
Siang yang terik membuat banyak karyawan lebih memilih menghabiskan istirahat di kantor, mereka sebagian memesan makanan lewat online atau menitip temannya yang keluar kantor.
Begitupun Naya, ia sudah beberapa kali balik ke pantry tapi tak ada sosok Ujo yang akan di mintai untuk membelikan makanan.Perutnya yang keroncongan sudah semakin keras berdemo.
Tok tok tok.
"Masuk" ucap Naya sambil memandang siapakah yang nengetuk pintu ruangannya.
Ceklek.
Raut wajah Ujo tersenyum menyembul dari balik pintu.
"Siang Mbak Nay yang manis dan imut, ini ada titipan buat mbak Nay dari Bos Januar."
Kedua alis Naya mengerut, ada acara apakah Bos nya itu hingga mengirimkan makan siang untuknya.
"Ada acara apakah Bang? Apa Tuan mu hari ini sedang ulang tahun?" tanya Naya.
"Entahlah Mbak, tapi sepertinya bukan, karena beliau hanya membeli untuk Mbak Nay saja" jawab Ujo.
"Sudah Mbak, makan saja...jangan di tolak, pamali menolak rezeki" jelas Januar.
"Iya Bang, tolong bilangin terima kasih ya sama Dia, Bang Ujo mau ke ruangannya kan?"
"Siap Mbak nanti saya sampaikan soalnya sekarang beliau sedang di luar."
Naya mengangguk lalu membuka nasi kotak pesanan Januar dan memakannya dengan lahap, mungkin ia bermaksud mengganti makanan yang di habiskannya pagi tadi, pikir Naya.
Sementara di sebuah restoran mewah Januar sedang duduk santai setelah menikmati makan siang, dan sebelumnya meminta pihak resto untuk mengirimkan makan siang ke perusahaannya untuk Naya.
Hari ini ia berencana meninjau proyek pembangunan gedung yang sudah di pegangnya cukup lama, namun karena saat ini masih jam istirahat siang Januar memutuskan makan siang di restoran tersebut.
Di tengah asiknya menikmati suasana siang nan sejuk di dalam restoran, tatapan Januar terfokus pada satu titik, tampak sepasang kekasih sedang berjalan menuju ke pintu luar restoran.
Wanita cantik bergelayut manja di lengan sang pria yang berwajah datar, dan yang lebih menarik perhatian Januar adalah pria tersebut yang tempo hari ia lihat sedang memandang tajam ke Naya.
Cih dasar lelaki buaya, sudah memiliki wanita tapi masih saja tergoda dengan wanita lain apalagi sudah menjadi istri orang, batin Januar.
__ADS_1
Melihat pasangan tersebut tampak sang wanita sangat manja, namun wajah cantiknya tak membuat sang pria membalas perlakuan romantisnya, dari raut wajahnya Januar melihat tatapan sebaliknya dari sang lelaki, datar dan dingin.
Setelah membayar makanan Januar pun melangkah keluar dari restoran, pasangan tersebut terlihat memasuki mobil mewah di parkiran yang tak jauh dari mobil Januar berada.
"Mas Danu, kenapa wajahmu murung honey....apa yang mengganggu hatimu heum?" tanya sang wanita yang terdengar jelas di telinga Januar.
Namun tak ada jawaban dari sang pria, membuat wanita cantik manja tersebut terus merengek merayunya.
Cih dasar murahan, Januar membatin sinis lalu melajukan mobilnya keluar parkir restoran, dari sudut matanya mobil pasangan tersebut pun ikut berjalan di belakangnya.
Karena bertepatan dengan jam istirahat siang, Januar terpaksa harus bersabar saat laju mobil berhenti karena terjebak kemacetan panjang.
Dan sialnya lagi ia harus rela di suguhi pemandangan yang memanaskan mata, karena mobil mewah yang berisi sepasang kekasih tadi tepat berada di depan mobilnya.
Sial mimpi apa Gue semalam,rutuknya sambil meremat kemudi.
Wanita di dalam mobil tersebut mencium sang lelaki dengan panas, meski tak mendapat respon namun tak membuatnya menyerah.
Di tengah ke macetan panjang itu, ia gunakan kesempatan untuk mencumbu sang pria dengan penuh gairah.
Berkali-kali Januar membuang matanya jengah sambil menyumpah panjang pendek pada pasangan tersebut.
"Brengsek sialann...." umpatnya memukul kemudi.
"Kalau mau mesum di kamar woy...."sambungnya lagi, di tengah cuaca terik dan di tengah kemacetan tapi malah mendapat tontonan langdung fllm panas gratis yang membuat tubuhnya panas dingin.
Mukanya pun kini berubah menjadi merah kala teringat adegan di blue film yang pernah ia tonton.
Dan siksaan yang januar dapat pun berakhir seiring mobil yang mulai melaju perlahan.
Januar mengibaskan kemeja putihnya yang sedikit basah oleh keringat, orang lain yang bermesraan tapi dia yang merasa gerah.
Beruntung jalanan mulai lancar, mobil yang di kendarai Januar pun mulai memasuki lokasi pembangunan gedung.
Sementara Silvy masih terus berusaha membuat Danu tersenyum, entah apa yang membuat sang kekasih bersikap dingin, jika biasanya ia akan gampang merayu pria tampan itu hanya dengan kecupan ringan di bibirnya tapi kali ini Danu tampak datar dan acuh padanya.
Danu memasuki rumah megah Silvy setelah Danu terpaksa mengikuti kemauannya untuk makan siang di restoran, Sam yang belum juga mengirimkan bukti baru padanya membuat Danu tak bisa berbuat banyak, ia akan memutuskan Silvy jika memang bukti-bukti lengkap sudah ada di tangannya.
__ADS_1
"Maaf aku tak bisa turun, ada acara penting satu jam lagi" ucap Danu datar.
Silvy mencebik kesal sambil bergelayut manja di lengan Danu.
"Waktu satu jam kan lama honey, apa kau tak ingin menghabiskan waktu denganku dulu, ku rasa cukup untuk kita melepas rindu" nada ucapan Silvy terdengar merdu mendayu di telinga namun Danu berusaha untuk tetap kuat, wanita itu telah membohonginya, ia bermain gila di belakang dan tak akan Danu maafkan sekalipun Silvy bersujud di hadapannya.
"Tidak, aku harus menyiapkan berkas, hari ini Sam tidak masuk"jawab Danu.
Sementara Silvy masih asik menyesap leher Danu bahkan meninggalkan jejak merah dengan jelas di kulit leher pria tampan itu.
"Ck keluarlah, waktuku tak banyak Sil" ucap Danu mengurai pelukan Silvy.
"Kau sekarang aneh honey, apa kau marah padaku..." Silvy menatap Danu sayu.
Danu diam tak perduli, ia menghidupkan mesin mobil, berharap silvy segera keluar.
"Baiklah honey, mungkin sekarang harimu sedang buruk, hubungi aku kalau kau rindu muaach" Silvy dengan santai mencium bibir kenyal Danu bahkan menyesapnya sekilas lalu keluar dari mobil.
"Bye honey...." Silvy melambai mesra namun Danu tetap acuh.
Sementara itu di Tinar Perkasa.
Karena Januar sedang di luar, dan agenda pun selesai, Naya pulang pukul lima sore.
"Bang Ujo, kalau nanti Bos datang dan nanyain, bilangin aku sudah pulang" pesan Naya.
"Siap Mbak cantik."
Naya pun pulang dengan lega, pulang sore hari sangatlah jarang untuknya, biasanya ia menambah jam kerjanya untuk lembur hingga baru bisa pulang saat matahari sudah berangkat ke peraduannya.
Sesampainya di apartement Naya langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa, Danu tak akan pulang se sore ini jadi ia bisa sedikit bersantai sejenak lalu masak untuk makan malam.
Berbeda dengan Naya yang sedang mengistirahatkan tubuhnya Danu tampak tegang dengan mata tajam menatap beberapa lembar poto yang Sam bawa.
Tangannya bergetar, bahkan rahangnya mengembung dengan gigi saling beradu keras.
Sam hanya bisa menelan ludah kasar, sudah ia duga sang Bos akan murka dan hancur, tapi ia memang harus melakukannya, Sam tak ingin Danu semakim dalam terperosok dalam jeratan tipu ular berbisa berparas wanita cantik nan licik bernama Silvy.
__ADS_1