
Januar mengarahkan kemudi ke arah perusahaan dengan santai, meski hari ini Naya masih belum masuk kerja tapi tak ada acara penting, membuat Januar tak terlalu di buru waktu seperti hari kemarin.
"Pagi Tuan" sapa Ujo ramah.
"Heum pagi Jo" sepersekian detik Ujo membeku tanpa gerak, selama ini atasannya tak pernah sekalipun membalas sapaan para karyawan, apalagi dirinya yang hanya seorang OB.
Entah mimpi apa Ujo semalam hingga Januar membalas sapaannya.
"Jo tolong buatin kopi, no sugar ya" titah Januar santai.
"I iya Tuan" Ujo bergegas ke pantry dan menyiapkan permintaan sang Bos.
Kopi premium berasal dari satu kota B menjadi pilihan Ujo, biasa untuk ia sajikan pada para tamu jika datang ke Tinar Perkasa.
Entah kenapa pagi ini Januar menginginkan sensasi kopi hangat tanpa gula.
Kakaknya mengatakan bahwa Naya sering menghabiskan kopi di Pantry dan kopi pilihannya adalah kopi pahit dari kota B.
Glek.
"Yakkh" alis Januar mengerut dan lidah menjulur panjang saat sesapan kopi pertama ia rasakan.
Kenapa ada wanita yang menyukai kopi seperti ini, pikirnya sambil menelisik gelas di genggamannya.
"Jo, minta kopi lagi, yang mix aja..jangan lupa pake creamer."
"Baik Tuan."
Di lihatnya agenda, hanya ada satu meeting siang ini, itu pun salah satu klien lama.
Setelah melihat data tentang master plan scedule yang di buat Naya cukup membuat Januar tercengang, semuanya tertulis dengan detil dan terperinci, hingga mata orang awam pun mungkin akan paham, tentang budget produksi dan laba yang telah di dapat oleh Perusahannya.
Januar manggut-manggut puas, benar apa yang di katakan Tiwi sang Kakak, Naya adalah seorang sekertaris yang cerdas dan sangat bisa di andalkan.
Tok tok tok.
"Masuk."
Ceklek,"Maaf Tuan, klien sudah datang dan menunggu di ruang meeting" ucap Ujo yang menyembul dari pintu.
Jam menunjukan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, Januar pun segera menuju ke ruang meeting.
Ceklek.
Pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan berdiri dan mengangguk hormat pada Januar begitu pun pria paruh baya di sebelahnya yang mungkin asisten pria tersebut.
"Selama siang Tuan ...Kevin, selamat datang di perusahaan Tinar Perkasa"sapa Januar sambil mengulurkan tangan.
Pria bernama Kevin tersebut pun mengangguk dan menyambut uluran Januar.
__ADS_1
Pria Tampan bernama Kevin itu tampak melirik ke ruang di belakang punggung Januar, seakan ingin melihat apakah ada orang lain di belakangnya.
"Maaf, asisten saya hari ini tidak masuk jadi meeting hari ini kita lakukan bertiga" terang Januar membuat Kevin menghembuskan nafasnya panjang.
Salah satu tujuan lain di Tinar Perkasa ini adalah bertemu dengan asisten Naya, namun ternyata hari ini Kevin tak bisa bertemu, ada raut kecewa yang Januar tangkap di wajah tampan Kevin.
Membuat hati Januar bertanya-tanya ada apa gerangan antara asistennya dengan Kevin, CEO dari perusahaan ekspor impor tersebut.
Bahkan selama meeting, Kevin terlihat tak bersemangat, ia lebih banyak menyerahkan semua pada sang asisten yang lebih banyak berinteraksi dengan Januar.
Satu jam meeting akhirnya usai, dan jam makan siang seperti biasa, kini Januar tak lagi harus membuang waktu karena ia sudah me mesan makan siang lewat online.
Sementara itu di apartement.
Danu sudah mulai membaik, panas tubuhnya sudah normal, nafsu makannya pun membaik.
Naya sudah memasak berbagai hidangan yang ia sajikan di atas meja.
"Mas ayo kita makan" Naya berucap lirih karena Danu tampak sedang bermalas-malasan di depan televisi.
"Heum kau duluan saja Nay" Danu menjawab dengan malas, siang ini pesannya tak di balas satupun oleh Silvy membuat Danu gusar.
Naya hanya menghela nafas dalam, Danu hanya mau makan masakannya saat ia sedang sakit saja, sekarang ia sudah kembali ke mode sebelumnga, tak mau menyentuh sama sekali apa yang ia masak.
Ada denyut nyeri di dada Naya, begitu tak berarti rasanya meski sebutan seorang istri sah menjadi miliknya tapi hati Danu masih menjadi milik wanita lain.
Naya makan sendiri tanpa Danu yang tengah asik dengan ponselnya.
Drtt drrt.
"Nay, Kevin nanya in Elu, tadi datang ke perusahaan dan Elu nya nggak ada" pesan dari Tiwi membuat Naya tersentak.
Kevin sudah beberapa kali mengutarakan isi hatinya namun kala itu Naya menolak dengan alasan ia belum siap untuk menjalin hubungan dengan seseorang, entah bagaimana nanti jika ia tahu bahwa sekarang ia sudah menikah.
"Wi, tolong jangan katakan padanya tentang diriku" jawab Naya di akhiri emot memohon.
Tiwi hanya mendengus kesal, tentu saja ia mengerti kalimat 'tentang diriku' yang Naya ucapkan. Ia tahu Kevin sangat berharap Naya menerima cintanya bahkan ia sempat berharap bisa menikahi Naya, namun entah kenapa Naya menolak pria tampan itu.
Andai dulu kau menerimanya tentu hidupmu tak akan se miris ini Nay, si brengsek Danu memang pria tak tahu di untung, umpat Tiwi dalam hati.
"Gimana laki Elu, apa dia masih saja cuek sama Elu?" tanya Tiwi akhirnya.
"Sekarang ia sudah lebih perhatian Wi, mungkin dia tahu aku tulus" jawab Naya namun hatinya perih saat mengatakan dusta pada sahabat baiknya.
"Syukurlah Nay, semoga Danu memang pasangan hidupmu hingga akhir hayat" jawab Tiwi meski ia pun tahu bahwa Naya mengatakan yang sebaliknya tentang Danu.
"Aamiin, terima kasih Wi" Naya lalu menutup ponselnya dan membereskan peralatan makan, di lihatnya Danu sudah masuk ke kamarnya.
Danu meremat benda persegi panjang miliknya, panggilan pada Silvy masih saja tak terhubung.
__ADS_1
"Di mana kau sayang?" ucapnya lirih.
Setelah menghabiskan waktu berdua di hotel, Silvy meminta sejumlah uang yang cukup besar pada Danu, dan seperti biasa Danu akan memberi apapun yang Silvy mau.
"Apa mungkin kau sedang belanja, atau ke salon, ah ...kau memang selalu memuaskanku Sil" Danu bermonolog sendiri di kamarnya, mengingat kembali adegan panas yang tak terhitung yang telah mereka lakukan di hotel.
Tok tok tok.
"Mas, kau mau makan sekarang atau nanti?" tanya Naya di depan pintu Kamar Danu.
"Nantu saja Nay, aku belum lapar."
"Jangan sampai kau telat makan Mas, nanti lambungmu yang sakit" timpal Naya.
"Iya.." Danu hanya mencebik kesal, Naya terlalu cerewet baginya.
Naya kembali ke ruang makan dan membereskan makan ke lemari, masakan yang ia masak cukup banyak, sayang kalau nanti tidak di makan, batinnya.
"Wi, Gue masak banyak dan....." kalimat Naya tak terselesaikan saat Tiwi mematikan panggilannya.
"Gue lagi di mall, brisik banget....suara Lu nggak ke dengeran."
Naya menghela nafas kasar.
"Gue masak banyak, tapi nggak ada yang habisin, Mas Danu masih sedikit pahit rasa di mulutnya" alasan logis yang Naya pakai namun membuat Tiwi mencebik.
Masih saja kau panggil dia' mas' sedangkan dia memperlakukanmu hanya seperti pembantu, pikir Tiwi kesal.
"Kau bawa ke apartement Gue, pasti adik Gue akan makan semuanya" jawab Tiwi.
"Bilangin ke dia, Gue mau dateng."
"Oke siip."
Naya segera membungkus semua makanan dan memasukannya ke tote bag.
Dengan taxi online Naya menuju apartement Tiwi di mana dulu ia sering menghabiskan waktu bertiga.
Karena kata sandi sudah hapal di luar kepala, Naya pun masuk tanpa memencet bel terlebih dahulu.
Ceklek.
Suasana apartement tampak sepi, mungkin Januar masih di kantor, pikir Naya lalu langsung menuju ruang makan untuk menaruh makanan.
Ceklek
"Siapa kau.."
"Huaaahhhh..."
__ADS_1