba menenangkan hatinya hingga isak tangis Naya perlahan menghilang.


Cukup lama keduanya menyatu dalam pelukan erat.

__ADS_1


Januar mengurai tubuh Naya perlahan, dan alisnya mengerut saat mengetahui bahwa Naya sudah terpejam dan terlelap dalam pelukannya.


__ADS_2