Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Bukti Baru


__ADS_3

Danu memandang kepergian sang asisten, Sam yang selalu setia bersamanya, bahkan masih menghargai perasaannya dan masih menutupi ketika Silvy tenyata memiliki rencana jahat pada Naya.


Sam masih bisa mengendalikan rasa bencinya pada Sikvy, bahkan setelah mengetahui rencana jahat wanita itu pun Sam masih berusaha menutupinya dari Danu.


Sementara itu Januar yang merasa hatinya tak tenang, menyerahkan tugasnya pada tim nya, lalu kembali ke apartemen.


Tak tega rasanya meninggalkan Naya sendiri saat hatinya mungkin sedang tidak baik-baik saja, meski bu Heni selalu menjaganya dua puluh empat jam.


"Di mana Naya bu?" tanya Januar begitu sampai di apartemen.


"Mbak Nay sedang ada di ruang tekevisi Mas" jawab bu Heni smbil mengedikan dagunya.


Januar pun ke kamarnya untuk membersihkan diri lalu keluar kamar lagi untuk menemani Naya.


"Lho..mana Naya Bu?" tanya Januar setelah tak mendapati Naya di tempat semula.


"Baru masuk kamarnya Mas, mungkin mandi."


Januar pun berdecak lirih, kenapa Naya selalu menghindarinya.


Teet.


Januar melihat Elis yang datang dengan wajah sumringah, lalu meletakan bungkusan di atas meja makan.


"Bu, Naya mana?ku bawain makanan kesukaannya."


"Ada di kamar Mbak El, sebentar lagi mungkin keluar, lagi mandi kali"ujar bu Heni.


"Ohh, lho Jan udah pulang? Tumben?."


"Heum hari ini agendaku tak begitu penting, ku sudah serahkan tugas pada tim ku."


Elis melangkah dengan berjingkat ke arah Januar.


"Eh bgaimana kelanjutan pencarian mu? Apa sudah dapat buktinya?" tanya Elis dengan nada berbisik.


"Heum anak buahku masih mencarinya."


"Apa menurutmu Danu sungguh ikut dalam perencanaan kecelakaan itu?"


"Entahlah, karena korban pun masih belum sadar dan masih di rumah sakit, namun anak buahku tidak melihat Danu datang menjenguk orang tersebut."


"Ah mungkin saja ia menyuruh anak buahnya secara sembunyi-sembunyi" timpal Elis.


"Mungkin juga, dengan harta yang di milikinya, pria itu bisa berbuat semau hatinya" timpal Januar.


"Apa benar Mas Danu yang telah menyuruh orang untuk membunuhku....?" Januar dan Elis tiba-tiba membeku, jantung mereka seakan berhenti berdetak, bahkan waktu terasa berhenti berputar.

__ADS_1


Tiba-tiba Naya sudah berada di belakang mereka tanpa mereka sadari, dan mendengar pembicaraan yang pasti akan menambah luka hatinya.


"N nay, lu u udahan mandi nya?" tanya Elis gugip.


"Katakan Lis? Benarkah mas Danu ada di balik ini semua, benarkah dia tega berencana membunuhku dengan menyuruh orang untuk mencelakakanku?" suara Naya semakin meninggi.


Elis dan Januar semakin gugup saat melihat wajah Naya semkin tegang dengan air mata mulai mengalir dari sudut matanya.


Selama ini ia masih berharap jika dugaan orang-orang tentang suaminya adalah salah, Naya masih berharap suaminya tak ada hubungan dengan kejadian yang menimpa dirinya.


"Nay kami memang memiliki dugaan bahwa suamimu terlibat dengan kecelakaan yang menimpa dirimu, tapi kami pun masih mencari bukti lain."


"Begitu bencikah dia padaku hiks...jika dia tak menganggapku istrinya itu masih bisa aku terima, semua caci maki dan fitnah yang ia tuduhkan padaku pun masih bisa aku biarkan, tapi ternyata dia sangat membenciku, ia bahkan ingin aku lenyap dari muka bumi ini hiks..." isak tangis Naya pecah seketika, dan...


Brakk.


"Naya.."


"Nay..."


"Mbak Naya..." teriakan dari januar Elis dan bu Heni menggema di ruangan saat tubuh Naya lemas dan jatuh ke lantai.


Dengan sigap Januar membopong tubuh Naya yang tumbang ke sofa panjang di ruang tengah lalu membaringkannya perlahan di pangkuannya.


"Nay, bangun Nay..." Januar menepuk lembut pipi Naya.


"Naya bangun dong Nay..."isak Elis yang panik dan ketakutan karena mata Naya tetap terpejam.


"Tolong ambil minyak angin di kamarnya Bu Hen.." titah Januar panik.Bu Heni dengan tergopoh-gopoh menuju kamar Naya dan mengambil minyak angin.


Elis mengambik minyak dari tangan bu Heni lalu membalurkan di pelipis dan tengkuk Naya.


Januar masih memandang lekat wajah Naya yang terbaring di pangkuannya, wajah cantik yang kini terlihat semakin tirus, sesak dadanya mengingat kesedihan yang sedang menimpa asistennya itu.


Tiga puluh menit sudah Naya terpejam, nafasnya yang teratur menandakan wanita itu jatuh tertidur di pangkuan Januar, sementara Elis pulang beberapa menit yang lalu karena salonnya cukup banyak pelanggan hingga karyawannya keteter.


"Mas Jan, apa Mbak Nay tidak di pindahkan saja ke kamarnya, takut nanti badan Mas Jan kesemutan nahan tubuh Mbak Nay" ucap Bu Heni.


"Tidak apa-apa bu, biar seperti ini, kasihan nanti dia bangun kalau di pindahkan" jawab Januar lirih, takut membangunkan Naya nantinya.


Bu Heni pun mengangguk lalu meneruskan aktifitasnya di dapur.


"Jangan..jangan bunuh aku, tolong jangan..." tiba-tiba Naya merintih di iringi tangisan menyayat hati namun matanya tetap terpejam.


"Nay ssttt,Naya...."Januar mengusap pipi Naya lembut, tubuh Naya yang sempat berontak kini mulai tenang kembali.


Tenanglah dalam tidurmu, aku akan menjagamu dengan segenap jiwa dan raga ku, Januar membatin.

__ADS_1


Tangannya terus mengusap pipi halus Naya, mata indah berbulu lentik yang terpejam rapat, bagai wajah seorang bidadari yang tertidur di pangkuannya.


Aku berjanji akan mengganti tangismu dengan senyum bahagia.


Januar terus memandang Naya tanpa kedip, tak sadar ia terus memajukan wajahnya, hingga jarak terkikis dan hanya satu jengkal.


Dengan perlahan Januar mendaratkan kecupan ringan di kening Naya, kecupan lembut yang tulus dari dasar hatinya.


Bu Heni hanya bisa membuka mulutnya membulat penuh tanpa suara, ia tak percaya dengan apa yang di lihatnya, Januar mencium kening Naya sangat lembut.


Tak ingin keberadannya menganggu, bu Heni pun berjingkat menuju kamarnya.


"Slameet slameet" ucapnya lirih darii balik pintu.


Jangan-jangan Mas Jan menyukai Mbak Nay, ah ..kasihan sekali jika sampai benar dugaanku, kenapa harus mencintai istri orang si Mas Jan, bu Heni membatin gemas.


Saat sedang menyisir rambutnya sehabis mandi bu Heni di kejutkan dengan ketukan di pintu kamarnya.


Ceklek.


"Bu Heni, saya mau pergi, tolong jaga Naya."


Bu Heni mengangguk lalu menuju ruang tengah, dan kembali hatinya menghangat, tubuh Naya masih terbaring di sofa panjang dengan bantal dan selimut menutupi tubuhnya.


Beruntungnya dirimu di perhatikan pria yang sangat tampan dan hangat mbak Nay, bu Heni membatin sambil tersenyum senang.


Januar melajukan mobil menuju Salon Elis, wanita itu menghubunginya setelah mendapat informasi penting dari orang suruhannya.


Langkah Januar ia tuju ke sebuah kursi taman yang terletak di sekitar barisan ruko di mana Elis sudah menunggunya.


Suasana malam yang cerah berhias lampu taman sungguh malam yang indah untuk di habiskan bersama pasangan.


Kehadiran Januar yang tampan dengan wajah baby facenya cukup menyita perhatian banyak pengunjung lain yang sebagian para gadis remaja, namun sang empunya wajah tampak acuh dan dingin.


"Bagaimana Naya, apa dia sudah tenang?"


Januar mengangguk meng iya kan "dia sedang tidur."


"Bagaimana kelanjutan pencarian bukti kasus Naya?" tanya Januar.


"Aku dapat bukti baru, ternyata Danu tak ada hubungannya dengan kecelakaan Naya, jadi besar kemungkinan bukanlah Danu otak dari para pelaku itu."


"Dari mana kau dapatkan bukti bahwa Danu tak ada hubungan dengan ini semua?" tanya Januar.


"Saat ini bahkan Danu mengerahkan beberapa orang untuk menyelidiki kecelakaan Naya."


Januar terdiam, jika Danu tidak bersalah, apakah nanti Naya akan memaafkannya, apakah Naya akan kembali pada suaminya?,berbagai pertanyaan dan kekhawatiran tiba-tiba menyelimuti hati Januar.

__ADS_1


Ia cemas jika Naya akan kembali bersatu dengan Danu.


__ADS_2