Cinta Di Ujung Jalan

Cinta Di Ujung Jalan
Usahaku


__ADS_3

Pukul tujuh Januar baru pulang, suasana apartemen tampak sepi, hanya ada bu Heni yang sedang asik menonton televisi.


"Sore Mas Jan, tumben pulang malam?" sapa Bu Heni ramah.


"Iya bu, ada tinjauan ke lokasi di luar kota."


Bu Heni hanya ber oh ria dan mengangguk pelan.


"Mau makan Mas Jan?"


"Em apa semua sudah pada makan?"tanya balik Januar, ia hanya ingin bertemu Naya, karena sebenarnya ia sudah makan.


"Sudah mas, tadi mbak Naya dan Mbak Elis makan bareng sebelum dia pulang."


Januar menghela nafas kecewa, jika Naya sudah masuk ke kamar maka ia baru akan muncul besok pagi.


"Ya udah nggak perlu hangatin makannya bu, saya juga sudah makan tadi."


Bu Heni terdiam dengan panci di tangannya, yang hendak ia panaskan tapi akhirnya urung.


Kenapa tidak tadi saja langsung bilang tidak, rutuknya dalam hati.


Karena penat Januar pun langsung terlelap setelah membersihkan tubuhnya.


Pukul enam pria manis itu terbangun, sayup terdengar suara dari arah dapur, mungkin bu Heni dan Naya, ia pun bergegas keluar kamar.


Ceklek.


Wajah bantalnya menyembul dari balik pintu, berharap menemukan wajah yang selalu mengusik hatinya.


"Pak Jan, sudah bangun?apa berangkat ke kantornya lebih awal?" sapa Naya dengan senyum manis.


"Ehm tidak, aku hanya mendengar suara tadi orang ngobrol" jawabnya kikuk.


"Oh itu Bu Heni dia mau pamit belanja sayur di tukang sayur di depan gerbang apartemen" terang Naya.


"Hm bagaimana luka di kakimu?"tanya Januar.


"Sudah, membaik kok bentar lagi kering jahitannya" jelas Naya antusias, ia ingin segera memulai aktifitasnya kembali tanpa kursi roda.


Januar tersenyum puas.


"Pak Jan mau sarapan sekarang?"tanya Naya karena nasi goreng dan omelet serta sosis panggang sudah siap di atas meja, buatan Bu Heni.


"Nanti saja, aku belum mandi" jawab Januar lalu bergegas kembali ke kamarnya dengan cepat.


Wajahnya tetap tampan meski masih muka bantal, ucap batin Naya.


Lima belas menit kemudian Januar muncul dari kamar dengan seragam kantor yang pas di tubuh kekarnya.


Setelan jas hitam membuat Januar tampak terlihat lebih dewasa dan mempesona, wajahnya kini selalu ia rawat dengan teratur, rambut halus tak pernah lagi ia biarkan tumbuh di dagunya, ia hanya menyisakan kumis itu pun selalu ia cukur beberapa hari sekali.


Naya menatap januar dengan tatapan intens, selama ini ia tak pernah memperhatikan wajah Januar dengan seksama ataukah memang hari ini debu di matanya telah hilang hingga wajah Januar sangat jelas terlihat lebih tampan dari biasanya.

__ADS_1


"K kenapa melihatku seperti itu, apa ada yang salah?"Januar bertanya sambil mengusap dagu dan pipinya, takut jika ada goresan atau benda yang menempel di wajahnya.


"T tidak, pak Jan tampak mempesona hari ini" jawab Naya jujur.


"Ck, baru sekarang kau menyadari ketampananku" ujar pria itu penuh percaya diri.


Naya hanya terkekeh kecil, ternyata adik sahabatnya itu sangat narsis.


Naya menyiukan nasi goreng dan sosis panggang ke piring Januar lalu menyerahkannya pada pria itu.


Ada rasa hangat menjalar di hati Januar, ia membayangkan kelak itu akan terjadi setiap pagi, setelah mereja terikat dalam tali pernikahan.


"Uhuk uhukk.."Januar membekap mulutnya yang tersedak.Naya cepat-cepat mengulurkan segelas air bening, impian masa depan yang indah di pagi hari membuat fokus makannya terpecah.


Wajah putih Januar memerah, membuat Naya panik.


"Apa nasi goreng ini terlalu pedas?" tanyanya panik.


Januar menggeleng dan menggerakan tangannya.


"Tidak pedas aku hanya mungkin terlalu cepat mengunyahnya" jawab Januar berusaha menenangkan debar jantungnya,saat tangan lentik Naya menepuk lembut tengkuknya, tiba-tiba tubuh pria itu terasa panas dingin.


"Kalau begitu jangan terlalu tergesa-gesa, toh kau adalah pimpinan perusahaan, berapa lama pun kau telat datang tak akan ada yang berani menegurmu" jelas Naya lembut bak seorang ibu yang menasehati putranya.


"Kau tidak sarapan?"Januar baru menyadari bahwa Naya hanya duduk dan tidak sarapan.


"Saya belum ingin, mungkin nanti agak siangan" jawabnya.


"Jangan di biasakan makan telat, lambungmu yang akan tersiksa, jagalah sehatmu sebelum sakit mendatangimu."


Januar mengelap bibirnya dengan tisu setelah menyelesaikan sarapannya, tapi ia tak juga beranjak dari meja makannya.


"Pak, bagaimana tentang lamaran magang Vega?apakah memenuhi persyaratan untuk bisa bekerja di Tinar Perkasa?"tanya Naya.


"Terserah padamu" jawab Januar singkat.


"Maksudnya?"Naya bertanya balik dengan wajah bingung.


"Kalau pekerjaanmu membutuhkan bantuannya, maka dia bisa masuk di Tinar, tapi kalau kau tidak membutuhkan bantuan, maka buat apa aku menerima dia di Tinar."


Naya mengerutkan alisnya, belum memahami apa maksud Januar.


"Kau belum mengerti apa kalimatku?"


Naya menggeleng pelan.


Memang otakmu bebal kalau untuk soal perasaan, rutuk Januar dalam hati.


"Aku menyerahkan semua keputusan padamu, kalau kau bilang iya maka akan aku terima Vega, kalau kau bilang tidak, maka untuk apa aku memberikan Vega kesempatan di Tinar perkasa."


"I iya aku tentu membutuhkan bantuan nanti jika aku kembali masuk ke Tinar" sahut Naya cepat, ia tak tega melihat wajah Vega yang kecewa.


"Hm baiklah, nanti aku suruh Jefry untuk mengurusnya."

__ADS_1


"Ah terima kasih pak" Naya bersorak dan berjingkat riang, Januar hanya tersenyum masam.


Apapun akan kulakukan untukmu.


Naya membereskan piring bekas Januar hendak mencucinya namun panggilan Januar menghentikannya.


"Mau kemana ?" tanya Januar sambil mengupas jeruk.


"Saya mau cuci piring kotor ini?"


"Duduklah ada yang ingin aku tanyakan padamu" nada ucapan Januar tampak serius membuat Naya kembali duduk di kursinya.


"Kapan sidang akan di mulai?"


"Besok senin, dan Elis akan menemani saya."


Januar menghela nafas kasar, kenapa harus meminta bantuan Elis jika dirinya pun bisa menemani Naya saat sidang esok.


"Kenapa kau tidak memintaku?"


"Ah tidak usah pak, anda sangat sibuk di kantor, saya tidak mau jika tugas bapak nanti akan terganggu kalau menemani saya sidang."


"Tapi aku tidak keberatan"tolaknya kekeuh.


"Tidak usah pak, anda sudah banyak sekali membantu saya, begitupun Tiwi, saya sungguh berhutang budi banyak pada kalian, tiwi merupakan sahabat terbaik saya dan sudah banyak berkorban untuk saya, bahkan sekarang anda pun sudah banyak membantu saya, entah dengan apa saya bisa membayar hutang budi kalian, mungkin pak Januar sudah menganggap saya sebagai kakak sendiri, tapi..."


"Kata siapa aku menganggapmu sebagai seorang kakak."


Naya tersentak, Januar berkata dengan raut muka yang tampak tak suka.


"M maaf jika saya lancang, sungguh ...saya tidak bermaksud melewati batas, maaf kalau sudah berani menganggap anda seperti adik saya sendiri" tutur Naya dengan wajah tertunduk.


Januar mendengus kesal kalu membanting jeruk yang sudah di kupasnya ke atas meja, lalu beranjak pergi dan memakai sepatunya.


Naya diam mematung, memikirkan apa yang membuat pria itu terlihat sangat marah.


Brakk.


Tubuh Naya bahkan terhentak karena terkejut dengan suara yang di banting oleh Januar.


Ceklek.


"Mbak Nay, kenapa dengan mas Januar, dia sepertinya marah, waktu ibu sapa, dia tak menjawab bahkan mukanya juga berwarna merah" tutur Bu Heni yang berpapasan dengan Januar di depan pintu apartemen.


"Entahlah Bu, akupun bingung, tadi dia baik-baik saja bahkan dia makan sarapannya dengan lahap" Naya mengerutkan alisnya, berusaha mengingat kalimat mana yang membuat Januar naik pitam.


Sementara itu Januar melangkah dengan dada terasa sesak, nafasnya pun memburu.


Tak tahukah kau semua perhatianku selama ini, tak sadarkah kau tentang perasaan yang ku perlohatkan padamui, apakah semua usaha yang kulakukan untuk menarik perhatianmu masih pantas di sebut sebagai perhatian kepada seorang kakak???


********


Ciee cieee...yang lagi kesel karena hanya di anggap sebagai seorang adik, Januar ngarepnya di anggap sebagai belahan jiwanya Naya.

__ADS_1


💜💜💜💜💜


Jangan lupa pencet tombol like dan ketik komen ya bestie, vite juga jangan ketinggalan 😘😘😘


__ADS_2