
Setelah menyelesaikan makan siang, Naya dan Vega berjalan memasuki lobi perusahaan dan kebetulan berpapasan dengan beberapa karyawan.
"Siang mbak Naya, wah lama nggak ketemu, sekarang jadi kelihatan tambah cantik" sapa salah satu karyawan pria.
"Ah bisa aja kamu Den" jawab Naya santai.
"Sst jangan lu goda, dia sudah ada yang punya" timpal karyawan lain.
"Tapi denger-denger mereka mau udahan katanya" balas yang satunya, jarak mereka yang cukup dekat membuat Naya dan Vega masih bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan.
Vega menatap mereka sinis, ingin rasanya ia menguncir mulut lelaki yng ember itu dengan karet ban dalem.Dengan berani Vega membulatkan matanya ke arah mereka sambil mengacungkan kepalan tangan.
Ketiga pria tadi langsung kaget dan sontak menutup mulut.
"Ish kamu ngapain layanin mereka, biar saja mereka kan bercanda" protes Naya merasa tak enak.
"Biar saja Mbak, ngelunjak tuh orang, punya mulut pada lemes banget kayak mulut emak-emak ghibah di siang bolong sambil ngemil kwaci basi" desis Vega.
"Sst.."Naya menyikit Vega karena mereka memasuki lift yang banyak berisi beberapa orang karyawan.
Vega melangkah ke pantry sedangkan Naya ke ruangannya, yang ternyata di sana sudah ada Januar duduk santai menatap keluar jendela.
"P pak Jan..." Naya bertanya gugup.
"Heum, bahkan kau terlihat sangat bahagia setelah pergi dari apartemen meninggalkan aku" ucapnya dingin.
Naya memghela nafas berat, kali ini Januar sedang menyetel mode posesif dan cedmburu plus egoisnya.
"Aku hanya merasa lebih tenang dan bebas, sejak kejadian kemarin aku selalu di landa was-was kalau bepergian, apa kau ingin aku terus di landa rasa cemas dan tak tenang, jahat sekali kau" rajuk Naya sambil membereskan berkas di meja nya.
"Bukan begitu, aku merasa hanya aku yang tersiksa karena selalu merindukanmu ataukah memang hanya aku yang mencintaimu?."
Naya memandang Januar dalam, ia pun sudah berkali-kali memastikan bahwa hanya saat bersama pria di hadapannya lah ia merasa di hargai di cintai dan begitu di ratu kan, Januar juga selalu membuat hari-hari nya yang kelabu menjadi berwarna, dan hanya dengan pria itulah Naya merasakan hal yang tak ia rasakan saat dengan pria lain, bahkan saat ia masih bersama Danu.
"Jangan pernah merasa terbebani dengan perasaanmu, lepaskan apa yang ada dalam hatimu, luapkan jika memang telah mengganjal di dadamu karena aku pun merasakannya" ucap Naya lirih.
__ADS_1
Senyum Januar terbit lalu bangkit mendekati Naya di depan meja nya.
"Benarkah? Sungguh kau pun merasakan apa yang aku rasa, ah bahagianya hati ini, dengar dan rasakan lah detak jantungku.."Januar meraih tangan Naya dan meletakan di atas dadanya.
Naya tersenyum tersipu, kedua netra mereka saling bertatap mesra, seakan berbicara dari hati bahwa apa yang mereka rasakan sama.
Tok tok tok.
"Masuk" ucap Naya gugup, sedangkan Januar dengan santainya hanya membalikan badan dan menye tel wajahnya dalam mode datar dan dingin.
"Oh ada Tuan Januar di sini? tadi di cari Dokter Kendra di ruangan Tuan, Mbak Nay ini minumannya..." sapa Ujo kikuk, ia masih ingat saat Januar memanggil Naya dengan panggilan'sayang'.
Januar pun melangkah ke ruangannya, ia memang tadi meminta obat sakit kepala pada Kendra, rupanya sakit kepala itu adalah rasa yang bersumber pada rindunya pada Naya.
Kendra memandang januar penuh tanda tanya, minta obat pereda nyeri kepala tapi ia lihat pria itu baik-baik saja.
"Apa yang kau rasakan hingga memintaku datang?" tanya Kendra sambil mengeluarkan stetoskop dari tas nya.
Januar mengerutkan alis, memikirkan kalau sakit kepala yang di derita ternyata sudah hilang.
"Hm, ku kira aku sudah tak perlu lagi obat darimu" jawabnya santai.
"Lalu apa masalahmu dengan itu?" tanya Januar tak kalah pedas, dia bukan lelaki bodoh yang tak tahu arti tatapan Kendra yang di tujukan pada Naya selama ini, Januar tahu dan paham hal itu, ada binar cinta di mata dokter itu saat menatap Naya nya.
Kendra balas menatap Januar tajam.
"Aku bukan ingin mengganggu hubungan kalian, aku hanya ingin bertanya padamu, apakah sudah kau pikirkan baik-baik, jika kau benar-benar mencintainya apakah kau pun siap melihat dia kembali terluka?"
"Apa maksudmu?"
"Keadaan kalian sungguh jauh berbeda, apakah kau sudah mempertimbangkan bagaimana nanti keluargamu mengetahui hal ini? putra yang mereka harap untuk meneruskan bisnis perusahaan, dan derajat kedudukan yang sangat tak imbang dengan Naya, apa kelak keluargamu akan menerima Naya se tulus perasaanmu padanya, bahkan dengan statusnya yang ternyata pernah hancur dalam pernikahan singkat, apakah Naya tak akan kembali luka jika ternyata keluargamu terpaksa menerimanya hanya karena menuruti cinta butamu itu, apakah keluargamu akan ikhlas menerima Naya masuk dalam kehidupan mereka dengan status sosial kalian yang bagai langit dan bumi."
"Apa kau pikir aku selama ini tak pernah memakai akal dan hatiku saat mencintainya, jika cintaku tak cukup untuk membuktikan kesungguhanku padanya bahkan jika dia masih ragu tentang keteguhan hatiku, maka semua keputusan ada di tangannya, apapun akan aku terima jika dia memang tak bahagia bersamaku" nafas Januar memburu, dua pria tampan itu saling bertatap tajam.
Tanpa mereka sadari, dari celah pintu yang terbuka, Naya berdiri mematung dengan dada sesak mendengar apa yang sedang keduanya perbincangkan.
__ADS_1
Ceklek.
"Lho Mbak Nay kembali lagi? Berkasnya kenapa di bawa lagi?"tanya Vega bingung.
"Ada satu dokumen yang ketinggalan Ga" jawab Naya berusaha menutupi luka hatinya.
"Tadi aku taruh mana ya Ga" Naya memilah-milah setumpuk dokumen di atas mejanya, berharap Vega tak menyadari kegugupannya.
"Mbak nanti pulang bareng apa sendiri?tanya Vega.
"Kalau kamu nggak ada acara, boleh kah aku nebeng?" dengan begitu Naya akan mempunyai alasan jika Januar mengajaknya pulang bersama.
"Oke Mbak, nanti aku beres-beres deh ..."
Naya mengangguk lega lalu melihat jam di pergelangan tangannya, lima belas menit sudah berlalu, pastilah Kendra sudah pergi dari ruangan Januar, pikirnya.
Tok tok tok.
"Masuk" terdengar suara berat Januar dari dalam.Naya melangkah perlahan memasuki ruangan, hatinya cukup lega saat Kendra memang sudah pergi dari ruangan itu.
Setumpuk dokumen Naya taruh di atas meja Januar.
"Sayang apa kau sudah menghubungi Bu Sania?"tanya Januar.
"Ya ..tadi pagi aku sudah menghubunginya, ternyata dia sudah berangkat ke X, dan dia memintaku untuk tak mengembalikan pemberiannya."
"Kalau begitu kau simpan saja baik-baik, dan gunakan kalau kau membutuhkannya."
Naya mengangguk lalu beranjak keluar.
"Sayang tunggu."
Naya berdiri mematung di tempatnya saat Januar mendekat.
"Kita pulang bersama."
__ADS_1
"Maaf aku sudah janji dengan Vega, kasihan kalau aku batalin, dia ingin mampir ke apartemenku" ucap Naya dengan wajah ia buat se melas mungkin.
Januar memandang kecewa, satu hari lagi sang kakak akan datang untuk berlibur, ia ingin membicarakan tentang hubungannya dengan Naya, apakah tidak mengapa jika Tiwi tahu kalau mereka menjalin kasih.