
"Kapan kau akan menyerahkan berkas itu padanya?" tanya Danu.
"Saya dudah berjanji sore ini akan mengantarkan pada Non Naya bos."
Sam pun langsung pamit dan menuju kantor karena Danu akan berangkat lebih siang.
Setelah membersihkan diri dan memakai jas kantornya, Danu melajukan mobil menuju ke sebuah cafe, ia memesan secangkir kopi dan roti panggang untuk mengisi perutnya pagi ini.
Ingatannya kembali membayang saat tak sengaja ia melihat bayangan sosok Silvy memasuki sebuah mobil sedan hitam dengan seorang pria merangkul pinggangnya mesra.
Suasana malam di mana jalanan yang padat membuat Danu kehilangan jejak.Namun tiba-tiba ia teringat bahwa mobilnya di lengkapi kamera yang terpasang di dashboard mobilnya.
Dengan gerak kilat Danu menyeruput habis kopi miliknya lalu pergi meninggalkan cafe.Dengan harap cemas Danu menunggu hasil rekaman yang sudah di periksa anak buah kepercayaannya.
Rekaman yang kini sedang ia lihat tanpa berkedip lewat layar laptopnya.Benar dugaannya, itu adalah Silvy dengan seorang pria.
Tangan Danu mengepak keras.
"Lu cari siapa pemilik mobil itu dan selidiki identitasnya, gue tunggu secepatnya" titah Danu dengan wajah tegang pada anak buahnya.
"Siap Tuan" jawab satu suara berat di ujung telepon.
Sam yang beberapa kali ke ruangan Danu hanya bisa melirik penuh tanda tanya, Danu sangat fokus pada layar laptop juga ponselnya di atas meja, bahkan berkas yang seharusnya ia tanda tangan hingga kini masih terbengkalai.
"Bos, maaf berkas itu sudah di tunggu tanda tangan secepatnya karena akan segera di buat surat jalan" ujar Sam hormat.
Danu tergagap, lalu cepat membubuhkan tanda tangan miliknya, Sam pun menunduk hormat dan meninggalkan ruangan.
"Sam, kapan kau akan menyerahkan tas Naya?" tanya Danu lirih, ada sedikit gengsi yang susah payah ia tutupi.
"Nanti sore Bos" jawab Sam singkat.
"Heum, kalau begitu hari ini kau tak usah lembur."
Sam membulat, tak biasanya Danu sepengertian itu, ia pun mengangguk senang.
"Terima kasih Bos."
Danu hanya mengangguk ringan, ia masih memikirkan apakah semua yang Sam tuturkan tentang Silvy adalah benar.
Hingga tengah hari Danu masih di buat kesal oleh anak buahnya tersebut, informasi yang ia inginkan belum juga mereka dapat.
"Bos tidak makan siang?" tanya Sam yang masih mendapati Danu ada di ruangannya meski istirahat siang sudah lewat satu jam yang lalu.
Danu melirik jam di pergelangan tangannya, suasana hati yang buruk membuat nafsu makannya seakan hilang, perutnya tak merasa lapar sama sekali.
__ADS_1
"Apa mau saya pesankan Bos" tawar Sam, ia tak ingin atasannya itu sampai jatuh sakit, apapun yang sedang mengusik pikirannya, kesehatan adalah paling utama, pikir Sam.
Sam melangkah keluar hendak memesan makanan untuk Danu namun pria itu memanggilnya.
"Sam, apa kau mengenal pria ini?"tanya Danu ragu, keresahan yang mengganjal di hatinya sudah sangat menganggu pikirannya.
Sam memandang Danu tajam, tentu saja ia tahu pria yang berada di layar laptop Danu, dialah pria yang selama ini bersama Silvy kekasihnya.
"Saya tidak mengenalnya Bos" jawab Sam jujur, karena ia hanya sekedar tahu bahwa pria itulah selingkuhan Silvy tapi Sam tidak mengenalnya.
"Benar kau tidak mengenalnya?" tanya Danu tak percaya.
"Benar Bos, saya tidak mengenalnya tapi saya tahu dia."
Danu mengerutkan dua alis hitamnya.
"Jangan buat kalimat berbelit-belit, katakan jika memang kau tahu siapa dia."
Sam menghela nafas panjang, mungkin memang Danu sudah menyadari ada yang salah dengan kekasihnya, atau dia pernah melihat kedekatan Silvy dengan pria itu.
"Jika saya mengatakan jujur pun saya ragu anda akan mempercayainya, jadi mungkin sebaiknya bos cari tahu sendiri siapa lelaki itu" Danu mendengus kesal, alangkah tak sopan asistennya itu.
Tapi Danu tak mau kembali salah tuduh, Sam sudah menjadi sasaran kemarahannya yang membabi buta tanpa tahu yang sebenarnya.
Jika tempo hari ia masih bisa berkilah bahwa semua poto dari Sam adalah editan tapi tadi Danu melihat secara langsung kemesraan Silvy dengan lelaki lain.
Seharian ini Danu merasa tak tenang, ia ingin bertanya pada asistennya lagi namun ia sudah terlanjur membuat lelaki itu kecewa karena ia malah berbalik menuduhnya telah memfitnah Silvy.
Kini Danu hanya bisa menunggu dengan sabar bagaimana hasil kerja anak buah kepercayaannya.
Sam, melajukan mobil menuju alamat yang Naya bagikan.
Sebuah bangunan gedung tinggi kokoh, di mana terkenal dengan apartement mewahnya.Beberapa kali Sam melihat ponsel dan mencocokan lokasi, ia sedikit ragu bahwa Naya tinggal di apartement elit tersebut.
Bukan tanpa alasan, rata-rata pemilik apartement yang tinggal di lingkungan itu adalah orang-orang yang berpenghasilan fantastis.
"Apa yang sudah kau dapat" tanya Januar.
"Saya sudah menyelidiki bahwa pria yang berada di mobil bersama Mbak Naya adalah orang suruhan."
"Lalu apa kau sudah mendapatkan identitas siapa otak dari kecelakaan itu."
"Ini Bos, dan saya rasa Tuan Danu pun memiliki andil dalam kejadian ini."
Tanu memperlihatkan ponsel pada Januar.
__ADS_1
"Jadi menurutmu Tuan Danu juga terlibat dengan kecelakaan yang menimpa Naya?" tanya Januar.
Tanu mengangguk pasti.
Sam berdiri membeku mendengar percakapan dua pria yang tak jauh dari pintu lobi apartement,percakapan yang membuat hatinya bergemuruh, bahkan darahnya kini mendidih.
Pantas saja tuan Danu selalu acuh pada Nona Naya, bahkan ia seakan tak perduli apapun yang terjadi pada istrinya itu, ternyata dialah dalang di balik kemalangan Non Naya, Sam membatin sambil melangkah menuju lift.
Ia tak sengaja mendengar percakapan Tuan Januar dengan anak buahnya.Dan Sam pun perlahan menjauh untuk segera menyerahkan berkas milik Naya, ia masih tak percaya bahwa atasanya begitu tega berbuat keji pada istrinya
Teet.
Sam mengangguk dan tersenyum ramah saat Bu Heni membuka pintu apartemen.
"Silahkan masuk"sapa Bu Heni yang memang Naya sudah berpesan padanya bahwa akan ada orang yang datang mengantar berkasnya.
Sam melangkah memasuki apartement mewah tersebut, Naya yang duduk di depan televisi tersenyum senang melihat kedatangan pria hangat itu.
Sam menyambut uluran tangan Naya dengan dada berdenyut, bagaimana mungkin ada orang yang tega berbuat sejahat itu pada wanita cantuk nan lembut seperti Naya, apalagi pria itu adalah suaminya sendiri.
"Apa kabarmu asisten Sam?" tanya Naya lembut.
"B baik Nona, ini berkas yang Nona ingin, semua ada di sini" jelas Sam.
"Terima kasih atas bantuanmu asisten Sam."
"Kenapa Nona tidak datang langsung saja ke apartement tuan Danu?"
Naya terdiam, wajahnya tiba-tiba berubah murung, Sam yang menyadari kalimatnya pun jadi salah tingkah.
"Oiya Non, saya sangat kangen dengan masakan Nona Naya, kapan lagi bisa menikmati masakan lezat itu" kalimat sam membuat Naya tersenyum.
"Tenang saja asisten Sam, kau tetap bisa menikmati makanan enak di sini, datanglah kalau kau mau, bu Heni pun sangat pintar memasak" terang Naya.
"Ah bisa aja Mbak Nay, saya mah masaknya yang simpel-simpel aja, silahkan di minum asisten Sam" tawar bu Heni ramah.
Sam pun mengangguk .
Ceklek.
"Oh ada asisten Sam rupanya?" sapa Januar yang baru datang.
Sam tertegun, tuan Januar kenapa datang tanpa ketuk pintu, bahkan pria itu tahu nomor kode pintu apartement Naya.
Apa hubungan antara nona Naya dengan atasannya tersebut, Sam membatin.
__ADS_1