Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Lamaran Kevin


__ADS_3

"Kau nyaman di situ tapi jika kau tidak segera melepaskannya maka hal itu akan mengundang bahaya besar bagi kita" kalimat yang terdengar begitu menakutkan bagi Naya membuatnya cepat mendorong tubuh Januar.


"Ha ha ha.."Januar tergelak lepas, sangat mudah menakuti Nayanya.


"istirahatlah, aku pulang" ucap pria tampan itu lalu mengusap puncak kepala Naya dan mengecupnya lembut.


Naya mengatur nafasnya begitu Januar pergi.Wajahnya terasa panas, sungguh malu ia pada pria tampan itu.


Kenapa aku jadi begini, dia selalu membuatku senam jantung,ucap batin Naya lalu melangkah ke kamarnya untuk mandi dan istirahat.


Pagi Hari Kevin bangun dengan penuh semangat, ia berencana menemui Naya untuk menanyakan rencananya meminang wanita itu, setelah beberapa kali urung karena pimpinan Tinar Perkasa selalu menggagalkan rencananya yang sudah ia susun dengan matang.Kini Kevin bertekad untuk melamar Naya dan akan meminta ijin pada Ningsih sang ibu tirinya.


Anggukan para karyawan yang menyapa di balas senyum ramah Kevin, karena sifat hangat dan ramahnya membuat pria itu dekat dengan para karyawan.


Setelah menyerahkan tugas hari ini pada sang asisten juga tim nya, Kevin langsung melajukan kereta besinya menuju Tinar Perkasa, senyumnya selalu tersungging di sepanjang perjalanan, ia sudah membayangkan Ningsih akan menerima pinangannya, wanita itu hanya membutuhkan uang dalam jumlah banyak dan Kevin telah menyiapkannya untuk meminang Naya, berapapun yang Ningsih minta akan ia wujudkan asal Naya bisa menjadi miliknya.


Karena melewati salon Elis, Kevin pun menyempatkan untuk mampir sejenak, ia ingin meminta pendapat pada salah satu sahabat Naya itu.


Suasana salon masih tampak sepi karena memang salon buka pukul sembilan.


"Hai Vin,tumben ada angin apa yang membawamu ke sini? atau kau ingin merapikan rambutmu?" tanya Elis ramah.


"Rambutku tak perlu di rapih kan karena hatiku lah yang sedang tak karuan" jawab Kevin puitis.


"Ciee-ciee, mirip pujangga sedang galau saja kau Vin?" gurau Elis.


Kevin tersenyum masam, memang Naya begitu membuat dunianya jungkir balik, debaran hatinya selalu tak menentu, apalagi saat ia jauh darinya, Kevin selalu merasa tak tenang ia ingin terus berada dekat dengan Naya.

__ADS_1


"Aku ingin mengungkapkan maksud dan keinginanku pada Naya"ucap Kevin jujur.


"Memang apa yang kau ingin dari Naya?"meski Elis sudah menebak tapi ia ingin memastikan dugaannya.


"Aku ingin melamarnya."


Elis terdiam, tentang perasaan Kevin pada Naya memang tak di ragukan lagi, ia bahkan masih mengharap Naya menjadi miliknya setelah status janda yang kini ia sandang.


Tapi kali ini masih ada rintangan yang lebih besar yang harus Kevin hadapi, karena rival kali ini cukup berat.


"Apa kau sudah mengatakan maksudmu pada Naya?"


"Sudah, tapi ibu tirinya kembali menjodohkannya dengan pemuda pilihannya" terang Kevin.


"Ternyata wanita itu masih saja belum berubah, Naya masih di jadikan senjatanya untuk mendapatkan uang setelah kematian suaminya."


"Hhhmm sudahlah mungkin itu jalan hidup yang harus di lalui Naya, sekarang aku berharap berhasil meminangnya aku akan berusaha membahagiakan dan menghapus penderitaan hidup yang telah di lewatinya."


"Berjuanglah, do'aku untukmu" Elis menepuk bahu sang sahabat dengan hati miris, dari sorot matanya Elis tahu hati Naya berlabuh pada siapa.


Kevin kembali melajukan mobil menuju Tinar perkasa, menurut perhitungan waktu ia akan sampai pas istirahat siang, maka atasannya tak akan lagi berhak menghalanginya.


"Nay, datanglah ke kedai di sebrang gedung Tinar, aku menunggumu di sana, ada yang harus aku sampaikan padamu ...PENTING" kalimat yang Kevin kirim sengaja ia akhiri dengan hurup kapital.


Beberapa menit belum juga ada tanggapan dari Naya membuat pria tampan berjas itu tak tenang.


kedai yang memiliki area parkis cukup luas membuat Kevin dengan mudah memarkirkan mobilnya, suasana masih lengang karena para karyawan belum istirahat.

__ADS_1


Di meja yang terletak menghadap langsung ke gedung Tinar Kevin kini duduk menunggu kedatangan Naya dengan hati cemas.


Pesan sudah centang biru dua, pertanda sudah terbaca tapi belum juga Naya membalas.


"Beri jawaban sekarang Nay plis.."gumamnya lirih.


Namun kecemasan akhirnya sirna kala matanya menangkap sosok Naya keluar dari gedung.


Kevin tersenyum bahagia, ingin rasanya ia berlari dan memeluk tubuh ramping nan mungil itu, hatinya berbunga-bunga kala netra Naya melihatnya dan tersenyum manis lalu melambai tangan ke arahnya.


"Hai Vin? Tumben kau makan siang di sini, apa kau sedang perjalanan bisnis?" tanya Naya lalu duduk di kursi yang sudah di tarik Kevin.


"Hmm aku sengaja menemuimu" jawabnya singkat.


Naya hanya mengedikan alis, ia cukup heran karena Kevin lebih memilih kedai sederhana untuk menemuinya.


Pelayan datang membawa pesanan Kevin, dua orange squash dan dua mie pangsit goreng spesial membuat Naya berbinar, makanan receh yang sering ia pesan sejak masa kuliah ternyata masih di ingat Kevin.


"Makanlah, pasti kau lapar, aku sengaja memesannya sebelum kau datang agar kau tak perlu menunggu lama" jelas Kevin.


"Hm terima kasih, kau masih ingat kesukaanku" jawab Naya ceria.


Naya makan dengan lahap, senang Kevin rasanya melihat pipi Naya bagai pipi seekor kelinci yang bergerak cepat mengunyah makannya.


Setelah selesai menghabiskan makan, tiba-tiba Kevin menyodorkan ponselnya ke arah Naya.


"Apa ini?"tanya Naya bingung.

__ADS_1


"Hubungi ibumu dan katakan padanya, kau tak perlu di jodohkan dengan anak lurah itu karena aku yang akan melamarmu secepatnya."


__ADS_2