
Januar melangkah tenang menuju kamarnya, meninggalkan Bu Heni yang masih merasa shock dengan tingkah atasan tampannya itu.
"Sayang..bagaimana sakitmu? Apa sudah membaik" pesan yang Januar kirim pada Naya.
"Iya terima kasih, perutku sudah cukup nyaman."
"Kalau begitu tidurlah, besok pagi aku buatkan lagi."
"Tidah usah."
"Kenapa, bukan kah minuman itu harus di minum selama masa periodemu?"
"Perutku hanya sakit di hari pertama, hari berikutnya akan sembuh" Naya beruntung ia sekarang sedang berada di kamarnya, hingga Januar tak bisa melihat wajahnya yang bak kepiting rebus.
"Benarkah? Apa kau tidak bohong?"
"Sungguh" Naya pun mematikan ponsel segera, kalau tidak, Januar akan terus memberondonginya dengan pertanyaan receh.
Dan pagi hari Naya di buat terkejut, segelas minuman herbal sudah berada di meja beserta secarik kertas kecil untuknya.
"Minumlah, hari ini kau tidak usah masuk kantor"
Naya melihat sekeliling apartemen, Sepi..Bu Heni mungkin belanja sayur, Mungkin kah Januar sudah berangkat, pikirnya.
Naya tersenyum lega, memang hari ini pun badannya masih terasa pegal, syukurlah Januar sangat memperhatikan kondisi tubuhnya.
Drrt drrt.
"Sayang..sudah kau minum ramuan buatanku?" ...Januar.
"Ini mau aku minum, apakah benar aku tidak harus masuk kantor, kukira aku tak perlu libur."...Naya.
"Tidak....kau harus istirahat, aku tahu bagaimana sakitnya seorang wanita yang sedang mengalami kram perut saat datang bulannya, dan kau pasti akan sangat tersiksa jika masih bekerja."...Januar.
"Dari mana kau tahu se detil itu?"...Naya.
"Dari Bu Heni, juga aku cari di google,kau cepatlah minum...."...Januar.
"Baiklah, teruma kasih...selamat bekerja❤❤"...kalimat yang Naya akhiri dengan emot cinta membuat Januar tersenyum bahagia.
Hanya bentuk pesan cinta pun sudah membuatku sangat bahagia, apalagi kau ucapkan langsung dengan bibirmu, Januar membatin.
Naya tersenyum lebar saat Januar membalas dengan banyak emot ciuman mesra, hati Naya berdesir hangat, baru kali ini ia merasa begitu di sayang.
Bahkan selama satu minggu Januar begitu memanjakan Naya, dari membelikan banyak makanan manis berbentuk coklat mau pun camilan snack.
Bu Heni bahkan ikut senang karena ia pun ikut menikmati makanan dari Januar.
Lima hari sudah Naya tak masuk kantor, dan pagi ini pun ia harus memaksa Januar untuk mulai masuk bekerja.
"Bagaimana sakitmu, besok sidang putusan, apa kau bisa mengikutinya" tanya Januar sambil memegang kemudi.
"Heum aku sudah sangat baik."
__ADS_1
Januar tersenyum lega, beberapa hari tak memegang tangan Naya sungguh terasa hampa hari-hari nya, hari ini ia ingin melampiaskan nya dengan terus menggenggam jemari Naya erat, ia bahkan memperlambatkan laju mobilnya agar mereka bisa lebih lama duduk berdekatan.
"Apa kau nanti akan menerima apapun keputusan hakim?"tanya Januar.
Naya mengerutkan alis" Maksudnya?."
"Kalau misalnya hukuman yang di terima Silvy tak sesuai keinginanmu apa yang akan kau lakukan?."
"Entahlah, apa pun keputusannya aku akan menerimanya dengan ikhlas, jika kita terus mengharap semua keinginan kita bisa terwujud, maka kita akan mati dalam keserakahan tiada henti, aku sudah cukup lelah dengan sidang-sidang yang sangat menguras energi dan fikiranku, aku yakin Aslan sudah mengerahkan semua kemampuannya, dan aku tak ingin membuatnya kecewa jika aku masih menuntut banding."
Januar mendesah, ada rasa tak suka di hatinya saat Naya memuji pria lain.
"Jadi bolehkah setelah sidang usai besok, aku pindah dari apartemenmu?."
Tentu saja dengan hukuman yang akan di terima Silvy berarti keamanan Naya pun akan terjamin, dan bisa tenang tinggal di apartemenya sendiri.
"Apa tidak bisa nanti saja setelah sidang perceraianmu?"protes Januar, ia masih tak rela berpisah dari Naya.
"Hmm malang sekali nasibku, setelah beberapa kali sidang kecelakaan kini sidang perceraian sudah menungguku" desah Naya murung.
"Apa maksudmu? jangan katakan kalau kau akan mengurungkan niat untuk bercerai dengan suamimu itu" netra Januar tajam menatap Naya.
"Kau sungguh tak sabar sekali Tuan Januar" hardik Naya ketus.
"Itu karena aku tak ingin jauh darimu, aku ingin kau segera menyelesaikan urusanmu dengan Danu, dan sesegera mungkin menikah denganku."
Naya tersenyum masam dan mengurai genggaman januar karena saat ini mobil mereka sudah sampai di parkiran gedung Tinar Perkasa.
Januar hanya mencebik melihat keduanya yang kini berpelukan erat.
Cih dengan sesama wanita saja kau mesra, tapi dengan kekasihmu sendiri,dinginnya seperti kutub utara, umpat Januar sambil berlalu menuju kantor.
"Mbak bagaimana sakitmu? apa benar-benar sudah sembuh?"
"Memang siapa yang bilang aku sakit?"
"Pak Januar yang bilang kalau kau sedang sakit keras makannya tidak bisa masuk kerja, aku sangat cemas Mbak, syukurlah kau sudah sembuh."
Naya hanya mengumpat panjang pendek dalam hati, Januar sering berbuat sesuka hatinya.
Kedua wanita cantik itu berjalan memasuki ruangan.
"Waduh, waduh, waduh...mimpi apa saya tadi malam, pagi-pagi lihat dua bidadari cantik di depan mata saya" sapa Ujo hangat.
"Ah Bang Ujo bisa aja,mana ada dua bidadari, yang benar tuh ....satu bidadari satunya lagi dayang-dayang" timpal Vega.
"Ish kau ini, mana ada bidadari bersuami" timpal Naya cemberut.
Ketiganya tergelak, suasana ruang Naya menjadi hangat, Ujo pun kembali meneruskan membersihkan ruangan di pantry.
"Eh Mbak Nay, gimana sidangnya? Besok sidang akhir ya?"tanya Vega.
"Iya Ga, semoga saja semua cepat berakhir, aku tak suka berada di ruangan itu."
__ADS_1
"Heum, yang sabar ya Mbak, dan aku pasti berdo'a semoga urusan segera selesai, dan Mbak Naya bisa aktifitas kembali seperti biasa."
Naya mengangguk dengan senyum tulus.
"Oiya Mbak, ini berkas yang harus di tanda tangan Pak Jan, maaf aku harus mendistribusikan dokumen ini ke personalia" Vega berucap cepat lalu bergegas meninggalkan ruangan.
Naya menghela nafas panjang, kalau masuk ke ruangan Januar pastilah tak akan sebentar, pikirnya.
Tok tok tok.
"Masuk" Naya merasa sedikit lega karena Ujo ternyata juga berada di ruangan itu, tak ingin membuang kesempatan Naya bergegas meninggalkan ruangan setelah menaruh berkas di meja Januar.
"Tunggu, Jo kau pergilah" titah Januar dengan wajah datar sedangkan Naya kini diam berdiri di tempatnya, entah apa yang akan Januar katakan karena menyuruhnya tinggal.
Ujo mengangguk lalu pergi.
Ceklek.
Januar tersenyum smirk setelah mengunci pintu ruangan.
"K kenapa pintunya di ..."
Januar meraih pinggang Naya hingga tubuh rampingnya menabrak Januar.
"Heum, apa kau tidak merindukan aku sayang, tahukah kau aku sekarat tanpamu...."racauan Januar lirih dengan suara beratnya di tengkuk Naya.
Bulu halus Naya meremang saat hembusan nafas Januar menerpa jelas tengkuknya bahkan bibir Januar yang basa mulai mendaratkan ciuman ringannya.
Tak dapat di pungkiri Naya pun mulai terhanyut dalam dekapan erat Januar, matanya pun terpejam meresapi sapuan bibir Januar di punggungnya.
"Aku sangat rindu padamu?"kalimat berat Januar membuat Naya memalingkan wajahnya, kini wajah mereka hanya berjarak sejengkal, netra Januar memandang Naya intens.
"Rindu?kita bertemu setiap hari bahkan kita tidur di atap yang sama" sanggah Naya.
"Tapi aku tak dapat memelukmu sayang, apakah hanya aku yang merindukanmu, apa hanya aku yang tersiksa."
"B bukan begitu, t tapi..."Naya kian gugup karena Januar perlahan memajukan wajahnya, bahkan kini pria manis itu meraih dagu Naya dengan lembut.
Dan ruangan luas yang hening itu pun menjadi saksi saat bibir keduanya menyatu, cukup lama keduanya saling melepas rasa yang selama ini tertahan di dada, Januar menyesap lembut bibir Naya, bibir yang selalu menggoda dan membayang di pelupuk matanya.
Januar tersentak saat Naya mendorong tubuhnya hingga ciuman mereka pun terurai.
"Kenapa?" protes Januar tak rela kemesraan mereka terhenti.
Naya menggeleng cepat.
"T tidak..ini salah, kita tidak boleh melakukannya, aku masih berstatus seorang istri ...."Naya memandang Januar, ada rasa sesal di hatinya, kenapa ia bisa semudah itu terbuai hingga melakukan perbuatan yang tentu saja sangat salah, ia merasa tak ada bedanya ia dengan wanita murahan.
"Maafkan, maafkan aku...aku tak akan mengulanginya lagi"Januar mengejar Naya yang berlari meninggalkan ruangan.
"Sayang.. tunggu."
Brakk, Ujo hanya cengo saat melihat Januar melangkah berusaha mengejar Naya setelah menabraknya, dan memanggilnya dengan sebutan 'sayang'
__ADS_1