
Januar makan malam sendiri karena Naya tak juga muncul dari kamarnya, setelah menyelesaikan makan Januarpun bergegas masul ke kamarnya.
"Kenapa kau tidak makan bersamaku sayang?"pesan Januar.
"Aku sudah membawanya tadi ke kamar" balasan pesan Naya membuat januar mendengus kesal.
"Kejam sekali kau, membiarkan aku makan sendiri dalam kesunyian.."kali ini Januar mengakhiri kalimat dengan derai air mata mengalir deras.
Naya terkekeh gemas, Januar sungguh berubah seperti seorang anak remaja yang sedang jatuh cinta, penuh drama dan intrik yang selalu membuat jantungnya berdebar kencang.
"Aku mau tidur, badanku sedikit merasa tak enak."
"Hai, apa kau sakit? Apa kita pergi ke dokter saja??"Januar beranjak dari kasurnya.
"Tidak perlu, aku sudah minum obat."
"Apa kau yakin tak apa?"
"Benar, besok pagi pun pasti membaik."
"Kalau begitu cepat tidurlah, matikan ponsel dan bawa aku dalam mimpi indahmu..."
Naya tersenyum lalu merebahkan tubuhnya, meladeni rayuan Januar sedikit menghibur hatinya di tengah rasa perut yang semakin terasa kurang nyaman.
Pagi hari Januar sibuk di depan cermin, mematutkan diri dengan kemeja putih dan celana hitam bahannya, dua sudut bibirnya membentuk garis lengkung, membayangkan betapa serasi dirinya nanti berjalan bersama Naya.
Ceklek.
Bu Heni memandang takjub pada penampilan Januar kali ini, tatanan rambut yang rapi jali, juga setelan hitam putih yang melekat di tubuh tegapnya membuat Januar bak seorang fotomodel yang sedang berjalan menuju ruang makan.
"Mas Januar mau ikut sidang juga sama mbak Naya?" tanya Bu Heni.
Januar tersentum tipis dan mengangguk penuh percaya diri.
Ceklek.
"Uhukk uhukk" Januar menyemburkan air di mulutnya saat melihat Naya keluar dari kamar.
Hatinya mencelos, dengan outfit celana panjang hitam dan blouse hijau army tiga perempat yang di pakainya membuat Naya terlihat manis di pandang.
"Pelan-pelan mas Jan" pesan Bu Heni.
Januar memindai tubuh ramping Naya, susah-susah ia mencari outfit menyamakan yang di pakai Naya, tapi ternyata hari ini ia memakai warna lain.
Januar melirik Naya di sampingnya, ia masih kesal karena kebodohannya yang tak menanyakan dulu apa yang akan Naya pakai hari ini.
Naya hanya tersenyum tipis, rupanya Januar membeli banyak kemeja putih untuk di pakai hari ini, batinnya.
Suasana sidang tampak hening, pengacara Silvy beradu argumen dengan Aslan, meski lawannya adalah pengacara kondang, tapi Aslan pun lulusan universitas ternama dari luar, maka tak heran kalau pria campuran turki itu menanggapi dengan tenang, semua bukti tambahan sudah ada di tangannya, tetapi Silvy masih berusaha mengelaknya.
__ADS_1
Danu yang geram pun terus mengepalkan tangannya, ia ingin sekali menghadiahkan tinju andalannya pada pengacara Silvy itu.
Januar memandang Naya yang berusaha untuk tetap tenang meski kegaduhan di ruang sidang semakin memanas.
Sidang akhirnya berakhir, seminggu lagi Naya masih harus mengikuti putusan sidang.
"Kau tidak apa-apa?wajahmu tampak pucat?"Aslan mendekati Naya yang tertunduk lesu.
"Tidak aku hanya sedikit pusing dan..."
Tangan kekar Januar menangkap tubuh Naya yang limbung dan hampir jatuh.
"Naya..."teriaknya panik, lalu memapah tubuh lemah itu ke kursi ruang tunggu.
"Apa kau pusing heum?" kalimat lembut Januar membuat Danu mengerutkan alisnya, sikap yang sama sekali bukan sikap atasan pada bawahannya, pikir Danu.Sedangkan Aslan masih harus mengurus berkas bersama tim nya.
Naya hanya menggeleng pelan sambil memijit pelipisnya.
"Tunggu sebentar aku akan panggil dokter" Naya menahan tangan Janiar yang hendak pergi.
"Jangan nggak usah, aku hanya..."kalimat Naya ter henti lalu ia memindai sekelilingnya yang mulai sepi.
"Kau hanya kenapa sayang?" bisik Januar cemas.
"Aku hanya terlalu lelah, dan hari ini adalah hari pertama masa periodeku" Naya berucap pasrah, sikap mode protektif Januar sangat membuatnya cemas, pria itu akan kehilangan akalnya jika terjadi sesuatu padanya, ia akan melakukan hal tanpa sadar.
"Masa periode ???"tanya Januar tak paham.
Januar menghela nafas lega.
"Apa yang harus ku lakukan untuk bisa mengurangi rasa sakitmu?"
Naya menggelengkan kepalanya, sudah banyak cara dan obat yang ia makan, tapi rasa sakit dan tak nyaman di perutnya tak banyak berkurang.
"Aku hanya ingin merebahkan tubuhku" ucapnya lirih.Keduanya pun bergegas meninggalkan gedung.
Januar melajukan kereta besinya membelah jalanan ibukota yang sibuk, wajah Naya yang lesu dan memucat membuatnya sedikit cemas, bahkan jemari tangannya terasa dingin.
"Sabarlah sayang" Januar terus meremat tangan Naya lembut, berharap bisa membuatnya merasa nyaman.
Naya memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya, hari pertama masa periode memang terasa sangat menyiksanya.
Ceklek.
Januar memapah Naya menuju kamarnya agar segera tidur.
"Mas Jan sudah pulang?mana mbak Naya" tanya Bu Heni baru keluar kamar.
Januar mengangguk sambil mata fokus ke kayar ponsel.
__ADS_1
"Naya di kamar, Bu Hen ehm ..." Januar ragu untuk bertanya perihal sakit yang di derita Naya.
"Ada apa Mas Jan?" tanya Bu Heni kala melihat wajah Januar bingung.
"Ehm apa tiap wanita kalau sedang datang bulan merasa sakit?"Januar bertanya lirih.
Bu Heni tersenyum haru, rupanya hal yang mengganggu pikiran Januar adalah tentang kesehatan wanita, pastilah itu terjadi pada kekasihnya.
"Semua wanita pasti mengalami masa periode, tapi tak semua menderita sakit dan tak nyaman di area perutnya, kami mempunyai ketahanan tubuh berbeda-beda, ada yang merasa sakit tak terkira namun ada juga yang beruntung karena tak mengalami sakit yang berat..."
"Lalu apa ada obatnya Bu?" sambung januar.
"Tak ada obat yang bisa menghilangkan rasa sakit yang kami rasakan tapi ada beberapa terapy atau pun minuman untuk meredakan sedikit nyeri saat datang bulan itu, tapi ibu lebih suka membuat yang alami."
"Bagaimana buatnya Bu, tolong ajari, aku mau membuatnya" Januar antusias bertanya.
"Sebentar ibu periksa dulu apa bahannya ada di dapur."
Januar menunggu dengan tak sabar.
Bu heni tersenyum lega, semua bahan ada di dapur jadi dia tak perlu membelimya.
"Mas Jan kalau mau bikin, sebaikmya ganti baju dulu, takut kotor."
"Ah tidak usah Bu tak apa kotor, ayo cepat kita buat Bu."
Wanita paruh baya itu mengerutkan alis, Januar terlihat sangat mencenaskan wanitanya.
Dengan sabar dan telaten Bu Heni meracik bahan untuk di jadikan ramuan yang nantinya di minum, Januar pun sigap mengolahnya hingga tak lama jadilah minuman herbal pereda nyeri haid.
Hanuar tersenyum puas memandang segelas minuman buatannya.
"Mas Jan mau mengantarnya?" tanya Bu Heni, Januar pun menganguk pasti lalu melangkah ke kamar Naya sambil membawa gelas ramuan tersebut.
Tok tok tok.
Tak ada jawaban
Tok Tok.
Kembali januar mengetuk pintu kali ini lebih keras, sedangkan alis Bu heni mengerut, apakah Januar akan meminta Naya untuk mengantarkan minuman itu pada kekasihnya, ia membatin.
Ceklek.
Naya muncul dengan wajah memucat bahkan ia belum sempat mengganti bajunya.
"Ayo cepat minumlah ini, bisa meredakan nyeri perutmu."
Kriik kriikk kriikkk......
__ADS_1
Bu Heni diam membeku di tempatnya berdiri, jadi Januar rela membuat minuman herbal pereda nyeri haid adalah untuk Naya? ada hubungan apa antara mereka berdua, batin Bu Heni di penuhi tanda tanya besar.