
Pukul empat Januar pulang, tinggal Jefry yang harus kembali menahan kekesalannya karena sang Bos meninggalkan banyak tugas.
Rupanya perpeloncoan bukan hanya terjadi di sekolahan, tapi di kantor pun ada, pikir Jefry merutuki nasibnya.
Cepatlah kau srmbuh Mbak Naya, agar aku bisa lepas dari penderitaan ini, harapnya dalam hati.
Sementara itu, Januar melangkah dengan penuh semangat memasuki apartement, suasana sore yang cerah, pastilah ia masih bisa bertemu dengan Naya, pikirnya.
Ceklek.
Januar melepas sepatu dengan mata memindai ruangan, namun sosok yang di carinya ternyata tak ada.
Ruang tengah, juga ruang tekevisi di mana Naya selalu menghabiskan waktunya tampak sepi, begitu juga Bu Heni, pun tak ada.
Kemana perginya mereka, pikir Januar.
"Bu Hen, lagi di mana?" pesan Januar.
"Saya sedang jalan sore, Mbak Naya tadi minta di temanin nyari udara segar ke sekitar gedung, suntuk katanya di apartement terus" jelas Bu Heni.
"Baik, saya akan menyusul Bu" Januar bergegas berganti baju dengan celana traning panjang dan kaos polos putih.
Tubuh jangkung dengan bahu lebar,juga kaosnya yang pas di badan, memperlihatkan perut rata nya terlihat semakin tegap.
Topi hitam yang di pakainya tak bisa menutupi pesona Januar, hingga sampai di lobi pun tatapan para kaum hawa saling mencuri pandang ke arahnya.
Ia yang memang tinggal belum lama di apartement tersebut, kini menjadi pusat perhatian pada penghuni apartement yang kebetulan berpapasan dengannya.
Januar dengan berlari kecil menyusuri jalan, menyusul di mana Bu Heni dan Naya berada.
Tiga puluh menit Januar berlari kecil namun dua wanita itu belum juga terlihat.
Ah di mana kalian kenapa aku tak bisa menemukan kalian?, Januar mematin sambil terus betlari.
"Mas.....mas Januar!!" teriakan bu Heni membuat Januar berpaling.
Matanya mencari sumber suara yang ternyata berasal dari sebuah warung tenda yang terletak di ujung jalan.
Bu Heni melambai tangan agar Januar mendekatinya.
Bersamaan dengan langkah Januar, saat itu pula seorang gadis menuju ke arah warung tenda tersebut dan .
Brakk.
"Aakhh"jerit gadis yang tepental karena berbenturan dengan tubuh tegap Januar.
Sepersekian detik Januar tertegun, gadis cantik terduduk di atas trotoar dengan tangan memegang lututnya yang tampak lecet.
"Ahm maaf ...maaf" sesal Januar lalu meraih tangan gadis tersebut agar bangun.
Desisah kesakitan muncuk dari mulut mungilnya.Bu Heni dan Naya pun bergegas mendekati mereka.
"Aduh Non, kenapa...mana yang luka-luka" tanya Bu Heni panik.
Sementara Januar yang panik dan justru fokus pada Naya yang tadi sempat berlari kecil ke arahnya.
__ADS_1
"Jangan berlari, kepalamu tidak boleh terlalu terguncang" bisiknya sambil menahan tangan Naya.
"Ehm aku tak apa-apa" jawab Naya cepat.
Bu Heni memeriksa tubuh gadis cantik tersebut dengan teliti.
"Nona lututmu lecet, apa kita ke klinik yang ada di depan gerbang saja Non?" tanya Bu Heni.
Gadis tersebut memandang Januar, meminta pertanggung jawaban, namun Januar malah acuh padanya, membuat gadis tersebut mencebikan bibirnya.
"Mas, ajak dia berobat dulu" bisik bu Heni.
"Ah ku kira nggak perlu hanya luka lecet ringan ini."
Gadis itu tampak kecewa mendengar penuturan Januar.
"Apa kau tak keberatan kalau kau ke apartement kita untuk mengobati lukamu" tawar Naya.
Gadis itu kembali memandang januar meminta pendapat.
"Benar Non, mari kita ke apartement dulu, di sana ada banyak obat-obatan untuk mengobati luka Nona."
Tanpa meminta persetujuan Januar, bu Heni dan Naya menggandeng tangan gadis tersebut lalu membawanya ke apartement.
"Kenapa kalian membawanya ke apartement tanpa seijinku" bisik Januar pada Naya saat Bu Heni dan gadis itu berjarak beberapa meter di depannya.
"Kau yang seharusnya bertanggung jawab untuk mengobatinya bukan malah mengacuhkannya pak!."
"Tapi nggak harus sampai masuk ke apartementku juga kali"protes Januar.
Januar hanya bisa melihat keakraban mereka dan menghela nafas kasar karena keberadaan gadis tersebut justru seakan menyita seluruh perhatian Naya.
Mereka asik bercengkerama hingga waktu menunjukan pukul delapan malam.
Gadus yang bernama Vega tersebut tampak betah berada di apartement, begitu pun Naya ia tampak ceria dengan Vega yang memikiki hati hangat dan penuh canda.
"Kak, aku harus pulang, sudah di jemput di lobi bawah" terang Vega yang rupanya ia sudah meminta sang sopir untuk menjemputnya.
"Baiklah hati-hati bye"Naya melambaikan tangan dan di sambut pelukan hangat oleh Vega.
"Boleh aku datang lagi ke sini kak?" bisik Vega pada Naya.
"Tentu saja boleh, aku bahkan senang ada yang mau berteman denganku."
Vega tersenyum lalu melirik Januar sang tuan rumah.
"Oh tentu saja, datanglah kapanpun kau mau" ucapnya datar.
Asal dia kembali tersenyum, apa pun akan ku lakukan, ia membatin.
Suasana kembali hening, Karena sudah merasa mengantuk Naya pun beranjak masuk ke kamarnya.
Kini tinggal Jnuar yang lagi-lagi harus kecewa karena tak ada kesempatan lagi berdekatan dengan wanita yang beberapa hari ini sudah menganggu harinya.
Bu Heni yang sedang membersihkan peralatan masak terkejut saat menyadari Januar tiba-tiba sudah duduk di ruang tengah.
__ADS_1
"Bu apa Naya tudak lupa minum obatnya?"
"Sudah Mas, tadi setelah makan malam, saya lihat Mbak Naya hari ini tidak terlalu murung, mungkin karena ada Non Vega, bahkan tadi Non Vegalah yang mengobati rambut Mbak Nay" terang Bu heni bangga.
Januar hanya mengangguk pelan, syukurlah kedatangan anak itu sedikit membantunya.
Karena Naya tak mungkin lagi akan keluar dari kamar, Januar pun masuk untuk istirahat di kamarnya, berharap besok pagi ia melihat senyum Naya kembali mengembang.
*
*
*
Sementara itu di apartement lain, Danu bangun pukul tujuh saat bel pintu berbunyi.
Pria itu menghentakan langkahnya, tidurnya di rasa masih kurang, membuat Danu kesal, siapakah tamu yang datang pagi ini.
Ceklek.
Danu mengerutkan alisnya, Sam berdiri tenang di depan pintu.
"Ada apa Sam?" tanya Danu sambil mengucek kedua matanya yang masih terasa sepat.
Danu duduk di sofa ruang tengah sementara Sam berdiri di sampingnya.
"Maaf Bos, Non Naya minta saya untuk mengantarkan berkas penting miliknya."
Danu menatap Sam tajam, karena tak mempunyai salah Sam pun berusaha tetap tenang.
"Kapan kau bertemu dengannya" tanya Danu sinis.
"Dan kenapa harus meminta kau yang mengambilkan, apa dia sudah tak punya muka lagi untuk datang ke sini?" kalimat Danu terdengar sinis dan membuat panas telinga.
"Nona Naya kecelakaan Tuan, dan saat ini kondisi tubuhnya belum boleh di gunakan untuk bergerak banyak" jelas Sam sabar.
Danu tertegun, jadi istrinya itu tak pernah muncul karena ia kecelakaan, pantas saja seakan Naya menghilang dari muka bumi, batin Danu.
"Heum kau ambilah sendiri tasnya di kamarnya" Danu mengedikan dagunya, semua tas dan sisa baju Naya masih utuh berada di kamarnya yang memang Danu tak pernah menyentuh sama sekali.
Sam pun mengangguk lalu menuju kamar Naya.
Tak selang berapa lama Sam keluar dengan sebuah tas dan tote bag milik Naya, dan sebuah amplop putih di tangan.
"Bos..saya menemukan ini di kaci lemarinya" Sam menyerahkan amplop putih pada Daju.
Pria itu membuka perlahan, kedua alisnya mengerut saat mengetahui isi dalam amplop putih tersebut.
Uang yang ia beri pada Naya untuk kebutuhan sehari-hari juga kartu ATM yang terlihat tak pernah ia gunakan.
Jadi selama ini dia tak pernah memakai uang yang ia beri sepeserpun, Danu membatin.
Bahkan kartu itu pun masih tetap berada di dalam amplop bersama uang tersebut.
Sam hanya memandang Danu yang masih tampak tak percaya dengan yang ada di tangannya.
__ADS_1
Kau akan menyesal jika sampai melepasnya Bos.