
Daniel meremat ponselnya keras, informasi dari anak buahnya pagi ini sungguh sangat merusak moodnya.
Kenapa begitu banyak pria yang ingin merebutmu dariku, pria tampan itu membatin.Bergegas ia keluar dari kamar hotel menuju parkiran, dengan motorsport hitam kesayangannya ia melaju menuju ke sebuah restoran mewah di mana sang sahabat lama telah menunggunya.
Beberapa pelayan mengangguk hormat pada pria tampan itu, dia adalah salah satu tamu VIP langganan di restoran tersebut, namanya pun sudah akrab di telinga mereka.
"Tuan di tunggu di meja nomor tujuh" sapa salah satu pelayan dengan membungkuk hormat.
Daniel menuju meja yang di tunjuk sang pelayan, senyumnya merekah saat lambaian tangan memintanya mendekat.
"Haii bro...sudah lama kita tak berjumpa, gimana kabar Lu?" sapa Daniel sambil menepuk pundak sang sahabat dengan senang.
"Kabarku baik Bro, saat tahu Lu ada di kota ini, langsung Gue hubungi Elu, wahhh makin gagah saja kau Nil" ucapnya bangga.
"Haiss Lu bisa aja"
Dua pria dengan tampilan wajah tampan mempesona sontak mengundang perhatian banyak pengunjung restoran.
Namun keberadaan dua pria tampan yang berada di ruang VIP membuat mereka hanya bisa memandang penuh kekaguman.
Salah satu berwajah campuran Timur Tengah satu lagi berwajah setengah bule.
"Eh Nil, gimana Lu, udah berhasil menemukan cinta pertama Lu?."
"Hm, aku sudah menemukannya, tapi ..ada lagi rintangan yang masih harus ku selesaikan."
"Kenapa? bukannya Lu udah dapet restu dari orang tuanya?"
Daniel mengangguk tapi wajahnya masih murung.
"Hatinya masih belum bisa Gue gapai, dan dia belum ingat tentang Gue" jawab Daniel sendu.
"Lalu kenapa tak kau ceeitakan semua masa-masa kecilmu dengannya, ceritakan masa kebersamaan kalian saat ayahnya masih hidup bahkan besar haraoan ayahnya agar kalian beejodoh."
__ADS_1
"Sudah Gue ceritakan bahwa kami sudah saling mengenal sejak lama, tapi dia masih belum mengingatnya."
Daniel muram dengan mata menatap layar ponselnya, di mana ia berhasil mendapatkan foto Naya yang sedang tertawa bersama salah satu teman kantornya.
"Ck, coba sini Gue lihat, se cantik apa sii dia hingga susah banget Elu dapetin hatinya, denger ya bro, Lu itu memiliki wajah di atas rata- rata, mana ada wanita yang menolak pesona wajah Elu, gila kali ada cewek nolak Elu."
Daniel menyodorkan ponsel ke arah sahabatnya namun.
Drrt drrt.
"Ya halo...oh oke Gue meluncur segera, tunggu Gue di situ."
Daniel hanya bisa cengo karena sang sahabat tak meresponnya bahkan ia hendak pergi meninggalkan restoran.
"Mau Kemana Lu?"tanya Daniel.
"Sorry bro, Gue ada urusan penting besok di sambung lagi Oke, byee...."
"Tapi hei, katanya Lu mau liat calon bini Gue...Aslan tunggu..."teriakan Daniel tak berarti karena sang sahabat sudah jauh meninggalkan resto.
Anak buahnya mengirimkan gambar Naya sedang duduk berdua dengan seorang pria.
Banyak sekali pria yang meng inginkanmu, Daniel membatin.
"Siapa dia?" tanya Daniel pada anak buahnya di sebrang telepon.
"Namanya Kendra, dia seorang dokter sekaligus teman Non Naya sejak di bangku kuliah, pria itu sudah memendam perasaan suka sejak lama pada Non Naya Tuan" jawab anak buah Daniel lirih.
Setelah bocah ingusan itu, lalu sahabat kuliahnya, lalu siapa lagi yang akan muncul.
"Tapi tenang Tuan" sela anak buah tersebut.
"Kenapa?."
__ADS_1
"Non Naya sudah menolak dokter itu."
Daniel menyeringai puas, lalu menutup ponselnya.
Kau memang di takdirkan hanya untukku.
Sementara itu, di gedung Tinar, di ruangan berukuran lima kali empat Naya duduk dengan wajah yang tampak gelisah.
Beberapa kali ia melihat jam di pergelangan tangannya.
Satu hari tidak bertemu dengan Januar hati Naya begitu di landa rindu, namun dengan alasan apa ia ke ruangan Januar, sedangkan semua dokumen sudah di bawa Vega ke ruangannya.
Ponselnya pun tak ada notifikasi, tak biasanya Januar melewatkan hari tanpa memgirim pesan dan panggilan vidio.
Ah bagaimana nanti kalau dia berfikiran macam-macam kalau aku menghubunginya dahulu, ucap batin Naya.
Tapi kenapa aku ingin sekali menemuinya, kembali isi hatinya bersuara.
Naya berjalan menuju jendela ruangan yang terbuka memandang deretan motor dan mobil yang berbaris rapi di parkiran, Naya menghela nafas panjang.
Ia benar-benar sudah di mabuk cinta dengan Januar.
Ceklek.
Terdengar suara pintu ruangan terbuka.
"Makan siang nanti kita kemana Ga?" tanya Naya lirih tanpa memalingkan wajahnya ke arah pintu.
Hening tak ada jawaban.
"Ga nanti aku ni..." kalimat Naya mengggantung karena saat ia berpaling ternyata bukan Vega yang datang.
"Mau makan siang di mana heum?"suara berat dan senyum manis yang begitu Naya rindukan.
__ADS_1
Greepp.
Tak bisa menahan rasa rindu yang membuncah di dadanya, Naya berlari ke dalam tangan Januar yang terbuka hingga tubuh kecilnya tertelan pelukan tangan kekar pria tampan itu.