
Januar diam termenung lalu memandang Aslan.
"Maksudmu waktu tiga bulan dan untuk mengetahui kalau dia tidak sedang..., sedang apa maksudmu?" tanyanya polos.
Aslan menghela nafas kasar betapa lugunya Januar.
"Tentu saja takut kalau dia sedang hamidun" terang Aslan jujur.
"Ha..apa?" tanya Januar terkejut.
"H a m i l ....takut kalau Naya sedang hamil maka kau tak boleh menikahinya."
Jederr.
Januar diam membeku di tempatnya, memikirkannya saja sudah sangat menyakitkan apalgi itu menjadi kenyataan, Naya dan Danu adalah sepasang suami istri dan mereka sah untuk melakukannya, tapi Januar tetap merasa tak rela.
Januar meremat kepalanya kasar, bahkan tatanan rambutnya yang rapi jali kini sudah tak berbentuk.
Aslan tersenyum gemas, betapa bodohnya pria itu, Naya selama ini tinggal terpisah dari Danu mana mungkin Naya hamil.
"Kau kenapa?" pancing Aslan.
Januar menundukan wajahnya, meski mereka tidak saling mencintai dan Danu selalu acuh pada Naya, tapi kalau setan menjadi juaranya maka mereka bisa apa.
Glek glek glek.
Minuman berwarna biru milik Aslan ia teguk hingga tandas lalu pergi dengan hati remuk redam meninggalkan Aslan sendiri.
"Hei mau kemana kau" Aslan berteriak namun tak di hiraukan oleh Januar.
Pria tampan yang sedang galau itu terus melajukan mobilnya menuju apartemen, pukul satu dini hari ia baru sampai, untung saja ia masih bisa mengemudikan mobil dengan benar meski kepalanya terasa berat.
__ADS_1
Masih terus terngiang saat Aslan mengatakan "jika Naya hamil".
Kenapa hatiku sesakit ini, rintih batin Januar.
Sambil melangkah sempoyongan ke apartmenen.
Ceklek.
Januar melempar sepatu ke rak hingga menimbulkan suara keras.
Brakk.
Ceklek, pintu kamar Anis terbuka, gadis itu melangkah panik menuju Januar.
"Jan, kau kenapa?" tanya Anis lembut sambil memegang lengan Januar karena pria itu berjalan terhuyun.
Januar menghempaskan tangan Anis kesal, kenapa gadis itu selalu saja bisa mengambil hati Tiwi dengan kelembutannya, apakah ia harus berterus terang tentang hubungannya dengan Naya.
"Jangan ikut campur" jawab pria tampan itu ketus sambil terus melangkah sempoyongan ke ruang dapur.
"Katakan kau mau apa akan aku ambilkan" ucap anis penuh harap, melihat Januar yang terbiasa tegas dan dewasa, kini tampak kusut masai dengan tatapan mata yang terlihat begitu rapuh membuat dada Anis sesak.
Januar mengibaskan tangannya agar Anis tak mengikutinya, ia terus melangkah ke box tempat menyimpan minuman koleksi Tiwi.
Satu botol minuman beralkohol berhasil Januar ambil meski genggaman tangannya gemetar.
Kleek, glek....glek.
Dua tegukan terdengar jelas, dengan mata merah dan kepala yang terasa berat, Januar melangkah mendekati Anis yang mulai tersurut mundur.
"Mau apa kau" tanya Anis panik.
__ADS_1
"Kau...kenapa kau datang ke sini heuh? Kenapa kau ikut dengan kakakku hingga menghancurkan semua mimpiku, kau datang dengan kelembutan dan keanggunan yang aku yakin sudah membuat keluargaku jatuh hati padamu, tapi sayang...aku tak tertarik denganmu."
Anis terus melangkah mundur karena Jauar terus mendesaknya.
"Mata indahmu, wajah cantikmu...juga bibir tipismu ini tak bisa membuatku berpaling darinya" racauan Januar semakin membuat Anis memucat, bahkan kini jari tangan pria yang sedang mabok itu menempel di bibir Anis.
"Secantik, dan selembut apapun dirimu, tak bisa membuat cintaku berpaling darinya, bibir ini...bukan apa-apa jika di bandingkan dengan bibirnya...dia begitu maniis...dia begitu lembuut ...hingga membuatku"
Ceklek.
"Januar !!!! Apa yang kau lakukan?" bentakan Tiwi membuat Januar dengan perlahan memalingkan wajahnya, dan kesempatan itu di gunakan Anis untuk segera menjauh dan berlari ke kamarnya.
"Brengsek kau, apa yang akan kau lakukan padanya?"
Plakk, brakk.
Tubuh Januar terhuyun dan jatuh ke lantai dengan keras setelah Tiwi menamparnya.
Kedua mata Tiwi membulat, ia begitu terkejut karena ia pikir, saat menampar Januar ia hanya mengerahkan setengah tenaganya, tapi kenapa tubuh besar itu limbung dan jatuh terjungkal begitu mudah.
"Hhrŕŕrgg...hhhrrrgg"terdengar dengkuran lirih dari mulut Januar yang sedikit terbuka.
"Hei, kau mabuk?" Tiwi nggoyang tubuh Januar dengan keras namun pria itu sudah jauh terbang ke alam bawah sadarnya.
Tiwi diam termenung, tak pernah ia melihat Januar se mabuk itu.
"Apa sebenarnya yang terjadi padamu heum?"Tiwi mengusap rambut sang adik dengan lembut, mungkinkah penglihatannya tadi salah, ia pikir Januar akan memaksa untuk mencium Anis hingga ia menamparnya.
Pipi putih Januar telihat memerah bekas tamparannya, semakin besar rasa sesal wanita itu.
Siapa yang telah membuatmu seperti ini adiku.Apakah kau sedang patah hati?siapakah gadis yang telah sanggup menawan hatimu?
__ADS_1