Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Bahagia yang Sederhana


__ADS_3

Pukul sembilan lebih tiga puluh menit, Naya masih asik melihat siaran televisi.


"Apa kau tidak merasa kantuk?" tanya Januar.


Naya menggeleng pelan "Belum, perutku masih terasa begah, sebentar lagi" jawabnya.


Dan Januar pun kembali asik dengan ponselnya, ia melirik ke arah Naya, rupanya asistennya itu tak melihat ponselnya hingga Tiwi mengirimnya pesan.


Januar melihat Naya sekilas, apakah jika ia menanyakan tentang kecelakaan yang menimpanya tak akan membuatnya kembali merasa sakit kepala, pikir Januar.


Kasus itu memang harus segera di selesaikan tapi ia juga tak ingin Naya kembali merasa kesakitan saat berusaha mengingat kejadian itu.


Pukul sebelas Januar melihat Naya sudah terpejam, bahkan remote kontrol masih ada di genggaman tangannya.


Januar lalu bangkit menuju Naya,


Dengan lembut ia menyelimuti wanita yang masih berbalut perban di kepalanya itu ia memandang wajah Naya intens.


Bahkan saat kepalamu terlilit kain pun tak bisa menutupi manis wajahmu.


Tiba-tiba Naya menggeliatkan tubuhnya hingga Januar membeku dengan dada berdebar kencang, sepersekian detik nafasnya tertahan.


Januar mengusap dadanya lega, setelah Naya kembali terlelap.


Januar merebahkan tubuhnya di sofa satu-satunya di ruangan tersebut, karena ukuran sofa lebih pendek dari ukuran tubuhnya, Januar menaikan kakinya ke sandaran sofa, terasa lebih nyaman dari pada tidur di kursi besi yang ada di dekat ruang ICU kemarin, pikirnya.


Lalu pria itupun ikut terlelap.


Pukul empat pagi Naya mengerjapkan matanya, panggilan alam telah membangunkan tidurnya, di lihatnya Januar masih terlelap di alam mimpinya.


Dengan gerakan yang ia buat selembut mungkin Naya bangkit dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi.


Beruntung, meski was-was akhirnya ia berhasil menuntaskan panggilan alamnya tanpa halangan.


Di depan kaca cermin di kamar mandi, kembali Naya menggerakan lehernya pelan, dan rasa pening kepalanya sudah semakin jauh berkurang.


Ia mencoba mengingat kepingan memori kejadian yang membuatnya terbaring di rumah sakit.


Ia ingat saat mobil taxi online yang di tumpanginya menabrak pembatas jalan.


Kening Naya kini berkeringat dingin, ia ingat saat berada di dalam taxi tersebut, seorang pria tiba-tiba muncul dari balik kursi belakang dan membekap mulutnya, membuat Naya berontak dan itu membuat sang supir panik hingga kemudi lepas kendali dan menabrak pembatas jalan.


Naya menundukan kepalanya yang tiba-tiba merasa amat berat dan.


Brakk.


Januar terjingkat dari tidurnya saat mendengar suara benturan keras dari kamar mandi, lau ia bergegas ke kamar mandi dan cepat membuka pintu.


"Naya....!!" teriaknya saat pintu terbuka Naya sedang terduduk dengan tangan meremas kepalanya.

__ADS_1


Januar segera meraih tubuh ramping Naya dan membopongnya kembali ke ranjang lalu merebahkannya.


"Ssttt "terdengar desisan lirih dari mulut Naya, menahan sakit.


Januar pun merengkuh dan memeluknya erat, di usapnya kepala Naya perlahan, jari tangan gadis itu tampak dingin dan wajahnya pun memucat, keringat mulai keluar dari pori-pori keningnya.


"Ssttt tenanglah"bisik Januar lembut sambil tangan terus mengusap kepala Naya yang terbalut perban.


Ceklek.


"Ada apa Tuan" dua perawat datang saat mendengar bel darurat berbunyi berasal dari kamar Naya.


"Entahlah Sus, saya hanya mendengar suara keras dari kamar mandi dan tubuhnya sudah duduk dengan tangan terus meremat kepalanya" terang Januar panik.


Dokter muncul dari balik pintu dan masuk dengan tenang.


"Baiklah tolong lepaskan tubuh Mbak Naya Tuan, biarkan kami akan memeriksanya." ucap Dokter ramah.


Seakan tak rela Januar menatap Naya memastikan ia sudah sedikit tenang.


Dokter pun segera memeriksa kondisi luka Naya juga organ vitalnya, Januar terus menunggu dengan hati cemas.


"Bagaimana dokter?" tanyanya tak sabar.


Dokter mengheka nafas lega "Semua luka Mbak Naya tidak apa-apa, mungkin memori kejadian sedikit demi sedikit muncul hingga membuatnya terkejut, syukurlah Mbak Naya tudak membentur apapun."


"Lalu bunyi keras itu berasal dari mana Nay?" tanya Januar lirih di dekat Naya.


"Aku hanya terpeleset dan jatuh terduduk"jawab Naya.


"Sungguh?" Januar memindai memastikan tubuh Naya tak tergores sedikitpun.


Naya mengangguk meng iya kan.


Dokter dan perawat pun kembali ke ruangannya.


Kini tinggal Januar yang di landa kegundahan, apa semua memori tentang kejadian saat kecelakaan telah kembali Naya ingat semua?.


Naya menatap Januar intens" Pak, aku baru ingat kejadian itu.."ucapnya lirih.


"Jangan terlalu kau memaksakan memorimu, kepalamu masih belum pulih."


"Aku ingat semuanya, iya...itu bukan karena murni kecelakaan."


Januar menatap Naya tajam.


"Aku di rampok oleh sopir taxi online itu Pak, mereka ada dua pria, satu pria duduk di belakang kursi penumpang di belakangku, pria itu membekapku, dan...dan"Naya menutup mulutnya tak percaya, Januar mendekat lalu memegang tangannya erat, berusaha menenangkan wanita itu yang tampak shock.


"Sst tenangkan dirimu, biarlah nanti pihak berwajib yang akan menyelidikinya" ujar Januar lirih.

__ADS_1


Rupanya yang ia tahu kecelakaan itu adalah ulah para perampok, ia tak tahu bahwa suaminya lah dalang di balik itu semua, batin Januar geram.


Tok tok tok.


Perawat datang membawakan nampan berisi sarapan Naya, Januar dengan telaten mengambil nampan tersebut untuk segera menyuapkannya ke Naya.


Naya menghela nafas panjang, melihat menu sarapan dari rumah sakit sunguh tak menarik nafsu makannya.


"Kenapa? Ayo makanlah, setelah ini kau harus minum obat" ucap Januar bijak.


Setengah memaksakan diri, akhirnya Naya berhasil menghabiskan tiga sendok makan bubur yang di sediakan rumah sakit.


"Kau harus banyak makan kalau kau ingin cepat sembuh" jelas Januar sambil menyiapkan obat-obat yang harus Naya konsumsi.


Tak ingin terlalu lama di rumah sakit, Naya pun menghabiskan obat dengan mata terpejam dan alis mengerut.


"Aku ingin pulang" ucapnya tiba-tiba.


"Maka itu,tubuhmu akan cepat pulih jika makanmu banyak."


"Tapi makanan rumah sakit tak enak Pak."


"Apa yang kau ingin makan saat ini?" tanya Januar.


Sejenak Naya tampak berfikir, membayangkan enaknya pagi-pagi makan lontong sayur atau pun nasi uduk pedas, senyumnya pun terbit.


"Aku ingin makan ini" ujarnya sambil menyerahkan ponsel pada Januar.


"Kupat sayur?" tanya pria baby face itu tak percaya.


Naya mengangguk pasti, namun Januar menggeleng pelan.


"Mungkin untuk makanan jenis ini, perutmu belum di perbolehkan?"jawab januar.


"Tapi kalau aku makan itu, mungkin akan habis banyak" protes Naya.


Januar menghela nafas panjang, memang sakit Naya bukanlah sejenis penyakit dari lambung, jadi mungkin tak ada pantangan makanan untuknya.


"Baiklah tunggu sebentar."


Naya tersenyum saat Januar bergegas keluar.


Meski sikapmu dingin, tapi ku tahu kau sangat perhatian Pak, ucap Naya dalam hati.


Tiga puluh menit akhirnya Januar datang dengan bungkusan di tangannya, kebetulan banyak penjual makanan di depan gerbang rumah sakit, jadi mudah baginya untuk mendapat makanan yang Naya ingin.


Dan senyum Naya kembali terbit saat Januar datang.


Makanan receh seperti ini pun sudah membuatmu tersenyum, sesederhana itukah kebahagiaanmu, Januar membatin.

__ADS_1


__ADS_2