
Ceklek, deerrrrtt.
Bunyi roda koper yang bergesekan dengan lantai membuat Januar menoleh ke arah pintu kamar Naya.
"Semua sudah aku siapkan" ujar Naya dengan wajah bahagia.
Bahkan kau sudah menyiapkan diri untuk meninggalkanku.
Dada Januar berdenyut nyeri jika mengingat Naya akan pergi dari apartemen.
"Oke kami bawa dulu, kau bareng atau ...." Elis mengedikan alis menunggu jawaban Naya.
"Biar aku yang antar dia" sela Januar.
"Oke kami berangkat...hayu" Elis menyikut Kendar yang masih terpaku.
Kini suasana mendadak kaku dan hening, Naya tak miliki daya untuk membalas tatapan Januar.
"Harus secepat itukah kau pergi?" tanya nya dalam.
"Heum" Naya men dehem dengan mata tertunduk, ia merasa bersalah saat Januar terlihat shock dan netra kesedihan tergambar jelas di matanya.
Tak tok tak.
Bu Heni muncul dari kamar, juga dengan koper bajunya.
"Kau juga akan meninggakanu Bu Hen?"
"Maaf mas Jan, saya masih harus menjaga Mbak Nay" jawaban Bu Heni lirih, ia pun sesungguhnya merasa berat meninggalkan Januar sendiri.
Januar menghela nafas kasar, hilang sudah selera makannya, lalu ia pun menuju kamar.
"Tunggu lah, aku akan membersihkan badan dulu" ujarnya.
Naya pun menyelesaikan makannya lalu ke kamar untuk berganti baju.Tas make up dan sisa baju ia masukan ke dalam rangsel kecil.
Ceklek.
"Kalian sudah siap?"tanya januar datar tanpa memandang Naya.
Kedua wanita itu saling pandang dengan rasa bersalah yang mengganjal di hati mereka.
"Mas Jan..Ibu minta maaf , ibu harus..."
"Tak apa Bu, saya hanya minta pada Ibu, tolong jaga Naya sebaik mungkin, hanya Ibu lah yang bisa saya mintain tolong, dan saya lebih tenang kalau Naya tinggal bersama Bu Heni" terang Januar membuat Heni sedikit lega.
Naya menatap Januar haru, sikap dewasa nya membuatnya ia semakin berat meninggalkannya.
__ADS_1
Bu Heni melangkah menuju Lift yang hendak menutup, Januar masih dengan langkah lesu di belakangnya.
Naya melangkah cepat menuju lift namun tangan Januar lebih dulu menahan pinggangnya hingga panel lift pun tertutup membawa Bu Heni, sedangkan keduanya masih tertinggal di depan pintu lift.
Naya berdiri mematung dalam dekapan Januar, ia tak berani mengurai karena pelukan pria itu begitu erat.
"Biarkan aku memelukmu seperti ini, karena esok aku tak akan bisa melakukannya, biarkan aku menumpahkan rinduku padamu, biar esok aku tetap tegar melewati hariku" suara Januar berat dan dalam.
Naya mengusap punggung Januar yang bidang, nafasnya terdengar jelas, pun dengan detak jantungnya.
Beberapa saat keduanya menyatu dalam pelukan hangat, hingga panel lift kembali terbuka membuat keduanya harus menyudari pelukan perpisahan tersebut.
Sementara di tempat lain Danu melihat berkas di tangannya dengan cermat, setelah bertukar pendapat dengan Sam asistennya, Danu akhirnya ber fikir untuk melepas Naya dengan ikhlas.
Seorang pengacara sudah ia persiapkan untuk mengurus perceraiannya.
"Sam, bantu dia untuk mengurus berkasku dan Naya" Danu tak sanggup mengucapkan kalimat 'perceraian' dengan lidahnya, rasa sesak dan berat di hati untuk melepas istri yang belum sempat ia bahagiakan.
Sam mengangguk dan mempersilahkan pengacara kondang tersebut untuk memeriksa bukti yang akan ia berikan untuk mempercepat sidang di perceraian nanti, sedangkan Danu melangkah menuju kamarnya.
"Maaf Tuan, apa bisa nanti rekaman vidio itu tak di tunjukan karena kami ingin menjaga perasaan Nyonya Naya" pinta Sam tulus.
Pengacara Richard memandang Sam heran.
"Apa ini permintaan Tuan Danu?" tanya nya.
"Kalau mereka masih saling mencinta lalu kenapa harus berpisah" tanya Richard jujur karena ia merasa kliennya sangat menjaga hati sang istri yang akan di cerainya.
"Saya rasa, Nyonya Naya berhak bahagia, dan Tuan Danu sudah mengikhlaskan hal itu."
"Tapi saya bisa membuat mereka kembali bersatu jika Tuan Danu masih menginginkannya" ucap richard sungguh-sungguh.
Sam tertegun, ia tahu benih cinta sudah tumbuh di hati danu untuk Naya, dan ia tahu betapa ingin Danu membahagiakan Naya dan mengobati luka hati yang sudah di perbuatnya.
"Coba kau tanyakan pada Tuan Danu, apa yang beliau inginkan, aku akan lakukan apa yang dia ingin.."
Sam menghela nafas panjang, kini hatinya merasa bimbang.
Sementara itu di apartemen Naya, Januar duduk termenung di sofa panjang di ruang tengah, apartemen yang tak begitu besar jika di banding dengan milik Tiwi.
Tapi Naya mengatur perabot begitu rapi hingga terlihat ruangan tampak luas dan aestetik, rupanya ia sudah meminta orang untuk membersihkan apartemen hingga lantai dan semua furniture tampak bersih dan rapi.
Bu Heni menata camilan yang di beli Elis tadi, sedangkan Kendra santai di depan televisi begitu juga Januar, namun hati dan pikiran pria manis itu entah berada di mana, tatapannya kosong dan wajahnya pun datar.
"Ayo makan mas Jan, mbak El, dan Dokter.." Bu Heni memanggil berurutan.
Kendra dengan santai langsung mengambil sepotong kue, Januar hanya menghela nafas berat, jangankan untuk makan, bernafas pun dadanya terasa sesak.
__ADS_1
Naya membawa nampan berisi minuman dan menaruhnya di depan Kendra dan Januar.
Naya sempat melirik ke Januar yang rampak acuh padanya.
Drrt drrt.
Naya tertegun melihat layar ponsel saat nomor tak di kenal menghubunginya.
"Iya..baik nanti saya sharelok, saya tunggu" ucap Naya lalu menutup ponsel.
Januar memandang Naya lalu bertanya lewat isyarat kedikan alisnya.
"Ibu Silvy ingin bertemu denganku?"
"Mau apa dia?" tanya Januar ketus.
Naya hanya menggelengkan kepala dengan senyum tipis, mencoba menenangkan hatinya yang mulai gugup karena wanita yang mengaku ibu Silvy meminta bertemu dan bicara empat mata.
Lima belas menit kembali ponsel Naya berbunyi.
"Ken, Lis ..gue ke bawah dulu" ujar Naya lalu pergi di susul Januar di belakangnya, Naya tak mungkin melarang karena tatapan Januar sudah menyiratkan tak mau menerima penolakan.
"Jangan terlalu dekat, aku tak ingin kau celaka" ucap Januar serius.
"Tapi aku sudah memintanya bertemu di lobi jadi akan aman" jawab Naya berusaha tenang.
"Baiklah, tapi aku akan berada tak jauh darimu, teriaklah kalau merasa terancam" titah Januar tegas.
Naya mengangguk.
Pintu lift terbuka, Naya melangkah tenang menuju meja yang berada di sudut lobi di mana wanita paruh baya dengan kaca mata hitam duduk tenang menunggunya.
Wanita itu bangun dari kursi dan mengulurkan tangan, Naya pun menyambutnya dengan anggukan kepala hormat.
"Maaf kalau aku sudah mengganggumu, perkenalkan Aku Sania, ibu dari Silvy."
"Saya Naya" dengan tangan gemetar Naya menyambut uluran tangan Sania, dari tempatnya Januar siaga penuh dengan mata tak lepas ke arah dua wanita yang sedang berbicang serius.
"Sebelumnya, aku hanya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu, atas semua yang telah Silvy lakukan, andai tahu akan seperti ini, aku pasti akan tetap membuatnya tinggal di X, sungguh semua kejadian itu di luar kendaliku, Silvy yang selalu bersikap manis di depanku ternyata sudah membuat hancur hidup dan rumah tangga orang lain" terangnya panjang.
Naya hanya diam, sifat wanita itu sungguh berbeda dengan Silvy, bahkan ucapannya terdengar hangat dan bijak.
"Besok pagi aku akan kembali ke X, jadi sekarang terakhir aku bisa menemuimu, maaf kalau susah mengganggu waktumu."
"Kalau anda pergi bagaimana Silvy nanti tidakkah dia akan sedih" tanya Naya.
Sania memandang Naya haru, wanita cantik berhati lembut yang rumah tangganya di hancurkan oleh Silvy putri satu-satunya.
__ADS_1
"Bahkan setelah menyakitimu pun, kau masih memikirkan bagaimana nasib Silvy di penjara, sungguh aku malu padamu, aku telah gagal mendidik putriku satu-satunya" suara Sania mulai bergetar.