
Pagi hari Danu bangun tanpa semangat, polisi memanggilnya agar datang ke kantor siang ini.
"Sam kau urus semua agenda hari ini, aku akan ke kantor polisi"pesan Danu untuk Sam.
"Siap Bos."
Sementara itu di apartemen Januar.Sarapan pagi berlangsung dengan khidmat atau dengan kata lain, cenderung tegang.
Naya, Vega dan Bu Heni berusaha bersikap santai meski debaran jantung mereka tak karuan.
Januar menyelesaikan sarapan lebih dulu karena ia harus segera berangkat.
"Bu Hen, saya berangkat" pamitnya.
"Baik Mas Jan."
Vega menghirup nafas lega.
"Wajah super imut, tapi sikap super dingin hii...." ucap Vega setelah Januar keluar dari apartemen.
"Biasakanlah...nanti pak Januar kan jadi atasanmu juga" timpal Naya.
"Hmm, apa aku batal aja naruh lamaran di Tinar Perkasa ya mbak?" tanya Vega ragu.
"Jangan tertipu dengan sikap dinginnya, sebenarnya dia baik dan perhatian, hanya saja dia tak pintar mengekspresikannnya lewat raut wajahnya."
Vega terkekeh mendengar penuturan Naya.
"Tapi kalau sekali saja Kak Januar tersenyum, pasti akan banyak gadis-gadis yang jatuh cinta padanya."
"Hmm bagai menunggu hujan turun di musim kemarau" ucap Naya.
"Ah mbak Nay bisa aja..."
"Benar Ga, aku pun selama bekerja bersamanya tak pernah sekali pun lihat pak Januar tersenyum" timpal Naya.
Lalu keduanya pun kembali asik bercerita, Vega sangat bersemangat saat Naya menceritakan wajah Januar kala pertama kali datang dari KL dengan wajah menyeramkan penuh jambang dan kumis lebat, bahkan terlihat jauh lebih tua dari usianya.
Sementara itu di PT.Tinar Perkasa, rapat akhirnya usai setelah satu jam berjalan, peserta rapat pun mulai pulang kembali ke perusahaan masing-masing.
"Tuan Januar ...bisa bicara sebentar" panggil Sam sambil berlari menyusul Januar keluar dari ruang rapat.
Januar melihat Sam lalu memindai ke sekelilingnya.
"Saya datang mewakili bos Danu"Sam tahu siapa yang di cari Januar.
"Maaf Tuan, saya hanya ingin tahu bagaimana kabar Non Naya.."tanya Sam ragu.
Januar menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tak tahu cerita di antara mereka hingga membuat dia harus kembali ke rumah sakit, Naya seakan lupa dengan luka di kakinya setelah menemui bos mu, tapi sekarang sudah semakin membaik."
"Maaf, saya pun sangat menyesal dengan apa yang menimpa non Naya."
Sam lalu menceritakan semua apa yang di lihat dan yang ada dalam pikirannya.Danu pasti sudah kembali membuat hati Naya terluka.
Januar mengepalkan tangannya, rahangnya pun mengembung keras.Pantas saja sikap Naya berubah menjadi amat dingin pada Danu, ia merasa bersalah karena sudah meminta Naya untuk bersikap baik pada Danu yang ternyata telah menyakitinya lagi.
"Tapi saya rasa Bos Danu sangat menyesali hal itu" tutur Sam.
"Dari mana kau tahu kalau Tuan Danu menyesal telah membuat Naya kembali hancur?"
"Sebenarnya Bos Danu berniat ingin memperbaiki perkawinannya, ia ingin bertemu Non Naya dan ingin mengajaknya mengunjungi orang tuanya, sekaligus ingin mendekatkan diri dengan non Naya, tapi ternyata wanita ular itu menjebaknya."
"Dari mana kau tahu bahwa Danu di jebak? Bukankah memang ia masih bersama wanita itu?" cerca Januar.
Sam memandang januar intens, dari kalimat yang di ucapkannya seakan pria baby face itu tahu banyak cerita antara Danu dan Silvy.
"Apakah tuan Januar tahu kekasih Bos Danu?"
Januar hanya membuang matanya, ia enggan membuka aib orang lain meski itu akan menguntungkan baginya.
"Ehm hmm, bos Danu sudah putus dengan wanita itu, dan hari ini ia di panggil ke kantor polisi untuk di mintai keterangan tentang kecelakaan yang menimpa non Naya,polisi sudah lama mencari non Silvy karena semua bukti tentang dalang di balik kecelakaan itu mengarah pada non Silvy."
Januar membulatkan matanya tak percaya.
"Jadi maksudmu otak dari kejadian yang menimpa Naya adalah wanita selingkuhan suaminya itu?" tanyanya penuh penekanan.
"B bos Danu sungguh tak tahu akan hal ini, ia sama sekali tak ada hubungannya dengan rencana jahat non Silvy" bela Sam.
"Brengsek..."ucap Januar geram.
"Tolong saya mohon Tuan Januar menahan diri untuk tidak mengatakan hal ini pada non Naya."
"Kenapa memangnya" protes Januar kesal.
"Saya hanya ingin Non Naya tidak kembali bersedih, sudah terlalu banyak air mata yang ia keluarkan sejak pernikahannya dengam bos Danu, saya hanya ingin Non Naya hidup tenang dan bahagia."
Januar menghela nafas panjang.
"Aku akan diam asal kau mau menuruti permintaanku" jawab Januar sinis.
"Apa itu tuan?"
"Jangan pernah menemui Naya lagi jika itu atas perintah Danu."
Sam terdiam, ada apa dengan sikap pria itu yang seakan tak ingin melihat Danu dan Naya kembali bersatu.
"Baik tuan, tapi bisakah saya bertemu jika bukan atas permintaan bos Danu? saya hanya ingin melihat keadaan non Naya" ucap Sam lirih.
__ADS_1
"Heum, tapi jangan pernah kau ceritakan pada Danu tentang pertemuanmu dengan Naya, temuilah dia di apartementku sekarang, dan jangan terlalu lama, dia masih harus banyak istirahat" Januar lalu melangkah pergi meninggalkan Sam.
Sebenarnya dia itu atasannya atau bodyguard nya non Naya?ucap Sam dalam hati.
Setelah tiga puluh menit akhirnya Sam sudah berada di depan lobi apartemen Januar, pandangannya mengedar menyisir lobi karena Januar mengatakan bahwa akan ada oramg yang menjemputnya.
"Asisten Sam" panggil Bu Heni.
Sam pun bardiri dan tersenyum melambai ke Bu Heni.
"Siang Bu, maaf kalau sudah merepotkan" sapa Sam ramah.
"Ah tak apa-apa asisten Sam,tadi Mas Januar sudah menyuruh saya untuk menunggu asisten Sam yang katanya akan datang menjenguk Mbak Nay" terang Bu Heni.
"Apa Non Naya nya ada Bu?."
"Ada, bahkan Mbak Nay sudah nunggu asisten Sam dari sejak Mas Januar telepon."
Sam tersenyum senang, begitupun Bu Heni.
Sikap ramah dan kelembutan Naya membuat banyak orang sayang padanya.
Ceklek.
Naya bergegas keluar dari kamar setelah mendengar bunyi tuas pintu terbuka.
"Asisten Sam apa kabar?"tanya Naya di atas kursi roda.
"Saya baik Non, bagaimana luka kaki Non Naya?" tanya balik Sam.
"He he sudah baikan kok, iya duduk dulu asisten Sam."
Sam mengangguk menurut.
"Maaf atas kejadian kemarin Non, saya tidak bisa menyusul Nona yang sedang terluka kakinya" ujar Sam penuh sesal.
"Ah tak apa asisten Sam, toh hanya luka sobek kecil."
Hati Sam mencelos, ia kira Naya pastilah sedang sangat bersedih, menangis sepanjang hari atau mungkin mengurung diri di kamar, tapi ternyata Naya baik-baik saja, bahkan ia masih bisa tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban.
Lalu apa arti bos Danu di hatinya, apakah tak ada kekecewaan di hatinya setelah menyaksikan kemesraan secara langsung.
Apakah memang bos Danu tak ada di hatimu Non? Batin Sam.
Drrt drrt.
"Kalau sudah tak ada hal lain yang harus di bicarakan pada Naya, pulanglah!"
Glek.Sam tampak tegang setelah membaca pesan Januar, ia lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang apartemen.
__ADS_1
Dan matanya berhenti di satu titik.
Rupanya Januar selalu mengamati gerak geriknya dari kamera pengawas yang ada di ruangan itu.