
"Selamat pagi Tuan.."sapa Ujo seperti biasa.
"Heum" dan seperti biasa juga ia mendapat jawaban singkat dan datar dari Januar.
Ceklek.
Januar membuka pintu ruangan Naya, tampak kosong.
Kemana wanita itu, geramnya dalam hati.
"Tuan cari siapa? Mbak Vega atau Mbak Nay..." tanya Ujo.
Januar hanya menggeleng dan menggoyangkan tangannya lalu masuk ke ruangannya.
"Jef, kau di mana?"tanya Januar di panggilan telepon.
"Saya sedang di lokasi perencanaan proyek pembangunan ruko di daerah T tuan" jawab Jefry.
"Ya sudah" Naya tak mungkin ikut bersama Jefry, pikir Januar.
"Ga di mana kamu sekarang?" kali ini mungkin Naya bersama Vega, Januar membatin.
"Saya ada di pantry Pak, bapak mau di bikinin kopi juga?" tanya balik Vega.
"Tidak" jawab Januar lalu mematikan ponsel, di lihatnya jam di pergelangan tangan, sudah pukul sembilan tapi ia belum juga menemukan di mana Naya berada.
Setumpuk dokumen yang ia tanda tangan tak lagi Januar periksa ulang, ia hanya ingin segera tahu keberadaan Naya saat ini.
Sementara itu di ruangan di mana Kendra sedang bertugas, suasana tampak hangat, keduanya bercengkerama dengan bebas dan lepas.
Rupanya begitu sampai di perusahaan,Naya menghubungi Kendra untuk memeriksakan kondisi kesehatannya, dan setelah pemeriksaan intensif yang Kendra lakukan memperlihatkan hasil yang memuaskan.
Naya bisa kembali beraktifitas di kantor seperti biasa tanpa harus me minum obat.
"Kenapa kau begitu ingin cepat kembali bekerja, apa kau sangat membutuhkan uang?" tanya Kendra.
"Heum, kalau uang siapa sii orang yang tidak membutuhkannya, tapi bukan itu yang membuatku ingin cepat masuk, aku sangat bosan sehari-hari di apartemen tanpa aktifitas, lihatlah tubuhku, bahkan lemak sudah mulai menumpuk si beberapa bagian membuat aku semakin berat."
"Menurutku semakin kau chuby semakin terlihat cantik Nay"Kendra berucap sambil memeriksa daftar obat-obatan yang tersedia.
Naya hanya mencebikan bibirnya, mulut semua lelaki memang tidak berbeda jauh, sangat pandai melancarkan gombalan maut, pikirnya.
"Lu mau minum apa nanti gue pesenin, kita harus rayain hari Elu kembali masuk kerja" ucap Kendra.
"Heum terserah Elu deh, gue lagi nggak pegang duit."
"Ck, berapa sii yang Lu butuh, kirim no rekening Lu sekarang juga, nanti gue transfer."
"Dihh emang sombong orkay mah ...kalau gue pesen apartemen lantai paling atas bisa nggak?"seloroh Naya sambil mengedikan alisnya.
"Kalau Lu mau, gue usahain" jawab Kendra serius.
"Hee hee hee, percaya..percaya Lu emang anak sultan, nggak kaya Gue cuma remahan gorengan yang suka nyempil di pojok etalase."
Kendra hanya menghempaskan nafas kasar.
__ADS_1
Apapun yang Lu mau gue akan wujudkan Nay, asal kau mau hidup bersamaku, kalimat yang hanya bisa Kendra ucapkan dalam hati.
"Gue pesen salad buah aja Ken, panas-panas gini enak kayaknya makan yang seger."
Kendra pun mengangguk lalu memesan lewat ponselnya.
"Sekalian gue pesenin makan siang gimana?"sambungnya lagi.
"Terserah Lu deh."
Ceklek, pintu klinik terbuka, Vega muncul dengan nafas memburu.
"Hadeuuh untung Mbak Naya ada di sini, kalau nggak, bisa di suruh muter-muter lagi ke seluruh Tinar Perkasa buat nyari mbak Nay, huuhh haaahh....."Vega duduk menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Ada apa Ga?"tanya Naya.
"Tuh Pak Jan, dari pagi nyariin mbak Nay, lagian mbak Nay kenapa matiin ponsel mbak, kan aku yang jadi sengsaraa ...."ucap Vega panjang masih mengatur nafasnya.
Kendra memandang Naya tajam, pria dingin itu sangat protektif pada Naya, ada hubungan apa sebenarnya di antara keduanya, batin Kendra.
Naya terjingkat kaget, ia baru menyadari ponselnya masih berada di dalam tas tanpa ia nyalakan.
"Aduh maaf ya Ga, mbak benar-benar lupa, ponsel masih di dalam tas sejak pagi."
Vega hanya memajukan bibirnya cemberut, sungguh malang nasibnya setengah hari ini ia selalu menjadi sasaran Januar karena di suruh mencari Naya.
Drrt drrt.
"Tuh mbak, dia telpon lagi .." bisik Vega sambil menunjukan ponselnya pada Naya.
"Nggak ah, Mbak Nay saja yang jawab" protes Vega ketakutan.
"Aaiiishhh, sini biar Gue yang jawab" Kendra meraih ponsel di tangan Vega.
"Gimana Ga, udah ketemu Naya?"tanya Januar antusias.
"Dia ada di klinik sama saya pak, sekarang dia...."
Tuuut......Kendra tak percaya memandang layar ponsel dan benar saja Januar sudah mematikan panggilan secara sepihak.
"Sialan bocah ingusan itu, sangat tidak sopan" umpatnya lalu menyerahkan ponsel pada Vega.
"Wahh gimana ini Mbak, pak Jan pasti marah besar, aduhh..."Vega panikdan tak sadar meremat jemari tangannya sendiri.
"Udah tenang aja, ayo kita ke ruangan beliau.."Naya menggandeng tangan Vega berniat meninggalkan ruangan namun langkah mereka tertahan saat tiba-tiba pintu terbuka.
Ceklek.
Greepp.
Januar muncul dari pintu yang terbuka lalu melangkah mendekat ke Naya dan dengan santainya merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Vega membekap mulut dengan tangannya, sedangkan Kendra melihat adegan tersebut dengan dada bergemuruh, ingin ia memukul pria yang memeluk Naya dengan erat itu tapi apa daya, dia adalah atasannya sendiri.
Pelukan Januar berlangsung cukup lama, akhirnya pria itu mengurai pelukannya dan matanya memindai tubuh Naya dengan intens.
__ADS_1
"Apa dia kembali terluka" kali ini ia bertanya pada Kendra dengan satu tangan masih memegang tangan Naya.
"T tidak, sudah saya periksa menyeluruh dan dia sudah bisa kembali bekerja seperti dulu"tutur Kendra gugup.
Kendra dan Vega kembali di buat terkejut saat Januar kembali menarik tangan Naya untuk keluar dan membawa ke ruangannya.
Brakk, ceklek.
Naya yang masih belum bisa menguasai keterkejutannya tetap diam, setelah menutup dan mengunci pintu Januar kembali memeluknya, kali ini bahkan terasa sesak dada Naya di buatnya.
"P pak..."
"Diamlah, biarkan seperti ini dulu sebentar" bisikan Januar di telinga Naya membuat bulu halus tengkuknya meremang.
Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, bahkan Naya merasa nyaman berada dalam pelukan Januar, detak jantung pria itu bahkan terdengar jelas di telinganya karena mereka hanya di batasi jarak dengan baju yang menutup tubuh keduanya.
Cukup lama Naya menahan sesak dadanya, perlahan ia berusaha mengurai pelukan Januar namun pria tampan itu kembali menghempasakn tangannya.
"Pak sadar pak.." suara Naya lirih namun debaran jantungnya masih kencang.
Januar mengurai tubuhnya namun tangannya masih memegang kedua bahu Naya, di tatapnya mata indah Naya yang terus mengerjap gugup.
"Kau yang telah membuatku gila, lalu kenapa kau memintaku untuk sadar, tahu kah kau, aku gila karena terus memikirkanmu Kanaya Dewanty, aku tak bisa melihatmu berdua dengan suamimu, aku tak rela memikirkan kau dekat dengan lelaki lain, aku ingin kau hanya untukku."
Bluuss.rasa bahagia menyelimuti dada Naya.Untuk pertama kalinya ia merasa begitu di perhatikan dan di cintai oleh seseorang, meski itu hanya impian indahnya, tapi saat ini Naya ingin bahagia meski hanya untuk sementara.
"Apa kata mereka jika kau..."
"Jangan pernah memikirkan orang lain, pikirkan saja kita berdua, mari hadapi semua rintangan bersama-sama, berilah aku kesempatan untuk mengubah semua luka dan tangismu menjadi air mata bahagia, jadilah miliku..."netra Januar memandang tajam penuh harap pada Naya, januar tak bisa lagi membendung perasaan yang menyesakan dadanya.
"A aku masih..."
"Aku akan menunggumu, sampai kau berpisah denganya ..."sambung Januar.
Setelah cukup lama akhirnya Naya menganggukan kepalanya, binar mata bahagia teroancar jekas dari mata Januar, perasaan yang membuncah memenuhi rongga dadanya.
Dua sudut bibir tipisnya membentuk garis lengkung.
"J jadi kau menerima cintaku???"tanyanya tak percaya.
"Kalau kau mau menungguku...."ucap Naya lirih dengan mata tertunduk malu.
"Aku akan sabar menunggumu" ujarnya cepat, dan Naya pun kembali mengangguk.
"Iyezzz...!!" Januar menghentakan kepalan tangannya di udara lalu merengkuh tubuh Naya dan mengayunnya berputar.
Naya pun tersenyum, entah apa yang akan menghadangnya nanti, saat ini ia hanya ingin bersama lelaki yang mencintainya dengan tulus.
**********
Akhirnyaaa gayung bersambut, tak sia-sia usaha Januar selama ini.
😍😍😍😍
Jangan lupa like vote dan komentnya ya bestie....
__ADS_1