Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Di Mana Kau


__ADS_3

Januar menikmati makan dengan lahap, sekian waktu berpisah dengan kedua orang tua membuatnya begitu rindu masakan sang ibu.


Sementara Aslan yang terusik dengan kediaman Daniel pun beberapa kali melirik lewat sudut matanya.


"Lu kenapa?"tanya Aslan akhirnya.


Daniel menghelan nafas panjang, hatinya bertanya-tanya setelah melihat Januar memasuki lobi apartemen itu.


"Tidak apa-apa, sekarang Lu mau kemana?" tanya balik Daniel.


"Hm ...Gue mau ke temen Gue, Lu apa mau ngikut apa balik?"tanya Aslan, ia barusaja di hubungi Elis yang menanyakan keberadaan Naya.


"Lu lama nggak?" tanya Daniel karena ia pun suntuk di kamar hotel sendirian.


"Hm nggak kok, ..."


Drrt drtt.


"Ya halo Lis, gimana apa udah ketemu dia?" Aslan bertanya pada seseorang di ujung telepon.


"Belum Lan, bocah itu panik udah nyari di mana-mana tapi nggak ada" jawab suara wanita di sebrang.


"Oke nanti Gue bantu anak buah Gue cari" jawab Aslan lalu menutup sambungan telepon.


Daniel mengerutkan alisnya.


"Apa? Siapa yang belum ketemu?"tanyanya penasaran.


"Temen Gue cewek, di cariin sama pacarnya, di kantor udah pulang tapi di apartemenya juga nggak ada katanya, padahal temen gue itu nggak pernah kelayapan."jelas Aslan.


"Trus, apa sekarang kita juga mau cari temen Lu yang ilang itu?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Hmm kita pulang aja, biar nanti anak buah Gue yang tangani" jawab Aslan.


"Sebegitu pentingnya kah dia, hingga membuat kalian semua harus turun tangan" sela Daniel.


"Dia calon adik ipar Gue."


"Maksud Elu, calon menantu Om Jeremy ?"Aslan mengangguk pasti.


Sementara itu, Januar tampak gelisah di kamarnya, Jefry dan Tanu yang ia tugaskan untuk mencari informasi tentang Naya masih belum mendapatkan hasil, waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam.


Sedangkan laptopnya berada di apartemennya yang baru.


Perlahan ia menarik tuas pintu kamarnya, lalu melangkah menuju pintu keluar dengan kaki berjinjit.


C e k l e k.


Dengan menahan nafas, Januar membuka pintu lalu melangkah keluar apartemen.


Langkahnya panjang saat melewati lobi menuju parkiran, dengan kecepatan tinggi ia membelah jalanan ibu kota dengan kereta besi miliknya.


Cepat Januar memasuki apartemen dan mengambil laptop di meja kerja miliknya lalu mulai mencari jejak Naya lewat berapa kamera pengawas yang sudah ia retas.


Dari kamera lobi apartement, Naya terakhir terlihat keluar dari gedung saat berangkat bekerja, dan hingga kini ia tak tampak mendatangi apartement, begitupun kamera di gerbang gedung Tinar Perkasa, Naya pulang dengan kendaraan ojek online seperti biasa.


Semuanya tak ada yang aneh, lalu kemana gerangan Naya pergi.


Januar meremat kepalanya.


"Di mana kau sekarang, beri aku kabar sayang" ucapnya dengan suara berat.


Dari informasi Tanu, Silvy masih berada dalam penjara, tapi wanita licik itu masih bisa menggunakan kekuasaannya untuk memerintah orang yang di percayanya, dan hal itulah yang membuat Januar cemas.

__ADS_1


Ia tak ingin ke lengahan mereka di pakai Silvy untuk mencelakai Naya lagi.


"Asisten Sam..."ucap Januar antusias, lalu mencari nomor kontak asisren Danu itu.


Drrt drrt.


"Ya halo...ada apa Tuan Januar malam-malam menghubungi saya?"akhirnya setelah cukup lama panggilannya di angkat oleh Sam meski suaranya terdengar berat, mungkin ia sedang terlelap tidur.


Lalu Januar menceritakan situasi yang sedang terjadi, dan tentu saja ia terpaksa meminta nomor kontak Danu pada Sam.


Drrt drrt.


Kali ini Januar memencet nomor Danu.


"Siapa ini?" tanya Danu dingin karena melihat nomor yang tak di kenalnya.


"Aku Januar, Naya hilang...apakah.."


"Hah, hilang?!!apa maksudmu? Bagaimana bisa terjadi, katakan padaku kalau kau tak bisa menjaganya, aku akan sediakan pengawalan dua puluh empat jam untuk menjaganya" kalimat Danu terdengar penuh nada kekesalan.


Cih kau masih saja perhatian padanya, aku pun menghubungimu karena terpaksa, umpat Januar dalam hati.


"Entahlah, aku tak bisa menemukannya, yang aku cemaskan kalau mantan selingkuhanmu lah dalang di balik ini semua" jujur Januar.


Danu terdiam, ia kini baru menyadari apa yang ada dalam benak Januar, setelah beberapa kasus yang menimpa Naya dan semua bermuara pada Silvy, bukan tidak mungkin kali ini pun adalah perbuatannya.


"Baiklah, aku akan menanyakan langsung pada orangku yang berada di Rutan tersebut" jawab Danu.


"Kabari aku begitu kau dapat informasinya" Januar langsung menutup ponsel tanpa permisi, membuat Danu menggeram kesal.


Dasar bocah sialan, tak tahu sopan santun sama sekali, ia membatin kesal.

__ADS_1


Januar memandang kangit kamarnya yang putih, waktu sudah menunjukan pukul dua dini hari.


Selain Silvy masih ada Daniel yang Januar curigai tapi ia tak yakin kalau Daniel dalang di balik hilangnya Naya kali ini.


__ADS_2