Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Calon Janda


__ADS_3

"Lu bener nggak apa-apa ninggalin salon Elu?" tanya Naya pada Elis.


"Ah nyantai aja, tim ku pada ahli kok" Elis berucap sambil mengacungkan jempolnya.


"Iya tapi kan biasanya weekend salon malah ramai, banyak pelanggan datang akhir minggu."


"Ah apalah artinya melayani pelanggan yang hanya menginginkan jasa ku di bandingkan dengan sahabat terbaikku yang selalu menemani suka dukaku" timpal Elis dengan mengedikan alisnya berkali-kali.


"Terima kasih, sekarang hanya Elu tempat Gue berbagi cerita..."ucap Naya sendu.


"Nggak lah, si lampir juga masih perhatian kok sama Elu, hanya jarak dan waktu saja yang memisahkan kita, tapi hati kita tetaplah dekat."


Naya tersenyum haru lalu memeluk Elis erat.


Elis lama tertegun, Naya tetap tak melepas dekapannya, bahkan kini terdengar isakan lirih dari mulutnya.


"Hei...hei..Lu kenapa Nay? Napa malah nangis?"tanya Elis heran lalu mengurai tubuh Naya, yang ternyata air matanya telah jatuh bercucuran.


Naya menggeleng cepat lalu menyusut air matanya, ia tak mau sahabatnya pun mengetahui sedih dan hancur hatinya.


"Nggak Gue cuma terharu aja, Lu masih perhatian sama Gue.." kilah Naya bohong.


"Heum, kita akan tetap selalu bersama ...katakanlah apa yang membuat hatimu risau, se enggaknya meski kami tak bisa membantu, tapi hatimu bisa sedikit lega Nay" bujuk Elis, ia tahu dari raut wajah Naya, yang tak pintar menyembunyikan kegundahan hatinya, dan Elis tahu hal itu.


Suasana mendadak hening, keduanya memilih duduk di rumput yang terletak agak jauh dari jalan raya hingga tak banyak pengunjung yang berlalu lalang, biasanya akhir minggu Taman kota memang ramai oleh banyak orang yang kebanyakan keluarga yang ingin menghabiskan waktu bersama dengan murah meriah.


Sambil menyantap macaroni yang di buat Naya, Elis sesekali melirik wajah Naya yang muram.


Beberapa kali Naya menghela nafas berat, sesak dadanya membuat ia seakan sedang berada di antara himpitan batu besar.


Naya memandang Elis ragu.


"Aku rasanya tak sanggup lagi terus bersama Mas Danu ..."akhirnya Naya berucap lirih.


"Lepaskanlah jika memang tak sanggup kau genggam, kau sudah cukup berusaha... namun jika memang jodohmu dengan suaminu hanya sampai di sini maka relakan lah dan yakinlah, Tuhan sudah mempersiapkan jodohmu yang lain yang pasti akan lebih baik dari Mas Danu mu itu, sulit meyakinkan lalat bahwa bunga jauh indah dari pada sampah.."

__ADS_1


Naya menatap sang sahabat, dari kalimat yang di ucapkan apakah Elis mengetahui bahwa Danu memiliki wanita lain selain dirinya.


"Jangan menahan luka terlalu lama, semakin dalam luka kau derita maka akan semakin sulit kau menyembuhkannya...percayalah, kami mendukung apapun keputusan yang kau ambil..." kembali Elis berusaha meyakinkan sahabatnya agar keraguan hatinya sirna.


Sebagai sahabat, Elis dan Tiwi diam-diam menyelidiki siapa sebenarnya Danu, pria berdarah biru yang di jodohkan dengan Naya, dan kenyataan menyakitkan telah mereka dapatkan, Danu bermain gila di belakang Naya yang selalu setia dan tulus padanya.


Geram hati Tiwi dan Elis kala itu, dari informasi yang Tiwi katakan bahwa wanita yang menjadi kekasih Danu hanyalah wanita murahan yang hanya mengincar pria berharta dengan bayaran kepuasan di atas ranjang.


Elis dan Twi geram bukan main, tapi mereka tak sanggup melihat hati Naya hancur jika pernikahan yang masih dalam hitungan minggu akhirnya harus kandas.


"Apa kurangku selama ini, aku berusaha sebaik mungkin untuk selalu memperhatikannya, membuat makan untuknya, dan berdandan untuknya ...tapi apa yang ku dapat Lis, Mas Danu tak pernah memandangku ada, bahkan ia tak pernah menyentuhku....sementara di luar, ia bermain gila dengan wanita lain hiks...."


Derrr.


Mata Elis membulat, jadi Naya sudah tahu jika suaminya bermain gila dengan wanita lain, tapi kenapa dia diam saja, pikir Elis.


"Kau tahu suamimu ....?"Elis tak sanggup meneruskan kalimatnya, mata Naya kini tampak berkaca-kaca.


Naya mengangguk pasti.


Tubuhnya terguncang hebat, hancur hatinya kala pertama kali melihat warna merah di dada sang suami adalah jejak cinta dari wanita lain, ia melihat saat Danu yang tak sadar beberapa kancing kemeja nya terbuka.


Jika sikap dingin Danu selama ini masih bisa Naya terima, tapi hatinya tak kuat jika ternyata suaminya memiliki hubungan terlarang dengan wanita lain sedangkan dirinya yang sebagai istri sah tak pernah ia sentuh.


"Aku tak kuat lagi Lis hiks..hiks...sakit banget rasanya, dia selalu memandangku jijik tanpa alasan, sedangkan dirinya dengan bebas menikmati tubuh wanita yang bukan istrinya."


Elis mengusap punggung Naya yang bergetar, dadanya pun ikut merasakan denyut nyeri.


"Apa yang harus aku lakukan Lis, aku sudah tak tahan lagi, aku sungguh tak sanggup Lis....huu huuu..."


"Danu brengsek.....dasar laki-laki bejat, tak punya hati, mati lah kau" umpat Naya seakan tak sadar.


"Sstt cup..cup...cup" Elis berusaha menenangkannya.


Elis hanya diam, saat ini ia hanya ingin menjadi pendengar yang baik bagi sahabatnya itu, ia ingin Naya merasa lega, menumpahkan isi hati yang selama ini terpendam akan sedikit mengurangi sesak di dadanya.

__ADS_1


Dengan lembut Elis terus mengusap pungung Naya dan membiarkan wanita malang itu menuntaskan tangisnya.


Beberapa pengunjung taman sempat melirik pada kedua wanita yang saling memeluk itu tapi Elis tak perduli.


Satu jam sudah Naya menangis dan mengeluarkan semua sumpah serapahnya yang ia tujukan pada sang suami, dan Elis pun hanya tersenyum miris.


Tinggalkanlah dia...kau berhak bahagia, Elis membatin.


Hari mulai senja, taman kota mulai sepi karena para pengunjung sebagian besar sudah pulang.


"Nay ayo kita pulang" ajak Elis lirih, namun Naya menggeleng cepat.


"Aku tak mau pulang, aku tak mau lihat lelaki brengsek itu lagi" jawab Naya geram.


"Kalau begitu ayo kita pergi ke suatu tempat, kita senang-senang."


Naya memandang Elis, menerka tempat mana yang elis maksud.


Jika biasanya mereka menumpahkan semua kesedihan saat bertiga, maka Bir lah yang menjadi pilihan mereka, dan itu pun mereka minum di apartement Tiwi, namun saat ini Tiwi sudah tidak berada lagi di apartement.


"Eh nyong Lu masih ada persediaan penghilang puyeng di apart Lo nggak?" tanya Elis lewat ponselnya.


"Hmm ada banyak, Lu mau? Sama siapa Lu minum?" Tiwi balik tanya.


"Nih si calon janda lagi kliyengan..." jawab Elis santai.


"Aawwhh.." pekik elis saat Naya men toyor kepalanya.


"Kejam amat Lu sama sahabat ngedo'a in jadi janda" hardik Naya kesal.


"Biarin jadi jendes tapi kan terhormat, dari pada punya suami tapi laki bejat" timpal Elis santai.


"Hei..ada apa ini?"Tiwi merasa heran dengan kalimat kedua sahabatnya itu, namun ia sudah menduga kalau Naya akhirnya menyadari siapa sebenarnya suami yang selalu di agung-agungkannya itu.


Masih banyak lelaki sejati di luar sana yang akan berlomba mendapatkanmu Nay.

__ADS_1


__ADS_2