Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Hadiah Kecil


__ADS_3

Naya melambaikan tangan saat Sam melangkah pergi dari ruangan, bercengkerama dengan orang lain membuat mood Naya kembali naik, ia kembali tersenyum hangat, candaan Sam sungguh sangat menghibur hatinya.


Meski tak satu kalimat pun Sam mengungkit tentang Danu suaminya, tapi Naya memaklumi itu.


Kini Januar yang merasa lega, entah kenapa ada rasa tak senang saat melihat Naya tampak akrab dengan asisten Danu itu, ia masih belum bisa menafsirkan berada di pihak mana Sam.


Naya bangun dari ranjang pasien dengan perlahan, melihat hak tersebut Januar bergegas mendekat untuk mengambil kursi roda.


"Aku hanya mau ke kamar kecil, tak perlu memakai kursi ini" tolak Naya.


"Tapi kata dokter kepalamu masih belum boleh terlalu banyak bergoyang, jika kau berjalan maka kepalamu pun akan kembali terasa pusing" jawab Januar tegas.


Tok tok tok.


Keduanya menoleh ke arah pintu.


Ceklek.


Elis datang bersama Kendra, rupanya mereka sudah janji datang bersama ke rumah sakit menjenguk Naya.


Senyum Naya terbit saat Elis datang memeluknya.


"Ehm hmm" suara dehrman di belakan Elis mengalihkan perhatian Naya.


"Kendra" ucapnya lirih lalu beralih memeluk pria tampan itu.


Sejenak Kendra memindai tubuh Naya intens, lalu melirik ke arah Januar.


Januar hanya membuang matanya, ada rasa aneh yang menjalar di hatinya, darahnya tiba-tiba terasa panas saat Naya memeluk dokter Kendra.


Dokter tampan itu mengurai pelukannya saat terdengar isak tangis Naya lirih.


Elis tertegun lalu mendekat ke Naya.


"Ada apa Nay? Kau kenapa menangis?" tanya Elis heran.


Semua mata di ruangan itu tertuju pada Naya yang kini tertunduk dengan air mata mulai menganak sungai dari sudut matanya.


"Sst sstt, katakan apa yang membuatmu sedih heum?" kembali Elis mengulang pertanyaan dengan lembut.

__ADS_1


Januar mendekat beberapa langkah, hatinya pun merasa tak tenang.


"Aku ..aku kehilangan rambut ku Lis hiks hiks, kepalaku botak, rambutku nggak ada lagi Lis huu huù....." ketiga orang saling pamdang, tak mengerti dengan sikap random Naya, di tengah luka yang di derita karena kecelakaan yang menimpanya, masih saja ia mengkhawatirkan rambutnya.


"Hei hei...tenanglah, rambutmu masih bisa tumbuh kembali Nay....di salonku ada banyak obat penumbuh rambut cepat, nanti akan ku pakaikan obat paling bagus agar rambut mu kembali tumbuh cepat" terang Elis.


Naya diam menatap Elis penuh harap.


"Benarkah? Benar rambutku bisa tumbuh lagi dengan cepat" tanyanya polos.


Kendra tak dapat lagi menahan ketawanya begitu juga Januar, sikap Naya bagai seorang bocah yang kehilangan boneka kesayangannya.


"Bener Nay, nanti kalau kau pulang dari rumah sakit, dan jahitan di kepalamu sudah lepas, kau bisa langsung memakai obat itu , di jamin ..satu hingga dua bulan pun rambutmu akan kembali lebat"ucap Elis penuh semangat, apapun akan ia lakukan untuk sahabtanya , kalau perlu ia akan eksport obat penumbuh rambut terbaik dari luar negri.


Naya menganggukan kepalanya penuh haru, kini semangatnya kembali bangkit, ia akan kembali mendapatkan rambut hitam kesayangannya.


Kendra mencolek Januar agar mengikutinya keluar ruangan.


Januar pun mengikuti Kendra dengan penuh tanda tanya.


"Apa yang akan kau lakukan dengannya?" tanya Kendra tegas.


Kendra menghela nafas panjang lalu menceritakan kegundahannya, ia merasa nyawa Naya terancam, karena kecelakaan itu bukan murni karena perampokan, mereka hanya belum tahu siapa dalang di balik kecelakaan itu, dan keselamatan Naya masih belum sepenuhnya aman jika otak pelaku masih bebas berkeliaran di luar sana.


Januar pun mengangguk mengerti pendapat Kendra, bahkan kakaknya mewanti agar Naya untuk sementara tinggal di apartement bersamanya, namun tentu saja Tiwi akan menugaskan salah satu perawat yang khusus untuk merawat Naya nanti agar kesehatannya cepat pulih.


Dan Januar pun tidak merasa keberatan akan hal itu.


"Aku akan meminta salah satu perawat yang ku kenal baik untuk tinggal dan merawat Naya selama tinggal di apartementmu"


"Baiklah, kak Tiwi pun sudah mengatakan padaku tempo hari."


"Terima kasih" Kendra menepuk bahu Januar lalu pergi ke ruangan paramedis di mana mereka menyambut dokter Kendra dengan hangat, rupanya banyak perawat dan dokter di rumah Sakit itu yang mengenal Kendra dengan baik.


Januar pun kembali masuk ke ruangan, Elis tampak asik membersihkan wajah Naya dengan alat pembersih wajah yang ia bawa.


Ada rasa hangat di hati Januar, Naya di kelilingi banyak orang baik di sekitarnya, mereka begitu dayang dan perhatian pada Naya.


Pukul sembilan Elis dan Kendar pulang, Naya masih terlihat ceria karena Elis membawa banyak snack untuknya.

__ADS_1


"Nay aku keluar sebentar" pamit Januar setelah pesan dari Jefry kalau saat ini pria itu sudah di luar ruangan sedang menunggunya.


Naya memandang punggung Januar yang menghilang di balik pintu, atasannya kini tak lagi terlalu dingin, Naya merasa berhutang budi banyak pada adik sahabat sekaligus atasannya itu.


Januar sangat perhatian padanya, tapi bagaimana dengan Danu, bahkan ia mungkin tak tahu kalau ia sekarang terbaring di rumah sakit.


Apakah nanti asisten Sam mengatakan keadaannya pada Danu, bagaimana reaksinya?apakah Mas Danu akan menjengukku? Apakah dia khawatir padaku?apa salah dan dosaku padamu Mas, hingga kau begitu membenciku, bahkan salah yang tak aku lakukan pun kau tuduhkan padaku, tangis Naya pilu dalam hati.


Beruntung sahabatnya masih perduli padanya, bahkan Tiwi yang berada jauh darinya pun meminta sang adik untuk menjaganya.


Rasa kantuk yang nenyerang membuat Naya jatuh terlelap, dan seperti malam-malam biasa, Januar yang akan mematikan televisi dan merapikan selimut Naya.


Senyumnya tersungging tipis saat sebuah bungkusan ia letakan di atas meja di samping Naya.


Semoga kau menyukainya, batin Januar.


*


*


*


Pagi hari Januar bangun pukul delapan, ia baru menyelesaikan urusan bersama Jefry hingga tengah malam, setelah memberi pelajaran singkat Januar meminta Jefry untuk menangani urusan kantor, dan pria itupun ia beri wewenang untuk membuat tim yang akan membantu tugas-tugasnya.


Perawat dan dokter yang memeriksa luka Naya merasa lega, pemulihan luka dalam dan luar maju pesat, dengan obat yang Januar pesan tentu saja membuat pemulihan Naya berkali-kali lipat lebih cepat dari menggunakan obat biasa.


Dan sore nanti Naya sudah di perbolehkan pulang.


Senyum tak henti tersungging dari bibir Naya, ia sudah sangat bosan tidur di ranjang rumah sakit, selain itu ia ingin segera menyelesaikan urusan rumah tangganya dengan Danu.


Jika memang pria itu tak bisa menerimanya maka Naya pun akan mundur.


Januar tersenyum lega, hari ini akhirnya ia bisa kembali pulang ke apartement, dan perempuan paruh baya yang Kendra tugaskan merawat Naya selama di apartementnya sudah berada di apartement, Kendar Dan Elis sudah merencanakan sebaik mungkin, wanita paruh baya yang sudah berpengalaman di dunia medis akan tinggal bersama Januar dan Naya di apartement Januar.


Naya mematutkan diri di depan cermin, topi kupluk berbahan rajut berwarna nude tampak manis di kepalanya, rupanya Januar sudah menyiapkan hadiah kecil tersebut agar Naya tak lagi murung dengan kondisi kepalanya.


Januar tersenyum tipis melirik tingkah Naya yang tampak bergaya di depan kaca.


Semakin manis.

__ADS_1


__ADS_2