
Drrt drrt.
Januar tersentak setelah getaran ponsel membangunkannya pukul tujuh lebih tiga puluh menit.
"Lu di mana? "pesan dari Tiwi setelah beberapa panggilan terlewatkan.
"Hmm di tempat yang baru" jawab Januar masih dengan bermalasan di balik selimut.
"Emang Naya hilang?gimana bisa Jan" tanya Tiwi panik.
"Entahlah Mbak, aku tak bisa menemukannya, semua orang-orangku sudah ku kerahkan tapi belum juga berhasil" terang Januar lesu, kepalanya terasa berat karena ia baru bisa tertidur sekitar pukul empat pagi.
"Baiklah, nanti aku coba minta teman-temanku bantu juga, atau apa sebaiknya kita lapor polisi saja?" saran Tiwi spontan
"Hm mungkin kita harus mrnunggu hingga sore dulu Mbak, baru bisa buat laporan."
Januar menutup ponsel dengan tak bersemangat.
Sementara itu Daniel sedang bersiap menuju kampung Naya, beberapa anak buahnya melihatnya mengunjungi makam sang ayah.
Inilah kesempatanya untuk menemui Naya secara bebas tanpa ganggguan Januar, pikir Daniel.
Dua jam perjalanan akhirnya sampailah pria tampan itu di sebuah kampung asri tempat di mana Naya berada, meski dengan penampilan yang sangat berbeda dari biasanya tapi anak buah Daniel dengan jeli bisa mengenalinya.
Rupanya setelah mengunjungi makam, Naya tak pergi ke rumah Ningsih, bahkan ia seakan ingin menghindar dari ibu tirinya dengan cara berdandan bak seorang pria.
__ADS_1
Di sebuah rumah makan sederhana Naya melepas lelah dan mengobati rasa lapar di perutnya.
Dari jarak beberapa meja, sepasang mata terus mengamati Naya, Daniel memintanya untuk selalu mengikuti gerak ke mana pun Naya pergi.
"Bos, dia sudah selesai makan, sepertinya akan pergi dari rumah makan ini" tutur sang anak buah, membuat Daniel mempercepat laju mobilmya.
"Terus ikuti dia, jangan sampai kehilangan jejak, beberapa menit lagi aku sampai di situ" jawab Daniel.
Setelah membayar makan, Naya melangkah menuju ke sebuah terminal yang tak jauh dari rumah makan tersebut, ia duduk di sebuah kursi tunggu di terminal yang cukup ramai itu sambil ikut mencarger ponselnya yang lowbat pada sebuah warung jajanan.
"Bos...,sepertinya ada yang mengikuti Nona Naya selain kita Bos" tutur anak buah Daniel lirih.
"Hmm aku sudah berada di depan terminal."
Daniel menutup ponsel lalu bergegas menuju ke kursi tunggu di mana Naya berada.
"Ehmm hhm"suara Daniel lirih namun berat, berharap Naya memalingkan wajah ke arahnya.
Naya hanya melirik sekilas dan kembali fokus pada koran di tangannya.
Ck, susah sekali menarik pernatianmu Nay, Daniel membatin sambil memutar otak bagaimana caranya agar Naya melihat ke arahnya.
Daniel memindai ke sekitar, beberapa penumpang lain juga tampak fokus pada ponsel masing-masing, perlahan ia menggeser duduknya memangkas jarak hingga semakin mendekati Naya, tak lupa ia pun tetap memantau pria misterius yang selalu mengikuti gerak gerik Naya.
Jika di lihat dari gerak tubuhnya yang berpostur tinggi tegap dengan sikap yang selalu waspada, pria itu mungkin orang suruhan Ningsih.
__ADS_1
"Jangan buat gerakan mencurigakan, ada anak buah ibu tirimu mengawasimu, pelan-pelan ikuti peeintahku, aku akan membawamu menjauh dari orang suruhan ibumu....aku Daniel di sebelahmu" pesan yang Daniel kirim pada Naya.
Merasa ada getaran dari ponselnya Naya pun mengambilnya dari atas meja sang pemilik warung.
Daniel berusaha bersikap tenang setelah mengirimkan pesan sambil menunggu reaksi Naya setelah membaca pesan yang ia kirim.
Raut wajah Naya terlihat tegang, lalu perlahan melirk ke arah Daniel, meski wajah tertutup masker dan kaca mata, tapi Naya masih bisa mengenali pria itu.
"Mau apa kau mengikutiku?" pesan yang Naya kirim membuat Daniel mengerut.
"Kau pikir dengan menghilang tanpa kabar dan berita, tidak membuat gempar orang-orang di sekitarmu?lihat saja riwayat panggilan dan pesan di ponselmu dari bocah itu, hampir gila dia mencarimu" balas Daniel.
Naya membuka riwayat panggilan memang benar Januar lebih dari tiga puluh kali memanggilnya, juga pesan yang entah berapa puluh kalimat yang baru ia buka.
Naya hanya tersenyum masam lalu melirik ke Daniel.
"Jangan melihat kearahku, anak buah ibu tirimu sangat jeli selalu mengawasimu" pesan Daniel.
"Bukankan kalian satu komplotan?" jawab Naya sinis.
"Nanti kau akan tahu apa maksudku, sekarang kalau kau ingin lepas dari sini dengan aman, ikuti perintahku."
Naya mendecak bibirnya kesal, bagaimana mungkin ia mempercayai Daniel sedangkan ibu tirinya menjodohkannya dengan dirinya.
"Cepatlah sebelum semakin banyak orang suruhan Ningsih datang ke sini!!" kali ini kalimat Daniel membuat Naya berfikir keras, kenapa Daniel terlihat mendukungnya bahkan pria itu seakan membenci ibu tirinya dengan menyebut Ningsih tanpa sebutan 'ibu'.
__ADS_1
"Lalu bagaimana caranya aku pergi dari sini" balas Naya mulai panik.
"Kau berpura-pura lah ke kamar kecil, aku akan berusaha mengalihkan perhatian mereka, lalu kau berjalan menuju parkiran dan masuklah ke mobil hitam barisan paling belakang nomor dua dari kanan, nanti aku menyusul" pesan Daniel.