Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Api Cemburu


__ADS_3

Sore hari baru mereka pulang, setelah Naya pun terlihat cukup letih.


Sepanjang perjalanan Naya menyandarkan tubuhnya di kursi dan akhirnya ia pun tertidur lelap.


Tidurlah dalam mimpi indahmu, buanglah semua memori yang menyedihkan dari kepalamu, dan mulai saat ini aku akan menggantinya dengan kenangan indah yang akan mengikis sakit di hatimu.


Jika Januar tengah di landa rasa bahagia karena bisa menikmati kebersamaan dengan Naya penuh canda dan tawa, berbeda dengan Danu.


Seharian pekerjaanya terbengkalai karena polisi kembali memanggilnya, mereka menanyakan keberadaan Silvy padanya.


"Bos ini berkas klien yang harus kau tanda tangan, dan ini agenda untuk besok" ucap Sam sambil menyodorkan buku kecil dan beberapa berkas sepulang dari perusahaan.


"Taruhlah di situ Sam, aku sangat lelah" jawab Danu lemas sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Mau saya buatkan minuman Bos?" tawar Sam.


"Heum" Danu menjawab singkat sambil melihat ponselnya.


"Sam, apa kau kenal pria manis yang bersama Januar ini, kulihat mereka cukup akrab" Sam menyodorkan ponsel pada asistennya.


Sam melihat dengan teliti lalu mengerutkan alisnya.


"Masa kau tak mengenalnya bos?"


"Aku memang tidak mengenalnya Sam, makanya aku tanya padamu, siapa pria yang bersama Januar itu?."


"Ya Tuhan... Bos, dia bukan lelaki, dan coba kau lihat dengan teliti, kalau perlu kau ambil kaca pembesar, dia adalah Non Naya bos, istrimu..." terang Sam dongkol, bagaimana mungkin atasannya tak paham wajah istrinya sendiri.


Danu memandang Sam tak percaya lalu mendekatkan wajahnya seperti apa yang Sam intruksikan.


Dan darahnya tiba-tiba terasa mendidih, ternyata wajah manis yang ia kira lelaki ternyata adalah wajah wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri.


Pantas saja di lihat sekilas dia begitu manis, batin Danu.


Lalu pria tampan itu menscrolling dengan cepat, banyak poto-poto kebersamaan yang januar opload bersama Naya dan dua sahabatnya di pantai hari ini.


Danu mengerutkan alisnya saat lebih teliti ada banyak foto candid Naya.


Kenapa pria itu memposting foto Naya lebih banyak dari fotonya sendiri, sialan apa maksudnya pria itu?, hati Danu semakin geram di bakar api cemburu.


Naya tampak bahagia dan tersenyum lepas, terlihat begitu manis.


Aku harus segera menangkap orang yang telah mencelakai Naya, agar ia mau kembali lagi bersamaku, jika orang itu sudah tertangkap maka Naya pasti akan memaafkanku dan mau kembali padaku, ucap batin Danu.


"Bos ini minumnya."


"Sam, kenapa polisi belum juga menangkap Silvy? Apa lagi yang mereka cari?" tanya Danu kesal karena Silvy masih bebas berkeliaran.


"Mungkin mereka masih membutuhkan bukti untuk menangkapnya bos, mereka harus menemukan banyak bukti-bukti untuk menangkap Non Silvy agar nantinya non Silvy tak bisa lagi mengelaknya."

__ADS_1


Danu manggut-manggut mendengar penjelasan Sam.


"Memangnya kenapa anda ingin non Silvy segera di tangkap Bos?."


"Aku harus cepat buktikan pada Naya bahwa aku tak bersalah, agar Naya mau memaafkan dan mau lembali bersamaku" jawab Danu.


"Ya semoga saja bos, semoga saja non Naya masih mau menerima mu kembali."


Sekarang saja kau sudah mulai tergila-gila, dari dulu kemana saja bos, batin Sam.


Danu melangkah dengan lesu ke kamarnya, setelah ia meminta Sam untuk memesakan makan malam lewat online.


"Bos saya pamit pulang, saya sudah pesankan makan malam, mungkin sebentar lagi datang."


"Oke trima kasih."


Karena tubuh yang terasa lengket, Danu pun segera membersihkan badannya.


Danu makan dengan lahap setelah kurir datang mengantarkan pesanannya?semenjak Naya tak ada lagi, dapur terasa dingin dan sepi, meski Danu makan selalu di luar tapi Naya tetap memasak, pagi dan sore sepulang kerja.


Danu menatap ruangan dapur yang selalu bersih karena tak pernah ada lagi yang menggunakannnya.


Pulanglah Nay, dan masaklah untukku, aku janji apapun yang kau masak pasti akan aku makan, ucap batin Danu.


Tak ingin kesedihannya berlanjut Danu pun segera ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan berkas dari Sam.


Alarm berbunyi nyaring pukul enam pagi, dengan semangat menyala Danu bergegas bersiap untuk ke kantor, dengan setelan Jas terbaiknya ia sudah bersiap.


Danu ingin terlihat istimewa hari ini, ia tak mau kalah dengan pesona Januar yang bahkan tujuh tahun lebih muda darinya, tapi pesona pria itu memang Danu akui cukup besar, banyak karyawannya memcuri pandang ke arahnya saat pria itu masih berjambang, apalgi sekarang dengan tampilan yang tampak jauh lebih muda, pastilah Januar akan menjadi pusat perhatian karyawan wanita di kantor Danu.


Teet.


Ceklek.


"Ayo kita langsung berangkat" ucap Danu membuat Sam yang baru datang terkejut, tak biasanya bosnya sangat bersemangat berangkat ke kantor, bahkan setelan jasnya Sam lihat tak biasa, Sam tahu rata-rata harga jas milik Danu, dan yang ia pakai hari ini adalah jas yang berharga di atas rata-rata.


"Kenapa, aku tampan kan?"tanya Danu santai saat Sam meneliti penampilannya daru ujung kaki hingga kepalanya.


Sam hanya mengusap dagunya lalu mengacungkan jempol ke arah Danu.


"Lumayan" ucapnya jujur.


Danu sontak memelototkan matanya ke arah Sam, tak rela jika penampilannya di nilai pas-pas an oleh sang asisten.


Sam langsung berlari ke dalam ruangan mengambil berkas yang akan ia bawa agar tak jadi sasaran kemarahan Danu.


Keduanya pun menuju kantor.


"Makan dulu bos?" tanya Sam saat melewati sebuah rumah makan.

__ADS_1


"Tak usah nanti ketinggalan meetingnya" jawab Danu.


Tumben amat bos takut ketinggalan meeting, biasanya dia yang bikin kesal orang karena selalu datang meeting telat, batin Sam.


Bahkan Danu mendahului Sam yang sedang memarkirkan mobilnya, Danu langsung menuju lantai di mana ruangannya berada.


Ia ingin menguasai materi rapat sebaik mungkin, ia tak mau Januar memandangnya sebelah mata karena selalu mengandalkan sang asisten.


Sam menaruh berkas dan map berisi materi meeting, di atas meja Danu.


"Mau kopi bos?" tanya nya.


Danu menggoyangkan tangannya menolak.


"Apa klien sudah datang?" tanya nya.


"Belum Bos, belum ada pemberitahuan dari pihak personalia" jawab Sam.


Setelah menunggu tak sabar, Januar pun akhirnya datang sepuluh menit lebih lambat.


Bersama Jefry yang menggantikan posisi Naya sebagai asisten.


Meski baru beberapa hari menjabat menggantikan posisi Naya, tapi Jefry sudah mulai menguasai bagaimana kerja sebagai seorang asisten.


Bahkan Januar sangat terbantu dengan pria kekar itu, kecerdasannya pun tak kalah dari Naya.


Meeting akhirnya berjalan dengan lancar dan berakhir setelah berjalan lebih dari satu jam.


Setelah saling berjabat tangan Januar pun melangkah di ikuti Jefry ke luar ruangan.


"Maaf bisa bicara sebentar tuan Januar" ucap Danu formal.


Meski sedikit kaget tapi Januar sebenarnya sudah mengira akan hal ini, jadi ia pun bersikap tenang.


"Jef, tolong kau tunggu di mobil" titah Januar, Jefry hanya membalas dengan anggukan lalu pergi meninggalkan keduanya, begitu pun Sam.


Kedua pria tampan itu kini saling berdiri dan bertatap tajam, pesona keduanya sungguh sulit di bandingkan.


Danu dengan tubuh kekar dan rahang tegas tentu saja menjadi idaman para wanita yang melihatnya apalagi dengan tatapan mata tajam, mudah baginya untuk menaklukan wanita manapun.


Sedangkan Januar yang berparas manis baby face, dengan bibir tipis bergelombang dan hidung mancung berhias alis mata tebal, orang pasti akan mengira umurnya masih belasan.


"Apa yang ingin kau bicarakan Tuan Danu" sapa Januar tenang.


"Aku hanya ingin memperingatkanmu agar menjaga jarak dengan Naya, akan kupastikan Naya kembali padaku, jadi jangan kau coba untuk menyentuhnya"ujar Danu tegas.


"Tentu, dengan senang hati aku akan menyerahkan Naya kembali padamu, tapi ingat, jika sekali lagi kau berani menyakitinya, maka aku akan merebutnya kembali dari tanganmu, maka sebelum itu, jaga perilakumu agar Naya tak sampai tahu betapa bejat kau di belakangnya" kalimat Januar menyerang Danu telak.


"Pastikan dia tak lagi mengeluarkan air mata se tetespun, karena jika itu terjadi, maka kau berhadapan langsung denganku."

__ADS_1


__ADS_2