
Januar hanya memandang wanita di depannya yang tengah asik menikmati makan dengan lahap, rupanya memang benar bunyi dalam perutnya karena lapar.
Dia makan tak ada ja'im nya sama sekali dan itu membuat Januar mengerutkan alisnya, ada juga wanita yang sama sekali tak lemah lembut saat menyantap makanan di depan orang lain apa lagi ia adalah atasannya. Cumi asam manis juga iga bakar yang ia pesan tandas dengan singkat, bahkan lelehan kecap tampak mengotori sisi bibir mungilnya.
Dasar wanita aneh, apes banget yang jadi suaminya, Januar membatin.Selera makannya jadi hilang melihat tingkah bar-bar Naya.
"Bapak nggak makan?" tanya Naya ragu karena Januar tak menyentuh makanannya.
Pria bertubuh tegap itu menggelengkan kepalanya.
Kenyang perut Gue liat cara Elu makan.
"Kau mau nambah?" tanya Januar dingin.
Naya menggeleng pelan tapi fokus matanya terarah pada piring di hadapan Januar yang masih utuh, sayang kalau mubazir, pikirnya.
"Apa itu nggak Bapak Makan?" tanya Naya polos sambil menunjuk dengan dagu nya.
"Uhukk uhukkk" Januar terbatuk ringam bagai sebuah kursi tersangkut di tenggorokannya saat mendengar panggilan Naya untuknya.
Sialan tua an dia, kenapa malah manggil Gue 'Bapak' kenapa nggak sekalian aja panggil 'Kakek', rutuk Januar kesal.
Naya tersenyum saat Januar menggelengkan kepalanya, ia bisa menghabiskan makan bos baru nya itu.
Dan hanya dalam waktu singkat sepiring iga bakar dan cumi asam manis pun masuk ke lambung Naya.
"Sudah kenyang? Atau mau aku pesan kan lagi?" sambung Januar.
Naya menggeleng cepat.
"Tidak Pak, he hee ...perutku sudah penuh" jawabnya polos.
"Sudah ayo kita berangkat."
Naya pun bergegas mengikuti langkah Januar yang panjang meninggalkan restoran tersebut.
Ish Tiwi kenapa punya adik songong seperti ini sii, kaku kaya kanebo kering.
Satu jam perjalanan bagai seminggu yang Naya rasakan, mereka sama sekali tak salimg bicara, Naya yang fokus pada benda persegi panjang miliknya Januar pun fokus dengan kemudinya.
Tak ada untungnya berbincang dengan wanita tukang ghibah sahabat kakaknya itu, pikir Januar.
Masih ingat dalma memorinya sang Kakak pernah mengatakan bahwa ia mempunyai geng yang di namai 'toga wanita ******' secara tak langsung Naya berarti '******'ucap Januar dalam hati.
Kasihan sekali suaminya mendapatkan seorang istri yang ******.
"Maaf Pak, saya turun di depan saja" ucap Naya akhirnya lega karena gerbang gedung apartemen sang suami sudah terlihat.
__ADS_1
"Heum" Januar menghentikan mobil tepat di depan gerbang.
"Terima aksih Pak" ucap Naya dengan membungkukan kepalanya setelah keluar dari mobil.
Januar hanya mengangguk dan melirik sekilas pada Naya.Dari balik kaca spion samping ia bisa melihat Naya melangkah ke lobi gedung.
Gedung tinggi dan megah, sudah di pastikan yang tinggal di apartemen tersebut bukanlah orang sembarangan.
Naya melangkah masuk dan me mencet tombol lift lantai apart milik Danu.
Ceklek.
Seperti biasa, apartemen selalu sepi dan hening, Naya menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah.
Apakah kisah hidupnya akan seperti ini? Selalu di kelilingi dengan kesendirian.
Sahabatnya kini sudah jauh, dan suaminya pun hanya sebatas status di atas kertas.Oh Nay, apa kesalahan mu di kehidupan sebelumnya hingga kau mendapat karma begitu menyedihkan.
"Ya Tuhan maafkan atas dosa-dosaku selama ini" Naya bermonolog sendiri sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Dosa apa yang telah kau lakukan Nay?"
Glek.
Seketika Naya menelan ludah kasar saat tiba-tiba suara berat Danu berada di belakangnya.
"Heum baru tiga puluh menit yang lalu" jawab Danu datar sambil melangkah ke kamarnya sambil membawa segelas kopi panas.
Naya memandang punggung bidang sang suami hingga menghilang di balik puntu kamar.
Dan pagi pun datang, seperti pagi biasanya, statusnya sebagai seorang istri memang hanya sebatas janji di atas kertas, ia dan Danu tak pernah sekalipun melakukan kontak fisik apΓ lagi sampai belah duren seperti pasangan pengantin biasanya.
Tiga pukuh menit yang Naya butuhkan untuk membersihkan diri di kamar mandi, dengan bedak tipis dan lipstik natural ia aplikasikan ke bibirnya yang minimalis.
Naya mematutkan dirinya di depan cermin sambil melenggak-lenggokan tubuh.
Hidung..nggak pesek, bahkan terlihat imut dengan mode kecil mancung, bulu mata lebat dan lentik tanpa maskara, alis pun berjajar rapi bak barisan semut di dinding sekolah, Naya masih mengamati wajahnya, menelisik apakah ada kekurangan yang membuat Danu begitu enggan berdekatan dengannya apalagi menyentuhnya.
Jangankan menikmati malam panas, berjabat tangan saja hanya terjadi saat mereka selesai melakukan ijab kabul.
Tok tok tok.
"Nay, aku berangkat dulu, bibi nanti siang belanja keperluan dapur, kalau kau mau masak sesuatu tulis saja daftar bahannya biar nanti bibi yang membelinya" kata Danu dari balik pintu.
Ceklek.
Sepersekian detik Danu menatap wajah segar Naya yang muncul dari pintu.
__ADS_1
Belum memakai baju kantor tapi wajahnya sudah ia poles sedikit.
Wajah putih halus dengan semua bentuk proporsional, bibir merah mungil sungguh terlihat imut dan manis.
"Ehhm hmm" Danu berusaha menguasai ke gugupannya lalu memalingkahn wajahnya.
"Mas Danu mau pulang larut lagi?" tanya Naya lirih.
"Iya, kau tak perlu masak dan menungguku, aku makan di luar."
Naya mengangguk lesu, ia sungguh ingin melayani suaminya, bertukar cerita dan makan bersama dalam satu meja makan.
Ah kau jangan berharap terlalu jauh Nay, lihatlah, bahkan suamimu sama sekali tak perduli apa pun tentangmu, bersikaplah seperti biasanya, kalian hanya sah di atas kertas, ia sama sekali tak menganggapmu istri, bertahanlah dengan keadaan ini selama satu tahun, sampai saat ia melepaskanmu, maka kau akan bebas, hati Naya berbicara panjang menghibur dirinya sendiri.
Di bukanya lemari pendingin, masih banyak tersedia bahan makanan, tapi kenapa suaminya meminta Bibi untuk belanja lagi.
Pagi ini Naya hanya ingin membuat sarapan praktis, omelet yang ia campur dengan irisan cabai agar rasanya pedas.
Karena Danu sudah berangkat, Naya tak menyisa kan untuknya, toh masakannya selalu tak di sentuh, mending buat teman nanti di kantor, pikir Naya.
Sesampainya di kantor seperti biasa Naya akan langsung mengambil piring kosong untuk nya sarapan.
Tatapannya kosong menerawang ke luar jendela, jika biasanya ia menikmati sarapan pastilah Tiwi akan mengganggunya, kenapa sekarang ia baru merasa kehilangan sahabat songongnya itu, "Apa kabar pagimu di sana Wi?," gumamnya lirih.
"Mbak Tiwi baik-baik saja, bahkan ia baru bangun" suara berat dari arah belakang mengagetkan Naya.
"Ehm eh Bapak, sudah datang?"
"Heum, makan apa kau ?" tanya nya datar.
"Omelet Pak."
Januar melirik sekilas piring Naya, ada aroma harum yang menggelitik hidungnya, ia ingat, sang Kakak sering mengatakan bahwa temannya ada yang memiliki tangan Dewa, alias sangat pandai memasak semua bahan makanan apapun jika tangannya yang masak maka akan menjadi hidangan istimewa bak di racik oleh chef terkenal.
Tanpa ragu-ragu Januar mengambil sendok di tangan Naya dan mengambil sepucuk sendok dan menyuapkan ke mulutnya.
Naya hanya memandang dengan terkejut, Kakak adik tingkahnya sama saja, ia membatin.
"Hmm lumayan" ucapnya santai namun dalam hati sungguh ingin memburahkan makanan yang berasa sangat pedas hingga lidahnya terasa kebas.
Sialan, kena ranjau nih lidah.
πππππππ
Hhai readers ku sayaang.....jangan lupa tinggalin jejak ya.
Like, koment dan vote nya, biar ngothor semangat up nya.
__ADS_1
Happy readingπ€π€π€π€